Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 41 7 Bulanan


__ADS_3

Lantunan ayat suci mengalun merdu terdengar dari bibir sang calon ibu yang kini memasuki usia kehamilan tujuh bulan.


Tausyiah yang disampaikan oleh Al- Mukkarom Syekh Muhammad Jaber adik dari Almarhum Syekh Ali Jaber begitu mengenai dihati semua tamu undangan tak terkecuali Satya dan keluarga.


Satya dan keluarga juga menyantuni anak-anak yatim yang mereka undang dalam acara kali ini sebagai bentuk rasa syukur karena Allah senantiasa memberikan banyak sekali anugrah dan kebahagiaan bagi keluarganya.


Tampak hadir teman, rekan dan kerabat dalam acara tersebut.


Suasana penuh keceriaan dengan canda dan tawa berbaur menjadi satu sambil menikmati hidangan yang disediakan diiringi alunan musik dan suara merdu dari grup gambus kenamaan Sabyan.


Tamu undangan secara bergantian memberikan ucapan selamat sekaligus mendoakan Andin agar diberikan kelancaran menghadapi persalinannya yang insha Allah akan terjadi kurang lebih 2 bulan lagi.


Andin dan Satya mengaamiinkan semua doa dari tamu undangan.


Satya mendampingi sang istri menyapa tamu-tamu yang hadir.


"Sayang, capek? Duduk dulu ya. Mau makan atau minum? Mas ambilkan." Satya membawa Andin duduk disebuah kursi menawarkan sesuatu yang Andin mau.


"Boleh Mas." Andin sambil meluruskan kakinya yang terasa pegal.


"Tunggu sebentar ya Mas ambil dulu makanan dan minumannya." Satya beranjak mengambil makanan dan minuman untuk Andin.


Bunda Dona dan Mama Shopia tengah menemani teman-teman mereka dan terlihat asik dengan obrolannya.


Pegawai WO Andin juga turut hadir dalam acara tersebut.


Gina menghampiri Andin duduk disebelahnya mengelus perut Andin.


"Mbak ada gerakan." Gina kaget saat mengusap perut Andin ada gerakan dari perut Andin.


"Iya Gin, baby senang tuh, baby kasih salam buat tante Gina.


"Halo Baby, ini tante Gina. Tante Gina yang cantik." Gina dengan percaya diri mengatakan pada baby diperut Andin.


"Iya tante Gina juga baik. Sering direpotin Mama aku ya. Makasi tante Gina." Andin menirukan suara anak dalam rahimnya.


"Ga repot kok Baby. Nanti kalau sudah lahir kamu ikut ke kantor ya, Tante Gina bakal ajak kamu jalan-jalan."


Dinda menghampiri Andin yang kini bersama Gina.


Gina melihat Dinda berjalan kearah mereka menyapa Dinda.


"Mbak Dinda apa kabar?" Gina menyapa bercipika cipika pada Dinda.


"Baik Gin." Dinda tersenyum


Ketiganya asik mengobrol dengan seru.


Maklum perempuan selalu tak akan kehabisan bahan jika sudah berkumpul.


Semua mampu dibahas perempuan.


Memang sudah takdir perempuan yang memang diberikan Allah kemampuan berbicara yang lebih banyak dibandingkan laki-laki.


Satya menyapa rekan kantornya yang turut hadir dalam acara 7 bulanan istrinya.


Tak terkecuali Gilang yang sangat ganteng abis dengan baju koko putihnya menambah ketampanannya kali ini.

__ADS_1


Satya tentu saja senang menggoda sahabat sekaligus partner kerjanya.


"Tumben mandi, biasanya tiap ngantor juga cuma cuci muka." Satya menekankan kata mandi membuat Gilang bete takut Dinda mendengar kebiasaan buruknya itu.


"Dih, aib gw ga usah disebar juga kali. Bisa turun pasaran gw depan Dinda."


" Emang gw udah kasih ijin lo deketin Dinda?" Satya menatap menantang kearah Gilang.


"Tolonglah Kakak Ipar. Ga kasian sama jomblo kayak gw." Gilang memelas membuat Satya tersenyum dengan tingkah rekannya.


"Coba aja kalo bisa, Dinda orangnya susah." Satya mengatakan hal tersebut memang kenyataannya seperti itu.


Keduanya asik berbincang saat Fandi menyapa pada Satya.


"Kak Satya." Fandi menyapa Satya.


"Hai Fan." Satya menjawab.


Tampak beradu pandangan saling bertanya dalam hati kedunya.


Satya bisa menangkap hal tersebut, memperkenalkan keduanya.


"Ini Gilang teman kantor, dan ini Fandi tetangga sebelah." Singkat Satya mengenalkan keduanya.


"Fandi."


"Gilang."


Kedua berjabat tangan.


Jika ditanya Satya masuk dalam dederetan cowok ganteng juga kah?


Tentu saja ketampanan Satya melebihi keduanya namun jangan coba-coba berani menggoda Satya karena Satya sudah ada pawangnya.


"Kak Satya dipanggil Andin." Dinda memanggil kakaknya karena Andin membutuhkan sang suami.


"Tinggal dulu ya, Panggilan dari istri tercinta nih." Satya dengan bangga mengatakan hal tersebut pada kedua pria jomblo dihadapannya.


"Din, temani mereka." Pinta Satya saat berdiri dekat Dinda adiknya.


Mau tak mau Dinda menghampiri kedua pria jomblo tersebut.


Bagai magnet baik Gilang maupun Fandi nerjalan kearah Dinda.


"Nda, kapan balik?" Fandi langsung pada inti.


"Dinda apa kabar?" Gilang menyapa dengan senyuman.


"Kabar baik. Sampe kemaren." Dinda menjawab dua pertanyaan sekaligus.


"Sudah makan?" Dinda menanyakan keduanya.


"Makan sama-sama yuk!" Gilang denga cepat menjawab.


"Mam nanyain kamu, yuk kesana." Fandi menunjuk Mamanya yang sedang berbincang pada Mama Shopia dan Bunda Dona.


Tampak sekali persaingan ketat kedua pria tersebut mencari perhatian Dinda.

__ADS_1


Telpon Dinda berdering.


"Maaf mau angkat telpon dulu." Dinda pamit meninggalkan keduanya.


Kedua pria tampan itu masing-masing berbaik arah yang bereda pergi meninggalkan satu sama lain.


"Dinda, ikut Mama sebentar Nak." Mama Shopia memanggil Dinda.


Dinda menghampiri Mama Shopia.


Mama Shopia mengajak Dinda menemui seseorang yang kini baru sampai dikediaman mereka.


Tampak wanita bule berusia seumuran Mama Shopia dan Bunda Dona mendekat pada Mama Shopia memeluk dan bercipika cipiki.


"Welcome to Indonesia, Doctor Alisha." Sapa Mama Shopia.


"You look healthy and fresh Arini." Dokter Alisha senang melihat kondisi Mama Shopia.


Mama Shopia memperkenalkan Dokter Alisha pada Dinda.


Dokter Alisha adalah salah satu Dokter yang menangani Mama Shopia saat operasi beberapa waktu yang lalu.


"I am very grateful, because through the hands of doctors, Mama Sophia can recover. Thank you so much." Dinda mengungkapkan rasa terima kasihnya.


Menyadari kehadiran Dokter Alisha Bunda Dona menghampirinya.


"Hallo Doctor Alisha, Nice to meet you." Bunda Dona memeluk Dokter Alisha.


"Hai Dona, Nice to meet you too." Dokter Alisha senang bisa kembali berjumpa Bunda Dona.


Bunda Dona dan Mama Shopia mengenalkan pada Andin dan Satya mengenai Dokter Alisha.


Andin tak kuasa menahan airmatanya.


Andin menggenggam tangan Dokter Alisha mengucapkan rasa terima kasihnya yang begitu dalam.


"Thank you so much doctor. Thanks doctor, my mother was able to return to health. I pray that God will repay all the kindness of the doctor. thank you doctor." Andin berulang kali mengucapkan rasa terima kasihnya pada Dokter Alisha.


Dokter Alisha memeluk Andin.


Dokter Alisha kini tahu dan melihat langsung Andin, putri Mama Shopia yang sering ia ceritakan pada Dokter Alisha selama pengobatan.


Dokter Alisha mengusap lembut perut Andin.


Menyapa janin dalam perut Andin.


"Hi baby, how are you? I hope you will be born healthy and safe. baby, you have to see first hand how your mother and grandmother are strong and kind women."


Dokter Alisha mengatakannya pada bayi dalam perut Andin.


"Mommy?" suara pria bule terdengar oleh semua yang kini berkumpul.


"Daniel."


"Mr. Daniel?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2