
Kata SAH sudah dikantongi. Resepsi pun sudah selesai digelar.
Kedua orang tua kedua belah pihak pun sudah kembali kekediaman masing-masing.
Kini Gilang dan Gina berada dalam satu kamar hotel yang memang diberikan Andin sebagai tempat keduanya mengukir malam bersejarah.
"Wah bagus yang Neng, Nyonya Satya emang TOP!" Gilang saat memasuki kamar hotel yang didekorasi layaknya kamar pengantin dengan dua angsa menyambut mereka.
Gina sering sekali melihat hal seperti ini.
Senagai Manager di sebuah WO ternama membuatnya sering menyiapkan hal-hal seperti ini bagi para kliennya.
Namun terasa berbeda kali ini ia dan Gilang yang mendapatkan kejutan dari sang Boss yang baik hati layaknya kakak sendiri bagi Gina.
"Yang, kamu kenapa? Kok nangis? Padahal Abang belom ngapa-ngapain kamu loh." Gilang mendekati Gina tang terlihat menitikkan airmatanya.
"Terharu aja. Biasanya aku yang nyiapin hal-hal romantis begini untuk klien kita." Gina menundukkan wajahnya.
Gilang tampak sigap.
Tangan Gilang mengangkat dagu wanita cantik yang kini resmi menjadi istrinya.
Wajah keduanya kini beradu pandang.
"Cantik." Manik mata Gilang menatap lekat wajah Gina begitu dekat hingga mamou merasakan hembusan nafas istrinya.
Gilang meraih pinggang Gina merapatkannya dengan tubuhnya.
Keduanya masih menggunakan Jas pengantin dan Gaun Gina.dengan segala aksesorisnya pun masih melekat ditubuh sang pengantin.
"Terima kasih Ginara Khairunisa, sudah bersedia menjadi istri Gilang Bhaskara. Aku janji akan setia seumur hidupku padamu hingga kapanpun. I Love You Gina."
Gilang perlahan mendekatkan wajahnya. Mengikis jarak keduanya seakan udara pun tak boleh menjadi penghalang bagi keduanya melepaskan segala hasrat yang telah membuncah didada.
Gina menatap sendu wajah Gilang yang malam ini begitu romantis.
Namun bayangan pelecehan yang Gina alami dimasa lalu membuatnya takut.
Gina memundurkan tubuhnya, melepaskan tangan Gilang dari pinggangnya.
"Maaf Bang, Gina..."
Gilang sudah mengetahui mengenai pelecehan yang Gina alami karena memang Gina juga sudah menceritakannya.
Meski saat itu Gina selamat hingga hal yang menjadi kebanggaan kaum wanita tersebut tak tersentuh sedikitpun namun bayanganan kelam itu selalu menghantui Gina itulah sebabnya selama ino Gina tidak sekalipun berdekatan dan menjalin hubungan dengan laki-laki manapun.
"Sayang. Jangan takut ya. Abang disini dan Abang akan selalu melindungi kamu. Abang ga akan maksa kalau kamu belum siap."
Gilang menggenggam tangan Gina menatap wajah yang kini banjir keringat dan pucat pasi.
Gilang mengusap keringat yang bercucuran di dahi Gina.
Gilang mengusap lembut Gina sambil menatap teduh manik mata itu yang menyiratkan kecemasan.
"Abang, maafin Gina. Gina juga ga mau begini Bang. Harusnya Gina bisa menjalankan kewajiban Gina ke Abang."
Suara bergetar dengan tubuh yang mengguncang sebab isakan tangis Gina menyesali reaksi tubuh akan ingatan buruknya kembali mengganggu malam yang seharusnya indah dilewati keduanya selayaknya pasangan pengantin baru pada umumnya.
"Sayang, sini. Boleh Abang memelukmu?" Gilang merentangkan kedua tangannya bersikap hati-hati tak ingin membuat Gina justru semakin takut.
Perlahan Gina mendekatkan dirinya kearah Gilang.
__ADS_1
Perlahan selangkah demi langkah, mengikis jarak dan kini hanya dengan hentakan tubuh keduanya akan mendekat erat.
"Boleh Abang peluk kamu Sayang?" Gilang menatap wajah Gina meminta izin yang semestinya tak perlu dilakukan jika situasinya dengan pasangan lain namun Gilang memahami kondisi Gina.
Anggukan pelan Gina membuat Gilang memberanikan diri membawa tubuh istrinya dalam dekapannya.
Gilang mengusap kepala istrinya menepuk punggung Gina dan mengecup pucuk kepala Gina dengan lembut.
Sentuhan Gilang sedikit demi sedikit menurunkan degupan kecemasan yang membuat jantung Gina tak henti berdetak kencang membuat sesak didadanya.
Gina perlahan mampu mengatur nafasnya yang kini kembali tenang masih dalam dekapan Gilang.
"Abang. Abang cinta sama Gina?" kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Gina.
Gilang melepaskan pelukannya, menghentikan tepukan dipunggung Gina.
Tangan Gilang memegang kedua lengan Gina.
Gilang mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Gina menatap setiap lekuk garis wajah istrinya yang begitu cantik dan telah mencuri hatinya sejak tabrakan di pernikahan Dinda dan Fandi kala itu.
"Meski kamu bukan yang pertama membuat Abang jatuh cinta, namun akhirnya hati Abang berlabuh dalam lautan cintamu Ginara Khairunisa. Hati ini kini telah terukir namamu. Hati Gilang Bhaskara hanya ada nama kamu seorang Ginara Khairunisa. I Love you my wife."
Gina dengan keharuannya menatap manik coklat milik Gilang, mencari apakah ada kejujuran dalam kata-kata pria yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Mata Gina berkaca-kaca, menganak sungai mendengar pernyataan cinta suaminya yang begitu masuk dalam relung hatinya.
Gilang mengusap airmata yang mengalir disudut mata Gina, perlahan mendekat, Gilang mengecup kedua mata Gina perlahan.
"Jangan lagi mata indah ini menangis jika hanya kesedihan yang menciptakannya."
"Terima kasih Abang mau menerima Gina dan masa lalu Gina." tangis Gina semakin menjadi.
Gilang memeluk Gina menenggelamkan wajah Gina dalam dada bidangnya yang hangat.
Menciumi bertubi pucuk kepala Gina dengan kasih sayang.
"Aku mencintaimu sepenuh hatiku. Apapun yang terjadi Dulu, Kini dan Saat Nanti aku akan tetap mencintaimu."
Perkataan Gilang membuat kenyamanan pada hati Gina.
Gina tak menyangka pria yang awalnya dianggapnya jahil, pengganggu dan petakilan ternyata memiliki sisi romantis dan lembut.
Gilang menuntung Gina ke tepi ranjang.
Mendudukannya dengan lembut.
"Abang,,," Gina tampak kembali menegang cemas.
Gilang mengetahui kecemasan diwajah istrinya.
"Sayangnya Abang Gilang, malam ini kita tidur yuk. Seharian tadi pasti kamu capek. Abang tidak akan melakukannya sampai kamu siap." Gilang menatap dengan kesungguhan saat memandang wajah Gina.
"Sekarang kamu mandi dulu ya. Atau mau Abang yang mandiin?" Goda Gilang mengedipkan matanya.
Sontak mendapat tonjokan dilengannya dari sang istri.
"Wah istri Abang Malam Pertama udah KDRT aja." Gilang mencubit gemas hidung istrinya.
Gina tersenyum mendengar candaan Gilang yang seperti biasa.
"Hayoo mandi sana. Nanti gantian." Gilang kini pindah duduk di sofa kamar itu.
Gina beranjak menuju kamar mandi.
__ADS_1
Gilang mengatur nafasnya.
"Aku hanya manusia biasa. Tentu hasratku saat ini sudah diubun-ubun. Tapi aku akan bersabar dan tak mau egois." batin Gilang menentramkan hatinya sekaligus menentramkan belut listrik yang mulai bereaksi.
Gina kemudian keluar dan masih memakai gaun pengantinnya.
"Loh kok belom mandi Yang. Jangan-jangan bener ya mau mandi bareng?" Gilang menggoda istrinya.
Bukan jawaban Gina menimpuk Gilang dengan bunga melati yang ia buka dari kepalanya.
"Abang bisa bantu Gina ga?" Gina dengan gugup.
"Bantu apa Ayangku?" Gilang mendekati istrinya yang wajahnya terlihat gugup.
"Tolong bukakan resleting dibelakang. Gina susah buka sendiri." Gina dengan terbata-bata mengutarakannya.
Gina memunggungi Gilang bersiap dibukakakn gaunnya.
Gilang yang sejak tadi harus bisa menahan gelora asmaranya kini semakin diuji dan kembali harus berperang menekan hasrat belut listriknya.
Gilang menurunkan resletinh gaun pengantin yang melekat pada tubuh Gina.
Terpampang kulit mulus, halus dan harus yang tercium hidung mancung Gilang.
"Sudah Bang?" Gina yang tak mendengar suara Gilang.
Dengan gugup dan terbata Gilang menjawab pertanyaan Gina.
"Su,Sudah Yang."
"Makasi Bang. Gina mandi dulu ya."
Gina melihat wajah Gilang yang memerah tanpa berkedip memandang punggungnya.
Bergegas masuk ke kamar mandi, agar degup jantung yang tak terkontrol milik Gina segera meredam.
Gilang sendiri masih berusaha mengontrol naluri kelaki-lakiannya yang kini membuat belut listrik menegang sempurna.
"Hai Brother, Calm. Sabar. Belum sekarang. Sabar ya." Gilang berdialog melakukan negosiasi dengan belut listrik miliknya.
Sebagai pria dewasa normal tentu sulit bagi Gilang untuk tidak tersulut gairah, terlebih ingatannya masih begitu jelas saat membuka resleting tadi.
Punggung putih, bersih, halus, mulus dan harum milik Gina membuat sukses dan berhasil membangunkan sang belut listrik.
Gina sudah selesai mandi. Berganti piyama tidur bukan lingerie seperti yang banyak dilakukan pengantin lain.
"Abang mandi dulu ya."
Gilang memilih segera masuk kamar mandi.
Menuntaskan yang tertunda, menidurkan belut listrik dengan senam 5 jari.
"Sabar Bro, ada saatnya Lo bakal ke masuk kandang."
Gilang dengan segala kemampuannya menidurkan belut listrik.
Gina mendengar suara-suara dari kamar mandi meski samar.
"Abang, Abang kenapa?" Gina khawatir.
"Abang gapapa Sayang." jawab Gilang.
Gilang dengan terengah menjawab pertanyaan Gina setelah berhasil melakukan pelepasan.
__ADS_1