
Kali ini keluarga Satya sudah tampak rapi siap menemani Mama Shopia menghadiri pernikahan kerabat almarhum suaminya.
Mama Shopia memang sengaja mengajak keluarga barunya kini ingin memperkenalkannya pada familinya.
Bunda Dona, Satya, Andin dan Dinda mendampingi Mama Shopia dengan penuh sukacita.
Mereka sangat senang bisa mendampingi Mama Shopia agar tidak merasa kesepian ditengah keluarga almarhum suaminya.
Semua kerabat almarhum suami Mama Shopia begitu terkejut dengan kehadiran Mama Shopia bersama orang-orang disekelilingnya.
Mama Shopia memperkenalkan keluarga barunya kepada mereka semua.
Mama Shopia pun juga menceritakan perihal keluarga barunya yang begitu baik menerimanya dan merawatnya sampai ia bisa sembuh dari penyakitnya.
Terlihat wajah-wajah tak enak hati dari mereka mendengar penuturan Mama Shopia.
Mama Shopia tidak pernah dendam atau marah, Mama Shopia sudah sangat bersyukur dengan keluarga barunya kini yang begitu menyayanginya.
Mama Shopia juga bukan pamer dengan kebahagiaannya kini.
Mama Shopia hanya ingin berterima kasih dan merasa bangga dengan keluarga barunya yang begitu menyayanginya dengan tulus.
"Shopia, Maafkan kami. Maaf kami tak ada disaat kamu kesusahan melawan penyakitmu."
"Tidak apa Mas, Mbak. Tak ada yang perlu dimaafkan. Shopia bersyukur diberi kesempatan hidup dan sehat itu sudah anugerah terindah dari Allah. Untuk itu Shopia meminta semoga silahturahmi kita bisa terjalin kembali." Mama Shopia menjawab kerabat almarhum suaminya dengan bijak.
"Shopia kamu memang baik. Tak salah Arman memilihmu meski dulu kami menentang pernikahan kalian. Kami salah Shopia, maafkan kami." Sesal kerabat almarhum suami Mama Shopia.
"Kita doakan Mas Arman semoga tenang disisi Allah dan Allah tempatkan dalam syurganya." Mama Shopia teringat sang suami dan mendoakan mendiang suami yang ia cintai hingga kini.
Mama Shopia mengajak dan memperkenalkan Satya dan keluarga kepada kerabat suaminya, mereka sangat berterima kasih kepada Satya dan keluarga karena disaat mereka yang seharusnya menjaga Shopia namun Allah menunjukkan kasih dan sayangnya dengan menghadirkan Satya dan keluarga sebagai pelindung Shopia.
"Maaf saya permisi mau ke toilet." pamit Andin.
"Sayang mau mas antar?" Satya sigap.
"Aku saja Kak yang menemani Andin." Dinda menawarkan diri karena memiliki keinginan yang sama.
Keduanya menuju toilet menuntaskan hajat hidupnya masing-masing.
Andin dan Dinda dua wanita cantik yang begitu menawan hati.
Andin meski kini sedang hamil dan tubuhnya terlihat lebih berisi tak mengurangi pesona kecantikan yang terpancar dari dirinya.
"Masih cantik bumil."
"Gw gendut banget Din." Andin mengerucutkan bibirnya.
"Gpp yang penting kakak gw tetep bucin sama Lo Din."
"Masa sih? Lo liatnya gitu?" Andin meminta pandangan Dinda selaku adik Satya.
"Lo ga berasa gitu?" Dinda balik bertanya.
"Kakak Lo rayuannya maut, gw takut." Andin mengungkapkan sedikit kekhawatirannya pada Dinda.
"Din, Kak Satya itu beneran cinta sama Lo. Bahkan Bunda aja selalu bilang kalo Kak Satya udah bucin sama Lo. Lo ga usah khawatir. Kalaupun Kak Satya macem-macem gw dan Bunda bakal jadi orang pertama yang ngelindungin Lo." Dinda menggenggam tangan sahabatnya sekaligus kakak iparnya.
"Uh, so sweet. pengen peluk adek ipar gw yang super duper baek."
__ADS_1
Kedua sahabat sekaligus ipar berpelukan di toilet tentu membuat pengunjung toilet lain menatap aneh kepada keduanya.
Maklum jaman sekarang pemandangan cewek berpelukan juga sering disalahartikan.
"Yuk, nanti Bapak bucin nyariin bininya." Dinda mengajak Andin kembali ke tengah acara pesta.
Andin tersenyum dengan kata-kata Dinda untuk suaminya.
Keduanya menuju Ballroom pesta dimana keluarga mereka sedang berbincang dengan para kerabat Mama Shopia.
"Nda, disini juga?"
Dinda menoleh ke samping
Menemukan sang pemilik suara yang menyapanya.
Dinda mengangguk.
"Loh Nak Fandi." Mama Shopia kaget dengan kehadiran Fandi dalam pesta keponakannya.
"Kalian saling kenal Shopia?"
Mama Shopia dan kerabatnya bertukar cerita mengenai hubungan mereka dengan Fandi dan saling mengenal.
"Wah Nak Fandi terima kasih, sudah membantu kerabat Tante."
Mama Shopia mengucapkan terima kasih kepada Fandi yang merupakan Lawyer saat kasus yang dihadapi perusahaan kerabat almarhum suami Mama Shopia.
"Tidak Tante, memang sudah seharusnya." jawab Fandi bijak.
"Fandi bagaimana kabar Mama?" Mama Dona menanyakan kabar ibu Fandi.
Bunda Dona dan Mama Shopia berbincang dengan kerabat Almarhum suami Mama Shopia.
Sedangkan Satya menuruti keinginan Andin foto-foto dibooth yang disediakan.
Tentu saja Satya akan menuruti keinginan sang istri meski antrian yang lumayan panjang harus mereka lalui.
Tinggalah Dinda dan Fandi.
"Nda, waktu itu kenapa mendadak batalin?" Fandi menanyakan alasan Dinda membatalkan janji makan siang mereka.
Dinda sedikit sulit mencari alasan.
"Ada meeting dadakan dengan klien." hanya itu yang terlintas dalam benak Dinda.
"Mama nanyain kamu loh." Fandi kini ingin melihat reaksi Dinda.
"Oh iya, Tante Arini apa kabar?" Dinda menanyakan kabar ibu Fandi dan wajah Dinda tidak sedatar tadi kini lebih ada ekspresi terlihat senyuman Dinda.
"Alhamdulillah baik. Mama sehat. Mama bilang kangen sama kamu." Fandi jujur memang beberapa kali telpon Mamanya menyampaikan kerinduannya pada Dinda bahkan meminta Fandi segera nembak Dinda.
"Aku juga rindu Tante Arini. Sampaikan salamku pada Tante Arini ya Ndi." Dinda tersenyum menanggapi pesan Ibu Fandi untuknya.
"Aku juga rindu Nda sama kamu." Fandi tampak tak bisa menahan lagi rasa dihatinya.
Dinda menatap kedua mata Fandi. Mencari kebohongan disana. Fandi juga tak melepaskan pandangannya pada wanita yang 2 bulan ini mengabaikan semua chat dan panggilannya. Bahkan saat bertemu di depan rumah Dinda masih bisa menghindari dirinya.
"Aku permisi dulu." Dinda hendak meninggalkan Fandi.
__ADS_1
"Jangan hindari aku. Kalau aku salah sama kamu, silahkan pukul atau tampar aku. Jika sikapku keterlaluan dan membuatmu marah silahkan marah balik padaku. Tapi jangan diam dan menghindar. Itu lebih menyiksaku Dinda. Jangan abaikan chat, telpon dan ajakanku seperti waktu itu. Menunggu itu melelahkan, cinta tak terbalas itu menyakitkan." perkataan Fandi panjang lebar mampu menahan Dinda beranjak meninggalkannya.
Fandi menatap wanita yang membuat hatinya turun naik belakangan. Wanita dihadapannya yang tanpa ekspresi dengannya namun mampu tersenyum manis untuk yang lain.
Dinda wanita yang awalnya hanya sebuah rasa penasaran lambat laun menjadi cinta dan berhasil menempati hati Fandi yang kosong selepas patah hati ditinggal nikah kekasihnya sekaligus dikhianati sahabatnya sendiri.
"Jangan menunggu."
Dinda pergi meninggalkan Fandi yang mematung menatap kepergian Dinda seolah mengabaikan curahan hatinya.
Ada kemarahan dalam hati Fandi akan sikap dingin Dinda.
Fandi tak habis fikir mengapa Dinda bersikap dingin padanya.
"Apakah aku keterlaluan?" tanya Fandi dalam hati.
Fandi mengusap kasar wajahnya meninggalkan keramaian pesta.
Dinda menghampiri keluarganya.
Andin menangkap wajah murung Dinda meskinDinda berusaha biasa saja dengan senyuman diwajahnya.
Andin bukan tanpa sebab mengetahui keadaan Dinda.
Namun Andin sengaja tadi tak langsung meninggalkan Dinda.
Dari balik dinding yang tak jauh dari Dinda dan Fandi Andin mendengarkan percakapan Dinda dan Fandi.
Andinpun sempat kaget saat Fandi mengutarakan isi hatinya pada Dinda.
Andin senang ternyata dugaannya dan Satya benar kalau Fandi menyukai Dinda.
Mama Dona akan senang bilang mengetahui hal ini.
Namun Andin dikejutkan dengan sikap dingin Dinda akan pengakuan Fandi.
Andin ingin rasanya segera berbicara pada Dinda.
Namun Andin paham betul sikap dan karakter Dinda.
Dinda akan bicara jika ia menghendaki bicara sebaliknya meski didesak seperti apapun bila Dinda ingin menyimpannya tak akan ada yang mampu mengoreknya.
Saat pulang, Dinda pamit izin pada keluarga akan pergi menemui temannya.
"Kabari Bunda ya Sayang. Ingat!" Bunda Dona menasehati Dinda yang memilih naik taksi meski Satya memaksa mengangantarnya.
"Kak aku bukan anak kecil!" Dinda kembali menjawab ocehan kakaknya yang hendak melepas adik kecil berangkat main.
"Din, jaga diri ya. Inget kami semua yang selalu mencemaskan Lo. Kalo ada apa-apa cerita sama gw."
Andin membisikan kalimatnya ditelinga Dinda.
Saat melepas pelukannya Ansin memberikan kode pada Dinda dan Dinda mengedipkan matanya pada Andin.
Dinda yakin Andin tahu mengenai pembicaraan ia dan Fandi.
Satya dan keluarga tanpa Dinda kembali pulang kerumah.
Sementara Dinda naik taksi ketempat dimana ia ingin sedikit meringankan beban dihati dan pikirannya.
__ADS_1
...****************...