
Satya bersama keluarga tercintanya menikmati makan malam dengan hidangan yang menggugah selera.
"Wah makan enak lagi kita!" Dinda yang selalu antusias melihat makanan yang terhidang dimeja makan keluarganya seakan sudah tak sabar ingin segera menyantapnya.
"Kamu cepetan nikah Din. Rasanya 2 minggu lama banget ya. Beras cepat habis kalau ada kamu." Satya mulai memancing keributan dengan Dinda meledek Dinda adalah hiburan bagi Satya.
Andin membantu Mama Shopia menata hidangan di meja makan karena malam ini Mama Shopia dan Andin memasak banyak karena Fandi dan Ibundanya mereka ajak serta makan malam bersama.
Bunda Dona yang baru bergabung setelah seharian mengurus bisnisnya.
"Pantes Dinda sudah stand by di meja makan." Mama Dona yang baru bergabung melihat meja makan penuh hidangan enak tentu saja melirik sang putri yang selalu bersemangat saat makan.
"Mama Shopia." Rengek Dinda manja meminta dukungan pada Mama Shopia.
"Udah,Udah. Nah itu Calon Suami ganteng siapa yang udah dateng." Mama Shopia menepuk bahu Dinda sambil memberitahu kehadiran Fandi dan Bunda Arini.
"Assalamualaikum." ucap salam Bunda Arini dan Fandi.
Dinda tampak mencium tangan calon mertuanya.
Bunda Arini memeluk calon menantunya hangat.
Para perempuan saling bercipika cipiki sementara para pria saling bersalaman.
"Waalaikumsalam." jawab semua keluarga.
"Maaf Jeng Dona, Jeng Shopia, semuanya, kami baru sampai. Tadi habis dari rumah kerabat Ayahnya Fandi mengantar undangan sekalian menyampaikan bahwa kami meminta kesediaan paman Fandi dari pihak ayah untuk menghadiri akad nikah Fandi dan Dinda" Bunda Arini segera bergabung sambil menjelaskan keterlambatannya.
"Aku juga belum lama sampai Jeng. Ayo langsung makan aja toh. Fandi ayo nak." Bunda Dona segera mempersilahkan calon menantu dan calon besannya makan malam bersama.
"Mbak Andin, Abizhar mana kok ga kelihatan?" Fandi menanyakan Abizhar yang tidak terlihat.
"Assalamualaikum. Oma-Oma Cantik dan semuanya, Uncle Fandi kangen ya sama Abizhar?" Abizhar setelah menyelesaikan Tes Daringnya.
Abizhar yang kini mendekati meja makan memberikan salam pada semuanya dan Abizhar tak lupa salim pada Oma Arini dan Uncle Fandi.
"Pasti dong! Oh iya ini Uncle bawa sesuatu untuk Abizhar." Fandi menyerahkan paper bag berukuran besar kepada Abizhar.
"Alhamdulillah. Terima kasih Uncle. Abizhar penasaran. Boleh Abizhar buka?" Abizhar dengan sopan dan sangat senang menerima pemberian Fandi.
"Ayo dibuka." Fandi yang mendudukan Abizhar dipangkuannya membantu Abizhar membuka hadiahnya.
"Abizhar duduk sendiri Nak, Uncle berat dong." Andin membujuk Abizhar agar duduk di kursi.
"Gapapa Mbak, Lagian kangen ga ketemu Abizhar." Fandi begitu gemas dengan calon keponakannya itu.
"Fan, yang sebelah Kakak ga dikangenin? Tuh Bibirnya udah kayak ikan Mas Koki, Manyun aja." Satya meledek Dinda yang memang sejak kedatangannya Fandi malah fokus dengan Abizhar.
Dinda membalas dengan cuek no respon. Padahal Dinda begitu ramah dengan Bunda Arini.
Andin hanya geleng kepala di hatinya " Dinda kena sawan manten kayaknya."
"Wah Ipad. Makasi Uncle Fandi." Abizhar senang dan memeluk Fandi dengan riang gembira.
__ADS_1
"Iya Ganteng. Belajar yang rajin ya. Meskipun sekarang sekolahnya Daring." jawab Fandi pada Abizhar.
Sudah seminggu Abizhar sekolah secara daring.
Hal ini adalah kebijakan dari pemerintah karena situasi pandemi sedang berlangsung.
Namun pemerintah berjanji 2 minggu lagi sekolah akan dinormalkan seperti biasa.
" Siap Uncle." Abizhar dengan semangat langsung mengunboxing ipad yang ia terima.
"Abizhar, makan dulu Nak." Andin mengingatkan Abizhar.
"Ok Ma." Abizhar menuruti perkataan Mamanya.
Selesai makan malam asisten rumah tangga menghidangkan Wedang Uwuh dan Klepon sebagai cemilan menemani obrolan keluarga di ruang keluarga Satya.
"Jadi fix ya, besok Fandi dan Dinda sesuai jadwal foto pre wedding. Kita berangkat pagi aja. Untuk persiapannya sudah aman, Gina sudah mengabari tadi." Andin membuka percakapan mengenai rencana besok pre wedding Fandi dan Dinda.
"Makasi Kakak Ipar ku sayang." Dinda menciumi sahabat sekaligus kakak iparnya.
"Untuk wardrobe juga sudah beres. Pokoknya putriku ini akan cantik sekali. Dan Putraku tentu akan sangat tampan." Mama Shopia menatap pada Dinda dan Fandi.
"Terima kasih Mama Shopia." Fandi tersenyum saat berterima kasih.
Abizhar yang duduk disebelah Andin mendengarkan pembicaraan para orang tua akhirnya penasaran.
"Mama foto prewedding itu apa?" Abizhar bertanya pada Mamanya.
"Foto yang dibuat oleh pasangan yang akan menikah." Andin menjawab pertanyaan putranya.
"Kalo gitu kok ga ada foto prewedding Papa sama Mama?" Abizhar bertanya.
Tentu saja pertanyaan Abizhar akan sulit dijawab oleh semuanya, termasuk Papa dan Mama Abizhar, Satya dan Andin.
Abizhar tampak celingukan saat tak ada satupun yang menjawab.
"Papa fotonya dimana kok Abizhar ga lihat?" Abizhar kini bertanya pada Papanya.
"Jadi dulu saat Papa dan Mama mau foto, eh, tempat fotonya tutup sayang. Terus Om Fotografernya ternyata lagi pulang kampung. Jadi ga jadi deh fotonya." Satya menjawab santai berharap Abizhar tidak bertanya lebih lanjut.
Abizhar mencerna jawaban Papanya.
Abizhar memahami soal pulang kampung karena saat lebaran asisten rumah tangga, security, sopir dan tukang kebun mereka pasti ijin mudik.
Maka Abizhar pun menarik sebuah kesimpulan.
"Makanya Pa, Ma, kalau mau foto prewedding jangan pas mau lebaran. Jadinya Om Fotografernya pulang kampung."Abizhar dengan gaya sok dewasa memberikan Papa dan Mamanya saran.
Tentu saja semua yang berada di ruangan tersebut tertawa terbahak mendengar respon jawaban Abizhar.
Satya dan Andin mencari aman untuk tak menanggapi kesalahpahaman Abizhar.
Menurut keduanya biarlah saat ini Abizhar memahaminya seperti itu.
__ADS_1
Toh sesuai usianya Abizhar kelak akan tahu cerita yang sebenarnya.
"Cucu Oma emang paling pinter! Tuh Pa, Ma, dengerin nih anak kalian!" Oma Dona tampak gemas pada Abizhar.
Satya dan Andin kompak tersenyum sambil menggaruk kepala mereka yang tidak gatal.
"Aunty Dinda nah gitu dong, ketawa, senyum. Kan cantik lagi. Smile!" Abizhar senang melihat Dinda yang tertawa ceria setelah 2 hari ini melihat Auntynya Bimoli a.k.a Bibir Monyong Lima Senti.
"Aunty kamu itu kena Sawan Manten!" jawab Oma Dona.
Tentunya kata-kata baru yang didengar Abizhar dari Omanya tak luput dari pertanyaan Abizhar.
"Bunda suka mancing-mancing sih. Udah tahu cucunya kelewat cerdas, semua pasti ditanya." Dinda tahu betul keponakan pintarnya selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar.
"Memang apa Oma Sawan Manten?" Abizhar mengulangi pertanyaannya.
"Ya seperti Auntymu itu sayang. Badmood, Cemberut, tapi kan sekarang udah ga sawan lagi. Kan Uncle Fandi udah dateng." Oma Dona dengan gampang menjawabnya.
"Oh maksudnya sawan manten itu Aunty Dinda kangen sama Uncle Fandi ya Oma?" Abizhar mencernanya demikian berdasarkan penjelasan Omanya.
Tentu saja kata-kata Abizhar berhasil membuat Dinda tersedak hingga gula merah dalam klepok yang dimakannya muncrat mengenai wajah Satya yang duduk didepannya.
"Dinda!" Satya dengan nada meninggi.
"Sorry Kak, ga sengaja. Lagian Abizhar sayang, kenapa bilang gitu! Bunda sih gara-garanya!" Dinda dengan wajah memerah malu akan 2 hal pertama ia dibilang kangen Fandi tentu saja membuat Fandi geer tersenyum menatap Dinda, kedua muncratnya klepon yang sedang ia makan dihadapan calon mertuanya.
"Papa kabur yuk, lihat deh Aunty Dinda matanya udah melotot." Abizhar menarik Papanya meninggalkan ruang keluarga.
"Hai kalian. Bapak dan Anak, jangan kabur!" Dinda mengejar Satya dan Abizhar yang sudah lebih dulu ke taman belakang.
"Ayo Abizhar. Kita lari!" ajak Satya.
"Aunty kok marah sih, Abizhar kan bener. Kemaren pas Abizhar mau ke kamar Aunty, Aunty lagi liatin foto Uncle Fandi di HP Aunty sambil ngomong gini, " Aku tuh kangen tahu, tapi kamu ga peka-peka Fandi!"
Abizhar menirukan kata-kata Aunty Dinda saat kemarin ia hendak ke kamar Auntynya untuk meminta diajarkan mengerjakan PR.
"Abizhar! gitu ya sama Aunty. Awas ya kamu!" Dinda semakin bersemangat mengejar Satya yang kini menggendong Abizhar mengitari kolam renang.
"Hey kalian, ya ampun, awas jatoh Din. Besok mau prewedding! Ampun deh. Maaf ya Jeng Arini, Dinda ya begitu, kadang masih suka kayak anak-anak, ga sadar mau nikah." Bunda Dona malu melihat kelakuan Putri, Putra dan Cucunya yang kini tampak tak malu kejar-kejaran.
Fandi sejak tadi tak henti tertawa melihat Dinda.
Tapi sisi itulah yang membuat Fandi semakin jatuh cinta pada Dinda.
"Sabar Fan, 2 minggu lagi! Tahan. Walaupun Dinda gemesin sih!" batin Fandi sambil mengusap dadanya menentramkan gejolak hatinya yang selalu berdebar saat melihat Dinda.
"Alhamdulillah, Aku senang bisa melihat Fandi seperti dulu. Dinda dan keluarganya mampu mencairkan hati Fandi yang sekian lama beku. Putraku yang hangat kini sudah kembali." batin Bunda Arini saat melihat tawa dan senyum Fandi yang lebar menghiasi wajah tampannya.
Sementara Andin dan Mama Shopia berpelukan.
Keduanya saling bertatapan penuh rasa sayang.
"Terima kasih Nak, Kehadiranmu dalam hidup Mama membawa Mama pada kesembuhan, kini keluargamupun menjadi kebahagiaan bagi Mama." batin Mama Shopia sambil memeluk Andin.
__ADS_1
"Terima kasih Ma, Karena Mama Shopia, Andin dipertemukan dengan Mas Satya dan keluarganya. Andin begitu bahagia." batin Andin dalam pelukan Mama Shopia.
...****************...