Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 105 Cemburu Menguras Energi


__ADS_3

Andin, Satya, Abizhar dan si kembar Safeea dan Safeena kini menikmati waktu santai mereka di rumah.


"Ma, Oma Dona dan Oma Shopia kemana lagi sih?" Abizhar menanyakan kedua Omanya yang belakangan sering bepergian.


"Oma dan kawan-kawannya kan sedang membuat sekolah-sekolah gratis di sejumlah daerah, untun itu Oma harus beberapa tempat mengurusnya." jelas Andin.


"Bunda dan Mama ga kecapean banget Sayang?" Satya mengkhawatirkan Bunda dan Mama nya dengan padatnya kegiatan mereka berdua beberapa bulan kebelakang.


"Bunda dan Mama itu tipe-tipe wanita yang aktif dan produktif Mas, kalau diem mereka malah sakit katanya." Andin mengenal betul kedua wanita yang begitu ia hormati.


"Tapi jangan lupa untuk jaga kesehatan dan rutin check up, tolong diingatkan Sayang." Satya mdmang mengkhawatirkan kedua wanita yang kini berusia tak lagi muda itu.


"Iya Mas. Lagi pula dokter Alisha juga ikut perjalanan kali ini. Paling tidak ada yang akan mengingatkan Bunda dan Mama."


Satya manggut-manggut mendengarkan penjelasan istrinya.


HP Andin berdering, segera Andin menjawab panggilang yang ternyata dari Cici asisten Gina.


Berhubung Gina cuti 1 minggu pasca menikah. Andin memberikan paket honeymoon ke Singapura untuk Gina. Teringat wanita itu pernah bilang ingin sekali melihat patung yang berbentuk kepala singa di Singapura.


"Oh gitu ya? kalau memang begitu ya kita pakai Tio. Nanti Saya akan telpon ke Mario." Andin mengakhiri pembicaraannya pada Cici.


"Assalamualaikum." Andrew, Dito, Bagas dan Aditya datang ingin menemui Abizhar.


"Waalaikumsalam." jawab Satya dan Andin sekaligus menerima saliman semua sahabat putranya.


"Tante, Om kami ingin mengajak Abizhar main PS boleh?" Andrew meminta izin mewakili teman-temannya.


"Boleh. Silahkan kalian main. Oh iya makan siang dulu bareng Abizhar ya. Bi minta tolong disiapkan makan siang Abizhar dan teman-temannya." Andin memberitahu asisten rumah tangganya menyiapkan makanan untuk tamu putranya.


"Pa, Ma, Abizhar ke dalam dulu ya." Pamit Abizhar bersama teman-temannya.


"Permisi Om, Tante, kami ke dalam dulu."


Satya mengernyitkan dahi setelah mendengarkan pembicaraan Andin soal Tio di telpon.


Andin menangkap wajah suaminya yang seakan menuntut penjelasan.


"Sus bawa Safeena dan Safeea ke kamarnya ya."


"Baik Bu."


Kedua Sus Safeea dan Safeena membawa kedua putri kembar majikannya.


"Mas, kenapa?" Andin duduk mendekati Satya yang raut wajahnya sedikit ditekuk layaknya pedagang sepi pembeli.


"Mesti ya pake dia?" Satya dengan wajah juteknya sambil terus memainkan Mobile legend mengalihkan kesal hatinya.


"Suami aku kalau cemburu ngegemesin deh." Andin menggelitik pinggang Satya.

__ADS_1


Satya masih tak luluh kini berpindah tempat duduk di gazebo taman belakang.


"Mas, aku tuh udah bucin sama kamu. Masa kamu ga percaya sama aku?" Andin masih merayu Satya yang masih setia dengan kecemburuannya.


"Aku percaya sama kamu, tapi ga sama dia. Huhft!" Satya tak pernah sudi menyebut nama mantan istrinya.


"Yang penting aku cinta sama kamu. Aku ga ngurus kalo dia yang masih ada rasa ke aku." Andin meyakinkan Satya.


"Benerkan dia masih cinta sama kamu. Ga usah pake dia. Ganti aja yang lain." Satya bukan mereda malaj semakin menjadi.


"Mas. Aku mesti gimana donk. Kamu tahu klien awalnya minta Mario tapi istri Mario lagi keguguran, dan Tio lah yang diminta klien menggantikan. Aku hanya profesional kerja kok. Kamu percaya kan sama aku?" Andin membujuk suaminya agar tidak marah plus ngambek lagi.


Satya tidak menjawab.


Satya percaya perasaan Andin dan cinta Andin memang untuk dirinya.


Seperti yang Satya katakan justru ia tidak mempercayai Tio.


Saat terakhir prewed Dinda, Sqtya melihat tatapan Tio pada Andin masih ada rasa pada istrinya.


Pria dan Suami mana yang senang jika istrinya masih dilirik sang mantan.


Mengingat itu membuat Satya kesal.


"Mas, ke kamar yuk." ajak Andin.


"Aku kemarin baru beli "Baju Bagus Loh. Kamu ga mau lihat aku pakai?" kode yang biasa keduanya gunakan seolah Andin kini sedang membujuk Satya suaminya agar ngambeknya hilang.


"Triple atau aku ga mau!" Satya tampaknga menggubakan kesempatan dengan bagus.


"Astaga punya suami bener-bener." batin Andin.


"Mau Triple, Mau berapapun, aku sih oke aja. Gimana?" Andin berjuang memenangkan hati suaminya agar sirna ngambeknya membuat Satya begitu senang dengan jawaban Andin.


Satya dengan senyum dan alis terangkat dengan stelan wajah modusnya menggandeng tangen Andin.


Andin menepati janjinya.


Kostum special kini terbalut ditubuhnya dengan indah.


"Wow,Luar biasa!"


Satya meneguk salivanya kasar melihat pemandangan indah menggetarkan naluri kelakiannya.


"Your mine baby."


Satya melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Andin.


"Gimana Mas?"

__ADS_1


Tanya Andin memancing jemari Satya bertamasya dalam wahana rekreasi Andin membuat sang pemilik belinhsatan panas dingin.


"Your beautiful honey."


Satya semakin gencar melancarkan serangan pada setiap wahana yang terpampang nyata bukan fatamorgana.


Udara dari pendingin kamar keduanya seakan tak terasa berubah panas seiring kucuran deras keringat keduanya.


"Ini, Ini, Ini, semua milikku Sayang."


Satya menyematkan tanda kepemilikan setiap yang ia lewati menegaskan bahwa keindahan dan surga dihadapan matanya adalah satu-satunya miliknya.


" I Always be with you darling."


Tentu saja geliat manja Andin mampu membuat Naga Sakti menantang sempurna.


"Ada yang minta dimanja Sayang. Are you ready?"


Kedipan nakal Satya mampu menciptakan suasana panas di siang hari saat ini.


Andin menemani Abizhar belajar.


Satya mendekati putranya yang kini tampak mengerjakan soal matematika.


"Abizhar, mau masuk SMP mana Nak?"


"Kepinginnya Masuk SMP A Pa. Doakan ya Pa, Ma, semoga keinginan Abizhar bisa terkabul."


"Aamiin." Satya dan Andin.mengaminkan.


"Oh iya Pa, Ma, tadi Andrew cerita, bahwa Andrew dan Angel setelah lulus SD akan kembali ke German, melanjutkan sekolah disana. Katanya agar bisa bersama dengan Mommy dan Daddy nya." raut kesedihan terpancar dalam wajah Abizhar.


Andin dan Satya sebetulnya sudah mengetahui kabar tersebut dari Daniel.


Vera menginginkan kedua putra dan putrinya berada didekatnya.


Daniel mengatakan transplantasi jantung yang Vera lakukan berhasil namun ada efek samping lain dari penyakit tersebut hingga dokter memprediksi sisa umur Vera tak lama lagi.


"Sayang, kamu kan masih bisa telpon atau zoom dengan Andrew dan Angel. Jaman sekarang sudah canggih. Jadi bila kamu kangen dengan Andrew dan Angel bisa mudah." Andin mengusap kepala putranya menyembunyikan kesedihan tentang nasib Mommy dari Andrew dan Angel.


"Ya, meski kalian terpisah jarak, bukan berarti persahabatan kalian berakhir Nak. Kalian bisa saling berkomunikasi." Satya pun menepuk bahu Abizhar menguatkan putranya.


Keduanya saling menatap.


Satya maupun Andin sudah mendapatkan kabar itu sejak 2 bulan lalu.


Hingga kini baik Andrew dan Angel masih belum mengetaahui kondisi kesehatan Vera, Mommynya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2