Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 51 Kepulangan Duo Oma


__ADS_3

Satya, Andin, Dinda dan Abizhar tampak sudah menunggu di bandara menanti kedatangan Duo Oma.


Dinda yang memang sengaja menjuluki kedua Oma Abizhar itu dengan sebutan Duo Oma dengan alasan agar terdengar keren.


Tampak Abizhar dengan tenang dalam strollernya karena sebelumnya Abizhar sudah kenyang minum ASI selama perjalanan menuju bandara.


Duo Oma terlihat keluar dari gate kedatangan.


Mereka saling melepas rindu dan kangen satu sama lain.


Satya mencium punggung tangan kedua ibunya dengan bahagia.


Andin dan Dinda juga melakukan hal yang sama dengan Satya dibalas dengan pelukan hangat dari kedua ibundanya.


Duo Oma juga langsung melepas kerinduannya dengan cucu tercintanya.


Seakan Abizhar mengertia bahwa kedua Omanya sudah kembali, Abizhar tertawa pada keduanya dengan ceria.


"Cucu Oma kenapa sudah tambah besar." Mama Shopia terlihat bahagia.


"Abizhar sepertinya tahu, Oma nya sudah pulang. Ya kan Gantengnya Oma." Oma Dona gemas dengan cucu tampannya itu.


Segera mereka menuju rumah karena sudah rindu akan kediaman yang sudah beberapa lama mereka tinggalkan.


Kini semua sudah berkumpul dirumah.


Saling bertukar cerita melepas rindu tertawa bahagia bersama.


Begitulah keluarga saling bagi baik suka maupun duka.


"Bagaimana Ma hasil pemeriksaan?" Satya menanyakan hasil akhir MCU Mama Shopia.


"Alhamdulillah Sat, Mama sudah dinyatakan sembuh. Sel kanker dalam tubuh Mama juga sudah bersih tidak ada." Senyum Mama Shopia dengan rasa syukur akan keajaiban yang Allah berikan pada dirinya.


Andin memeluk Mama Shopia menumpahkan rasa bahagianya.


"Alhamdulillah Ma, Andin senang sekali mendengarnya." Andin masih terisak haru bahagia akan kesembuhan dan hasil MCU Mama Shopia yang bersih dari kanker di tubuhnya.


Dinda turut memeluk Mama Shopia berterima kasih kepada Allah karena telah menyembuhkan Mama Shopia seperti sedia kala.


"Mama sehat selalu ya, Pokoknya Mama dan Bunda jarus panjang umur, sehat-sehat supaya bisa lihat cucu, cicit." kata-kata Dinda mencelos.


"Wah kayaknya Kakak bentar lagi diminta jadi wali nih?" Satya menggoda Dinda.


"Jadi kamu tuh pilih siapa Dinda? Bunda tuh penasaran." Bunda Dona tak membuang momen menanyakan perihal Dinda.

__ADS_1


"Belum ada sih." Dinda malah senyum garing.


"Kemarin. Dokter Alisha titip salam buat Dinda. Dokter Alisha senang bener deh sama Dinda." Mama Shopia menyampaikan pesan Dokter Alisha pada Dinda.


"Nah Tante Arini juga telpon Mama nanya kapan balik, mau ngajak makan malam katanya. Kangen sama Dinda. Jarang ketemu katanya kalo dirumah." Kali ini Bunda Dona yang menyampaikan pesan Arini ibunda Fandi.


"Dinda, Gilang jangan kamu PHP in dong, kasian anak orang. Masa telp dan chatnya kamu ga balas. Uring-uringan dikantor tuh. Kakak pusing diribetin dia terus nanyain kamu." Satya juga sekalian curhat dimana setiap hari mendapat keluhan Gilang yang telp dan chatnya tak berbalas oleh Dinda.


Ansin sebagai sahabat tak ambil suara.


Andin memilih sebagai pendengar dan menunggu reaksi Dinda.


Sementara Dinda yang dicecar ketiganya hanya cuek saja, Kini malah mengajak Abizhar bermain.


"Din, jangan PHP in anal orang begitu dong. Bukan satu tapi tiga loh!" Bunda Dona geleng-geleng kepala karena ia kini jelas ada 3 orang yang secara intens mendekati Dinda.


"Dindanya tertarik sama yang mana?" Mama Shopia kini menanyakan pada Dinda.


"Jangan begitu Din, semuanya berhubungan baik dengan kekuarga kita, kamu harus memutuskan, jangan sampai mereka menganggap kamu mempermainkan anak-anak mereka." Satya mengeluarkan petuah seorang kakaknya.


"Belum tahu Bun, Ma, Kak. Dinda masih jalanin aja dulu." Dinda masih santai kayak dipantai slow kayak dimoskow.


"Lah terus, 3'3 nya kamu deketin? Jangan gitu Sayang!" Bunda Dona malah khawatir anaknya justru terkesan main-main.


Satya dan Bunda Dona cuma bisa mengelus dada dengan sikap keras Dinda.


Mama Sophia memberikan kode pada Andin agar berbicara pada Dinda.


Dinda mengikuti Andin yang akan menidurkan Abizhar dikamarnya.


Dinda tampak menepuk-nepuk membuat nyaman Abizhar namun tatapan mata Dinda seakan menerawang.


"Jangan bengong. Nanti sesambet Din." Andin menyadarkan Dinda yang tampak teemenung.


"Gw ga maksud loh Din mentigakan mereka." Dinda buka suara.


"Serius loh, Hebat orang-orang ngeduain, Lo nigain." Andin mencoba mencairkan suasana.


"Serius Din. Ga becanda Gw. Gw ga minta mereka deketin gw. Tapi mendengar Bunda, Mama dan Kak Satya kok kesannya gw yang jahat gitu PHP in mereka. Padahal Lo liat sendiri kan Gw biasa aja sama ketiganya." Dinda meminta Andin mempercayai dirinya karena ia merasa Andin adalah sahabatnya.


"Justru karena Lo biasa aja, Bunda, Mama dan Mas Satya jadi bingung sebenernya Lo milih siapa? Atau Lo udah punya pilihan lain?" Andin mencoba memahami semua pihak.


"Begitu ya?" Dinda kini mencoba berfikir dari sudut pandang 3 orang yang tadi resah mempertanyakan pria mana yang Dinda pilih.


"Jadi Lo udah ada pilihan lain?" Andin sebetulnya tahu Dinda masih belum memiliki pria yang ia inginkan dan sukai.

__ADS_1


Dinda menggeleng.


"Din maaf ya kalo gw mesti nanya begini ke Lo?" Andin tampak berat mau bertanya soal hati Dinda apakah masih terluka dengan Soni.


"Soni?" Dinda menebaknya.


Andin mengangguk.


"Awalnya iya. Gw sedikit trauma. Tapi lama gw pikir memang munhkin ini yang terbaik baik gw dan dia. Lagipula menikah itu kan lebih enak direstui orang tua." Dinda menjelaskan.


"Setuju gw." Andin dengan mantap mendukung Dinda.


"Itu sebabnya, Gw bukannya ga mau milih atau cepet cari ganti. Bukannya belum bisa move on, tapi lebih hati-hati aja. Pengen ngeliat dulu jangan sampe udah pake hati tahu-tahu malah sakit hati." Dinda yang lebih waspada belajar dari pengalaman.


"Nah cakep tuh. Baru ini Sohib gw." Andin setuju dengan pendapat Dinda.


"Menurut Lo, gw harus gimana sama tuh 3 cowok?" Dinda kini meminta saran Andin.


"Maksudnya, Lo mau tahu mana yang bener-bener serius sama Lo, gitu?" Andin menebak isi hati Dinda.


"Pinter Mamanya Abizhar!" Dinda kini tampak semangat.


Andin berpikir sejenak, ia kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Dinda.


Dinda mengernyitkan dahinya masih mendengarkan perkataan yang Andin bisikan.


"Gimana?" Andin kini selesai berbisik menanyakan apakah Dinda setuju.


"Lo yakin Din?" Dinda tampak ragu.


"Ya kita coba aja dulu." Andin berspekulasi.


"Oke kalau gitu." Dinda mantap.


"Kalo gitu mulai dari hari ini Lo lakuin." Andin menjawab santai.


"What? Gw belum mikirin idenya. Lagian ga ada tuh Trio."


"Bentar lagi juga dateng." Andin tampak tersenyum.


"Gila Lo. Serius?" Dinda merasa Andin layaknya pesulap yang penih kejutan.


"2 Rius!" Andin sambil tersenyum.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2