Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 12 Hari Pertama


__ADS_3

Andin terbangun mendengar adzan subuh dari alarm HP miliknya.


Begitupun Satya yang mensetting adzan di HPnya.


Keduanya saling memandang tersenyum penuh kebahagiaan.


CUP


Satya memberikan kecupan di bibir Andin.


Andin yang masih belum sepenuhnya terbangun menjadi kaget dengan hal tersebut.


Meski semalam Andin sudah memberikan mahkota berharganya pada sang suami namun perlakuan Satya pagi ini sungguh berbeda.


Andin benar-benar merasakan layaknya pengantin baru.


"Morning kiss sayang." Satya sambil memegang pipi Andin dan senyum Satya yang selalu menghiasi wajahnya.


Andin hendak bangun namun intinya terasa perih dan ngilu.


"Awww." Andin meringis.


"Sayang, sakit ya?"Satya jadi kasian melihat Andin ingat hasil dari perbuatannya semalam.


Andin mengangguk membenarkan kata-kata suaminya.


Satya memeluk Andin.


"Terima kasih ya sayang, aku bahagia sekali. Aku jadi orang pertama yang membukanya. Maafkan aku karena bikin kamu sakit. Soalnya aku ga bisa berhenti, terlalu nikmat sayang." Kata-kata Satya berbisik ditelinga Andin.


Andin melepaskan pelukan Satya.


Andin malu jika bisa terlihat wajah Andin kini pasti merah merona.


Andin memukul manja dada Satya.


"Kakak!" Andin masih malu sedangkan Satya malah tersenyum senang.


"Aku mau ke kamar mandi." Rengek Andin.


Satya tanpa babibubebo langsung menggendong Andin ala Bridal membawanya ke kamar mandi.


Tentunya keduanya mandi bersama lalu mereka mengerjakan sholat subuh berjamaah.


Satya mengakhiri shalatnya dengan mengucapkan salam menoleh ke kanan dan kekiri.


Diikuti Andin yang melakukan hal yang sama.


Andin mencium tangan Satya dan kini Satya membalasnya dengan mencium kening Andin.


Senyuman kebahagiaan terpancar di wajah kedua insan yang telah mereguk manisnya surga dunia.


Satya mengusap lembut perut Andin.


Berdoa semoga kelak didalam rahim Andin tumbuh zuriat yang akan menjadi putra dan putri yang sholeh dan sholehah.


"Sayang hari ini kamu ga usah masak dulu. kamu masih sakit."


Satya masih senang mengurung istrinya diranjang meski tidak lagi mengajak Andin aerobik bersama, walaupun sesungguhnya keinginan itu semakin nagih dan menjadi candu namun Satya ga tega karena Andin masih merasa sakit.


"Gpp sayang aku bisa pelan-pelan. Rasanya pun tak sesakit tadi setelah berendam air hangat." Andin berjalan perlahan bangkit dari kasur.


Satya ikut bangun mengikuti Andin yang berjalan menuju dapur.


Satya duduk di meja makan melihat Andin membuka kulkas.


Andin mendapati kulkasnya kehabisan stok makanan.


"Sayang, maaf aku ga bisa masak untuk sarapan, bahan makanan kita habis. Cuma ada roti dan telur. Aku bikin sandwich saja ya?" Andin tanpa sadar memanggil Satya dengan sebutan Sayang.

__ADS_1


Satya yang begitu bahagia dipanggil Sayang mendekati Andin memeluknya dari belakang.


Andin merasakan tangan kekar itu melingkar dipinggangnya.


"Kak?" Andin kembali dengan panggilannya.


Satya menggeleng.


"Tadi kamu panggil apa?"


"Kakak."


"Bukan, yang tadi aku mau dengar?"


Andin malu-malu.


"Coba panggil lagi, aku suka panggilan itu."


Satya mencium tengkuk leher Andin menghirup aroma Andin yang disukainya sebanyak-banyaknya.


"Sayang." Andin terbata-bata.


"Aku seneng kamu panggil aku Sayang. Aku juga sayang kamu istriku." Satya memeluk erat Andin menciumi rambut Andin yang wangi sampo.


"Iya, aku juga sayang kamu suamiku." Andin malu sendiri dengan kata-katanya.


"Cie jadi kita udah resmi suami istri beneran mulai hari ini?" Satya mengapa dirimu menjadi alay.


"Sebulan yang lalu juga udah jadi suami istri."


"Tapi baru semalam Yang, gimana kalo sekarang kita ulangi lagi, jadi kamu ingat lagi."


Satya dengan modus bersamaan dengan tangannya yang mulai aktif bergerilya.


"Sayang, belum cukup semalam?"


"Tak akan cukup Sayang, hasratku selalu bangkit bila bersamamu."


Satya mulai dengan pemanasan menikmati setiap perjalanan panjang menuju puncak dengan perlahan dan penuh kenikmatan.


Seakan sudah hapal dengan rute pendakiannya.


Satya menelusuri setiap belokan dan tanjakan dengan santai namun mampu memabukkan bagi Andin.


Satya juga pendaki yang sangat cerdik dalam menangani medan pertempurannya.


Berapa kali Satya dengan segala keahliannya menimbulkan semburan mata air surga dari inti Andin.


Satya begitu bahagia mampu memberikan kepuasan dari lawan tempurnya.


Satya begitu menikmati momen-momen terindah dan ternikmat saat ini.


Seakan mendapatkan hobi baru ingin terus mengulangi dan mengulanginya lagi.


Sarapan sandwich berubah menjadi sarapan susu murni dilengkapi kue apem.


Terasa lebih istimewa.


Sekian kali dan entah berapa kali lahar panas bersemburan.


Ranjang kedua menjadi saksi bisu bagaimana keduanya melewati perubahan status dari perawan dan perjaka menjadi calon papa dan calon mama.


Jejak-jejak pertempuran semalam dan pagi tertinggal dalam sprei ranjang mereka.


Satya tersenyum melihat tanda-tanda cinta disana.


Salah satu tanda di raba Satya membuat Satya tersenyum penuh kebanggaan.


Bukan hanya pada dirinya namun kepada Andin Sang istri tentunya.

__ADS_1


"Sayang, malu ih jangan dilihatin begitu?"


"Aku justru bangga Sayang, I'm the first man to have you, and I'm proud of that. Thank you my dear. I love you my wife." Satya memeluk Andin.


"I Love you too, Hubby." Andin menjawab.


"Aku senang kamu panggil Hubby sayang." Satya semakin memeluk dengan erat.


"Aku juga senang sama sayangku, cintaku, belahan jiwaku, Uhibbuki mitsla maa anti uhibbuki kaifa maa kunti (Aku mencintaimu apapun dirimu, aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu)." Andin mengungkapkan perasaannya pada Satya.


"Ah, aku bahagia sekali sayang. Zaujatii, antii habiibatii anti (Duhai istriku, engkaulah kekasihku)." Satya membalas jawaban Andin.


"Sayang hari ini kita jalan-jalan yuk. Kita belum pernah jalan-jalan berdua. Ya anggap saja ini ngedate. Mau ga?" Satya mengajak Andin.


"Oke kalau begitu. Nanti sekalian kita belanja ya Sayang, bahan makanan kita sudah habis." Andin meminta dengan manja pada suaminya.


"Whatever you want, I will grant it. because you have made me falling in love." Satya sudah terjerat virus bucin sepertinya.


"Ih gombal!" Andin menjulurkan lidahnya pada Satya.


"Gpp gombalin istri sendiri pahala tahu." Satya mencubit gemas pipi Andin.


"Saranghaeyo yeobo (Aku mencintaimu, suamiku)." Andin ala cewek drakor.


" Je t'aime aussi mon mari(Aku juga mencintaimu, suamiku)." jawab Satya.


Kalau melihat Satya dan Andin seakan dunia milik berdua.


Jatuh cinta berjuta rasanya.


Teringat sebuah lagu berjudul Kata Pujangga milik Raja dangdut Rhoma Irama.


...Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga...


...Hai, begitulah kata para pujangga...


...Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga...


...Hai, begitulah kata para pujangga...


...Aduhai, begitulah kata para pujangga...


...Taman suram tanpa bunga....


...Ada yang dicinta giat bekerja...


...Entah apa, entah siapa...


...Karena cinta jiwa gairah...


...Tanpa cinta hidup pun hampa...


...Ternyata amat utama adanya cinta...


...Hai, begitulah kata para pujangga...


...Aduhai, begitulah kata para pujangga...


...Tapi jangan cinta buta...


...Soal cinta, soal kita...


...Cinta kebutuhan manusia...


...Siapa saja memerlukannya...


...Karena cinta punya daya...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2