
Hari ini upacara kelulusan Abizhar dari sekolah dasar membuat Ansin dan Satya bersiap menghadiri acara tersebut di sekolah putra mereka.
Tak ketinggalan Trio Oma, Aunty Dinda dan Uncle Fandi juga turut hadir dalam acara tersebut.
Tampak Abizhar adalah siswa dengan oasukan terbanyak yang mengajak anggota keluarganya untuk menghadiri upacara kelulusan dirinya dari sekolah dasar.
Abizhar dengan gagah menggubakan stelan jas. Tampak ketampanan Satya sudah menurun kepada putra sulungnya yang kini mulai memasuki usia pra remaja.
Andin membantu dua pria tamoan dalam hidupnya juga memilihkan baju untuk si kembar safeea dan safeena yang turut serta dalam acara tersebut meski bayi tersebut belum mengerti apa-apa.
"Ya Allah cucu Oma ganteng sekali. Sudah mau ABG." Oma Dona dengan celetuknya melihat Abizhar yang sudah menunggu dengan rapi di ruang keluarga sementara anggota keluarganya masih bersiap.
"Ganteng banget sih Mas nya Fadli dan Fadlan. Tuh Mas Abi lihat." Dinda dan Fandi saat masuk ke dalam ruang keluarga keluarga kecilnya turut meramaikan acara kelulusan Abizhar.
"Oke kita berangkat. Ayo!" Satya mengajak seluruh anggota kekuarganya masuk mobil berangkat menuju sekolah Abizhar.
Sekolah disulap dengan sedemikian rupa.
Tentu saja siapa lagi kalau bukan EO milik Andin yang kini sudah melebarkan sayapnya tidak hanya menerima klien-klien wedding.
Tampak Gina sudah hadir selaku manager dibantu dengan cici asisten Gina dalam acara kelulusan sekolah Abizhar.
Meski Gilang tidak ada kaitan dengan acara kelulusan sekolah tersebut ia ikut hadir selain ia memang selalu ingin menemani istri tercintanya saat bekerja apalagi ketika weekend dan ia memang libur.
Daniel dengan setia dan membuat semua guru-guru disekokah seakan dibuat terpesona saat turut hadir dalam acara tersebut mendampingi sang istri Miss Lala.
Abizhar kini berkumpul dengan teman-teman sekelasnya.
Jika biasanya mereka berpakaian seragam sekolah kali ini hadir dengan stelan jas dan kebaya bagi wanita membuat anak-anak yang berusia memasuki pra remaja terlihat lebih dewasa dan tak terasa para orang tua melihat putra dan putri mereka kini bukan lagi anak kecil seperti pertama kali masuk sekolah dasar.
Kini putra putri mereka sudah siap memasuki usia remaja.
Seakan baru kemarin melihat Abizhar lahir tapi kini Andin dengan wajah haru saat melihat Abizhar memberikan sambutan sebagai perwakilan siswa.
Abizhar menjadi siswa dengan nilai ujian tertinggi tahun ini.
"Mas, Abizhar gagah sekali ya." Andin begitu bangga menatap putra sulungnya.
"Sangat mirip Mas sayang. Lihat saja ketampanan itu menurun dariku." Satya begitu bangga akan wajah Abizhar yang mirip dengan dirinya.
Andin menyubit pinggang suaminya yang masih saja senang kegeeran sendiri membuatnya gemas.
Oma Dona tentu saja asik sekali menjadi juru foto untuk cucu sulungnya yang sedang memberikan sambutan hatinya begitu bangga sebagai nenek.
"Mas cucu kita lihat. Sudah besar. Persis seperti Satya dulu waktu seumur Abizhar." batin Oma Dona dalam hati terkenang mendiang suaminya.
Kepala sekolahpun memberikan sambutan dan selamat kepada seluruh siswa dan siswi yang lulus tahun ini.
Tampak Abizhar, Dito, Aditya, Bagas, Andrew, Caca dan Angel tengah asik ngobrol.
"Angel, jadi berangkat minggu depan? Caca bakal kehilangan Angel nanti." Caca dengan wajah sedihnya sambil memeluk sahabat bulenya yang beberapa tahun ini menjadi sahabat baiknya.
"Angel juga bakal kangen Caca. Caca itu kan bestienya Angel." Angel semakin mengeratkan pelukannya kepada Caca.
"Andrew pokoknya kita tetap bisa mabar. Semoatin waktu ya." Dito merangkul bahu Andrew.
__ADS_1
"Kita tetep harus keep contact ya bro!" Andrew tos dengan teman-teman prianya.
"Bakal kehilangan kiper terbaik kira nih." Abizhar menepuk bahu Andrew.
Obrolan mereka terhenti saat Miss Lala menghampiri semua siswanya tak terkecuali Abizhar and friends.
"Miss Lala." Caca dan Angel segera menghambur dalam pelukan guru sekaligus wali kelas mereka yang mereka idolakan dan sayangi.
Begitupun anak-anak pria mereka bergantian memeluk Miss Lala merasa sedih karena tidak akan setiap hari berjumpa guru kesayangan mereka.
"Loh, kok nangis. Kalian hebat. Luar biasa. Kalian sebentar lagi jadi siswa dan siswi SMP. Jangan lupa sama Miss ya." Miss Lala menahan keharuannya yang sebenarnya ia juga bersedih kehilangan siswa dan siswi terbaiknya.
"Kami tidak akan lupa sama Miss Lala. Miss janji ya, walau ada siswa baru, kami yang lama jangan dilupakan." Caca dengan manja masih memeluk Miss Lala.
"Miss Lala, Angel bakal rindu dengan Miss. Miss kalau Angel chat atau telp dibalas ya." Angel pun masih memeluki Miss Lala dengan posesif.
Jika sudah berjumpa dengan para siswanya Daniel tentu mengalah karena sang istri banyak sekali disayangi para murid-muridnya.
"Andrew, Angel, Lusa Daddy kalian akan jemput kalian. Nanti sekalian Uncle dan Aunty antar ke bandara ya." Daniel merangkul bahu kedua keponakannya itu.
Tampak raut kesedihan terlihat di wajah Andrew namun tertutupi dan memang Andrew sembunyikan walau sebenarnya ia sedih sekali tak bisa melihat Caca lagi entah sampai kapan.
Caca yang sedang asik mengambil es buah tampak diekori oleh Andrew yang sejak tadi sengaja mencari moment agar ia bisa berbicara dengan teman yang spesial dihati Andrew.
Caca yang tak menyadari bahwa Andrew mengikutinya tak sengaja hampir terpleset karena dibelit kain kebaya sendiri.
Namun dengan sigap Andrew menahan tubuh mungil Caca hingga kini Caca tak jatuh dan tertahan oleh tangan Andrew.
"Ah!" teriak Caca
"Hati-hati Caca. Masih aja ceroboh." Andrew jadi salah tingkah.
Ya mereka memasuki masa pubertas wajar saja sudah ada reaksi kecil dalam hatinya percikan cinta monyet.
"Andrew nolongin tapi ngomel.Kebiasaan!" Caca membetulkan sepatunya dan ternyata tali sepatunya copot.
"Yah talinya lepas. Wah Mommy bakal ngomel nih. Karena Caca ga kalem dan ceroboh." Caca dengan gumamannya.
"Kalo gitu Caca ikut Andrew dulu yuk. Andreq ada sendal supaya Caca tidak telanjang kaki." Andrew teringat di mobilnya ada sandal milik Angel dan ia akan berikan pada Caca karena sepatu Caca rusak.
Caca mengikuti Andrew karena tak mungkin Caca nyeker selama sisa acara.
"Wah Pas. Ini punya Angel ya? Caca mau ke Angel dulu deh mau bilang pinjam." Caca bergegas meninggalkan Andrew.
Tangan Andrew reflek menahan langkah Caca.
Caca melihat Andrew memegang tangannya wajahnya menkerut dan kemudian dilepas Andrew.
"Ca bentar deh. Aku mau kasih sesuatu sama kamu." Andrew mengambil sesuatu yang ada di saku dalam jasnya.
Sebuah kotak berwarna pink.
"Ini apa Andrew? Buat Caca?" Caca masih heran.
"Iya. Caca terima ya." Andrew dengan senyuman manis namun canggung.
__ADS_1
Caca menerima kotak berwarna pink itu dan menatap Andrew.
"Buka donk Ca." pinta Andrew.
Caca membuka kotak berwarna pink tersebut dan ternyata,
"Ini bagus banget Andrew." senyum Caca.
"Caca suka?" Andrew menatap wajah manis Caca dengan binar matanya.
"Suka. Tapi kenapa Andrew kasih ini ke Caca?" Caca heran menatap wajah Andrew.
"Andrew mau Caca tetap ingat Andrew. Jangan lupain Andrew." Andrew kini memberanikan melihat wajah Caca.
"Pasti Caca inget sama Andrew, Sama Abizhar, Dito, Aditya dan Bagas juga Angel. Kalian kan sahabat Caca." Caca dengan semangat menyebutkan satu *** satu nama sahabatnya.
"Tapi Andrew mau Caca inget sama Andrew kalau Caca spesial buat Andrew. Caca mau kan?" Andrew dengan terbata.
"Spesial? Kok kayak martabak?" Caca ga paham.
Andrew garuk kepala tak gatal.
"Ya kayak martabak spesial. Caca mau coba pakai?" Andrew menawarkan memakaikan pemberiannya pada Caca.
"Boleh."
Andrew memakaikan kalung pemberiannya pada Caca.
"Wah bagus. Bagus ga dipakai Caca?" tanya Caca sambil memegang kalung pemberian Andrew.
"Caca cantik." kata-kata itu lolos dari mulut Andrew.
"Andrew bisa aja. Iya tahu Caca cantik." Caca masih polos dan ia tersenyum.
Andrew yang terlular tersenyum mendengar tanggapan Caca.
Abizhar bersama kedua orang tuanya dan kedua adik kembarnya kini sudah berada di dalam mobil perjalanan pulang kerumah.
Abizhar duduk di depan bersebelahan dengan Satya Papanya.
"Abizhar, sebentar lagi kamu masuk SMP Papa dan Mama harap kamu bisa semakin dewasa dan jangan lupa fokus belajar ya Nak. Jadikan masa remaja kamu menjadi masa yang indah dan ikuti kegiatan organisasi agar jiwa kepemimpinan kamu lebih terasah. Papa dan Mama membebaskan kamu memilih apapun pilihan kamu selama itu baik dan kamu menyukai pilihan kamu. Termasuk soal cita-cita, Papa membebaskan kamu mau menjadi apapun, selama apa yang kamu lakukan bisa bermanfaat bagi banyak orang." Satya dengan bisa memberikan setiap nasehat kepada sang putra yang yang kini telah beranjak remaja.
"Mama setuju dengan Papa. Kamu boleh berteman dengan siapapun. Asalkan bisa memilih pergaulan mana yang baik dan jangan terbawa pada pergaulan yang buruk. Mama dan Papa memberikan kepercayaan kepada Mas Abi dalam menentukan apa yang akan Mas Abi pilih dan sukai. Namun harus bertanggung jawab akan pilihan tersebut." Andin menambahkan nasehatnya kepada putra sulungnya.
"Terima kasih Pa, Ma. Doakan Abizhar selalu ya. Suoaya Abizhar bisa menggapai cita-cita Abizhar. Abizhar tak ingin mengecewakan Papa dan Mama." Abizhar dengan tatapan bangga melihat kedua orang tuanya yang selalu memberikan support bagi dirinya.
"Mama dan Papa selalu mendoakan Abizhar, Safeea dan Safeena yang terbaik bagi putra dan putri kami Nak. Doa Papa dan Mama selalu menyertaimu sayang." Andin dengan mata berkaca-kaca mengusap kepala Abizhar dengan lembut.
Satya pun melakukan hal yang sama bergantian dengan Andin.
"Terima kasih ya Allah engkau kirimkan istri terbaik dan putra dan putri dalam kehidupanku. Semoga kami selalu menjadi kekuarga yang rindu akan ridhomu dan lindungi kami dalam setiap aral melintang dalam menjalani hidup ini." batin Satya.
"Terima kasih ya Allah, aku engkau berikan suami dan putra putri terbaik yang sangat aku cintai. Jagalah mereka, lindungi setiap langkahnya. Kumpulkanlah kami kelak dalam surgamu." batin Andin.
...πΊπΈπΊπΈπΊπΈ π± T H E E N D π± πΈπΊπΈπΊπΈπΊ...
__ADS_1
...****************...