Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 58 Surprise


__ADS_3

Satya, Andin, Oma Dona, Oma Shopia, Abizhar dan Andin rapi.


Semuanya siap menuju KBRI memenuhi undangan.


Tampak wajah bahagia dan sumbringah dari seluruh keluarga.


Dinda yang melihatnya heran, apakah sebegitu bahagianyakah menghadiri acara tersebut.


Dinda tampak cuek dan memilih sibuk dengan HP ditangannya sambil sesekali mengecek email pekerjaannya tak memperhatikan obrolan keluarganya.


Lagi pula Dinda memang memasang headset ditelinganya mendengarkan lagu-lagu favoritnya sepanjang perjalanan.


Mobil sudah berhenti.


Semua siap keluar menuju tempat acara.


"Dinda, ayo sudah sampe." Oma Dona menepuk lengan putrinya yang sejak masuk mobil sudah sibuk dengan HP dan telinga disumbat Headset.


"Loh, ngapain kesini? Bukan acaranya di KBRI?"


Dinda menyadari mereka bukan berada ditempat yang seharusnya.


"Ayo. Acaranya pindah kesini." Andin bergegas menggandeng tangan Dinda.


Duo Oma pun mengawal Dinda agar tak bisa lari kemana-mana.


Harvard University


Ucapan Selamat Kepada Para Wisudawan dan Wisudawati membentang saat memasuki pintu masuk kampus kebanggaan Dunia.


Kini Dinda tahu apa yang direncanakan keluarganya.


"Jadi? ada yang bisa jelasin ga neh?" Dinda dengan alis dan nada yang keduanya sama-sama naik.


Namun semuanya memilih masuk menuju sebuah ballroom berukuran besar sambil tersenyum mengembang.


"Hai Nda. Makasi sudah dateng." Fandi menghampiri Dinda memakai toga terlihat gagah dan mempesona.


"Selamat ya Ndi. Sukses Terus!" Dinda memberikan selamat menjabat tangan Fandi.


"Tante Arini selamat ya." Dinda memeluk Arini ibunda Fandi.


"Fan, Bunda wakilin dulu ya meluk Dindanya, Nanti kalo sudah halal baru kamu yang peluk." Bunda Arini kode keras seperti ada maksud terselubung.


"Ehem, ada lagi yang mau ngomong? Atau kita pulang sekarang? Satya seakan memberikan kode.


Dinda hari ini layaknya kambing conggek yang ga ngerti setiap tingkah laku semua orang yang seakan menyimpan rahasia.


Fandi mendekati Dinda, kini keduanya berhadapan.


Fandi menoleh kearah Bunda Dona dan Bundanya, Bunda Arini, serta Mama Shopia seakan meminta izin akan melakukan suatu hal yang penting.


Ketiga wanita yang kini tak lagi muda tersebut yang masih tampak cantik diusianya kompak mengangguk seakan memberikan izin akan suatu hal yang penting.


Fandi meraih tangan Dinda.


Fandi menatap lekat manik mata cokelat Dinda meletakkan sepenihnya bayangan dirinya pada manik indah milik Dinda.


"Dinda, aku tak pandai berkata-kata manis dan bukan pula pria romantis yang mampu merangkai puisi untukmu, Aku hanya akan menyampaikan isi hatiku yang lama kusimpan dan kini aku akan mengutarakannya padamu." Fandi dengan singkat jelas dan padat.


"Dinda, bersediakah kamu menikah denganku, hidup bersamaku, menjadi ibu dari putra putri kita, dan menua bersamaku hingga surga menjadi tujuan akhir aku bersamamu?" Fandi melanjutkan kata-katanya sambil menyodorkan sebuah kotak berisi cincin yang indah berkilau dengan berlutut layaknya pangeran pada sang putri.


Dinda menutup wajahnya.


Dinda menatap laki-laki dihadapan wajahnya.


Pria yang ia kenal berawal dari pertemuan yang sangat amat ajaib layaknya FTV besutan ibunda artis Nagita Slavina.


Pria yang awalnya penasaran kemudian senang mengajak ribut Dinda dengan segala tingkah konyolnya.

__ADS_1


Pria yang pertama membuat Dinda merasa kehilangan saat kepergiannya meski ia bukan siapa-siapa.


Pria yang membuat Dinda tak merasakan getaran apapun saat sikap romantis Daniel datang merayu dan sikap humoris Gilang yang menghibur.


Pria yang mampu membuat Dinda mengikis sedikit demi sedikit nama Soni dalam hati dan ingatan Dinda.


Semua yang menunggu jawaban Dinda tampak tak sabar.


"Ehem, Din, panas nih udah siang loh." Satya lagi-lagi seakan memberikan kode pada adiknya agar segera memberikan jawaban.


Dinda tersadar akan bayangannya yang memutar segala awal sampai kini pertemuannya dengan Fandi.


"Mengapa kamu mengatakan itu semua?" Dinda bertanya singkat.


Tentu saja penonton yang sudah berdebar jantungnya, seketika lemas tidak sesuai harapan pemirsa.


Fandi mengambil HP di saku celananya.


"Nda, telpon aku dong." Fandi meminta Dinda melakukannya


"Mau,," Ucapan Dinda terhenti saat Fandi mengarahkan tangan Dinda melakukan panggilan telpon ke nomor HP Fandi.


Dinda menghubungi nomor HP Fandi, melakukan seperti yang diperintahkan.


Fandi tak langsung menjawab ia menghadapkan HP nya kearah Dinda.


Semua yang berada disana seakan tertarik magnet ikut nimbrung melihat tulisan di HP Fandi saat HP Dinda menghubungi Fandi.


Dinda melihat tulisan yang tertera di HP Fandi.


Bertuliskan " My Lovely Calling"


Tentu saja reaksi kekuarga tersenyum melihat hal tersebut.


Fandi mengangkat telpon Dinda.


Dinda kini terbata-bata seakan berat mengucapkannya.


"Mengapa kamu mengatakan itu semua?" Dinda mengulang pertanyaannya kembali.


"Because I Love You Dinda Azalia Permana. My Lovely, Will You Marry Me?" Kini Fandi mengatakannya sekali lagi dengan wajah penuh harapan berhias senyuman manis.


Dinda tak kuasa menahan keharuan didirinya.


Rasa hatinya seakan keluar menyeruak yang selama ini mungkin dipendam dan tertahan lama.


Seakan bulir airmata kebahagiaan tak lagi malu menunjukkan betapa bahagia si pemilik muara riak airmata kebahagiaan itu kini


Dengan tarikan nafas Dinda menatap mata elang yang telah berhasil menusuk jatinya dengan cinta dan kasih sayang.


"Yes, I wil." Dinda menjawab dengan senyuman merekah seindah kelopak mawar merah yang indah sedap dipandang mata.


"Alhamdulillah."


Paduan suara kompak dari semua keluarga yang menyaksikan lamaran Fandi pada Dinda.


Bunda Dona, Bunda Arini dan Mama Shopia ketiganya berangkulan.


Kebahagiaan yang tiada tara saat kedua putra dan putri mereka akan segera mengikat cinta menjadi ikatan suci pernikahan.


Bunda Dona memeluk Dinda mengusap kepala putrinya.


Bergantian dengan Bunda Arini yang memeluk Dinda serta mengucapkan terima kasih.


Mama Shopia memeluk Dinda mengusap pipi Dinda begitu bahagia terlihat dari wajahnya.


Satya memeluk adik tercintanya.


Sebagai kakak sekaligus wali Dinda, Satya siap sebentar lagi akan melepaskan tanggung jawabnya yang selama ini berada dipundaknya menjaga dan merawat Dinda terlebih sejak almarhum Ayah Permana tiada.

__ADS_1


Kini giliran Andin.


Dipeluknya sahabat yang ia kenal sejak ia berkerja di WO milik Mama Shopia.


Teringat awal pertemuan keduanya.


Andin bisa mengetahui Dinda adalah sahabat yang baik.


Dinda wanita yang tidak memandang dari status sosial maupun kekayaan dalam bersahabat.


Andin begitu bahagia dikala ia merasakan hidup sebatang kara, tiada orang tua dan kerabat disisinya kehadiran Dinda mengobati rasa kesepian Dinda akan sosok keluarga dan saudara.


Terlebih sebuah kejadian tak terduga yang membawa takdir Andin menikah dengan Satya yang merupakan kakak Dinda membuat keduanya menjadi keluarga yang sesuangguhnya.


"Dinda, selamat. Gw seneng banget. Semoga Lo dan Fandi bisa segara ijab SAH. Pokoknya gw seneng banget Din." Andin memeluk tubuh Dinda dengan begitu erat.


"Makasi juga ya Din, Lo udah mau nikah sama Kak Satya. Lo juga udah ngasih gw keponakan yang ganteng dan ngegemesin ini." Dinda sambil mencubit pipi Abizhar dengan gemas.


"Aduh Aunty, sakit pipi Abzihar." Abizhar menjadi korban kegemasan Dinda.


"Aduh maafin Aunty Sayang. Abis Abizhar gemesin banget." Dinda kini mengelus pipi Abizhar.


"Uncle, Aunty Dinda nakal nih." Abizhar dengan gampang langsung mengadu pada Fandi.


"Mana sini Uncle gendong." Fandi mengendong Abizhar.


"Uncle emang tadi ngapain sih sama Auntu Dinda. Kok Aunty dikasih cincin?" Abizhar yang sejak tadi bingung melihat pemandangan depan matanya dan melihat Oma-Omanya dan Mama nya menangis.


"Abizhar mau kan kalo Uncle sama Aunty nikah?" tanya Fandi pada Abizhar.


"Nikah itu apa Uncle?"


Nah Loh Fandi jangan mancing-mancing Abizhar, bakal panjang urusan jawab menjawabnya.


"Eh, Nikah itu,,," tampak Fandi kesulitan harus menjelaskan artinya dengan bahasa yang Abizhar bisa pahami.


"Jadi Nanti Uncle Fandi boleh nginep dirumah kita kalau sudah nikah sama Aunty." Oma Dona dengan selebor menjawab pertanyaan cucunya.


"Mama, pokoknya Abizhar ga mau kalau Caca nginep dirumah kita!"


Tiba-tiba saja Abizhar ngambek pada Andin.


Tentu saja Andin bingung, Satya malah tertawa mendengar jawaban Abizhar.


"Loh, memang kenapa Caca ga boleh nginep dirumah kita?" tanya Oma Dona.


"Kata Oma tadi karena Uncle Fandi mau nikah sama Aunty Dinda makanya Uncle boleh nginep dirumah kita. Abizhar ga mau nikah sama Caca, Jadi pokoknya Caca ga boleh nginep dirumah kita Mama." Abizhar audah mode ngambek.


Tentu semua kini tertawa dengan penjelasan Abizhar.


Abizhar yang merasa sedang diledek ia hendak menangis.


"Asuh ganteng Aunty jangan nangis sayang. Memang kenapa Abizhar ngomong gitu. Caca kan baik anaknya." Dinda membujuk keponakannya yang kini sudah banjir airmata.


"Caca sula ngabisin bekal Abizhar kalo disekolah. Nanti kalo Abizhar nikah sama Caca makanan Abizhar dihabisin Caca semua."


Abizhar semakin menangis.


"Uh, ,uh, sini cucu Oma yang ganteng, yang pinter." Oma Shopia kini menggendong Abizhar dan menepuk-nepuk lembut menenangkan Abizhar.


"Terus kalo Dita boleh nginep dirumah?" Oma Shopia mengedipkan matanya pada Abizhar.


Abizhar berhenti menangis lalu ia berbisik pada Oma Shopia.


"Oma, jangan bilang-bilang ini rahasia. Nanti kalau Caca tahu Abizhar ngajak Dita aja tapi gak ngajak Caca." kata-kata bisikan Abizhar tetap terdengar oleh semua yang berada disana.


Semua makin tertawa menyaksikan tingkah laku putra Satya dan Andin.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2