
Abizhar tampak antusias menceritakan kepada seluruh keluarganya mengenai kegiatan field trip yang ia ikuti bersama teman-teman preeschoolnya.
Abizhar menceritakan ia mencoba bermacam profesi yang ada disana.
"Papa Abizhar kalau sudah besar ingin jadi Polisi." Abizhar menyampaikan ya di depan seluruh anggota keluarganya.
"Wah hebat sekali anak Papa. Kenapa ingin jadi polisi?" Satya memangku Abizhar ingin mendengar penjelasan sang anak lebih lanjut.
"Abizhar tadi jadi polisi Pa waktu field trip. Abizhar berhasil tangkap penjahatnya." cerita Abizhar dengan antusias.
"Keren betul cucu Oma, kalo gitu Oma dukung Abizhar jadi polisi. Ya kan Oma Shopia?" Oma Dona mengajak Oma Shopia.
"Iya cucu Oma yang paling hebat. Siap Pak Polisi!" Oma Shopia sambil berkata pada Abizhar.
"Mama setuju kalo Abizhar jadi polisi?" Abizhar meminta pendapat Mamanya.
"Ya tentu. Mama selalu mendukung apapun cita-cita Abizhar selama itu baik." Andin menjawab pertanyaan anaknya.
"Aunty kok diam aja, Abizhar mau jadi polisi Aunty." Abizhar yang melihat Dinda tampak tak berkomentar apapun.
Dinda gelagapan dengan suara Abizhar memanggil namanya.
"Iya Sayang, kenapa?" Dinda baru tersadar dari lamunannya.
"Aunty, Abizhar bilang, kalo Abizhar mau jadi polisi." Abizhar mengulangi ucapannya
"Bagus, Aunty setuju!" respon Dinda biar cepat.
Pikiran Dinda sedang tak konsentrasi.
"Oh Iya Oma, Abizhar kapan dong diajak ke rumah Oma di Amerika? Kata Oma disana ada kantor Opa juga?" Abizhar mengatakan pada Oma Dona.
Oma Dona memang pernah menceritakan bahwa di Amerika dulu Oma dan Opa pernah tinggal disana saat Satya Papa Abizhar baru lahir.
Saat itu Dinda belum lahir. Oma pernah mengatakan akan mengajak Abizhar kesana.
"Boleh. Kapan Abizhar mau? atau sekalian saja kita semua liburan bersama? Bagaimana?" Oma Dona mengajukan saran kepada seluruh anggota keluarganya.
"Kalau mau liburan akhir tahun ini Oma. Semua kan libur. Satya juga ada libur dari kantor." Satya mengajukan waktunya.
"Bagus. Kamu gimana Andin?" Oma Dona menanyakan pada Andin.
"Boleh Oma, ga masalah." Andin memang lebih senggang sejak memiliki Abizhar ia lebih memprioritaskan Abizhar walaupun ia tetap bertanggung jawab penuh pada perusahaan WO yang dipimpinnya.
"Dinda, kamu ok kan?" Kini Oma Dona menanyakan pada Dinda.
Dinda yang sejak tadi pikirannya melayang berkelana mengembara entah kemana tak mendengar panggilan Bunda Dona.
"Dinda." Bunda Dona sedikit mengeraskan suaranya.
"Euh, kenapa Bun?" Dinda kaget dan melihat semua keluarga menatap padanya.
"Kamu ikut ga, kita semua mau ke Amerika, liburan disana, Abizhar mau tahu rumah kita dan kantor Opanya disana." Oma Dona menjelaskan ulang.
"Ok, Bisa." Dinda menjawab cepat.
Abizhar berjalan kearah Dinda dan mendekat. Dinda memangku Abizhar.
__ADS_1
"Aunty jangan kebanyakan melamun. Kemaren Dita teman Abizhar cerita kelincinya Dita sebelum mati ngelamun." Abizhar dengan wajah polos.
Memang benar Dita teman Preeschool Abizhar saat field trip wajahnya murung, dan alasan murungnya Dita karena kelinci kesayangan Dita mati.
Diceritakan oleh Dita kelincinya mati karena sejak 2 hari diam saja.
Dasar anak Andin dan Satya, Masa Aunty Dinda disamakan kelinci Nak.
"Nakal ya, sini Aunty kelitikin." Dinda mengelitiki Abizhar dan Abizhar kegelian menghindari kelitikan Auntynya.
"Aunty geli, ampun dong. Habis Aunty diam aja. Aunty kan biasanya bawel kayak Mama." Abizhar dengan polos nyeplos dan kali ini Andin pun ikut merespon.
"Oh jadi Mama bawel ya Abizhar?" Andin kini membulatkan matanya pada anak nya yang sudah pinter ngomong.
"Ups. Keceplosan lagi. Papa tolongin Abizhar." bisik Abizhar saat mendekati Papanya.
"Boleh. Tapi nanti Papa mau minta sesuatu dan Abizhar harus kabulin ya?" Satya mengajak anaknya bernegoisasi.
"Ih Papa kayak Adam, teman Abizhar kalo dimintain tolong pasti ada upahnya." balas Abizhar dengan cara berbisik juga.
"Ayo, Aunty bawel nih Abizhar?" Dinda membuat Abizhar merasa terancam Mama dan Auntynya
"Aunty Dinda, besok kalau Aunty pulang kerja ga usah bawa cake lagi ya," Andin mengatakan pada Dinda.
"Oh gitu ya Mama, Ok Mama." Dinda menjawab Andin.
Abizhar mendekati Mama dan Aunty nya.
"Mama Cantik, Aunty Cantik, Abizhar tadi keceplosan kok. Ga serius. Jangan marah ya. Mama dan Aunty pokoknya paling baik, paling cantik buat Abizhar." Abizhar merangkul Andin dan Dinda merayu kedua ibu dan tante nya.
"Sejak kapan kamu jadi pinter gombal Abizhar? Siapa yang ajarin?" Satya kaget melihat sikap putranya.
"Salah Oma, Abizhar cuma pernah denger waktu itu Uncle Gilang ngomong ke Aunty Dinda begitu."
Sungguh begitulah anak-anak.
Bagai kertas putih.
Abizhar pun mengatakan apa yang ia pernah lihat dan Dengar.
"Memang Abizhar dengar dimana?"
"Waktu itu, Abizhar lupa kapan. Tapi Abizhar inget waktu itu juga ada Uncle Fandi, tapi Aunty Dinda dan Uncle Gilang ga lihat ada Uncle Fandi." Abizhar kini menjelaskan kronologinya.
"What? Again?" batin Dinda.
Semua mata tertuju pada Dinda.
Dinda kini memilih mengejar Abizhar yang sedang siap kabur dari tatapan Auntynya.
"Abizhar."
Kini Dinda dan Abizhar layaknya Tom and Jerry sedang kerjar kejaran di halaman belakang.
Dinda wajahnya tampak malu.
Bukan sekali Abizhar ternyata menyimpan fakta-fakta mereka.
__ADS_1
Dinda.yang tidak menyadari keadaan itu semua kini perlahan ia mengerti perubahan sikap pria yang belakangan ia juluki Jelangkung.
"Aunty, Ok." Abizhar menyerah.
Dinda memeluk keponakannya.
Sedangkan yang lain menyusul mereka yang kini sedang duduk di Gazebo menatap penasaran dengan apa yang keduanya sedang bicarakan.
"Aunty, suka ga sama Uncle Fandi?" Abizhar kini berada di Gazebo dengan Dinda.
"Anak kecil ga boleh bicara begitu. Belum waktunya." Dinda mencubit hidung keponakannya.
"Soalnya Uncle Fandi bilang Aunty Dinda sukanya sama Uncle Daniel dan Uncle Gilang." Jawab Abizhar.
"Apa-Apaan Jalangkung ngomong begitu?"batin Dinda.
"Aunty sukanya sama Abizhar aja." Dinda gemas dengan keponakannya yang bersikap sok dewasa.
"Abizhar suka kalo Aunty sama Uncle Fandi. Bukan berarti Abizhar ga suka sama Uncle Danil dan Uncle Gilang. Tapi Abizhar suka aja kalo Aunty Dinda sama Uncle Fandi." Abizhar dengan mulut kecilnya nyerocos.
"Siapa yang ngajarin ngomong begitu? Ayo ngaku sama Aunty?" Dinda masih penasaran dengan.ucapan Abizhar.
"Oh iya Aunty Abizhar boleh tanya?"
"Mau tanya apa sih?"
"Kalau ke teman boleh ga bilang Love?"
"Ayo, memang Abizhar mau bilang Love ke siapa?"
"Bukan Abizhar Aunty, tapi Uncle Fandi."
"Maksudnya, Aunty ga ngerti?"
"Jadi Abizhar ga sengaja pernah lihat di HP Uncle Fandi kalau nama Aunty Dinda ada tanda Love nya. Abizhar tanya kok nama Aunty Dinda ada tanda itu Uncle, terus Uncle jawab kalau Aunty Dinda teman kesayangannya Uncle Fandi." Abizhar dengan polosnya menjawab semua pertanyaan Dinda.
Abizhar hendak menghampiri Mama, Papa dan Duo Oma namun Dinda menahan dan mengajak kompromi sang keponakan.
"Abizhar Aunty boleh minta tolong ga?"
"Tolong apa Aunty?"
"Abizhar kan mau jadi Polisi, Polisi itu harus bisa jaga rahasia jadi yang soal Love tadi jangan dikasih tahu siapapun ya. Janji Pak Polisi?"
"Termasuk Mama?" Abizhar bertanya.
"Betul Pak Polisi!" Dinda dengan gaya memberi hormat pada Abizhar.
"Inget Polisi harus bisa jaga rahasia. Ok?" Dinda meyakinkan lagi.
"Ok Aunty."
Kini Dinda membiarkan Abizhar menuju Papa, Mama dan Omanya.
Sementara Dinda tanpa sadar hatinya berbunga mengetahui fakta yang baru saja ia dengar.
Namun dalam sekejap Dinda kembali bete teringat si Jalangkung akan pamit pergi.
__ADS_1
...****************...