
Abizhar sudah tak sabar membuka kado-kado yang ia terima dari tamu yang datang ke ulang tahunnya
"Sayang Mama, mau buka kado yang mana?" Andin melihat putra aktifnya kini tampak mengacak-ngacak tumpukan kado yang banyak untuk Abizhar.
Abizhar dengan atraktif berputar-putar memilih-milih kado mana yang mau iya buka terlebih dahulu.
"Sayang Papa lagi apa nih." Satya menghampiri sang putra memilih duduk dekat Andin mengamati kelincahan Abizhar.
Duo Oma dan Aunty Dinda juga mendekati Abizhar.
Mereka semua memulih duduk lesehan mengikuti Abizhar yang asik diantara kado-kadonya.
"Abizhar, mau Aunty bantu pilihin kado yang mau dibuka ga?" Dinda selalu bisa mengambil hati keponakan gantengnya.
Abizhar mendekati Dinda dan menunjuk sebuah kado yang berbentuk kotak besar.
"Abizhar mau Aunty bantu buka?" Dinda sudah paham kado yang Abizhar maksud.
Abizhar mengangguk menyetujui perkataan Aunty Dinda.
Dinda menuntun Abizhar menghampiri kado yang Abizhar ingin buka.
"Sayang Aunty, kita baca dulu ya siapa yang kirim kadonya." Dinda melihat ada sebuah kartu ucapan di kado tersebut.
..."*Selamat Ulang Tahun Abizhar, Semoga Panjang Umur, Sehat Selalu, Berbakti kepada Orang Tua, Oma Dona, Oma Shopia dan Aunty Dinda."...
..."Dari Uncle Fandi*"...
Dinda tampak terhenti saat mengetahui pengirim kado tersebut adalah Fandi.
"Oh Uncle Fandi ya Aunty. Maaci Uncle Fandi." Abhizhar dengan manis mengucapkan ucapan terima kasihnya merespon ucapan dari kartu yang dibacakan Dinda.
Dinda membukakan kado tersebut untuk Abizhar. Abizhar yang tampak ingin membantu Auntynya dengan menarik sebisanya agar pembungkus kadonya terbuka.
Betapa senangnya Abizhar saat kado tersebut telah berhasil terbuka.
"Wah, kadonya pasti Abizhar suka." Satya melihat sang putra sudah menguasai kado tersebut dan tak sabar menaikinya.
"Papa Abizang ga tahu nie, nyalahinnya gimana." Abizhar memanggil Papanya saat ia kesulitan.
Satya segera mendekati Abizhar menuruti kemauan putranya yang selalu haus dengan hal-hal yang ia ingin keahui.
"Loh, asik betul anak mama, buka kadonya udahan nih?" Andin kini menanyakan anaknya.
"Belom dong Ma." Abizhar kini segera memilih kembali kado yang ingin dibukanya.
__ADS_1
"Boleh Oma bantu pilih?" Oma Shopia menghampiri Abizhar yang tampak bingung kado mana yang ia pilih berikutnya.
"Mana ya?" Oma Shopia bingung karena banyak sekali kado-kado yang ada didepan matanya.
"Oma Abizang mau buka yang itu." Abizhar memilih kado yang ia mau untuk dibuka.
"Ok. Oma ambilin ya."Oma Shopia menuruti keinginan cucu kesayangannya.
Oma Shopia dibantu Oma Dona membuka kado pilihan Abizhar, tak lupa Duo Oma itu membaca tulisan di kartu ucapan.
...^^^*Happy Birthday Boy, Wish You All The Best For You.^^^...
...From Uncle Daniel*...
Duo Oma dengan kompak menatap ke arah Dinda.
Begitupun yang ditatap sedang menatap kearah keduanya.
"Oma, Oma, ayo cepet, Abizang penasalan Oma." Rengek Abizhar kepada Duo Oma.
Duo Oma segera tersadar dan lekas membuka kado pemberian Daniel untuk Abizhar.
"Abizhar senang ga?" Andin bertanya pada Abizhar.
Abizhar langsung menghampiri kado yang diberikan Daniel untuknya.
Semua yang mendengar ucapan Abizhar tertawa lucu dengan kata-kata Abizhar.
Abizhar memperhatikan semua keluarganya menertawakan dirinya seketika ia menangis.
"Sayang Aunty, jangan nangis. Bukannya belum bisa, nanti Aunty ajarin ya bahasa inggris biar bisa." Dinda memeluk keponakannya, tak tega melihat Abizhar sudah banjir airmata.
"Aunty Di sama Uncle Fandi aja, soalnya Abizhar ngerti omongan Uncle Fandi." Abizhar yang sudah berhenti nangis seketika nyeplos berbicara begitu.
"Loh kok gitu anak Papa, Uncle Gilang juga bisa Abizhar ngerti omongannya." Satya mencoba mencari tahu alasan putranya menyebut nama Fandi.
"Soalnya Uncle Fandi baik." Abizhar menatap mata Dinda.
"Abizhar sayang, semuanya baik dong." Dinda ga mau Abizhar salah menilai sikap orang.
"Coba bilang sama Mama, Uncle Fandi kenapa baik?" Andin kini merentangkan kedua tangannya dan Abizhar kembali kepelukan Mamanya.
Abizhar mulai bercerita.
"Jadi waktu Uncle Fandi kesini, waktu itu cali Aunty Dinda, Abizang tunjukin kealah kolam lenang kalo Aunty Dinda lagi ngobrol sama Uncle Daniel telus Uncle Fandi ga jadi ke Aunty Dinda. Abizang tanya kenapa Uncle ga jadi ke Aunty apa kalena ada uncle Daniel. Telus Uncle Fandi bilang kata Uncle Fandi begini. Aunty Dinda lagi ngobrol sama Uncle Daniel, jadi Uncle Fandi ga boleh ganggu. Kalena kalo Uncle Fandi ganggu, Berarti Uncle Fandi ga mengholmati Uncle Daniel dan Aunty Dinda." Tus Abizang tanya kenapa Uncle, Nah terus Uncle Fandi jawab begini, Kalo Abizang lagi main sama kawan Abizang terus ada yang ganggu, Abizang seneng ga? Abizang jawab enggak Uncle. Telus Uncle Fandi bilang nah begitulah, jadi Uncle Fandi ga mau bikin Aunty Dinda ga suka karena diganggu sama Uncle Fandi waktu Aunty Dinda cama Uncle Daniel." Abizhar melepaskan pelukan Andin segera memilih lagi kado-kado yang mau ia buka.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada Dinda.
Seolah berbicara mengatakan, menuntut jawabannya.
Dinda hanya menggeleng merespon tatapan semua orang.
"Mama, Abizang haus, mau minum susu."
Abizhar sudah merengek haus meminta susu kepada Andin.
"Ayo sayang." Andin segera membawa anaknya kekamar Abizhar.
"Papa, ikut juga, Abizang mau minum susu sambil papa bacakan dongeng." Abizhar juga memanggil Papanya.
"Iya Sayang, ayo!" Satya mengikuti anak dan istrinya menuju kamar Abizhar.
Sementara Dinda dan Duo Oma masih berada dalam situasi yang sama.
Dinda segera ambil ancang-ancang pergi meninggalkan keduanya sebelum berondongan pertanyaan menyerbu dirinya.
"Dinda, mau kemana." Bunda Dona memanggil Dinda yang telah berjalan menuju kamarnya.
Sementara Dinda memang sengaja meninggalkan situasi canggung dan menghindari berondongan pertanyaan Bunda.
"Jeng, biarkan dulu." Oma Shopia menahan.
"Tapi," Bunda Dona yang tangannya tertahan oleh Mama Shopia memilih menuruti Mama Shopia.
"Biar Dinda sendiri berpikir. Beri Dinda ruang. Percayalah Dinda akan tahu mana yang terbaik bagi dirinya.
Bunda Dona mengangguk mengikuti saran Mama Shopia.
Sementara dikamarnya Dinda masih terngiang kata-kata Abizhar.
"Fandi melihat Aku dengan Daniel."
"Kenapa Fandi berpikiran begitu?"
Ada rasa sesak dihati Dinda saat mendengarkan penjelasan Fandi tang diucapkan Abizhar.
"Pantas saja belakangan sikap Fandi berbeda. Ia acuh sama aku. Atau karena ini?" Dinda terus bepikir mengenai perubahan sikap Fandi yang tak seperti dulu.
"Kenapa juga aku harus mengkhawatirkan nya?" sisi batin Dinda yang lain.
Ada rasa tak nyaman dihati Dinda saat tahu Fandi berpikir ia memiliki hubungan khusus dengan Daniel.
Toh bagi Dinda selama ini ia menganggap semuanya teman, tetangga dan rekan bisnis.
__ADS_1
Tapi ada sedikit di relung hatinya kesal dengan sikap Fandi yang menurutnya mengambil kesimpulan sendiri akan Daniel dan dirinya.
...****************...