Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 98 Welcome Baby Twin Girls


__ADS_3

Tak terasa liburan bersama telah usai.


Kini rombonganpun sudah berada di bandara bertolak ke Jakarta kembali kerumah.


Andin beberapa kali merasa perutnya tidak nyaman tentu membuat Satya khawatir.


"Sayang, apa kamu mau lahiran?" Satya mencemaskan Andin kini mereka sedang dalam pesawat dan kurang dari 15 menit akan landing di Bandara Soekarno Hatta.


"Semoga saja Mas. Tapi masih belum ada tanda kontraksi."


Semua bersalaman dan bercipika cipiki berpisah dan pulang kerumah masing-masing.


Abizhar pun saling bertos ria dengan teman-temannya sebelum kembali kekediaman mereka masing-masing.


"Sayang, apa tidak sebaiknya kita kerumah sakit saja?" Satya melihat Andin menahan nyeri diperutnya.


Andin akhirnya mengangguk mengikuti saran Satya.


"Ma, adek mau lahir ya?" Abizhar yang memang ikut mobil Papa dan Mamanya cemas melihat sang Mama menahan sakit.


"Doakan ya sayang, semoga adik dan Mama lancar dalam persalinan nanti." Andin mengusap kepala putranya.


"Iya Ma, Abi akan doakan Mama dan Adik sehat dan selamat." Abizhar memeluk Andin dan mengusap perut mamanya.


Tiba dirumah sakit Satya segera membawa Andin ke IGD.


Dokter memeriksa Andin.


"Keluarga Ibu Andin!" panggil perawat.


Satya segera menghampiri dan menanyakan keadaan istrinya.


"Ibu Andin harus segera dioperasi. Air ketuban dalam kandungan Ibu Andin mulai mengering, sehingga dikhawatirkan akan mengganggu keselamatan bayi dan ibu. Bagaimana Pak?" Dokter menjelaskan kondisi Andin pada Satya.


"Lakukan yang terbaik Dok!" Satya memberikan izinnya agar Dokter segera menangani Andin.


"Jika seperti itu Bapak silahkan menandatangani surat persetujuannya dan segera kami akan lakukan tindakan." Dokter dengan tegas memastikan.


"Baik Dok, selamatkan istri dan kedua putri Saya." Satya menatap dokter dengan penuh keyakinan.


Satya menggenggam tangan Abizhar.


"Kita doakan Mama dan Adik selamat dan sehat lahir tanpa kurang satu apapun Sayang." Satya menatap wajah Abizhar disambut anggukan dari Abizhar.


Satya menghubungi keluarganya dan semua sedang dalam perjalanan kearah rumah sakit.


Mereka memang tadi menggunakan mobil berbeda.


Fandi dan Dinda, sedangkan Oma Dona bersama dengan Oma Shopia dan Oma Arini.

__ADS_1


Satya berusaha tenang karena ia tak mau Abizhar ikut cemas.


Sebisa mungkin Satya menenangkan hati dan pikirannya meski jantung dan otaknya tak berhenti memikirkan Andin dan kedua putrinya yang sedang berjuang di dalam sana.


Trio Oma, Fandi dan Dinda sudah sampai dirumah sakit.


Setelah menanyakan kondisi Andin pada Satya semuanya duduk, berdoa bagi keselamatan Andin dan kedua Cucu mereka.


Wajah-wajah tegang, cemas, khawatir kini menghiasi depan pintu ruang bersalin.


Sudah 1 jam Andin di dalam.


Rasanya bagai seabad Satya menunggu Dokter keluar ruang operasi.


"Keluarga ibu Andin!" Dokter memanggil.


"Bagaimana istri dan anak saya Dok?" Satya langsung menanyakan.


"Bu Andin dan Kedua putri Bapak selamat dan semua dalam keadaan sehat. Kami akan menyiapkan dulu Ibu dan Bayinya baru setelah itu akan kami pindahkan keruang perawatan." Dokter menjelaskan.


"Alhamdulillah." Serentak jawaban kompak dari semua yang menunggu.


Dokter kembali masuk ke ruangan operasi.


Satya seketika bersujud syukur atas keselamatan dan lancaran kelahiran kedua putrianya dan kondisi Andin dan baby mereka yang sehat tanpa kurang satu apapun.


Oma Dona, Oma Shopia dan Oma Arini bergantian memeluk Satya dan Abizhar.


Wajah bahagia tergambar dari semua orang terutama Satya dan Abizhar.


Abizhar tak sabar ingin segera bertemu Mama dan Kedua adik kembarnya yang berjenis kelamin perempuan.


"Papa kapan Abizhar bisa lihat Mama dan Baby Twin Girl?"


"Sebentar lagi, saat mama dan Adik dipindahkan keruang rawat inap."


"Wah sekarang Abizhar dipanggilnya jadi Mas Abi ya." Oma Dona memantaskan panggilan baru bagi Abizhar.


"Mas Abi, ih tambah ganteng keponakan Aunty!" Dinda mencubit gemas pada Abizhar.


Andin masih terlihat pucat dan lelah saat dipindahkan keruang rawat namun senyum tak lepas menghiasi wajahnya saat melihat kedua putri cantiknya berada dihadapan matanya.


"Sayang, putri kita cantik seperti kamu." Satya tak henti mengecup pucuk kepala Andin.


Kedua putri mereka digendong oleh Oma Dona dan Oma Shopia.


Abizhar kini tak henti menggenggam kedua tangan adik cantiknya.


"Halo Mas Abi ini baby cantik." Oma Dona menirukan baby digendongannya.

__ADS_1


"Hai Mas Abi, aku adikmu yang cantik!" Oma Shopia mewakili baby menyapa Abizhar.


"Adik-adikku yang cantik, kenalkan aku Mas Abi, kakakmu, inget ya Mas Abi akan terus jagain kalian. Jangan nakal!" Abizhar berbicara pada kedua adiknya.


"Duh yang udah jadi kakak, banyak sekali nasihatnya." Oma Arini tersenyum mendengar perkataan Abizhar.


Semua tertawa bahagia menyambut kelahiran baby twin girl.


Trio Oma, Fandi dan Dinda pamit pulang dulu, besok mereka kembali.


Abizhar sebenarnya diminta untuk ikut pulang, namun Abizhar mau ikut menginap bersama Satya menjaga Andin dan kedua adik cantiknya.


"Mas Abi ga tidur? Sudah malam?" Andin mengusap kepala putranya yang kini sudah menjadi kakak.


"Abizhar belum ngantuk Ma." Abizhar memandangi kedua adik cantiknya yang tertidur pulas dalam box setelah kenyang menyusu pada Andin.


"Ma, adik cantik sekali. Seperti Mama." Abizhar yang kali ini berkata manis terdengar begitu bahagia buat Andin.


"Mas Abi bisa saja. Sudah gede ya sekarang. Sudah punya adik. 2 lagi!"


"Abizhar akan jaga adik dan akan selalu melindungi adik."


"Iya Mas, harus. Terima kasih." Andin menggenggam tangan Abizhar.


"Wah ada apa ini, peluk-peluk Mama?" Satya saat masuk baru kembali dari bagian administrasi RS.


"Mas Abi janji Pa, akan menjaga kedua adiknya."


Satya menepuk bahu Abizhar.


"Kini Papa ada yang membantu menjaga Mama dan Adik. Kita akan bersama-sama menjaga Mama dan 2 adik cantik Mas Abi sampai mereka suatu saat menikah." Satya dengan tatapan layaknya berbicara sebagai sesama laki-laki.


"Loh, kok hanya sampai menikah Pa?" Abizhar heran.


"Karena tugas seorang ayah dan saudara laki-laki adalah menjaga saudara perempuannya sampai mereka menikah. Setelah menikah maka suaminyalah yang memiliki tanggung jawab menjaga dan melindungi mereka. Jika ridho anak laki-laki selamanya ada pada ridho ibunya, namun bagi perempuan saat belum menikah maka ridhonya masih pada orang tuanya, saat perempuan menikah maka suaminyalah tempat ia mencari ridho. Tapi bukan berarti tidak berbakti lagi dengan orang tua." Satya memberikan wejangan pada Abizhar.


"Untuk itu kelak jika Abizhar sudah dewasa dan menikah jadilah suami dan ayah yang baik. Karena laki-laki adalah imam dan pemimpin dalam keluarganya."


Abizhar yang kini hanya manggut-manggut saja, belum sepenuhnya memahami kata-kata dan makna dari ucapan Satya, Papanya.


Andin menatap kedua pria dihadapannya dan kedua putri cantiknya.


Betapa bahagia dan lengkap rasanya hidup Andin.


"Terima kasih ya Allah, engkau begitu banyak memberikan seluruh kebaikan, keberkahan dan berkah dalam kehidupanku. Suami yang baik, anak yang sehat insya Allah Sholeh dan Sholeha, mertua dan ibu yang baik dan luar biasa kasih dan sayangnya, ipar yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Semoga engkau senantiasa menjaga keutuhan keluargaku menjadikan rumah tanggaku sakinah, mawaddah, warrahmah dan amanah. Aamiin ya robbalalamin." batin Andin dengan penuh rasa syukur.


Dalam ruangan kamar RS mereka bertiga berpelukan dengan saling diselimuti cinta dan kasih sayang sambil menatap 2 bidadari kecil mungil yang cantik telah hadir melengkapi kebahagiaan Satya dan keluarga.


..."Terima kasih Andin istriku, kehadiranmu yang awalnya tak terduga olehku, berada disisiku tak ku pikir sebelumnya, kini setelah Bunda, kamu adalah wanita terindah dan terbaik yang pernah aku miliki. Kini kamu memberikan harta paling berharga bagiku seorang putra yang tampan dan dua putri yang cantik jelita. I Love You Andin." batin Satya....

__ADS_1


..."Terima kasih suamiku Satya, laki-laki yang awalnya kukenal sebagai kakak sahabatku, laki-laki dingin dan jutek kala itu, kini kamu adalah pria, suami dan ayah terbaik yang pernah ada. Karenamu aku bisa merasakan menjadi wanita seutuhnya, menjadi istri dan menjadi ibu dari putra dan putri kita. Sarangheyo Yeobo, Satya Oppa!" batin Andin....


...****************...


__ADS_2