
Pagi tadi ijab qabul Daniel dan Syahla sudah terlaksana dengan.satu kali tarikan nafas, kini Syahla resmi menyandang status baru sebagai Nyonya Daniel Harold.
Pesta mewah dan meriah telah terhelat dengan sentuhan tangan dingin Andin dan Tim membuat resepsi keduanya begitu memukau mata para tamu yang turut hadir memberikan ucapan selamat dan doa restu kepada kedua pasangan yang tengah menjadi raja dan ratu sehari.
Daniel khusus menyiapkan malam ini sebagai malam yang tak akan terlupakan.
Malam yang akan menjadi saksi penyatuan dua kerinduan yang saling bertemu dalam mahligai suci pernikahan.
Tak ada lagi batasan dari ujung kaki sampai ujung rambut Syahla kini sepenuhnya menjadi milik Daniel suaminya.
Debaran gemuruh dalam dada Syahla begitu kencang hingga detak jantung Syahla seakan mau copot jikalau saja bisa terdengar oleh Daniel.
Daniel dengan tatapan yang mampu melelehkan hati Syahla, mengahangatkan jiwa raga serta menimbulkan gelayar listrik membuat bulu roma Syahla berdiri merinding karenanya.
Daniel berjalan perlahan, mendekati kaca besar dalam kamar president suite yang disulap bernuansa romantic bertabur bunga wangi semerbak memabukan indera penciuman keduanya.
"Honey, mau aku bantu." Daniel berjalan mendekat kearah Syahla yang tengah melepas crown dan segala aksesories di tubuhnya plus gaun pengantin yang kirini masih melekat pada tubuh Syahla.
Hembusan nafas Daniel di telinga Syahla meremangkan sekujur tubuh Syahla, seakan membangunkan seluruh bulu roma hingga jantung Syahla bagaikan atlet maraton pasca pertandingan.
Anggukan Syahla mengembangkan senyuman di wajah Daniel.
Daniel memutar tubuh Syahla membuat keduanya berhadapan.
Syahla sekilas menatap manik biru emerald milik Daniel.
Pria berwajah Blasteran yang begitu tampan, mapan dan rupawan dihadapannya kini adalah suaminya.
Seolah bagaikan mimpi bagi Syahla menjadi Nyonya Harold.
Syahla tak pernah sedikitpun membayangkan ia akan menjadi wanita beruntung seperti sekarang ini.
Perlahan tanpa Syahla sadari airmatanya menetes membasahi pipi mulusnya.
Daniel tentu saja heran, gerangan apa yang membuat istri cantiknya di malam pertama menangis padahal ia sendiri belum melakukan apapun.
"Are you oke honey?" tanya Daniel dengan wajah heran.
Sambil mengusap air mata Syahla yang masih mengalir dan menganak sungai disudut mata Daniel menatap manik cokelat milik Syahla dengan tatapan lembut.
Anggukan Syahla membuat lega perasaan Daniel, namun masih bingung apa sebab Syahla menangis.
"Honey, aku tak akan memaksa jika kamu belum siap." Daniel menduga Syahla panik takut Daniel meminta haknya malam ini.
Senyuman Syahla dan rona merah dipipi Syahla seakan menyiratkan Syahla malu akan kata-kata Daniel menyinggung soal hak dan kewajiban yang tentunya Syahla paham apa maksud dari perkataan Daniel.
"Terima kasih karena mu aku merasakan kebahagiaan, kamu memperlakukan aku dengan baik dan aku bisa merasakan itu. Aku terharu dan tak bisa berkata-kata. Ini terlalu indah dan manis, Dan." Syahla dengan panjang lebar menyampaikan rasa hatinya pada Daniel.
__ADS_1
Daniel tersenyum mendengar kata-kata Syahla.
"Aku mungkin bukan orang sempurna bagi mu, namun aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia sebisaku dan semampuku Nyonya Daniel Harold."
Syahla senang mendengar sapaan Daniel padanya
"Aku bahagia bisa menjadi Nyonya Daniel Harold, Honey." Syahla dengan senyuman manisnya.
Kali pertama Daniel mendengar langsung dengan jelas Syahla memanggilnya Honey.
"Aku suka panggilanmu barusan. Bisa ulangi?"
Syahla tersipu malu, penepuk pelan dada Daniel dengan manja.
"Honey, aku malu." Syahla dengan tersipu menundukkan wajahnya.
Pukulan manja Syahla ledua kali berhasil ditangkap Daniel.
Daniel menggenggam tangan Syahla.
Bola mata Syahla membuat terasa debaran jantungnya semakin berdetak kencang, jemarinya seakan kaku dalam genggaman tangan Daniel.
Perlahan Daniel menatap membaca mimik wajah istrinya, tiada penolakan Daniel mendekatkan wajahnya perlahan pada wajah Syahla.
Rasa panas dan gerah seakan menghinggapi tubuh Syahla meski pendingin udara dikamar tersebit berfungsi dengan baik.
Sejenak daging kenyal keduanya dibiarkan menempel saja tanpa ada pergerakan.
Menyesuaikan irama nafas yang tersengal meski tidak ada aktifitas yang lebih.
Daniel bisa merasakan kegugupan Syahla, tubuh Syahla sedikit bergetar dan keringat yang membasahi dahi itu kini menetes melewati sudut alis Daniel.
Daniel melepaskan kecupannya. Syahla sedikit perlahan membuka matanya melihat Daniel kini begitu dekat dengan wajahnya.
"Are you ready honey?"
Seakan terhipnotis Syahla mengangguk menuruti kehendak dan keinginan Daniel.
Daniel kembali menyatukan daging kenyal keduanya.
Berbeda dengan tadi, kecupan itu kini berubah menjadi pagutan yang semakin lama semakin dalam.
Syahla yang masih kaku hanya menerima sensasi yang Daniel berikan dan dirasakan nikmat oleh Syahla.
Daniel tampak masih asik menikmati jamuan menu pembukanya seakan tak habis persediakan oksigen dalam paru-parunya.
Berbeda dengan Syahla yang kali pertama melakukannya membuat nafasnya tersengal persediaan oksigennya semakin menipis.
__ADS_1
Daniel memberikan jeda pada Syahla melepaskan pagutannya membiarkan Syahla menghirup seabanyak-banyaknya oksigen kemudian dengan ceoat kembali Daniel melanjutkan appertizernya yang semakin membuatnya berselera.
Kecupan Daniel kini mulai turun keleher jenjang Syahla hingga sang pemilik keindahan melenguh menciptakan suara indah membangkitkan hasrat yang tertahan milik Daniel.
"Lepaskan Honey, jangan ditahan. Suaramu indah Sayang." Daniel memberikan rayuan srmakin membuat Syahla tak mampu lagi menahan sesuatu yang begitubia nikmati.
Entah kapan Daniel melepaskan segala penghalang di sisi atas Syahla, kini bagian itu sudah tak tersisa sehelai benangpun.
Saat pagutan dilepaskan oleh Daniel, Syahla sadar bahwa bagian atas tubuhnya kini polos layaknya kanvas lukis yang siap diberi sketsa oleh sang pelukis menciptakan mahakarya.
Syahla menyilangkan kedua tangannya didada seakan malu dilihat Daniel dalam keadaan seperti itu.
"Honey, kenapa ditutupi, ini begitu indah. Boleh aku memandang keindahan yang kini halal untukku?"
Kabut dalam tatapan mata Daniel seakan ia tak mampu lagi menahannya.
Perlahan Syahla mengalah, membuka dan membiarkan Daniel memandang kedua buah persik miliknya.
"Cantik dan Indah." Daniel memuji aset milik Syahla yang seakan menantang Daniel.
Tanpa aba-aba Daniel kini berselancar meneguk manisnya surga dunia menjelajah dengan segenap jiwa dan raga.
Sang pemilik pun tak lagi menghalangi, menikmati setiap pendakian sang pendaki dengan keringat bercucuran namun menuntut lebih lagi dan lagi.
Kedua anak manusia yang merajut indah, berselimut gelora asmara menjadikan untaian kata menjadi sebuah laku dalam menciptakan romansa yang rak dapat dilupakan.
Segala penjuru, Segala arah dilintasi tanpa henti, mencari dan membuktikan apa yang selama ini didengar dan dilihat meski hanya sebatas mimpi dan khayalan.
Keduanya tampak lelah namun tak ada niat mengakhiri karena ini baru saja dimulai.
Perumpaan bersakit-sakit dahulu bersenang senang kemudian tampaknya kini dirasakan Syahla yang awalnya terkejut membenarkan pengalaman teman-temannya namun sedikit demi sedikit rasa sakit itu berubah menjadi kenikmatan yang tiada tara.
Daniel yang sejauh ini hanya bersolo karier baru kali ini Anancondanya memiliki sarang yang nyatanya luar biasa rasanya dibandingkan drngan bersolo karier.
Saat diujung pendakian kini keduanya melepas dahaga, melepaskan bersamaan menuju puncak keindahan di dunia.
"Thank you Honey, your the best." Daniel mengecup kening Syahla.
Syahla lelah dan anggukannya sudah cukup menjawab ucapan terima kasih Daniel.
"Honey, kita istirahat, tidur. Besok pagi baru kita lanjutkan." Daniel mengedipkan sebelah matanya pada Syahla.
"Dasar Bule. Ga ada matinya, Padahal sudah 3 kali puasa dan 3 kali lebaran, rapi besok pagi masih minta." batin Syahla.
Keduanya terlrlap saling mendekap, membiarkan raga terbebas dari balitan tertutupi selimut tebal menghalau angin yang masuk.
...****************...
__ADS_1