
Pasca imunisasi suhu tubuh Abizhar sedikit lebih hangat.
Abizhar juga hari ini lebih sering menangis mungkin karena efek dari imunisasi membuat Abizhar tidak enak badan.
Andin tampak telaten memberikan Abizhar sambil menepuk-nepuk lembut Abizhar agar nyaman selama menyusui.
Andin juga memakaikan Bye Bye Fever dikening Abizhar.
"Din, bagaimana Abizhar?" Bunda Dona menghampiri Andin dikamar Abizhar.
"Sudah tenang Bun."
"Memang biasanya kalau habis imunisasi beberapa bayi ada yang demam, tapi kamu kasih ASI terus, pelan-pelan juga akan turun dengan sendirinya." Bunda menenangkan Andin.
"Bunda dan Mama Shopia lusa jadi berangkat ke Amerika?" tanya Andin.
"Insha Allah jadi. 6 bulan Pasca Mama Shopia dinyatakan sembuh, Dokter Alisha memang memberitahukan kepada Bunda agar 6 bulan ke depan Mama Shopia harus MCU lagi, agar memastikan tubuh Mama Shopia bersih dari sel kanker."
"Teruma kasih banyak ya Bun, Bun jadi direpotkan. Andin tidak tahu harus mengatakan apa lagi selain terima kasih kepada Bunda." Andin mencium tangan Bunda Dona berterima kasih karena Bunda Dona sangat berhati mulia sudah bersedia menemani Mama Shopia selama pengobatan hingga kini akan menemani kembali ke Amerika untuk MCU.
"Sayang, Bunda tidak pernah merasa direpotkan. Lagi pula Mama Shopia adalah ibu kamu, besan Bunda. Sudah selayaknya sebagai keluarga kita harus saling membantu dan merawat keluarga kita. Kamu tak perlu khawatir. Insha Allah Mama Shopia akan selalu sehat dan hasip MCU nya sesuai yang kita harapkan." Bunda Dona mengusap pipi Andin.
"Din, menurut kamu Dinda bagaimana?" Bunda Dona membahas soal Dinda pada Andin.
"Maksud Bunda?" Andin ingin Bunda Dona lebih memperjelas maksud pertanyaannya.
"Apa Dinda cerita ke kamu, kira-kira ada tidak pria yang sebenarnya Dinda sukai atau Dinda cocok. Bunda perhatikan Dinda tampak tak merespon pria yang mendekatinya." Bunda Dona tampak menerawang memikirkan Dinda.
"Bun, Dinda mungkin saat ini sedang mempertimbangkan. Andin sendiri sejujurnya belum tahu apakah Dinda audah punya pilihan atau bagaimana. Tapi Andin pernah bilang pada Dinda untuk lebih membuka hati, karena kalo Andin lihat ada beberapa yang mendekati Dinda." Andin mencoba jujur pada Bunda Dona tanpa maksud mengadu atau usil.
"Beberapa kita ada acara Bunda juga melihat, Fandi, Gilang dan Daniel mereka tampak mendekati Dinda dan sepertinya mereka memiliki rasa pada Dinda. Walau Bunda hanya tahu Fandi karena memang Jeng Arini ibu Fandi adalah teman Bunda. Namun Bunda membebaskan Dinda memilih sendiri sesuai dengan keingin Dinda. Bunda tak akan memaksa. Bunda akan merestui jika memang pria itu tulus mencintai Dinda." Bunda Dona memang sudah tidak lagi getol menjodohkan Dinda mengingat Dinda mwmiliki karakter yang keras, berbeda dengan Satya.
"Andin cuma tahu Gilang itu teman kantor Mas Satya dan memang sering sekali Gilang menanyakan perihal Dinda pada Mas Satya. Namun Mas Satya pernah bilang pada Andin bahwa ia memberikan kebebasan pada Dinda untuk memilih sendiri pendampingnya kelak. Sedangkan Mr Daniel dari yang Andin tahu kalau Dinda mengenalnya karena kerjasama saat Dinda menangani perusahaan Ayah di Amerika. Selain itu Mama Shopia juga menceritakan bahwa Dokter Alisha ingin putranya menikah." Andin menjelaskan pada Bunda Dona.
__ADS_1
"Ketiganya tertarik pada Dinda?" Bunda bertanya
"Kalau dari beberapa yang Andin lihat ketiganya menyukai Dinda."
"Dindanya bagaimana Din?"
"Dinda tak pernah mengatakan apapun pada Andin soal itu Bun."
"Bunda khawatir, apa Dinda masih kepikiran Soni?" Bunda menatap wajah Andin.
"Sepertinya tidak Bun. Hanya saja Dinda kini lebih berhati-hati dan selektif sepertinya. Pengalaman kan menjadi pelajaran berharga. Mungkin begitupun yang Dinda pikirkan." Andin menjawab sebijak mungkin.
Andin sendiri sebenarnya sering menduga hal seperti yang Bunda pikirkan.
Namun Andin tahu betul dibalik sikap Dinda yang ceplas ceplos Dinda adalah wanita dewasa yang cerdas dan matang.
"Semoga Dinda bisa menemukan jodoh yang terbaik menurut Allah."
"Aamiin. Kita semua mendoakan yang terbaik bagi Dinda Bun."
Hari ini pekerjaan Satya begitu padat dikantor.
Andin yang sudah menidurkan Abizhar di box nya mendekati suaminya tercintanya yang sedang membaringkan tubuhnya di kasur sambil menonton Netflix.
"Mas mau aku buatkan teh?" Andin menawarkan.
"Tidak usah sayang. Mas sudah kenyang selepas makan malam barusan. Sini, mendekat. Mas rindu."Satya merentangkan kedua tangannya meminta Andin masuk dalam pelukannya.
Andin menurti keinginan suaminya masuk dalam pelukan Satya yang begitu nyaman.
"Kamu selalu mampu membuat Mas relax sayang. Andai setiap kerja Mas bisa memasukan kamu ke dalam suka kemeja Mas, sudah Mas bawa setiap hari. Agar saat Mas rindu kamu ada selalu disisi Mas." Satya memeluk Andin menciumi pucuk kepala istrinya.
"Mas Lusa Bunda dan Mama berangkat ke Amerika, Mas bisa mengantar?" Andin bertanya.
__ADS_1
"Maafkan Mas Sayang, sepertinya Mas tidak bisa ikut mengantar. Minggu ini Mas sedang banyak kerjaan dikantor. Mas sudah meminta tolong Dinda dan Dinda menyanggupinya. Kamu juga sebaiknya lihat kondisi Abizhar, kalau Abizhar masih belum sehat benar sebaiknya tak perlu ikut," Satya menjelaskan ketidakbisaannya mengantar Bunda dan Mama.
"Iya Mas. Mas jangan khawatir Abizhar sudah tidak apa-apa," Andin menenangkan Satya.
"Sayang, Mas mau tanya soal Daniel, apakah Dinda cerita sesuatu pada kamu?" Satya mencoba mencari tahu soal Daniel.
"Dinda cerita ia bertemu Daniel saat mengurus pekerjaan di Amerika. Mereka bertemu karena perusahaan Daniel bekerjasama dengan perusahaan keluarga kamu Mas. Selain itu seperti yang kita ketahui bersama Daniel putra Dokter Alisha, Dokter yang menangani Mama Shopia. Dan Mama Shopia memang pernah mengatakan Dokter Alisha ingin sekali Daniel menikah. Dokter Alisha tak menduga bahwa Daniel dan Dinda ternyata saling kenal." Andin menjelaskan perihal Daniel sesuai yang ia ketahui.
"Gilang pun sering sekali meminta Mas agar ia bisa dekat dengan Dinda. Gilang juga tampak sering menanyakan Dinda pada Mas. Mas hanya bilang, kalau Gilang langsung saja berusaha pada Dinda. Karena Mas tahu Dinda bukan orang yang akan nurut kalo dijodoh-jodohkan."
" Mas kenal Gilang sudah lama?"
"Gilang dan Mas berasal dari Almamater yang sama. Kami diangkat PNS juga bareng. Bahkan sampai kini kami bekerja di Kementerian yang sama dan Divisi yang sama. Jadi Mas tahu betul Gilang. Itulah sebabnya Mas tidak mau memberikan harapan pada Gilang, karena Mas tahu Dinda seperti apa, Mas ga mau dibilang PHP."
"Gayanya Papanya Abizhar tahu PHP." Andin meledek Satya.
Satya tak menjawab hanya tersenyum sambil mencubit pelan hidung Andin.
"Sayang, apa Dinda pernah curhat barangkali sama kamu soal cowok yang sedang dekat dengannya, atau ada yang Dinda suka?"
"Ih, Kepo Mas! Kalaupun aku tahu, aku ga mau ah kasih tahu Mas. Aku kan bukan sahabat yang ember." Dinda meledek agar Satya semakin kepo.
"Oh gitu, mau rahasia-rahasiaan sama Mas."
Satya menggelitik pinggang dan perut Andin.
Andin kegelian menepis tangan Satya, namun tenaganya kalah kuat.
Kini Andin menyerah dirinya sudah berada dalam kungkungan Satya.
"Mas bakal hukum kamu karena ga kasih tahu Mas." Satya dengan tatapan siap menerkam.
Selanjutkan merekapun menikmati malam panjang selagi Abizhar tertidur menikmati mimpi indahnya.
__ADS_1
...****************...