
Suasana pagi di hari minggu.
Hari ini Andin dan Dinda menikmati treatment full dari ujung kepala sampai kaki.
Keduanya menikmati saat tubuh mereka di massage.
Andin yang merasakan kenyamanan di seluruh tubuhnya dan lebih relax.
Sejak hamil Andin memang merasakan tubuhnya sering pegal-pegal.
Satya pun kerap kali berubah profesi sering dimintakan tolong memijat Andin saat malam.
"Din ga sabar nunggu minggu depan Mama Shopia dan Bunda pulang. Gw kangen banget." Dinda yang sudah merindukan kedua ibunya mengutarakan pada Andin.
"Alhamdulillah Mama Shopia sudah pulih dan sehat. Iya kangen banget memang. Kita jemput bersama Din." Andin menanggapi kata-kata Dinda.
Keduanya begitu menikmati treatment yang mereka jalani.
Sampai Satya menghubungi Andin.
"Assalamualaikum." jawab Andin.
"Waalaikumsalam Sayang. Sayang, kapan pulang. Kamu lama amat diculik Dindanya." Satya nyerocos protes sang istri dibawa Dinda.
Dinda yang tahu kakak nya pasti bawel dengan kepergian mereka cuma cengengesan saja.
"Mana Dinda Mas mau ngomong." Satya meminta Andin memberikan telp kepada Dinda.
Dinda menerima sambil senyum senyum aja.
"Halo Kakakku yang bawel." Dinda senang sekali meledek kakak tersayangnya.
"Din, cepet pulang. Nyulik istri orang lama banget." Satya segera mendengus kesal.
"Duh bucin banget sih. Istrinya butuh healing pak." Dinda menjawab santai.
"Pokoknya pulang." Satya bete sendiri dirumah.
Satya mematikan sambungan telponnya.
Dinda mengembalikan HP Andin.
"Mas Satya bilang apa?" Andin menanyakan.
"Lo disuruh cepet pulang. Tapi kita ke Mall bentar ya. Ada yang mau gw beli." Dinda meminta diantar Andin.
"Nanti Mas Satya tambah ngambek gimana?" Andin takut suaminya semakin marah.
"Ga bakal paling manyun doang." Dinda jawab cengengesan.
Satya memang begitu possesive.
Seakan tak mau jauh dari istrinya.
Padahal dulu dengan sang mantan Satya ga segitunya.
Yah memang semua suami jika menemukan wanita yang tepat akan bucin pada waktunya.
Andin dan Dinda masuk ke Mall.
Dinda menuju Balenciaga.
Dinda membeli beberapa pakaian dan sendal disana.
Dinda pun memilihkan Andin beberapa pakaian.
Keduanya asik ngobrol sambil shopping disana.
__ADS_1
Membicarakan banyak hal.
Keduanya memang dari dahulu sering menghabiskan waktu bersama.
Paling jika sedang dengan pacar masing-masing keduanya baru tidak bertemu.
Kini, Keduanya lebih dari sekedar sahabat, kakak dan adik ipar.
Andin melihat penampakan Fandi, tetangganya yang merupakan musuh Dinda.
"Din, lihat deh." Andin menunjukkan kearah Fandi yang juga baru masuk ke Balenciaga bersama seorang wanita.
Dinda melihat sekilas namun kembali melihat-lihat kearah pakaian.
Dinda tak mempedulikan hal tersebut karena memang Dinda malas jika berhubungan dengan Fandi.
Dinda kerap bertemu dengan Fandy dalam urusan pekerjaan.
Namun setelah kejadian dirumah Fandi, sikap Fandi tak lagi meledek Dinda.
Dinda justru senang Fandi ga sok SKSD pada dirinya.
Fandi menyadari keberadaan Dinda bersama Andin.
"Mbak Andin, disini juga." Fandi menyapa Andin namun tatapannya mengarah pada Dinda.
Dinda tentu cuek bebek saja membiarkannya.
"Iya." Jawab Andin.
"Kita duluan ya Mbak."
Fandi pamit membawa wanita yang bersamanya keluar darii Balenciaga.
Fandi yang digandeng oleh wanita disampingnya fokus menatap Dinda yang menganggapnya seolah ga ada.
"Ya gpp lah Din." jawab Dinda santai.
"Cewek tadi siapanya Fandi ya Din." Andin memancing Dinda.
"Meneketehe Din." Dinda asik mencoba-coba sendal.
"Ga kepo emang?" Pancing Andin.
Kini tatapan mata Dinda membulat pada Andin.
"Jangan kayak Bunda ya." Dinda memasang wajah bete.
"Maaf-maaf. Cuma ngingetin aja, Benci itu biasanya bener-bener cinta." Andin tersenyum menantikan reaksi Dinda.
Dinda memilih tidak menjawab komentar Andin.
Andin putus asa strateginya ga berhasil.
Telpon Dinda berdering. Dinda menjawab panggilang masuk di HP nya.
"Halo."
"Ada apa ya?"
"Besok?"
"Paling setelah makan siang."
"Ok kalau begitu."
Dinda menutup telponnya.
__ADS_1
Dinda menatap wajah sahabatnya menangkap wajah penuh pertanyaan dan rasa ingin tahu meski Andin diam tanpa suara.
"Kepo ya?" ledek Dinda pada wajah penasaran Andin.
"Ho oh." Andin senyum.
"Dasar emak-emak. Kayak Bunda Lama-lama Lo!" Dinda cengengesan setelah mengatai Andin.
Keduanya tertawa bersama dan saling bercanda.
Dinda tampaknya memang niat shopping.
Katanya sebentar malah sampai sore ia mengajak bumil kesana kemari.
Namun Andin senang bisa memberikan waktu pada sahabatnya.
Terlebih Andin tahu jauh dilubuk hati Dinda ia kesepian dan Dinda tidak mudah dekat dengan orang lain.
Andinlah sahabat Dinda.
Soal Suaminya Andin terima resiko jika nanti Satya merajuk.
Dinda mengajak Andin menikmati makanan di sebuah restoran shabu-shabu.
Sejak hamil Andin memang mengurangi tingkat kepedasannya.
Hal ini ia lakukan sesuai anjuran dokter kandungannya.
Dinda sama seperti Satya yang memang tidak terlalu menyukai pedas.
Keduanya tampak asik menikmati makanan mereka.
Andin juga menanyakan bagaimana keseharian Dinda dikantor begitupun Dinda yang menanyakan pekerjaan Andin di WO.
"Sekarang banyak banget ya selebriti yang nikahnya pake acara live TV." Dinda mulai mengomentari hal yang belakangan menjadi tren baru di dunia keartisan Indonesia.
"Ya selagi hal itu menguntungan mereka, ga ada tang salah sih. Mereka kan diuntungkan dalam segala hal Din." Jawab Andin yang memang sudah beberapa kali menangani klien artis yang pernikahannya live di stasiun TV.
"Iya juga sih. Bussiness is Bussines. Ibarat sambil menyelam minum air. Ibadah sekaligus dapet cuan." Dinda membenarkan.
"Kalo artisnya lagi ngetop sponsornya bejibun Din. Cuan banget buat mereka." Andin menambahkan.
"Wah enaknya orang lain nikah habisin uang, mereka malah menghasilkan uang. Coba gw artis." Dinda asal bicara.
"Bisa aja. Nikah sama pengacara Kondang sekaligus keponakan Pak Kapolri bisa diatur lah kalo mau Live." Andin kembali meledek Dinda.
Dinda ga bersuara hanya saja mata Dinda melotot galak tentu menjadi kebahagiaan sendiri buat bumil akan reaksi Dinda.
"Emang sebut nama, Geer tuh!" Andin pinter ngeles menular Satya sang suami.
Sambil mengusah perut Andin.
"Baby, nanti kalo udah lahir jadi Aunty Squad ya. Biar Aunty ada partner buat bales Papa sama Baby yang seneng ledekin Aunty."
Dinda mencari dukungan pada keponakannya yang belum lahir.
"Mana bisa begitu Din." Andin ga mau kalah.
"Doa orang terdzolimi biasanya dikabul Din." Dinda cengengesan sambil sok bijak.
"Wah bawa-bawa terdzolimi. Bukan Dzolim tapi ngedoain. Siapa tahu jodoh, kan ga ada yang tahu. Johan Din, Jodoh ditangan Tuhan." Andin kini dengan ketrampilan ngeles yang handal didikan Satya sang suami.
"Wah bener-bener nih sahabat, kudu diculik beneran. Ga gw pulangin kesuaminya biar suaminya tambah ngambek." Ancaman Dinda sambil cengengesan.
Keduanya bahagia menikmati kebersamaan mereka.
Layaknya judul FTV besutan Ibunda Nagita Slavina istri Selebriti Kondang Rafi Ahmad berjudul " Iparku Sahabatku".
__ADS_1
...****************...