
Sejak sepulang dari sekolahnya Abizhar tampak murung.
Bocah yang kini sudah mulai memasuki Preeschool terlihat tidak seperti biasanya yang selalu banyak omong dan ceria.
Andin mendekati Abizhar memeluk putranya sambil membawakan Jus Alpukat kesukaan Abizhar.
"Makasi Mama." Abizhar menerima Jus Alpukat buatan mamanya namun tidak langsung diminumnya.
"Loh, ga diminum jusnya Abizhar?" Andin mengusap rambut Abizhar yang tampang lain dari biasanya.
"Iya Ma, nanti Abizhar minum." jawab Abizhar.
"Assalamualaikum." Satya mengucap salam saat masuk rumah pulang dari kantor.
"Waalaikumsalam." jawab Andin.
Andin mencium tangan Satya begitupun Abizhar mencium tangan Papanya.
Satya melihat wajah mendung putranya, kemudian memberi kode pada Andin menyiratkan tanya apa gerangan yang sedang terjadi pada Abizhar.
Andin mengerti maksud Satya.
"Sayang, gimana tadi sekolahnya?" Andin membuka percakapan dengan Abizhar.
Satya menghampiri istri dan anaknya selepas berganti pakaian.
Andin memberikan Satya segelas air putih dan juga menyiapkan Jus buah 3 Diva untuk Satya.
"Papa, Mama, apa Abizhar ga punya adik?" Abizhar menatap mata kedua orang tuanya.
Satya dan Andin saling menatap kemudian melihat Abizhar yang tiba-tiba menanyakan adik pada orang tuanya.
"Abizhar memang mau punya adik?" Satya memangku Abizhar.
Abizhar mengangguk.
"Oh, jadi karena itu Abizhar murung sejak tadi?" Andin menduga hal itulah yang membuat putranya kehilangan keceriaan sejak pulang sekolah.
Abizhar menggeleng tapi tak lama ia mengangguk.
Satya bingung dengan respon Abizhar.
"Anak ganteng papa kok jadi bikin Papa bingung." Satya menirukan gerakan Abizhar menggeleng kemudian mengangguk.
Abizhar tersenyum melihat Satya menirukan dirinya.
"Nah gitu dong. Anak ganteng Mama kalau senyum gantengnya selangit." Andin menyubit kecil hidung Abizhar.
Dinda masuk mengucap salam.
Sepulang kantor Dinda sengaja mampir dulu ke toko cake untuk keponakan kesayangannya.
Assalamualaikum." Dinda mengucap salam saat masuk rumah pulang dari kantor.
"Waalaikumsalam." jawab Satya, Andin dan Abizhar.
"Aunty bawa apa?" Abizhar segera memeluk Aunty tercintanya.
"Yang pasti Aunty bawa kesukaan Abizhar dong." Dinda memangku keponakannya.
Abizhar membuka apa yang dibawa Dinda dengan senang.
"Makasi Aunty. Memang Aunty Di paling baik."Abizhar mencium Dinda.
"Sama-sama sayang." Dinda memeluk keponakannya.
"Papa ga dikasih nih Abizhar?" Satya menggoda Abizhar yang tampak menikmati cupcake pemberian Auntynya.
"Papa sama Mama belum jawab pertanyaan Abizhar."
__ADS_1
Dinda menatap kedua orang tua Abizhar seakan menanyakan maksud keponakannya itu namun tak ada kode atau sinyal jawaban dari keduanya yang Dinda dapat.
"Abizhar memang tanya apa sama Papa dan Mama?" Dinda menatap keponakannya.
"Abizhar tanya Aunty sama Papa dan Mama, Apa Abizhar ga punya adik?"
Dinda tersenyum kepada Andin dan Kakaknya.
"Oh jadi Abizhar mau punya adik. Kalau itu Papa pasti bisa jawab, Iya kan Papanya Abizhar?" Dinda sengaja meledek kakaknya Satya.
Andin memberikan sedikit kode pada Dinda.
Tentu saja Satya tidak kehilangan akal menanggapi candaan adiknya.
"Bener Abizhar pingin adik? tapi Papa ada satu syarat? Kalau Abizhar bisa Insha Allah Abizhar akan punya adik.
Entah ide apa yang Satya rencanakan saat mengatakan hal tersebut.
Andin penasaran apa yang akan Satya katakan pada Abizhar.
"Abizhar bolehin Papa dan Mama pergi sementara waktu tapi Abizhar ga boleh ikut?" Satya memang mencari kesempatan dalam kesempitan.
Abizhar tampak berpikir, apakah harus seperti itu. Tapi ia ga bisa jauh dari Mama nya.
Abizhar teringat ledekan Adam teman Preeschoolnya kalau Abizhar ga punya adik maka ia akan sepi dan ga ada teman main.
"Apa Pa?" Abizhar bertanya pada Papanya.
"Papa Mama perginya jauh? Lama?" Abizhar dengan wajah melas.
"Papa bercanda Sayang." Andin tak tega melihat wajah memelas putranya.
Kali ini Dinda sekubu dengan sang kakak mengeluarkan perkataan yang membuat Satya senang.
"Sayang, sini denger Aunty. Papa, Mama ga akan lama perginya dan ga jauh juga. Paling 1 minggu. Nah gimana kalau selama 1 minggu Abizhar sama Aunty kita juga pergi main. Bebas Abizhar mau kemana atau main apa Aunty yang temani? Atau kita susul Oma Dona dan Oma Shopia ke Amerika? "Dinda mengedipkan matanya membujuk Abizhar.
Abizhar seketika ceria dan ia merasa bahagia karena bisa memiliki adik dan juga ketemu Oma-Omanya.
"iya sayang. Insha Allah." jawab Satya senang.
Jawaban asal Satya malah menjadi kebahagiaan. Bagai dapat durian runtuh.
Satya bisa berhoneymoon bersama Andin.
Hal itu jarang sekali ia lakukan sejak kelahiran Abizhar.
Memang sejak memiliki anak, keduanya fokus pada Abizhar.
Prioritas utama mereka Abizhar, sehingga kemanapun selain bekerja Abizhar selalu mereka sertakan.
Tapi kali ini Dinda bagaikan ibu peri yang membuat kesempatan berhoneymoon bersama Andin terwujud.
"Oh iya Aunty, Uncle Fandi kapan pulang?" Abizhar bertanya pada Dinda.
Dinda gelagapan keponakannya bertanya begitu.
"Aunty ga tahu sayang."
Sejak 3 tahun lalu kepergian Fandi, Dinda memang tak pernah bertemu lagi dengan Fandi.
"Kenapa waktu itu Aunty ga ikut Uncle Fandi pergi?" Abizhar menatap Auntynya.
"Hah, gimana ceritanya ikut si Fandi, Bocah kalo ngomong suka asal aja. Ga tahu masalahnya." batin Dinda.
"Aunty, Aunty." Abizhar menarik lengan baju Dinda.
"Euhm?" Dinda kaget.
"Abizhar tanya kenapa Aunty ga ikut Uncle Fandi pergi?"
__ADS_1
"Ya,,, memang kenapa Aunty harus ikut?" Dinda balik bertanya.
"Aunty gimana sih, tadi Aunty bilang kalo Abizhar ijinin Papa dan Mama pergi bakal punya adik kan?"
"Terus?" Dinda tak paham apa hubungan dengan dirinya dan Fandi.
"Kalau Aunty ikut pergi sama Uncle Fandi kan waktu nanti Uncle Fandi pulang bisa bawa adik juga buat Abizhar. Jadi adik Abizhar langsung ada 2, dari Papa dan Mama, sama dari Aunty dan Uncle Fandi." Abizhar dengan kesimpulan pemikirannya.
Dinda batuk-batuk mendengar perkataan keponakannya.
Andin tersenyum, sementara Satya langsung puas tertawa.
Andin menyodorkan gelas berisi air untuk Dinda minum.
Andin juga membantu Dinda menepuk punggung Dinda yang masih batuk.
Andin melotot ke arah Satya menyiratkan berhenti tertawa namun Satya masih senang dengan kata-kata Abizhar.
"Aunty kenapa? Kok batuk-batuk?" Abizhar menepuk punggung Dinda.
Batuk Dinda sudah sedikit reda.
Tampak mereka sadari seseorang masuk dan langsung berbicara pada semuanya.
"Memang boleh kalau Uncle Fandi dan Aunty Dinda kasih adik untuk Abizhar?"
"Uncle Fandi!" Abizhar lari menuju Fandi langsung memeluk Fandi.
Fandi menggendong Abizhar, mengacak rambut Abizhar.
Fandi mengucapkan salam, menghampiri Satya dan Andin, mencium tangan keduanya.
Sedangkan dengan Dinda Fandi hanya tersenyum.
"Kapan balik Fan?" Satya menyapa Fandi.
"Tadi siang Kak. Oh iya Tante Dona dan Tante Shopia kemana?" Fandi bertanya keberadaan kedua Oma Abizhar.
"Oma-Oma sedang ke Amerika." Andin menjawab sambil menawarkan Fandi minuman yang disediakan asisten rumah tangga mereka.
"Terima kasih Kak." Fandi meminumnya.
Dinda hanya melihat tanpa berbicara apapun.
"Apa-apaan nih orang, pergi tanpa kabar, datang tanpa diundang. Kayak hantu aja" batin Dinda.
"Oh iya Kak, ini ada oleh-oleh buat keluarga disini." Fandi menyerahkan pada Andin dan Satya.
"Terima kasih ya Fan. Jadi repot segala. Oh iya bagaimana kabar Tante Arini?" Andin bertanya soal kabar Arini ibunda Fandi.
"Alhamdullah Bunda baik Ka. Bunda juga titip salam untuk semuanya." jawab Fandi.
"Oh iya Fan, bagaimana S3 kamu sudah selesai?" Satya bertanya.
"Tinggal tunggu wisuda saja ka. Makanya aku balik dulu kesini. Mau menggambil beberapa dokumen untuk dibawa. Rencananya mau sekalian pamit?" Fandi melirik Dinda sesaat, kemudian kembali melanjutkan lagi percakapannya dengan Satya dan Andin.
"Pamit?" Andin mengernyitkan dahi.
"Iya Kak. Setelah selesai kuliah, Fandi berencana tinggal di sana." Fandi menjawab.
"Sumpah ngeselin banget nih orang. Persis jalangkung! Ngapain dateng, kalo pergi lagi!" batin Dinda jengkel.
Dinda segera bangkit dari tempat duduknya, pamit ke kamar.
"Permisi,"
Fandi menatap kepergian Dinda.
Satya dan Andin bingung dengan sikap Dinda.
__ADS_1
Sementara Abizhar celingukan karena ia tak paham apa yang sedang dibicarakan para orang dewasa.
...****************...