
Andin pulang kerumah bersama Mama Shopia bersamanya.
Bunda Dona memeluk erat Mama Shopia.
Keduanya melepas kangen berbincang dan begitu asik dengan segala macam obrolan yang dibicarakan keduanya.
Mama Shopia juga menyetujui menginap dirumah Satya dan Andin.
Satya, Bunda Dona dan Dinda justru senang mereka bisa bersama-sama tinggal disini.
Bunda Dona juga sangat menyetujui bahkan merasa bahagia memiliki teman disaat semua anaknya sibuk dengan urusannya masing-masing.
"Jeng, tinggallah disini bersama kami. Lagi pula aku juga jadi punya teman yang menemani. Maklum kita berdua kan JOJOBA." Bunda Dona memang selalu punya bahan pembicaraan yang membuat lawan bicaranya tak bosan.
"Jojoba apa jeng?" Mama Shopia tidak segaul Bunda Dona ga paham kata-kata gaul kekinian.
"Jomblo Jomblo bahagia." Jawab Bunda Dona disambut senyuman Mama Shopia.
"Dih Bunda Jomblo kok bangga." Dinda menyahuti jawaban Bundanya yang selalu tahu istilah anak jaman now.
"Dari pada kamu Din Jones?" Ledek Bunda Dona pada Dinda.
"Enak aja. Tante Shopia belain Dinda." Dinda meminta dukungan dari Mama Shopia.
Semua yang melihat tertawa dengan sikap manja Dinda dengan Mama Shopia.
"Aku sekarang punya mama satu lagi. Boleh kan Tante Dinda jadi anak Tante Shopia." Dinda cari dukungan.
Mama Shopia mengangguk kepala, Dinda pun senang.
Bunda Dona senang kini Dinda kembali ceria seperti dulu.
Bunda Dona juga sudah membebaskan Dinda memilih pendamping hidupnya kelak.
Bunda Dona memahami watak Dinda yang keras tidak akan bisa menyatu jika ia juga keras.
Jika api dilawan api maka tidak akan ada ujungnya.
"Mama Shopia mimpi apa semalem punya anak kayal Kamu Din." Satya meledek adiknya.
"Pasti mimpi ketemu bidadari cantik, dan bidadari itu aku Kak, ya kan Mama Shopia?" Dinda dengan pede menjawab ledekan Satya kakaknya.
"Bidadari dari Goa Hantu kamu Tuh!" Satya tak kehabisan kata-kata meledek Dinda.
Andin, Bunda Dona dan Mama Shopia tertawa melihat keributan Satya dan Dinda bagai Tom and Jerry.
Satya dan Andin kini berada dikamar mereka.
Bersiap istirahat keduanya berbincang dikasur meluruskan tubuh yang pegal.
Andin menceritakan pada Satya soal Mama Shopia dan semua yang Andin alami hari ini.
Satya mendengarkan dengan khidmat kata per kata yang istrinya sampaikan.
__ADS_1
Satya pun menyetujui bahkan memiliki niat yang sama kalau sebaiknya Mama Shofia tinggal bersama mereka mengingat kondisi kesehatan Mama Shofia.
Satya bangga akan sikap Andin yang begitu menyayangi kedua ibunya setulus hati.
Meskipun keduanya bukan ibu kandung Andin, namun Satya bisa merasakan ketulusan Andin kepada Bunda Dona dan Mama Shofia.
Satya bangga akan hati lembut yang istrinya miliki.
Satya sangat bersyukur memiliki Andin sebagai istrinya.
Rasa cinta Satya semakin bertambah semakin lama.
"Sayang Papa tumbuh sehat ya diperut Mama, Papa, Oma Dona, Oma Oma Shopia, Aunty Dinda semua sangat sayang sama kamu. Kami semua menanti kelahiranmu Nak." Satya mengecup perut Andin sambil berbicara dengan anaknya diperut Andin.
"Iya Papa, aku juga sayang kalian semua." Andin menirukan suara anak dalam perutnya.
"Mas terima kasih ya, sudah menerima Mama Shofia dirumah ini." Andin merasa sangat bersyukur memiliki suami seperti Satya.
Memang jika Allah yang menakdirkan segala sesuatu maka pasti terbaik bagi hambanya.
Karena Allah SWT Maha mengetahui apa yang hambanya butuhkan, Sedangkan kita hanya tahu apa yang kita inginkan.
Terkadang Allah sengaja memberikan sesuatu yang awalnya mungkin tidak kita sukai padahal Allah tahu bahwa kelak hal yang kita tidak sukai itulah yang terbaik dan malah kita butuhkan.
Sebaliknya Allah menjauhkan hal yang kita sukai bukan karena Allah tidak menyanyangi kita, namun Allah Maha tahu boleh jadi apa yang kita inginkan bukanlah yang terbaik dan yang bukan bal yang kita butuhkan bagi diri kita.
Jodoh, Rezeki dan Maut adalah ketetapan Allah. Hanya Allah yang tahu dan menjadi Hak preogratif bagi Allah terhadap setiap hambanya.
Manusia kadang lupa, sering sekali hati dan pikirannya mendahului kehendak Allah.
Sungguh Maha besar Allah dengan segala kuasanya.
"Mas, aku berharap Mama Shofia bisa sembuh dan panjang umur. Sehat seperti sediakala."
Andin berharap semoga ada keajaiban Allah bagi kesembuhan Mama Shopia.
"Insha Allah sayang, yang oenting kita harus terus membantu Mama Shofia dan memberikan semangat. Kita akan dampingi Mama Shofia berobat dan terapi agar bisa melewati cobaan ini dengan ikhlas. Allah Maha segalanya Sayang. Mama Shofia orang baik." Satya yakin akan kuasa Allah atas kesembuhan mertuanya.
"Aamiin."
Andin mengamini doa dan harapan suaminya.
Dalam dekapan Satya Andin berdoa penuh harap bagi kesembuhan Mama Shofia.
"Sayang, sudah ngantuk?" Satya membelai wajah cantik Andin.
Andin hapal betul tatapan mata suaminya saat ini.
Sengaja Andin mengoda Satya.
"Memang kenapa Mas?" Andin tersenyum melihat ekspresi Satya yang menahan sesuatu.
Satya tak menjawab dengan kata-kata namun anggota tubuhnya memberikan respon terhadap pertanyaan Andin.
__ADS_1
Andin menyukai setiap sentuhan Satya padanya.
Satya memperlakukan Andin begitu lembut dan perlahan.
Satya memang selalu bisa membuat Andin seakan terbang kelangit ketujuh.
Perlakukan Satya, Sentuhan dan kecupannya mampu membuat Andin terbang melayang.
Harus Andin akui suaminya memang juara dalam hal memuaskan dirinya.
Satya memang selalu banyak cara dan ide dalam melancarkan serangan-serangannya hingga mampu membuat Andin terbuai.
Suara-suara cinta yang Andin loloskan dari bibirnya menambah semangat dan gairah Satya dalam melakukan penjelajahan malam ini.
Seakan memicu Satya semakin larut dalam kenikmatan tiada tara berbalut ibadah mencari pahala.
Sungguh Satya begitu mensyukurinya bagaimana tidak Andin yang tak terpikir kala itu sebagai istrinya kini mampu membuat Satya tergila-gila akan semua yang Andin miliki.
Berkali-kali Andin menuju garis finish.
Satya pun tak menghitung berapa kali lahar panasnya menyirami ladang milik Andin.
Seolah tenaganya tak kenal lelah setiap bersama Andin hingga kegiatan bercocok tanam menjadi candu bagi keduanya.
Pukul 2 pagi.
Satya membaringkan tubuhnya disebelah Andin.
Mengusap peluh yang bercucuran dikening istri tercintanya.
Satya mengecup kening Andin.
"Terima kasih Sayang, kamu luar biasa."
Andin tak memiliki energi setelah pertempuran malamnya bersama Satya.
Senyum manis tersungging pada bibir Andin membuat Satya kembali menghujani wajah cantik Andin dengan kecupan bertubi-tubi.
Tanpa sadar keduanya terlelap.
Tertidur nyengak saling berpelukan.
Senyuman tersemat pada bibir keduanya menyiratkan rasa puas dan bahagia.
Betapa indah dilakukan dalam ikatan halal dan syarat pahala.
Menjadi berkah saat keduanya menyatu dalam ikatan pernikahan.
Surga dunia begitulah yang keduanya rasakan.
Dalam satu tarikan nafas, akfivitas yang terlarang berubah menjadi halal dan menjadi hak dan kewajiban bagi sepasang anak manusia saat ijab qabul terucap.
Betapa indahnya pernikahan, begitupun yang Satya dan Andin rasakan saat ini.
__ADS_1
...****************...