
Sejak pagi Dinda sudah woro-woro kepada Andin, Mama Shopia, Bunda Dona, Bunda Arini, Satya, Abizhar dan Fandi tak lupa pula keponakan kembar cantiknya Safeea dan Safeena untuk menemaninya berbelanja perlengkapan baby kembar Dinda dan Fandi yang menurut dokter berdasarkan USG berjenis kelamin laki-laki.
Dinda menyantap menu sarapan hasil masakan Mama Shopia dan Bunda Dona dikediaman Satya sementara Andin dan Satya masih mengurus kedua putri kembarnya.
"Heran Bunda, hamil ga ada mual-mualnya kamu Din, semua makanan habis dilahap." Bunda Dona senang Dinda tak mengalami morning sickness selama hamil justru Fandi yang selera makannya terganggu selama Dinda hamil.
"Bersyukur namanya Bun, cucu Bunda baik, pengertian sama ibunya." Dinda masih menikmati nasi goreng seafood dihadapannya yang tinggal setengah piring.
"Iya beruntung kamu sayang, yang penting kamu dan baby twin sehat dan lancar sampai lahiran." Bunda Arini tersenyum melihat menantunya yang apa adanya tidak jaim membuat itulah mengapa Bunda Arini menyukai Dinda dan senang memiliki menanti seperti Dinda.
"Makasi Bundaku, emang paling Lope Lope deh." Dinda memberikan tanda love dengan jarinya pada Bunda Arini.
Andin, Satya, Safeea, Safeena dan Abizhar kini bergabung di meja makan.
Andin menuangkan nasi goreng ke piring suaminya dan telur ceplok, begitupun Abizhar yang ingin menu makanan yang sama dengan sang Papa.
"Abizhar keponakan Aunty yang ganteng, nanti ikut ya." Dinda masih saja membujuk Abizhar yang sebenarnya ia lebih memilih latihan futsal dengan teman-temannya.
Dengan terpaksa dan demi memenuhi keinginan sang Aunty tercinta Abizhar menurut ikut menemani Dinda berbelanja pakaian untuk calon sepupu kembarnya.
Anggukan Abizhar membuat senyuman Dinda semakin lebar.
"Nah keponakan cantikku juga pasti ikut ya. Sus nanti ikut juga ya!" Dindadengan gemas menjawil pipi gembul kedua keponakannya yang sedang digendong baby sitter keduanya.
Satya hanya geleng kepala mendengar setiap tingkah dan kata-kata Dinda adiknya.
Satya begitu bersyukur Dinda berjodoh dengan Fandi.
Dinda yang tersedak dengan sigap Fandi memberikan air dan memapah gelas menuju mulut Dinda, membantu Dinda agar minum perlahan.
Satya merasakan betapa lega hatinya Fandi begitu mencintai, menyayangi dan menjaga Dinda dengan baik.
Fandi dengan sabar dengan segala kelakuan Dinda yang akan bikin urat saraf tegang dengan segala tingkah bar barnya.
Apalagi selama kehamilannya, Dinda semakin manja dan over protektif terhadap Fandi.
Dinda yang biasanya cuek bisa-bisanya cemburu pool saat ada perempuan dijalan atau direstoran yang menatap atau menyapa Fandi.
Seperti waktu itu Dinda rak segan melibas perempuan yang tersenyum genit pada Fandi hingga keluarga melihatnya takjub separo malu terhadap kelakuan Dinda.
Mungkin hormon kehamilan membuat Dinda seperti itu.
__ADS_1
Dengan berbekal 3 mobil mereka menuju sebuah Mall di pusat kota Jakarta memenuhi permintaan Bumil yang keinginannya tak bisa dibantah.
Menggandeng Andin dan Abizhar sejak memasuki pintu Mall dengan wajah sumbringah membuat yang digandeng pasrah mengikuti saja.
Jika Andin mungkin tak masalah, mereka sesama perempuan seumur dan tentunya sahabat lama hingga Andin paham betul kebiasaan Dinda bagaimana.
Sementara Abizhar seakan terpenjara oleh sikap posesif Auntynya yang hari ini entah mengapa ingin terus menempel didekatnya membuat Abizhar mati gaya.
Bukan tanpa alasan Dinda menempel terus dengan Abizhar.
Dinda selalu mentatap baju-baju pilihannya untuk baby kembarnya ke badan Abizhar sebagai ukuran pantas dan bagus tidak jika dipakaikan pada baby kembarnya.
Bahkan ada beberapa baju yang sengaja dibeli samaan dengan Abizhar.
Sehingga Baby twin boy Dinda dan Abizhar kompak memiliki pakaian yang sama.
Tentu saja wajah lelah Abizhar tak dapat dipungkiri meski sang Mama dengan mata melototnya seakan meminta tahan, jangan bikin Aunty sedih, ini juga demi sepupumu Abizhar! itulag yang Abizhar tangkap dari tatapan sang Mama.
Sementara para Oma tak kalah hebohnya memilihkan perlengkapan seperti stroller, Bouncer, Playmate, dan lainnya.
Dinda dan Andin keranjingan memilih baju-baju lucu couple untuk baby twin.
Satya dan Fandi bagai bodyguard ganteng yang dengan setia mengawal wanita pujaan hatinya yang seolah tak kenal lelah bila mengitari mall.
Dinda yang merasakan perutnya kembali lapar meminta semuanya untuk sejenak rehat mengisi perut yang keroncongan.
Tak lupa Dinda mampir dulu untuk membeli Boba viral tang disukainya.
Sambil menanti makanan disiapkan Dinda menikmati setiap teguk boba yang melewati kerongkongannya.
"Udah puas Din belanjanya, pulang ya setelah ini." Satya yang kaki dan tubuhnya pegal mengikuti keinginan adik semata wayangnya itu.
"Belum Kak. Aku masih mau kesini, kesini, dan kesini." Dinda menyebutkan beberapa store yang akan ia kunjungi karena masih ada yang ingin ia beli.
"Bener Sat, Bunda, Bunda Arini dan Mama Shopia juga mau mampir ke butik Mama Shopia mau lihat koleksi-koleksi baru. Oke?" Bunda Dona selalu antusias sama dengan Dinda jika berbicara soal shopping.
Satya menepuk jidatnya.
Sedangkan Fandi kini sedang menyuapi Dinda yang tiba-tiba ingin makan ikan tapi ia takut ketulangan.
Alhasil dengan sabar dan telaten Fandi memisahkan duri ikan dan menyuapi istrinya dengan tenang.
__ADS_1
"Beib kok kamu makannya dikit? Ga selera nih makanan enak-enak loh?" Dinda melihat Fandi yang hanya menyuapinya namun tak makan.
"Aku ga selera Beib. Ngeliat kamu makan aku udah kenyang." Fandi malah akan mual jika ia memaksa makan.
Abizhar yang baru kembali bersama Andin setelah mengantar Abizhar membeli ice cream di sour sally yang lebih tepatnya yougurt dengan cita rasa dominan asam dengan warna hitam menjadi pilihan Abizhar.
"Aunty mau Sayang, boleh Aunty minta?" Dinda seketika ingin minuman yang Abizhar pegang.
Fandi entah mengapa begitu ingin mencicipi ice cream yang Abizhar bawa namun hanya melihat sambil menelan ludahnya.
Abizhar melihat kedua Aunty dan Unclenya hanya tersenyum dan melirik ke Mamanya.
"Nih aku beliin buat semuanya biar bisa coba." Andin mengeluarkan goody bag berisi beberapa varian sour sally.
Tentu saja binar mata Fandi begitu bahagia.
"Makasi Kakak Ipar. Emang paling baek sedunia." Fandi dengan bahagia menerimanya dan mencicipinya dengan binar kebahagiaan terpancar.
Tentu saja pemandangan tersebut tak luput dari penglihatan Trio Oma yang tentunya mengundang tawa.
"Fandi, kamu ngidam Nak." Mama Shopia tersenyum melihat ekspresi wajah Fandi yang sangat senang.
"Ya ampun Fan, kamu seperti Ayah, dulu ya begitu, mama yang hamil tapi papa yang ngidam. Bahkan sampe mama mau lahiran papa yang ngidam." Bunda Arini teringat mendiang suaminya Ayah Fandi.
"Padahal ini minuman kecut-kecut begini, kenapa pada suka sih?" Bunda Dona menatap anak, menantu dan cucunya yang asik menikmati.
"Bun ini namanya jajanan kekinian." Satya memberitahu Bundanya.
"Rasanya kayak asinan ya? apa tadi nama brand nya?" Bunda Dona kembali menelan ice cream tersebut dengan matanya menyipit merasakan asam dimulutnya.
"Sour Sally Oma." Abizhar kini menjawab pertanyaan Omanya.
Semua menikmati ice cream bercitarasa asam dan segar namun bangak peminatnya terutama kaum milenial penikmat jajanan kekinian.
...****************...
__ADS_1