
Hamparan rumput hijau di lapangan golf tampaknya sebagai penyempurna sebuah mahakarya ciptaan Allah yang berlabel Hot Daddy.
Satya begitu mempesona saat melakukan pukulan dengan segala pesona yang ia miliki meski kini 3 buntut telah berhasil dicetaknya.
Tak kalah darinya sang ipar Fandi pesona ketampanannya seakan mampu meluluhlantahkan hati kaum hawa.
Daniel dan Gilang kedua pria lajang yang tak lagi single menambah kesempurnaan keindahan di hamparan rumput nan hijau.
Ketampanan dan Pesona keempat pria tamoan dan mapan itu membuat para caddy meleleh dan tentu saja mencuri perhatian pasang mata yang seakan siap menjaring dan menjerat hati.
Namun keempat pria tampan dan mapan itu seakan hatinya telah terpatri pada pasangannya masing-masing hingga yang hijau dalam pandangan mereka hanyalah rumput di lapangan golf saja.
"Assalamualaikum sayang. Ini Mas dan yang lain juga sudah selesai. Oh kalian ada di Grand Indonesia? Oh gitu. Oke nanti Mas sampaikan ke mereka ya. Love you Sayang." Satya menutup telpon dari Andin.
"Ada apa Mas?" tanya Fandi sambil meneguk air mineral tampak sangat seksi dipandang mata melihat gelayar air yang melewati tenggorokannya membuat seorang perempuan sosialita ditarik oleh pria disampingnya.
"Kalian bertiga harus ikut Gw, kita sudah ditunggu bidadari-bidadari kita masing-masing. Yuk!" Satya segera beranjak untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Tentu saja ketiganya juga sudah mendapat kabar dari wanita tercintanya masing-masing.
Keempat pria tampan tersebut kini sudah berganti kostum dengan gaya kasualnya membuat ketampanan mereka semakin meroket.
Kini dengan mobil masing-masing mereka segera bergerak menuju tempat dimana keempat pujian hati dan belahan jantung mereka sudah menunggu.
"Beib, aku kangen!" Dinda langsung menghamburkan dirinya dalam pelukan suaminya yang kini baru sampai bersama Satya, Daniel dan Gilang.
Fandi menerima pelukan istrinya dengan senang sambil mengelus perut Dinda.
"Sayang, sudah makan? Gimana anak Ayah, ga nakal hari ini?" Fandi mengusap perut Dinda berkomunikasi pada sang anak dalam kandungan.
"Aku ga nakal Ayah, Aku nemenin Bunda Shopping." Dinda seolah mewakili anak dalam kandungannya.
"Sayang, Mana kembar?" Satya tak melihat kedua outri cantiknya yang tadi dikabari Andin diajak serta.
"Ada dihotel. Mas kita staycation ya. Aku dan Dinda juga sudah booking 5 kamar. 1 untuk kita, 1 untuk Dinda dan Fandi, 1 untuk Miss Lala dan Gina, 1 untuk Daniel dan Gilang, 1 untuk sus nya Safeea dan Safeena. Abizhar juga sudah menyusul sekarang sedang dikamar bersama adik-adiknya." Andin menjelaskan.
"Kalian segera lah. Kan enak bisa sekamar kalo udah sah!" jawab Dinda kepada dua couple dihadapannya.
Lala dan Gina salah tingkah mendengar ucapan Dinda sementara kedua pria lajang yang tak lagi jomblo hanya bisa menggaruk kepala yang tak gatal.
4 couple goals.
Cantik dan Tampan.
Membuat semua mata yang memandang seakan iri melihat 4 pasangan yang kini duduk menikmati dinner bersama di sebuah hotel berbintang dijakarta
...Satya & Andin...
...Fandi & Andin...
...Daniel & Syahla...
...Gilang & Gina...
"Beib aku ke toilet sebentar ya." Dinda pamit.
__ADS_1
"Aku antar Din?" Andin menawarkan.
"Gapapa. Papa Bucin jangan ditinggal sendirian." Dinda melihat Satya yang seakan tak mau berpisah dengan Andin.
"Aku susul Dinda dulu ya." Fandi yang merasa Dinda sudah agak lama ke toilet takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Benar! Aku masih mencintaimu!"
Fandi menghentikan langkahnya tepat dibelakang Dinda yang kini sedang berbicara dengan Soni.
Mata Soni melirik kearah belakang Dinda.
Dinda berbalik dan melihat Fandi sudah berdiri di hadapannya.
Dari arah lain Anisa istri Soni juga berada disana.
"Beib." Dinda menatap Fandi.
"Abi!" Tatapan tajam Anisa kepada Soni suaminya.
"Sayang, ayo. Yang lain sudah menunggu." Fandi mengambil tangan Dinda mencium punggung tangan istrinya dan merangkul membawa pergi dari sana.
Tatapan tajam Fandi kearah Soni disaksikan Soni dan Anisa yang melihatnya.
Sementara Dinda terus memandang kearah suaminya.
Dinda tahu Fandi pasti marah akan situasi yang ia lihat.
"Beib, aku ga tahu Soni ada disini. Aku juga tahu dia bakal ngomong begitu. Aku..."
CUP!
Fandi menghentikan rentetan penjelasan Dinda dengan ciumannya.
Fandi menciumnya dengan lembut namun lama kelamaan ciuman tersebut semakin dalam dan menuntut.
"Beib."
Fandi melepaskan ciumannya saat Dinda kehabisan nafas.
"Maafkan A..."
Kembali Fandi mencium Dinda kali ini sedikit menggigit kecil bibir Dinda hingga tak ada lagi penghalang untuk memasuki rongga mulut Dinda.
Dinda menikmati apa yang Fandi lakukan.
"Beib,"
Fandi menyatukan kening keduanya.
Menggesekkan kedua hidung mereka.
Tatapan Fandi berkabut gairah.
Dengan sekali gerakan Dinda kini berhasil dalam gendongan Fandi.
"Beib, kita mau kemana? yang lain menunggu."
Fandi tak memperdulikan ucapan Dinda.
Membawa sang istri ke dalam lift segera menuju kamar mereka.
Fandi membuka pintu kamar mereka dengan access card.
__ADS_1
"Beib, kalau kita dicariin gimana?"
Fandi tak menghiraukan kata-kata Dinda.
Dibaringkannya perlahan Dinda diranjang empuk.
Dinda kini dalam kungkungan Fandi.
Fandi membelai rambut Dinda.
Mengecup lembut kening, mata, hidung perlahan turun sampai ke bibir seksi milik istrinya.
"Sayang, kamu harus aku sterilkan dari virus mantan kurang ajar itu!"
"Aku berani sumpah Beib, Aku ga macem-macem. Aku juga ga tahu kalau di bakal ngomong..."
Hump!
Fandi ******* bibir ranum nan menggoda bagai delima milik Dinda.
"Itu Virus Sayang. Kurang ajar sekali berani ngomong begitu sama Nyonya Fandi. Hanya aku yang boleh bilang I Love You sama kamu Sayang." Fandi membelai wajah cantik istrinya.
Dinda tertawa melihat reaksi Fandi.
"Jadi Beib aku yang tampan cemburu ceritanya?" Dinda menoel hidung mancung Fandi.
"Cemburu itu untuk orang yang tidak percaya diri. Boleh dong kalau aku sesekali tidak percaya diri?" Fandi meniru gaya Dilan.
"Sejak kapan Beibku berubah jadi Dilan?" Dinda mencubit pipi suaminya.
"Sejak ada Virus yang ganggu istri tercinta aku!" Fandi memberatkan suaranya.
"Uhh,,, jadi malu. Seneng deh dijaelousin Ayang Beib kuh!" Dinda mengecup sekilas bibir Fandi.
"Sepertinya baby kangen deh Sayang sama Ayahnya."
Fandi dengan tangan yang sudah menjelajah ke hutan belantara.
"Dasar nakal!"
"Sayang ga kangen, huh!" Fandi memainkan jemarinya bagaikan memetik gitar membuat Dinda melayang.
"Beib,,, Uhhh." suara Dinda memberat.
Tanpa banyak berkata-kata malam ini Fandi dan Dinda meluapkan semua rasa yang ada menghapus cemburu dengan gemuruh cinta yang membahana.
Seakan malam tiada batas dan melenggang penuh dengan riang gembira.
Saat cemburu menyertai berbalut nuansa penyatuan yang syarat akan keindahan surga dunia.
Fandi tak henti memberikan kenyamanan dan kenikmatan hingga membuat Dinda seakan terbang hingga langit ketujuh.
Meraih asa dan rasa yang membuncah dalam sekali tarikan nafas.
"Terima kasih Sayang, I Love You."
"I Love You too, Darling."
Berselimut dalam pelukan orang tercinta memejamkan mata melanjutkan cerita dalam buaian mimpi indah bersama pasangan halal begitu syahdu dalam rona romansa.
Fandi dan Dinda kini terlelap saling mendekap mesra terbuai mimpi dalam balutan selimut yang sama.
...****************...
__ADS_1