Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 74 Ipar 5 Langkah


__ADS_3

Sudah 2 bulan Dinda dan Fandi menjadi pasangan suami istri.


Sejak pulang dari honeymoon Fandi memang mengatakan akan mengajak Dinda tinggal dirumahnya.


Tentunya hal itu disetujui oleh Oma Dona, Satya dan Andin.


Selain memang sebagai istri Dinda tentu harus ikut kemanapun suaminya membawanya dan juga rumah Fandi dan Satya bersebelahan.


Kini semakin saja hubungan Andin dan Dinda sangat istimewa.


"Din kita itu unik ya berdua. Awalnya kita sahabatan, terus tiba-tiba jadi kakak adek ipar, nah sekarang kita tetanggaan pula. Takdir itu kadang lucu ya?" Dinda saat bersama dengan Andin membuat puding dan marmer cake di dapur tampak begitu happy.


Dikehamilan Andin yang kedua ia memang senang dengan makanan manis. Terlebih masuk trimester kedua.


"Kayak judul lagu ya Kita, Ipar 5 langkah." Andin menimpali.


"Bukannya pacar 5 langkah Din."


Keduanya tertawa bersama hingga suami keduanya masuk dapur tak disadari oleh Andin dan Dinda.


"Assalamualaikum." suara Satya dan Fandi kompak menyapa istri mereka.


Andin segera mencium tangan Satya begitupun Fandi menerima sambutan tangan Andin mencium tangannya.


Satya mengelus perut Andin, menyapa anak dalam perut istrinya.


"Anak papa lagi pingin makan puding?" Satya melihat puding cantik sudah siap untuk dicicipi.


"Bukan cuma keponakannya yang pingin. Tapi Aunty nya baby juga mau ya kan." Dinda ikut nimbrung.


"Ih ikut-ikutan aja sih. Ga malu! Udah punya suami urusin dulu suami!" Satya mengusir dengan cara layaknya mengusir kambing masuk kandang orang.


"Bilang aja mau modus sama Andin." Dinda kembali melet ke Satya.


"Sayang, masa gitu ke Kak Satya." Fandi mengingatkan istrinya dengan tiba-tiba melingkarkan tangannya dipinggang Dinda sambil mencium pipi Dinda.


"Pindah ke kamar sana. Kalian yang mesum, nuduh kakak kamu Din!" Satya ga terima adik iparnya mengalahkan Satya dalam gombal menggombal.


Dinda dan Fandi mereka meninggalkan Satya dan Andin memilih mengajak suaminya istirahat ke kamar.


"Mas namanya juga penganten baru, kayak kamu enggak aja!" Andin mengingatkan Satya.


"Sayang kamar yuk, Mas capek nih!" senyum menyeringai Satya ditambah kedua alisnya ia naikkan.


"Iya, yuk." Andin menuruti suaminya yang mau dimanja-manja.


"Abizhar kemana sayang?" Satya tak melihat Abizhar.


"Abizhar lagi ekskul. Paling sebentar lagi pulang." jawab Andin.


Menikmati makan malam bersama keluarga menjadi kebiasaan yang selalu dilakukan keluarga Satya.


Kini personilnya juga bertambah sejak Fandi menjadi suami Dinda.

__ADS_1


Meski Dinda dan Fandi tinggal terpisah namun Satya dan Bunda Dona meminta Fandi agar tak sungkan untuk makan bersama mereka.


Tentu saja Dinda begitu senang dan bahagia.


Dinda bersyukur Fandi adalah pilihan tepat bagi Dinda.


2 bulan menikah dan menjadi istri Fandi Dinda menyadari banyak hal yang sebelumnya ia tidak ketahui dari Fandi.


Fandi begitu perhatian pada Dinda.


Perlakuan Fandi yang lembut membuat Dinda semakin hari semakin mencintai suaminya.


Meski kini sudah 2 bulan bersama tahu luar dan dalam, Dinda masih seeing tersipu saat keduanya berada dalam moment khusus yang spesial.


Tanpa sadar Dinda senyum-senyum sendiri terbayang moment tak terlupakan saat malam pertama dan saat-saat honeymoon bersama Fandi.


"Aunty!" Abizhar memanggil Dinda dengan suara agak keras setelah 3 kali panggilannya tak tergubris Dinda.


"Euhm, apa sayang?" Dinda gelagapan menyadari ia melamun saat ini.


"Din, kamu lagi ngebayangin apa, senyum-senyum sendiri. Pasti lagi ngelamun jorok ya!" Oma Dona seperti biasa selalu frontal lupa kalau Abizhar ada bersama mereka.


Satya melirik ke arah Bundanya dan juga Dinda.


Dinda yang ditatap semuanya menjadi salah tingkah.


"Aunty ga ngupil Oma, Ga main kotoran juga? Aunty kenapa senyum-senyum? Abizhar langsung meminta penjelasan Oma Dona dan Dinda.


Oma Dona sukses membuat kedua orang tua Abizhar memutar otak mencari jawaban atas mulut Oma Dona yang sering losdol.


Fandi melirik ke arah Dinda, tanpa diketahui yang lain, Fandi mengelitik pinggang Dinda.


Dinda bereaksi geli membuat perhatian semuanya tertuju pada sang penganten baru.


"Tuh bener kan, Udah kalian ke kamar kalo udah ga tahan!" Oma Dona kembali tanpa disaring melihat keduanya.


"Mama Abizhar juga udah ga tahan nih, ayuk!"


Satya tersedak mendengar ucapan anaknya. Sedangkan Andin langsung mengkonfirmasi apa maksud Abizhar.


"Abizhar mau ngapain?" Andin terkontaminasi pikirannya akibat Dinda sahabatnya.


"Abizhar sama kayak Aunty, udah ga tahan, Abizhar pingin pipis Ma. Ayuk anterin." Abizhar yang nyatanya ingin pipis menyangka yang Omanya maksud pada Dinda sama dengan yang Abizhar rasakan.


"Oh..." Satya dan Andin kompak menjawab dengan perasaan lega.


"Yok Mama anter." Andin membawa Abizhar.


"Bunda kalo ngomong direm dong. Ada Abizhar kan." Satya mengingatkan Ibundanya.


"Kalian juga pengantin baru, bikin Bunda keceplosan kan jadinya!" Oma Dona menyalahkan Dinda dan Fandi.


Dinda dan Fandi wajah keduanya memerah menahan malu.

__ADS_1


Malam minggu berkumpul bersama dan melakukan kesenangan masing-masing.


Satya, Abizhar dan Fandi tampak asik main PS.


Andin dan Dinda memotong puding dan cake yang mereka buat.


"Sayang mau puding atau cake?" Dinda menawarkan Fandi.


"Dua-duanya boleh." Senyum manis Fandi kini selalu membuat Dinda tersipu malu.


"Sayang, aku mau dua-dua juga ya." Satya ga mau kalah dengan Dinda.


Andin sudah datang dengan membawa kedua nya sekalian ia membawakan untuk putra tersayangnya.


"Memang istriku terbaik." Satya mencium pipi Andin.


"Pa, malu ada Abizhar." Andin berbisik pada Satya.


Abizhar melihat tingkah Papa dan Auntynya geleng-geleng kepala.


"Papa sama Aunty, BUCIN!" Abizhar tiba-tiba nyeletuk.


Andin melirik keanaknya dengan tatapan minta penjelasan.


"Abizhar, tahu dari mana kata-kata itu?" Andin menunggu penjelasan anaknya.


"Dito!"


Abizhar kemudian menjelaskan bahwa Dito mengatakan kata BUCIN kepada Andrew dan Caca.


"Waktu itu Andrew bilang gini pas makan siang disekolah" Caca mau makan ayam atau Ikan? Nah Caca juga bertanya pada Abizhar mau makan apa Abizhar, Ayam atau Ikan? Terus DIto bilang kalo Andrew BUCIN ke Caca, Nah Caca kata DITO BUCIN ke Abizhar." Abizhar memberikan penjelasan.


"Sayang, kalau Abizhar, Caca, Andrew, Angel dan Dito lebih tepatnya adalah Sahabat. Jadi sesama sahabat saling berbuat baik. Salah satunya menawarkan bantuan pada teman." Andin memberikan pemahaman agar Abizhar berpikir sesuai usianya.


"Oh iya Ma, waktu itu Abizhar kan lagi pingin tidur dikamar Aunty sama Aunty, Abizhar kangen. Eh kata Oma Abizhar ga boleh tidur sama Aunty, Soalnya kata Oma Aunty Dinda sama Om Fandi lagi tugas kelompok agar keponakan Abizhar cepat ada diperut Aunty." Abizhar random tiba-tiba ingat ucapan Oma Dona.


Oma Dona yang ada disana tanpa merasa berdosa hanya tertawa cekikan mendengar ucapan Abizhar.


"Berarti Papa dan Mama juga ngerjain tugas kelompok juga makanya ada adek Abizhar diperut Mama?"


Kini Satya dan Andin mengangkat alis.


Keduanya saling memandang, memikirkan jawaban yang tepat untuk Abizhar.


Merasa tak ada yang menjawab pertanyaannya Abizhar kembali berucap.


"Abizhar, Caca, Angel, Andrew sama Dito juga waktu 2 hari lalu kita belajar kelompok Pa, Ma. Terus nanti Angel sama Caca bakal ada baby juga diperutnya?" Abizhar kembali membuat pusing para orang dewasa dihadapannya.


Oma Dona yang tahu semua berasal darinya kini mengalihkan perhatian Abizhar.


"Cucu oma yang ganteng, sekarang bantuin Oma yuk. Oma mau packing. Anggap aja sekarang Abizhar kerja kelompok sama Oma. Mau ga?"


"Ok Oma. Oh jadi kerja kelompok itu kerjasama dan saling membantu ya Oma.

__ADS_1


Oma Dona mengangguk dan segera membawa cucu pinternya yang super duper kritis


...****************...


__ADS_2