Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 73 Kebahagiaan Abizhar


__ADS_3

Satya dan Andin sudah berada di depan sekolah Abizhar.


"Assalamualaikum." Abizhar memberi salam saat melihat Papa dan Mamanya menjemputnya sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


"Waalaikumsalam." jawab Andin dan Satya menerima salim dari Abizhar.


"Mama Andin, Om Satya. Apa kabar? Caca yang melihat kedua orang tua Abizhar menyapanya dan mencium tangan kedua Papa dan Mama Abizhar.


"Alhamdulillah, baik sayang." Andin mengusap kepala Caca sementara Satya tersenyum.


Tampak Andrew, Angel dan Dito juga menghampiri Abizhar yang sudah dijemput oleh kedua orang tuanya.


Teman-teman Abizhar menyapa Andin dan Satya serta mencium punggung tangan keduanya.


Satya menatap kedua bocah kembar tersebut.


Lagi-lagi Satya seakan begitu familiar dengan wajah keduanya.


Andin memergoki tatapan intens Satya kepada kedua teman Abizhar.


"Oh iya kalian mau ikut ga, Tante dan Om mau ajak Abizhar main. Bagaimana?" Andin menawarkan teman-teman Abizhar.


"Caca mau ikut tapi kan Caca belum bilang Oma?"


"Bagaimana kalau Tante yang telpon meminta ijin kepada orang tua atau oma kalian?" Andin menawarkan.


Andin memang ingin memberikan kebajagiaan kepada Abizhar selain akan memyampaikan berita dirinya hamil, sekaligus mengajak teman-teman Abizhar, karena Abizhar begitu menyayangi teman-temannya.


"Dito mau Tante." Dito dengan senang dan riang.


"Maaf Tante dan Om, bukannya kami menolak, tapi jari ini kebetulan Daddy kami baru pulang dari luar negeri, jadi Andrew dan Angel dipesan Oma untuk segera pulang." Andrew dengan sopan meminta maaf ketidak ikutsertaan dirinya dan Angel atas tawaran Andin.


"Oh begitu. Iya Gapapa sayang. Lain waktu kalau Tante ajak lagi, jangan ditolak ya." Andin dengan senyum hangatnya menepul lengan Andrew dan mengusap kepala Angel.


Kedua anak kembar tersebut pamit kepada kedua orang tua Abizhar.


Andrew dan Angel bergantian mencium tangan Andin dan Satya.


Satya menatap lekat pada Andrew dan Angel bergantian.


Andin sungguh tak sabar rasanya ingin tahu gerangan apa suaminya selalu menatap berbeda kedua teman putranya itu.


Hingga mobil bocah kembar tersebut berlalu Satya masih mengikuti dengan ekor matanya.


"Ayo kita berangkat sekarang." Andin segera mengajak Abizhar, Caca dan Dito masuk mobil.


"Mas," Andin pun memanggil Satya yang mematung seakan tak mendengar saat Andin mengajak anak-anak segera masuk mobil.


Benar saja selama perjalanan 3 bocah tersebut tampak asik berbincang seputar kehidupan sekolah dan pertemanan mereka.


Andin melirik kearah suaminya, Satya yang sedang menatap kedepan dengan tatapannya yang panjang menerawang dikejutkan dengan usapan tangan Andin di telapak tangannya.


"Papa mau minum?" Andin sengaja menanyakan hal itu untuk mengembalikan kesadaran suaminya.


Satyapun terhenyak. Ia tak sadar sedang melamun.


Sambil tersenyum Satya menerima air mineral yang Andin berikan.


"Makasi Ma." Satya dengan tersenyum dan segera meminum air mineral itu hingga tandas.


Jalan yang cukup lengang membuat mereka segera sampai di PIM.


Andin pun mengajak anak-anak makan terlebih dahulu

__ADS_1


Tentu saja mendengar kata makanan Dito paling antusias


Andin berjalan menggandeng Caca sedangkan Satya mendampingi Abizhar dan Dito.


"Tante Caca mau ke toilet dulu boleh?" Caca meminta izin pada Andin karena Caca sejak di mobil menahan ingin pipis.


"Ayo Tante antar. Papa, Mama mau ke toilet dulu ya antar Caca." Andin pamit suaminya.


"Bi, Andrew dan Angel coba tadi ikut ya, pasti tambah seru deh!" Dito dengan ceriwis.


"Andrew bilang kan Daddynya baru balik. Mereka kan jarang ketemu Daddynya." Abizhar menjawab Dito.


"Eh iya Bi, Andrew sama Angel kenapa ya ga pernah cerita soal Mommynya?" Dito menanyakan Abizhar.


"Aku ga tahu Dit, ga pernah nanya juga." Abizhar memang tak pernah mau tahu urusan pribadi orang lain.


Andin dan Caca telah kembali dari toilet kini mereka menuju tempat makan mengisi perut yang mulai keroncongan.


Satya dan Andin dibuat tersenyum dengan ocehan ketiga bocah dihadapannya.


"Dito kalo makan jangan lupa baca doa, biar setannya ga ikut!" Caca saat melihat Dito mengambil banyak makanan.


"Ih Caca sirik aja!" Dito membalas kata-kata Caca.



Andin melirik ke arah Satya seolah meminta ijin kepada suaminya untuk menyampaikan perihal kehamilannya.


Satya tersenyum sambil menganggukan tanda menyetujui.


"Sayang, Mama dan Papa mau kasih kabar bahagia buat Abizhar." Andin memulai percakapannya.


Seketika ketiga bocah yang sedang ngobrol diam memandang dan siap mendengarkan kata-kata Andin.


"Mama tadi habis dari dokter, lalu dokter bilang Mama sekarang sedang hamil. Abizhar akan jadi kakak." Andin memberikan kabar yang sejak tadi ingin ia sampaikan.


Abizhar tidak berkata apapun.


Abizhar beranjak dari tempat duduknya segera menghampiri Andin dan memeluk Mamanya erat.


"Abizhar bahagia banget Ma, Abizhar seneng banget akan punya adik. Terima kasih ya Allah, telah mengabulkan doa Abizhar setiap malam.


Andin mendengar kata-kata Abizhar tak kuasa menahan airmatanya yang sudah meleleh membasahi pipi.


Dengan lembut Abizhar menunduk, tangannya mengusap perut Andin.


"Dek, sehat-sehat ya diperut Mama. Jangan nakal, jangan buat Mama susah. Tumbuh sehat dan segera nanti ketemu Mas Abi ya." Abizhar mengatakan kepada adik dalam kandungan Mamanya.


Satya tak kuasa melihat anak dan istrinya, ia memeluk keduanya dengan perasaan mengharu biru.


Ketiganya seakan lupa bahwa ada 2 bocah yang kini ikut terharu menyaksikan mereka.


Andin menyadari bahwa kedua sahabat Abizhar kini ikut menangis.


"Sayang, sini Caca." Andin segera memeluk Caca.


"Tante, Caca juga mau punya adek kayak Abizhar." Caca sudah berhenti menangis dan Andin menghapus airmata gadis kecil di pelukannya itu.


"Sayang, Caca boleh kok anggap adiknya Abizhar, adik Caca juga. Mau?" Andin memegang kedua pipi gadis kecil itu memandangnya dengan senyuman.


"Boleh Tante? Boleh Om?" Caca menatap keduanya.


"Tentu sayang." Andin kembali memeluk Caca.

__ADS_1


Satya pun mengangguk sambil tersenyum.


"Loh Dito kenapa nangis? Jagoan ga boleh nangis dong!" Satya menepuk bahu Dito.


"Akhirnya Dito punya orang yang akan sama seperti Dito." Dito yang dikeluarganya adalah anak bungsu sementara kakak-kakaknya berusia jauh di atas Dito.


"Jangan kamu pengaruhi ya adek aku Dit. Kamu suka drama soalnya!" Abizhar yang sering mendengar kekuh kesah Dito menjadi bahan becandaan kakak-kakaknya.


"Makanya aku pesen sama kamu Abizhar, nanti kalo kamu jadi kakak ga boleh ngeledekin adek kamu. Pokoknya kalo kamu bikin adek kamu nangis atau kamu ngeledekin adek kamu, aku yang bakal belain!" Dito seakan punya sekutu dalam hal dunia berbungsuan.


"Ih, Abizhar! Dito! harusnya bersyukur punya adik, punya kakak. Caca gpp kalo emang Caca bakal diledek setiap hari sama kakak Caca atau direpotin setiap hari sama adek Caca!" Caca yang anak tunggal serinv merasa kesepian jika dirumah itulah sebabnya Caca ssnang diaekolah apalagi memiliki sahabat terbaik seperti Abizhar, Dito apalagi sekarang ada Andrew dan Angel.


"Sudah, ayo dimakan. Setelah ini jadi ga main Trampolinenya?" Andin yang tahu wahana permainan ini sedang digemari anak-anak seusia Abizhar.


"Jadi Ma. Tapi Mama ga boleh ikut main. Soalnya adek kasian nanti pusing!" Abizhar mulai menunjukkan sikao protektifnya.


"Iya Mas Abi. Mama sama Adek nontonin Mas Abi, Mas Dito sama Kak Caca aja. Iyakan Dek?" Andin mengajak ngobrol adik Abizhar.


Satya menemani ketiga anak-anak yang sedang aktif-aktifnya itu sedikit merasa kelelahan.


Satya menghampiri Andin yang sedang duduk.


Melihat Satya yang ngos-ngosan Andin menyodorkan air mineral pada Satya.


Satya meminumnya hingga tandas tak tersisa.


"Haus pak!" goda Andin.


"Mereka ga ada capeknya ya sayang." Satya menyenderkan bahunya pada Andin.


"Umur ga bohong Sayang!" Andin dengan enak menjawabnya.


"Oh, jadi maksud kamu Mas tua gitu?" Satya menatap kearah istrinya dan mengelitik pinggang Andin.


"Mas, malu, dilihat anak-anak." Andin mengingatkan Satya.


"Kalo olahraga sama kamu Mas ga ada capeknya sayang, malah kepingin terus ga mau berhenti." Satya menyolek hidung Andin.


Andin dengan senyumannya membuat Satya keki sendiri.


"Sayang, pulang yuk. Udah sore." rayu Satya.


"Anak-anak masih senang mainnya Mas." Andin sengaja berdalih anak-anak.


Andin senang sekali melihat ekspresi Satya yang niat terselubungnya ga dipahami Andin.


"Tapi Mas udah pengen istirahat berdua sama kamu sayang." Kode Satya semakin keras.


"Loh sekarang kita lagi istirahat nih, duduk berdua." Andin semakin membuat Satya geregetan karena pura-pura ga paham makaud Satya.


"Awas ya! malam ini ga aku kasih tidur kamu sayang!" ancaman Satya dengan senyuman modusnya.


"Eits, kamu lupa ya. Ini gimana?" Andin menunjuk perutnya.


Satya menepuk jidatnya.


Ia baru ingat Andin kini hamil trimester pertama.


Seketika Satya meringsut lemas sedangkan Andin tertawa puas melihat Satya yang bagai ayam sayur.


...****************...


...Abizhar, Dito dan Caca bermain trampolin...

__ADS_1



__ADS_2