Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 36 Raja dan Panglima


__ADS_3

"Bagaimana dok kondisi kandungan Saya?"


Andin bangkit dari ranjang RS dibantu Satya dan kini keduanya duduk berhadapan dengan dokter kandungan yang memeriksa Andin.


"Kondisi kandungan ibu Andin dalam keadaan sehat. Berat dan ukuran janin juga normal." jelas dokter pada Andin.


Satya lega begitu juga Andin yang senang kondisi kehamilannya sehat dan janin juga berkembang normal.


Kehamilan Andin tidak membuatnya merasakan kendala seperti yang dialami banyak wanita hamil diluar sana.


"Mas mampir ke supermarket ya, aku mau belanja." Andin meminta Satya membawanya ke supermarket.


"Sayang, jangankan ke supermarket ke bulan pun kalau kamu minta Mas akan antar Sayang."


Satya dengan rayuan mautnya sambil mengecup punggung tangan Andin.


Satya dengan sabar mengikuti langkah kaki Andin mengelilingi supermarket mencari segala kebutuhan yang ia cari mendorong trolly belanjaan.


Beberapa SPG melihat dengan tatapan memuja pada Satya membuat Andin sedikit bete memilih meledek sang suami.


"Sayang, boleh titip tas ku?"Andin tampak sengaja menyerahkan tas tangannya pada Satya agar dibawakan tentu saja Satya paham mengapa Andin melakukan hal tersebut.


"Tentu Sayang, atau kamu mau Mas gendong sekalian. Mas takut kamu kelelahan." Satya tahu istrinya sedang cemburu langsung mematahkan segala hama yang menatap nya dengan tatapan memuja.


Tentu sikap Satya yang demikian membuat Andin senang sekaligus tengsin karena Satya mengetahui kalau dirinya cemburu.


Andin melangkahkan kakinya lebih cepat meninggalkan Satya.


Satyapun tersenyum karena sepertinya Andin menyadari bahwa Satya mengetahui kalau Andin sedang cemburu akibat ulah SPG yang menatap Satya dengan tatapan memuja.


"Sayang, jangan cepat-cepat jalannya. Nanti kamu lelah. Lagipula cemburu itu untuk orang yang tidak percaya diri. Mana istriku yang biasanya sangat percaya diri?" Satya berbisik ditelinga Andin saat mengucapkan kata-kata terakhir.


Andin tengsing kedapatan dirinya cemburu oleh Satya.


Andin mencubit pinggang Satya menyalurkan segala rasa malunya.


"Sakit Sayang." rintih Satya tersenyum melihat wajah Andin yang memerah.


Andin melangkah cepat mendahului Satya.


Satya menyusul Andin yang kini sedang memilih roti menunduk saat Satya mulai mendekatinya.


Satya mengetahui Andin saat ini sedang malu berbisik mesra ditelinga Andin.


"Humaira, wajahmu kini membuatmu gemas. Rasanya ingin cepat sampai rumah dan mengurungmu dikamar. Sungguh Mas jadi tak tahan."


Nafas Satya berhembus ditelinga Andin membuat tubuh Andin meremang.


Gelayar sengatan Hembusan nafas Satya seakan membuat pikiran Andin menjelajah entah kemana.


"Mas, ih. Mesum." wajah Andin kini memerah.


Satya semakin gemas melihat wajah kemerahan Andin memicu adrenalinnya membangkitkan apa yang seharusnya masih tertidur.


"Sayang, jangan seperti itu. Kamu harus tanggung jawab. Ayo kita pulang." Satya segera menuntaskan pembayaran belanjaan mereka sambil menggandeng tangan Andin.


Andin yang belum tuntas berbelanja akhirnya mengikuti keinginan suaminya segera menyelesaikan kegiatan berbelanja dan segera pulang.


Perjalanan menuju rumah membuat Andin salah tingkah.

__ADS_1


Selama perjalanan sesekali Satya melirik ke arahnya dengan tatapan mata siap memangsa.


"Habislah aku kali ini." batin Andin.


Entah berapa putaran malam ini akan ia lalui bersama Satya melintasi samudra dan menjelajah khatulistiwa.


Sentuhan Satya yang mampu membawa Andin menuju puncak kenikmatan tiada tara melayang terbang jauh keangkasa.


Andin akui semakin lama ia merasakan kenyamanan dalam setiap perlakuan Satya dalam penyatuan cinta keduanya.


Seakan Satya laksana air yang mengalir dalam dahaga yang Andin rasakan.


Satya seumpama matahari yang dibutuhkan bumi menyinari setiap sudut dunia.


Satya bagaikan oasis ditengah sabana yang begitu gersang.


Sementara dibenak Satya dengan tatapan memuja pada sang istri sejuta kata tak mampu Satya lukiskan tentang perasaannya pada Andin.


Berawal dari bukan siapa-siapa kini Andin adalah sang pemilik sukma dalam sanubari Satya.


Andin layaknya pembaringan yang melenakan disaat lelah.


Andin bagaikan mata air ditengah padang pasir yang gersang.


Andin ibarat pelangi yang hadir setelah hujan.


Andin adalah penyempurna separuh agama saat ijab kabul yang Satya ucapkan.


Andin adalah tempat Satya mencurahkan syahwat dan gairahnya dalam ikatan halal syarat pahala.


Seakan semesta merestui keduanya untuk beribadah bersama.


Satya dan Andin kini berada dalam kamar.


Andin ijin mandi terlebih dahulu pada Satya.


Satya melihat situasi tersebut dengan sigap menyusul Andin.


"Mas, "


Satya memeluk Andin.


Keduanya berada dibawah pancuran Shower.


Satya yang telah terbakar hasratnya mulai melancarkan aksinya meninggalkan jejak pada setiap petualang kali ini.


Sementara sang pemilik raga hanya menikmati dan mempersilahkan sang petualang menjelajahi setiap keindahan alam yang berada didekatnya.


Kucuran air tak mampu mendinginkan suhu keduanya justru semakin terasa hangat dan membara.


Sejauh mata memandang, hanya suara-suara indah yang terdengar dalam ruang itu.


Saling memanjakan dan memberikan kenikmatan membuat keduanya seakan lupa sedang berlayar dalam lautan penuh sukacita.


"Mas, aku mau.." Andin tak sampai menuntaskan perkataannya didahului banjir bandang menghadang.


"Let it Go, Honey"


Bisikan Satya dengan suara berat membuat Netra Andin sedikit sayu menahan sejuta rasa yang Satya ciptakan.

__ADS_1


"Aku sudah.. "


Kesekian kalinya Andin mengalami pelepasan.


Lemas dan lelah namun tak sejalan dengan tubuh yang masih mendambakan aksi sang petualang.


Satya menegang, meremang dan mengerang.


Satya menjatuhkan tubuhnya disamping Andin.


Andin mengusap peluh yang bercucuran di kening Satya yang tersenyum puas akan petualangannya kali ini.


Sementara Andin dengan nafas tersengal mencipatakan gempa pada daerah disekitar dataran tinggi miliknya.


Tentu saja melihat hal itu Satya menelan salivanya.


Tak tahan dengan gempa yang disaksikannya pada wilayah pegunungan dihadapannya.


Tampak sang junior seakan lupa baru saja mengakhiri peperangannya kini bangkit kembali siap memulai pertempuran selanjutnya.


"Sayang, tuh." Satya menunjukkan pada Andin.


Andin tersenyum melihat persenjataan sang panglima perang sudah siap sedia menandakan peperangan akan segera dimulai kembali.


Sang panglima menunggu aba-aba dari sang Raja Rimba.


Sekali anggukan Andin mampu memberikan jawaban pada Sang Panglima untuk memulai pertempuran.


Tapi sayangnya sang raja ingin memimpin langsung peperangan kali ini.


Tentu saja sang panglima dengan senang hati menukar posisi keduanya.


Mempersilahkan sang raja memulai peperangan membuat panglima merasakan sensasi berbeda.


Betapa Raja kali ini mampu menguasai medan pertempuran.


Panglima tak kalah gesit mengimbangi setiap gerakan sang raja hingga keduanya mampu mencapai garis kemenangan.


"Sayang, mari bersama-sama."


Sang panglima memberikan isyarat pada raja agar keduanya bersama menuntaskan peperangan kali ini.


Seakan tak ingin saling meninggalkan, keduanya kompak melepaskan serangan terakhir yang mampu menaklukan wilayah teritorial.


Kini kemenangan pun diraih raja dan panglima.


Keduanya tersenyum penuh kemenangan.


Seremonial kemenangan pun tak lupa keduanya lakukan.


"Terima kasih sayang. I love you."


"I Love You too, Honey."


Waktunya beristirahat memejamkan mata.


Memulihkan tenaga.


Sungguh pertempuran yang luar biasa.

__ADS_1


Keduanya tersenyum bahagia kala lelap singgah dalam mata terpejam kedua insan manusia yang sedang dimabuk cinta.


...****************...


__ADS_2