Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 81 Tasyakuran


__ADS_3

Sebagai wujud rasa syukur atas apa yang terjadi Satya dan Andin hari ini mengundang keluarga sahabat rekan bisnis dan para tetangganya.


Banyak hal yang belakangan terjadi di keluarga mereka alhamdulillah satu persatu bisa teratasi dan selesai.


Jika diibaratkan sebuah kapal maka rumah tangga tak ubahnya bagaikan kapal yang berlayar dilautan samudera yang luas.


Ombak, pasang surut air serta cuaca yang tidak menentu dan pengalaman nahkoda bagaikan kesatuan yang solid didalam menguji seberapa kuat setiap pasangan mengarungi samudera kehidupan.


Maka sangat tepat sekali bila menikah adalah ibadah terpanjang dalam hidup manusia. Karena dilakukan sepanjang hidup hingga ajal menjemput.


Disaat kedua anak Adam dipersatukan dalam ikatan pernikahan diawali ijab qabul maka gerbang kehidupan baru terbuka bagi keduanya.


Tiada yang namanya cocok 100% antara suami dan istri. Karena sejatinya jodoh bukanlah sekedar kecocokan namun saling menerima, memahami dan melengkapi.


Suami dan istri bagaikan pakaian satu sama lain. Maka sudah sepantasnya saling menjaga dan saling membenahi.


Oleh sebab itu apapun kelebihan dan kekurangan suami ataupun istri maka seyogyanya seorang pasangan harus bisa menerima dan memberikan saran membangun.


Kehamilan kedua Andin memasuki bulan ke 4 namun tampak perutnya sudah mulai terlihat membuncit.


Berbeda pada kehamilan Abizhar saat usia kehamilan 4 bulan tampak perut Andin lebih kecil dibandingkan sekarang.


"Bumil, kenapa wajahnya manyun begitu sih?" Dinda masuk kekamar Andin melihat kakak iparnya cemberut dengan wajah mengkerut layaknya dompet akhir bulan.


"Lihat pipi, pinggang dan bokong gw Din. Bengkak semua. Gendut!" Andin mendengus kesal melihat bentuk tubuhnya padahal baru memasuki usia kehamilan 4 bulan.


"Gw malah pengen banget bisa kayak Lo Din. Gapapa deh gendut." Dinda duduk disisi ranjang kamar Andin.


Andin yang tak menyadari bahwa saja Dinda sedih karena Dinda belum hamil.


"Din, maafin gw ya. Jangan sedih ya. Gw yakin Lo pasti akan segera hamil. Percaya sama Allah Din. Allah lebih tahu kapan waktu yang pas buat hambanya. Nikmati dulu masa-masa berduaan sama Fandi. Anggap aja kalian jadi bisa pacaran lebih lama. Nanti kalau udah ada anak, mau ewit wut mesti nyolong-nyolong!" Andin menyemangati sambil mengingat dirinya dan Satya sering colongan ewit wut kalau Abizhar tidur.


"Dasar Lo. Colongan bisa melendung lagi. Kalian berdua dasar mesum!" Dinda tertawa raut kesedihan sudah hilang dari wajahnya.


"Tapi Lo liat deh, baju celana gw ga ada yang muat!" Andin kembali ngedumel.


"Ywd gimana kalo besok kita shopping bumil. Ajak Trio Oma sekalian pasti mau." Dinda memang selalu semangat jika Shopping Time.


"Ide bagus." Andin tersenyum.


Tamu undangan sudah berdatangan, entah mengapa Satya dan keluarga sangat senang sekali mengundang orang-orang terdekatnya makan bersama, berkumpul dan berbagi kebahagiaan.


Selain para orang tua tampak hadir pula teman-teman sekolah Abizhar beserta orang tuanya.


"Abizhar!" panggil Andrew dan Angel yang baru saja datang bersama Mommy, Daddy dan Omanya.

__ADS_1


Andin dan Satya menemui mereka, saling menyapa dengan ramah.


Sejak peristiwa lalu, baik Andin dan Satya memang sudah sepakat tak ada lagi yang perlu mereka persoalkan.


Andin sudah bisa menerima bahwa Vera adalah bagian dari masa lalu suaminya.


Andin sudah melihat kejujuran dan kesetiaan Satya pada dirinya.


Andin menyadari dendam, marah dan benci hanya akan mengotori hati dan pikirannya.


Terlebih Vera beberapa hari lalu mengirimkan pesan pada Andin ingin berpamitan.


Kini Andin, Satya, Vera, dan Richard mengobrol bersama.


"Andin, aku mau minta maaf sama kamu. Karena waktu itu aku membuat kamu salah paham. Waktu itu aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang pernah aku lakukan pada Satya. Aku senang Satya bahagia bersama kamu. Kamu wanita yang tepat dan baik Din. Aku juga mau pamit sama kamu Andin, Satya. Aku akan kembali ke Jerman. Aku akan melanjutkan pengobatanku sambil menunggu Donor Jantung yang cocok agar aku bisa Transplantasi Jantung. Aku minta doanya daei kalian berdua." Vera dengan wajah semakin pucat dan badannya lebih kurus.


Andin memeluk Vera tanpa terasa airmata Andin membasahi pipinya.


"Iya Mbak Vera. Aku dan Mas Satya akan mendoakan agar mbak Vera lekas sehat dan pulih." Andin mengurai pelukannya menatap wajah wanita yang bernama Vera.


"Iya Ver, semoga kamu segera mendapatkan donor jantung." Satya dengan wajah sedih.


"Pak Satya dan Bu Andin, Saya titip Andrew dan Angel ya, karena besok Saya akan mengantar Vera ke Jerman. Andrew dan Angel dirumah dijaga Omanya." Richard menitipkan anak-anaknya pada Andin dan Satya.


"Apa Andrew dan Angel tahu mbak Vera sakit?" Andin bertanya agar ia tahu apa yang harus ia katakan dan tidak boleh ia katakan pada kedua bocah kembar itu.


Andin dan Satya hanya mengangguk, mereka tidak berkomentar apapun karena semua orang punya hak masing-masing dalam mengatur dan mengelola keluarganya.


"Andin, Satya, Kami permisi pamit pulang. Tapi Andrew dan Angel balik belakangan. Mereka bilang rindu dengan Abizhar dan teman-temannya."


Kedua bocah kembar tersebut memang keluar RS paling belakangan dibanding teman-teman lainnya.


"Iya Mbak Vera, biar main dulu aja disini sama Abizhar dan lainnya."


"Kalau begitu saya pamit Bu Andin, Pak Satya." Richard pamit bersama Vera.


Vera dan Richard menemui Andrew dan Angel mereka bilang akan pulang duluan.


"Bye Mommy, Daddy, be carefull." Angel dan Andrew sesaat Mommy dan Daddynya pamit.


Satya berbincang dengan Gilang, Fandi dan Daniel sambil mengajak para tamunya menikmati hidangan yang memang disajikan sang tuan rumah.


Disisi lain Andin, Dinda dan Trio Oma masing-masing menyapa tamu dan teman-teman mereka yang datang.


Gina yang memang diminta Andin sebagai seksi sibuk disetiap acara apapun tentunya kini tampak mondar mandir memastikan semua berjalan lancar.

__ADS_1


"Gina!"


Gina merasa namanya dipanggil menoleh ke sumber suara.


"Hai. Lagi sibuk ya?" Gilang menyapa Gina.


Gina tahu keberadaan Gilang sejak tadi. Namun Gina memang memilih menghindari pria itu.


Gina bukannya tidak mengerti bahwa selama ini Gilang berusaha mendekatinya.


Gina hanya merasa Gilang tak ubahnya playboy yang senang menebar jaring.


"Pak Gilang. Ada apa Pak?" Gina merasa tak nyaman karena bagaimanapun juga Gilang pernah mendekati Dinda yang notabene adik ipar Andin, Bos Gina.


"Kenapa kamu ga pernah angkat dan balas chat aku?" Gilang sudah tak sabar lagi rasanya ingin ia gendong wanita di depannya, dibawa pergi agar tidak menghindari dirinya.


"Oh maaf Pak, Saya tidak tahu itu nomor Bapak, Saya pikir nomer iseng seperti penipu Mama minta pulsa." Gina menjawab dengan pura-pura tidak tahu.


Gilang habis kesabaran menghadapi perempuan yang di hadapannya.


Gilang menunjukkan sebuah foto di HP nya pada Gina.


"Ini punya kamu bukan?" Gilang menghadapkan HP miliknya pada Gina sambil menunjukkan sebuah foto.


Gina melihat sekilas. "Wait, ini bros gw yang ilang, kok bisa ada di dia?" batin Gina.


Gina memang kehilangan Bros yang ada di foto Gilang. Waktu itu saat Gina berada di pernikahan Dinda dan ia memang sibuk maklum Tim WO.


"Kalau gitu Bros nya mana Pak?" Gina segera meminta pada Gilang bukan hanya ditunjukkan foto.


"Benar itu Bros kamu? Jangan ngaku-ngaku. Bros begini kan banyak yang punya." Gilang senang melihat wajah Gina tampak menginginkan Bros miliknya kembali.


"Itu benar Bros saya Pak. Saya bisa pastikan. Saya ga ngaku-ngaku." Gina kesal sebenarnya apa mau Gilang.


"Ya kalau memang mau Saya kembalikan Bros nya, tentu ada syaratnya." Gilang kini tersenyum kemenangan, ia akan menggunakan kesempatan ini untuk bisa lebih dekat dengan Gina.


"Bapak kayak provider aja pake syarat!"


"Ya kalo kamu ga menerima syaratnya gampang aja, Saya buang aja Brosnya. Ngapain juga Saya simpen, ga guna juga buat Saya." Gilang senang bermain-main.


"Jangan dibuang Pak. Awas kalo Bapak berani buang!" Gina dengan mata melotot justru membuat Gilang gemas dengan ekspresi wanita incarannya itu.


"Kalo gitu nanti saya chat kamu apa syaratnya. Harus dibales ya. Oh iya, kalo Saya telp angkat. Jangan direject! Satu lagi, buka dong blokiran nomor Saya. Saya bukan penipu Mama minta pulsa, Saya itu Pejuang, Mamas Minta Cinta!" Gilang dengan senyum bahagianya meninggalkan Gina yang kini kesal dan emosi dengan tingkah Gilang yang menyebalkan.


"Ya Allah, kalo ga inget pesen Kong Ali ga boleh sembarangan pake silat, udah Gw bikin klenger tih orang! Pantes Mbak Dinda ga mau sama dia!" Gina berjalan ke arah sebaliknya melanjutkan lagi pekerjaannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2