
Andin terlihat melakukan serangkaian cek dan memastikan pernikahan kliennya akan berjalan lancar hari ini.
Andin tersenyum puas saat melihat kliennya selesai mengucap ijab kabul.
Andin teringat akan pernikahannya sendiri.
Betapa saat itu tak ada kebahagiaan yang ia rasakan.
Andin hanya menjadi pengganti bagi Satya dan keluarganya.
Tanpa terasa airmata Andin menetes.
Buru-buru Andin mengusapnya agar tak ada yang melihat.
Kini tugas mereka hanya tinggal memantau jalannya resepsi nanti malam.
Andin begitu senang saat pengantin dan keluarganya tampak puas dengan pelayanan yang WO berikan.
Waktu Resepsi yang akan berlangsung nanti malam membuat pengantin dan keluarganya memiliki waktu beristirahat.
Andin beserta timnya kembali mengecek persiapan resepsi klien mereka agar 100% maksimal.
Andin membuka HP ia melihat ada banyak chat masuk.
Betapa terkejutnya Andin salah satu chat masuk berasal dari Satya.
Andin berpikir sejenak maksud chat Satya.
"Ga mungkin." Andin membiarkan chat Satya tak membalasnya.
Andin kembali ke hotel tempat dirinya menginap.
Kini telp Andin berdering.
" Din, lagi apa?" Satya diujung telpon.
"Aku lagi istirahat ka balik ke hotel. Ka Satya lg apa?" Andin kini sudah berada di lantai kamar hotelnya.
Andin tampak terkejut bahunya ditepuk oleh seseorang.
"Hai Din."
"Kak Satya!"
Andin dan Satya kini berada didalam kamar hotel Andin.
Tampak canggung keduanya.
Satya membuka pembicaraan.
"Din sudah makan?"
"Belum Ka, kakak sudah makan?"
"Belum juga. Makan yuk!"
Kedua kini makan siang bersama di restoran hotel tempat Andin menginap.
"Kakak ga bilang mau nyusul kesini." Andin bertanya.
"Kejutan dong." Satya menjawab santai.
"Kakak memang ada keperluan kantor di Jogja?"
"Gak ada. Aku mau nyusulin kamu aja. Bosen di apartemen." Satya santai menjawab sambil menikmati makan siangnya.
Andin tak percaya Satya kesini sekedar menyusul dirinya.
Rasanya tak mungkin Satya bela-belain nyusul Andin.
Andin sendiri ga mau kepedean dengan sikap Satya saat ini.
"Ka tapi maaf aku ga bisa nemenin kakak, klien aku resepsinya nanti malam." Andin menjelaskan.
"Gapapa Din. Tapi boleh ga aku datang ke resepsi klien kamu. Aku bosen kalo di kamar sendiri." Satya menatap wajah Andin.
__ADS_1
Andin mencerna kata-kata Satya dan Andin masih tidak menemukan alasan keberadaan Satya disini dan kini Satya meminta datang ke acara resepsi tersebut.
"Ya boleh saja, tapi maafin aku ga bisa nemenin kakak selama resepsi, aku harus ngecek ini itu di sana." Andin menjelaskan.
"Gapapa Din, santai aja." Satya menjawab sambil tersenyum.
Andin merasa jantungnya ga beres.
Senyuman Satya meresap adem dihati Andin.
"Ga bener Din. Ga usah baper. Inget cuma jadi pengganti doang." Andin selalu mengingatkan dirinya sendiri.
Kini keduanya kembali ke dalam kamar hotel.
Andin merebahkan dirinya di ranjang diikuti juga oleh Satya.
Keduanya tak satupun terdengar bersuara.
Saling diam dalam pikiran masing-masing.
Satya menyalakan televisi dan memfokuskan pada tontonan di tv.
Sedangkan Andin memilih melihat drakor dari HP miliknya.
Entah sejak kapan keduanya tertidur pulas.
Hingga saat Andin bangun ia terkaget karena harus kembali ke lokasi resepsi kliennya.
Ditengoknya Satya yang masih tertidur pulas.
Andin bergegas menuju lokasi dan meninggalkan Satya yang masih lelap di kamar hotel.
Tepat pukul 19.00 resepsi berlangsung.
Rangkaian demi rangkaian acara berjalan dengan lancar.
Tamu undangan yang hadir pun begitu banyak.
Malam ini susana romantis begitu terasa.
Andin tampak memantau jalannya acara disudut.
Dengan walky talky ditangannya, Andin terus memantau acara tersebut.
"Din."
Andin berbalik melihat orang yang menepuk bahunya.
"Kak Satya."
Andin melihat Satya benar-benar hadir dalam resepsi pernikahan kliennya.
Andin menatap penampilan Satya dalam balutan Stelan suit berwarna cream membuat Satya terlihat sangat tampan.
"Kak Satya beneran dateng?" Andin ga tahu harus ngomong apa melihat Satya menepati ucapannya.
"Ya pasti dateng dong, kan diundang." Satya sambil tersenyum.
"Hehehe."
Andin ga ngerti kenapa basa basi Andin siang tadi dianggap Satya sebagai undangan.
Andin memilih tidak menjawab hanya tawa garing Andin yang keluar dari mulut Andin.
"Din, temani aku yuk memberikan ucapan untuk kedua pengantin." Satya menggandeng tangan Andin.
Andin merasa aneh, Kali ini Andin menahan tangan Satya.
"Kak, ga begitu juga kalo bercanda. Aku lagi kerja Kak, udah ya aku nyerah deh. Kakak sukses deh ngeprank nya." Andin menganggap Satya kali ini sedang bercanda atau ngeprank dirinya.
Satya tak memperdulikan protes Andin.
Satya kini justru menggandeng Andin mengajak Andin naik ke atas pelaminan pengantin seperti yang dilakukan tamu lain saat memberikan ucapan selamat.
"Kak please Kak, jangan becanda. Aku marah nih."
__ADS_1
Andin mengambil ancang-ancang kabur namun genggaman Satya semakin kencang.
"Relax Din, jangan tegang. Ikuti saja. Oke!" Tatapan, Kata-kata, dan senyuman Satya membius Andin mengikuti Satya.
"Selamat Bro!" Satya memeluk pengantin pria klien Andien.
Andin hanya nyengir kuda masih ga paham dengan apa yang ia lihat.
"Wah keberulan sekali ya Sayang, ternyata mbak Andin istrinya Satya. Kenalkan Sayang, ini Satya teman kuliah Mas." pengantin laki-laki mengenalkan Satya sebagai. temannya kepada sang istri.
"Ya ampun, Maafin ya Mbak Andin. Kamu ga bilang Sayang." Pengantin wanita meminta maaf pada Andin dan menepuk lengan suaminya.
"Lagian gw tahunya Lo nikah sama Vera. Kok bisa?" Pengantin pria menunjukkan keheranannya pada Satya.
"Panjang ceritanya Bro. Yang pasti Andin ini istri gw." Satya merangkul bahu Andin.
"Wah Mbak Andin, ternyata pengantin baru juga. Tahu gitu kan aku bisa minta tips malam pertama." pengantin wanita sambil mengedipkan mata pada Andin.
Andin seketika tersedak mendengar kata-kata kliennya itu.
Satya sebetulnya merasa kaget dengan ucapan istri temannya namun Satya bisa menutupinya.
"Oke bro kita kebawah dulu ya, istri gw sepertinya haus." Satya menggandeng tangan Andin turun dari pelaminan sekaligus mengalihkan ucapan yang membuat Andin tersedak tiba-tiba.
Satya memberikan air kepada Andin.
Andin mengambil gelas air yang diberikan Satya dan meminumnya habis.
Satya tersenyum melihat sikap Andin.
Satya sengaja menggoda Andin melanjutkan pertanyaan istri temannya itu.
"Kamu bakal kasih saran apa Din sama dia?" Satya melirik ke arah istri temannya menegaskan pertanyaan yang membuat Andin tersedak.
Wajah Andin merah merona. Satya melihat senang sekali bisa menggoda Andin.
"Apa-apan sih Kak. Aku ke tim dulu ya." Andin bergegas meninggalkan Satya.
Tangan Satya dengan cepat menahan Andin.
"Jangan lupa ya, kasih tahu aku tips nya. Aku balik duluan, aku tunggu kamu dikamar." Satya berjalan melewati Andin dan sepertinya Satya memang langsung meninggalkan pesta tersebut.
" Slow Din, No Baper!"
Andin kembali melanjutkan pekerjaannya.
Menyelesaikan tanggung jawabnya sampai acara tersebut selesai.
Akhirnya Andin dan tim bisa bernafas lega.
Tugas kali ini kembali sukses mereka tangani.
Andin dan tim kembali ke kamar masing-masing.
Beristirahat dan besok kembali ke Jakarta.
"Cie Mbak Andin kerja rasa Honeymoon nih!" ledek salah satu tim WO Andin.
Andin hanya bisa tersenyum garing.
Kini Andin berjalan menuju kamar hotelnya.
Tubuh Andin merindukan kasur untuk segera merebahkan badannya yang lelah.
Seketika teringat keberadaan Satya disana.
Andin berbelok tidak jadi kembali ke kamar hotelnya.
Andin memilih menikmati kopi di Starbuck yang berasa di area hotel tempat Andin menginap.
"Aku akan balik malam saja. Kak Satya pasti sudah tidur." Cara Andin menghindari bertemu Satya.
Andin menyeruput kopinya. Mengulur waktu. Menyandarkan punggung lelahnya di kursi sambil menikmati kopi.
...****************...
__ADS_1