Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 76 Salah Paham


__ADS_3

Sudah seminggu sejak kejadian di restoran kala itu.


Andin tak pernah sedikitpun menanyakan atau menyinggung soal kehadiran Vera.


Satya pun tak memberikan komentar apapun mengenai kejadian hari itu.


Meski hati kecil Andin masih menyisakan tanya yang besar akan sikap Satya namun Andin memilih mengubur dalam hatinya saja.


"Sayang, belajar yang rajin ya." Andin kala melepas Abizhar memasuki gerbang sekolahnya bersama Satya disampingnya.


"Jangan lupa shalat ya Abizhar." Satya tak pernah bosan mengingatkan putranya akan kewajiban sebagai hamba pada sang pencipta.


"Abizhar!" Andrew memanggil Abizhar, disisinya ada Angel.


"Hai Andrew, Angel." sapa Abizhar pada kedua sahabatnya yang datang ditemani Mommynya.


"Hai Sat, Din. Anter Abizhar ya?" Vera menyapa keduanya.


"Papa, Mama Abizhar masuk dulu ya. Mari Tante." Abizhar pamit kepada kedua orang tuanya tak lupa ia mencium tangan kedua orang tuanya dan Abizhar juga mencium tangan Vera.


"Iya Sayang." Andin kemudian mengecup pucuk kepala Abizhar.


Vera tersenyum kala Abizhar mencium tangannya.


"Mommy kita masuk sekolah dulu ya. Bye Mommy. Mari Om, Tante." Andrew dan Angel pamit Mommynya dan menyapa Andin dan Satya.


Andin sesungguhnya tak biasa saat ini harus kembali berjumpa dengan Vera.


Lagi-lagi tatapan tajam Satya tertuju pada Vera. Sorot mata Marah terlihat jelas pada manik mata Satya.


Vera melambaikan tangan kepada kedua putra putrinya yang masuk ke sekolah bersama dengan Abizhar putra Satya.


"Kami permisi!" Satya menggandeng tangan Andin meninggalkan Vera.


"Mbak, aku duluan ya." ucap Andin kepada Vera.


Vera menganggukan kepalanya tersenyum getir melihat kepergian keduanya.


Tampak Vera mengerti kemarahan Satya pada dirinya masih terasa.


"Kamu masih marah Sat sama aku?" batin Vera menatap kepergian Satya menggandeng Andin.


Vera mengenal betul bagaimana watak pria yang kini menjadi mantan pacarnya sekaligus ayah dari sahabat putranya.


Dalam mobil Satya dan Andin diam tanpa bicara. Keheningan begitu terasa diantara keduanya.


Ditengoknya wajah Satya masih kaku dan mode serius menatap jalan sambil mengemudi.


"Mas, ga nyangka ya, ternyata Vera Mommynya Andrew dan Angel sahabat Abizhar." Andin mencoba mengajak Satya berbincang.


Tak ada jawaban dari Satya. Satya tak bergeming sedikitpun tatapannya juga masih fokus kedepan mengemudi.


"Pantas saja, aku merasa familiar dengan raut wajah Andrew dan Angel saat pertama kali bertemu. Mas juga merasakannya tidak?" Andin mencoba mengajak Satya berbicara.


"Andin. Stop! berhenti membahas Vera!" Suara Satya seketika meninggi membuat Andin terkejut akan respon suaminya.


Andin tak menyangka Satya semara itu.


Sudah lama Andin tak mendengar Satya memanggil dirinya dengan namanya.


Tak pernah pula seumur pernikahan mereka selain di awal pernikahan Andin mendengar suara Satya yang meninggi pada dirinya dengan tatapan kaku dan dingin seperti saat ini dan beberapa waktu belakangan.


Andin menatap Satya, memandang pria yang berada disampingnya. Suami dan Ayah dari anaka-anaknya.


Tak terasa airmata Andin menetes. Rasa kecewa, sedih, tanda tanya selama ini tumpah ruah kini.


Andin masih menatap Satya.


Berharap ada penjelasan akan sikap Satya yang lebih pendiam sejak pertemuan terakhir hingga kini dengan Vera.

__ADS_1


Satya meminggirkan mobilnya.


Satya sadar sikapnya barusan melukai perasaan Andin.


"Sayang, Maafkan Mas." Satya memposisikan dirinya berhadapan dengan Andin menggenggam tangan Andin dan membawa Andin dalam pelukannya.


Tak ada jawaban ataupun suara yang Andin keluarkan.


Andin mencoba menenangkan dirinya. Terlebih kini ada anak mereka dalam rahimnya.


Andin selama ini memberikan positif thinking pada dirinya sendiri karena ia tak mau membahayakan janin dalam kandungannya.


Satya tahu kali ini Andin kecewa padanya. Satya menatap raut kesedihan pada wajah istrinya.


Hati Satya pilu melihatnya. Satya merasa bersalah pada Andin istrinya.


"Sayang, maafkan aku. Aku tak berniat membentakmu. Aku hanya.."


"Kamu masih marah dengan Vera?" kata-kata menyela ucapan Satya.


Andin menatap kedua bola mata Satya, mencari kejujuran dari suaminya.


Satya seakan kelu. Bibirnya kaku, tenggorokannya terasa tercekik tak mampu menjelaskan apapun. Satya membenarkan perkataan Andin.


Gemuruh hati Satya akan kemarahannya seketika kembali muncul saat Vera hadir.


Kenangan menyakitkan saat Vera meninggalkannya tanpa alasan kembali terbuka saat Vera kembali hadir dalam hidupnya.


Satya sendiri tak mengerti, bukankah semua sudah berlalu dan kini ia sudah bahagia bersama Andin, Abizhar dan calon anak keduanya.


Satya meyakini, dirinya kini sangat mencinta Andin dan takut akan kehilangan istri yang begitu dicintainya.


Andin menunggu jawaban apa yang akan Satya berikan.


Namun Andin kecewa, Satya tak memberikan jawaban apapun yang bisa menenangkan atau sekedar membuatnya merasa bahwa ia masih wanita yang dicintai Satya suaminya.


"Mas, aku kerja dulu. Assalamualaikum." Andin bergegas keluar mobil Satya sambil mencium punggung tangan suaminya.


Andin segera berlalu keluar dari mobil Satya dan sedikut mempercepat langkahnya masuk ke kantornya.


Satya tahu Andin kecewa dan sedih saat ini.


Satya sendiri kesal dengan hati dan pikirannya.


Satya merutuki dirinya sendiri. Kesal akan apa yang dirasakannya kini.


"Aku mencintaimu Andin." Satya dengan lirih memukul kemudinya kesal dengan dirinya sendiri.


Satya berlalu menuju kantornya.


Satya tidak konsentrasi menyelesaikan pekerjaan.


Satya terus teringat akan kejadian pagi ini.


Kedua nama wanita itu terus berputar dikepala Satya.


Kali ini Satya betul-betul harus memastikan dan mengakhiri segala pikiran dikepalanya yang seminggu ini menggerogoti pikirannya.


"Aku mencintai Andin. Hanya saja kemarahanku pada Vera belum padam." batin Satya masih menginginkan alasan mengapa Vera saat itu meninggalkannya.


Lamunan Satya terhenti saat ponselnya berdering.


Satya mendiamkan dan enggan mengangkat telpon yang masuk ke HP nya.


Sebuah chat masuk ke HP Satya.


Satya meraih ponselnya.


Tatapan Satya menerawang.

__ADS_1


Apa yang harus aku lakukan.


Menerima dan Menemuinya?


Atau mengabaikannya?


Suara ketukan dari luar ruangan Satya membuat Satya kembali kepada dunia pekerjaannya kembali.


"Bro, Yok. Kita berdua ditunggu rapat sama Kaban." Gilang rekan kantor Satya mengajak Satya rapat di ruang Kaban.


Satya mengikuti Gilang tanpa berkata sepatah kata apapun.


Gilang melirik pada Satya yang ia perhatikan beberapa waktu belakangan wajah serius seakan banyak pikiran tersirat diwajah sahabatnya yang biasanya selalu jahil padanya.


"Are you oke bro?" Gilang bertanya pada Satya.


"I'm Ok." Sekilas Satya tersenyum namun secepat kilat kembali pada mode asal.


Gilang menangkap ada sesuatu yang terjadi pada rekan yang hampir menjadi kakak iparnya.


Gilang mengenal Satya cukup lama.


Mereka tidak hanya sekedar rekan kantor.


Gilang mengenal Satya kala mereka menjadi mahasiswa STAN.


Gilangpun tahu betul saat Vera dan Satya berpacaran.


Gilang tahu betul bagaimana Satya yang dulu begitu mencintai Vera.


Gilang pun tahu pasti bagaimana kemarahan Satya saat Vera meninggalkan dihari pernikahannya dan disaat yang sama Satya harus menikah dengan Andin karena permintaan ibundanya.


Semua itu sudah berlalu.


Gilang melihat sahabatnya sudah sekian lama mencintai Andin dan sangat amat takut kehilangan istrinya.


Gilang berfirasat apakah ada hubungannya dengan Vera.


Tak mungkin juga Gilang menanyakan pada Dinda, karena bagaimanapun ia dan Dinda kini sudah memiliki pasangan masing-masing.


Meski Gilang masih berstatus PDKT dan hatinya sudah bisa merelakan Dinda.


Kini Gilang mencintai wanita yang sekarang sedang ia yakinkan dan perjuangkan.


Satya, Gilang dan lainnya kini mengikuti rapat.


Satya tampak melamun saat ini, hingga Pak Kaban memanggil Satya sebanyak 3 kali.


Gilang yang duduk disebelahnya menyenggol lengan Satya.


Satya menyadari ia melamun saat itu.


"Satya, Kamu sehat?" tanya Pak Kaban kepada salah satu staff terbaiknya yang tidak biasa seperti ini.


"Saya baik-baik saja Pak. Maaf!" Satya segera meminta maaf atas ketidak sopanannya.


Rapat kembali dilanjutkan.


Satya kini kembali fokus dalam rapat.


Selepas rapat selesai semua kembali ke ruangan masing-masing.


Gilang mengikuti Satya ke ruangannya.


"Ada apa?" Satya menanyakan kenapa Gilang mengikuti dirinya.


"Lo yang kenapa?" Gilang menatap sahabatnya dengan lekat memastikan kejujuran dari mulut Satya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2