Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 69 Dejavu


__ADS_3

Pernah dengar istilah tahta tertinggi di keluarga?


Anak Pertama


Cucu Pertama


Keponakan Pertama


Pokoknya serba pertama saja.


Nah itulah kini yang dialami Abizhar.


Oma Donda segera mengabari Satya, Andin, Dinda, bahkan Fandi dan Bunda Arini kini sudah berkumpul dirumah Satya setelah mendapat kabar Abizhar sakit.


"Papa, Mama, Oma, Aunty, Uncle, Abizhar udah gapapa." Abizhar yang kini dikepung semua keluarganya yang mengkhawatirkan dirinya.


"Sayang Mama, kenapa ga nurutin Mama tadi pagi, kalau jangan sekolah dulu." Andin kebakaran jenggot saat ia dikabari Oma Dona perihal Abizhar sakit.


Andin memang semalam yang menunggui Abizhar karena Abizhar demam.


Saat akan berangkat sekolah, Andin sudah mengatakan kalau istirahat dulu, biar Andin yang akan mengabari langsung pada Miss Lala.


Namun Abizhar yang memang menyukai sekolah dan bosen karena beberapa waktu lalu sempat sekolah daring dan Abizhar tak terlalu menyukainya.


"Pokoknya hari ini dan besok Papa mau Abizhar istirahat dulu ya. Setelah sembuh baru Abizhar masuk sekolah lagi." Satya menasehati putranya.


Seakan Satya sedang bercermin melihat sikap Abizhar yang seperti dirinya begitu menyukai sekolah.


"Iya Pa, tapi bener deh setelah tadi minum obat dan Abizhar bobo sebentar badan Abizhar sudah enak. Mulut Abizhar juga sudah tidak pahit." Abizhar meyakinkan Papa dan Mamanya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Miss Lala bersama keempat muridnya menyapa seluruh keluarga Abizhar.


Andin mempersilahkan Miss Lala melihat kondisi Abizhar.


Miss Lala bahkan meminta Abizhar untuk beristirahat dulu, besok izin dulu jangan dipaksakan masuk sekolah.


"Abizhar harus sehat dan pulih dulu, baru masuk sekolah. Jadi besok istirahat yang cukup ya Abizhar." Miss Lala menasehati murid cerdasnya.


"Terima kasih Miss." jawab Abizhar.


Andin mengobrol dengan Miss Lala.


Selagi bertemu Andin banyak bertanya soal Abizhar disekolah.


Miss Lala pun memberikan jawaban sesuai apa yang iya amati selama menjadi guru dan wali kelas Abizhar, tak ada yang dikurangi atau dilebih-lebihkan.


Abizhar bahagia dijenguk teman-temannya, mereka mengobrol begitu riuh ramai membuat Abizhar kembali ceria.


Satya menghampiri Abizhar yang sedang bersama teman-temannya.


"Pa kenalin ini teman Abizhar, namanya Andrew dan Angel."


Abizhar memperkenalkan Andrew dan Angel karena mereka baru pertama bertemu Papanya sedangkan dengan Dito dan Caca, Satya sudah mengenalnya.


Satya menatap kedua teman Abizhar tersebut.

__ADS_1


"Wajahnya?" batin dan pikiran Satya seakan pernah melihat wajah kedua teman Abizhar.


"Sore Om, kenalkan aku Andrew dan ini kembaran aku, namanya Angel." Andrew dan Angel menyalami tangan Satya. Keduanya sudah terbiasa dengan tata krama indonesia sejak sekolah disini dan bergaul dengan Abizhar, Caca dan Dito yang sering memberitahu keduanya.


"Om Papanya Abizhar." Satya mengutas senyum sambil kepala dan hatinya terus berpikir dimana ia melihat wajah keduanya.


Satya meninggalkan Abizhar bersama teman-temannya.


Satya kini mengibrol bersama Fandi.


Dalam kesempatan itu Dinda juga sekalian mengundang Miss Lala dalam pernikahannya.


"Jangan ga dateng ya Miss, Aku tunggu loh!" Dinda menyerahkan undangan pada Miss Lala.


"Iya Aunty, terima kasih undangannya." Miss Lala menerima undangan pernikahan Dinda.


Andin memperhatikan tatapan Satya yang tak lepas memandang kearah kedua teman kembar Abizhar.


Segera Andin tak memikirkannya.


"Mungkin Mas Satya lagi banyak kerjaan di kantor." batin Andin memberikan jawabannya sendiri.


"Abizhar cepat sembuh ya. Istirahat yang cukup, jangan lupa obatnya diminum, makan sayur dan buahnya." Miss Lala saat pamit tak lupa memberikan pesan pada muridnya.


"Iya Miss, terima kasih." jawab Abizhar.


Miss Lala pamit kepada semua anggota keluarga Abizhar.


Andin mengantar Miss Lala serta menyuruh sopir mereka mengantarkan Miss Lala sampai kerumah.


Miss Lala yang awalnya menolak, akhirnya menerima karena tentu Andin sangat mampu membuat Miss Lala tidak bisa menolak permintaannya.


Diikuti oleh teman-teman Abizhar Andrew dan Angel, keduanya pamit pulang.


"Abizhar lekas sembuh ya." Angel pamit saat mendekati Abizhar.


"Cepet sembuh Bi, pusing kalo berdua Dito aja di sekolah." Andrew menepuk bahu Abizhar.


"Makasi ya Ngel, Drew." jawab Abizhar.


"Dasar bule!" Dito segera menjawab omongan Andrew.


"Caca mau bareng ga sekalian?" Andrew menawarkan Caca.


"Andrew, Caca udah telpon Oma, nanti Oma Caca yang bakal jemput kesini. Mending bawa Dito aja tuh, pusing Caca kalau ada Dito." Caca menjawab ajakan Andrew.


"Yeyyy." Dito mendengus kesal pada Caca.


Andrew dan Angel pun pamit pada Papa, Mama, dan Oma Abizhar.


"Om, Tante, Oma kami permisi dulu." Andrew dan Angel bergantian mencium tangan Satya, Andin dan Trio Oma.


"Terima kasih ya sudah jenguk Abizhar." jawab Andin sambil tersenyum.


Satya hanya menjawab dengan anggukan sambil tersenyum.


Tatapan Satya begitu intens saat kedua anak kembar itu mencium tangannya.


Satya hayut dalam pikirannya, hingga baru disadari saat Andin menepuk lengan Satya.

__ADS_1


Satyapun menyadari bahwa kedua bocah kembar tersebut telah berlalu dari parkiran rumah Satya dan Andin.


"Mas, kamu kenapa?" Andin menanyakan perihal suaminya yang sedikit aneh.


"Eh,Ah, gpp sayang, Mas hanya terpikir pekerjaan yang tadi belum selesai." Satya menjawab seadanya.


"Yasudah kalau begitu, lebih baik sekarang Mas mandi dulu, aku siapin air hangatnya, nanti kita makan malam sama-sama." Andin mengajak suaminya ke kamar.


Abizhar makan disuami Andin.


"Masih pahit mulutnya sayang?" Andin menanyakan kondisi Abizhar.


"Sudah tidak Ma, cuma masih belum selera makan." Abizhar menjawab.


"Yang penting terisi walaupun sedikit. Malam ini istirahat ya. Jangan belajar dulu, Jangan main Games dulu. Tidur yang cukup." Andin yang tahu kebiasaan Abizhar.


"Iya Mama. Siap!" Abizhar menjawab penuh keyakinan pada sang Mama.


Dinda dan Fandi masu ke kamar Abizhar.


Keduanya baru saja membelikan obat yang diresepkan dokter untuk Abizhar.


Dinda dan Fandi juga membawa makanan dan hal yang disukai Abizhar.


"Sayang, Aunty sedih deh kalau gantengnya Aunty sakit." Dinda memeluk keponakannya menciuminya dengan gemas sambil memberikan papar bag berisi Sushi kegemaran Abizhar.


"Makasi Aunty." Abizhar meminta disuapi Dinda saat menikmati sushi kegemarannya.


Dinda senang melihat keponakannya tersenyum lagi.


"Ini apa Uncle?" Abizhar menerima paperbag yang diberikan Fandi.


Fandi memberikan kode agar Abizhar membukanya.


Tentu saja Abizhar membukanya dengan meminta izin terlebih dahulu pada Fandi.




"Wah terima kasih Uncle." mata Abizhar berbinar melihat apa yang dipegangnya.


"Ada syaratnya?" Fandi tahu Abizhar menyukainya namun Fandi ingin mendukung nasehat Andin selaku orang tua Abizhar.


"Apa Uncle?"


"Abizhar harus sehat dulu baru boleh main games. Oke?"


"Iya Uncle. Abizhar pasti cepet sembuh." Abizhar dengan senyum lebarnya sambil memeluk kedua kaset PS5 ditangannya.


"Ayo makan lagi, biar cepet sembuh." Dinda kembali menyuapi keponakannya.


Satya dan Andin masuk ke kamar Abizhar menyaksikan semuanya dengan tersenyum.


"Kalau Obatnya ini, Pasti cepet sembuh. Ya kan Pa?" Andin mengarahkan matanya pada Satya agar melihat apa yang kini ada pada Abizhar.


"Iya Ma." Satya membenarkan ucapan istrinya.


Abizhar hanya bisa tersenyum walau dalam hati ngeri-ngeri sedap sambil mempererat kedua kaset PST dalam genggamannya.

__ADS_1


Dinda dan Fandi tersenyum melihat ekspresi dan reaksi Abizhar.


...****************...


__ADS_2