Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 56 Holiday


__ADS_3

Satya family sibuk mempersiapkan keberangkatan mereka liburan ke Amerika.


Andin memastikan segala bawaan mereka takut ada yang tertinggal.


"Mama, Abizhar mau bawa ini ya?" Abizhar yang begitu antusis mengingat ini adalah perjalanan pertamanya membuat bocah ceriwis itu ingin mengikut sertakan semua robot marvelnya dibawa serta.


"Sayang, ga bisa Nak, pilih satu atau dua yang mau Abizhar bawa." Andin mengatakan dengan tegas pada putranya.


Abizhar mengerucutkan dahinya.


Seakan menemukan seseorang yang bisa diajak bernegosiasi ia mendekati Duo Oma nya.


"Oma Abizhar titip ini, ini dan ini ya." Abizhar berbicara berbisik dengan Oma Dona agar tak terdengar Andin ibundanya.


"Ok." Oma Dona membentuk tanda dengan tangannya sambil ikut berbisik seperti Abizhar.


Begitupun saat Oma Shopia menghampiri lagi-lagi Abizhar menitipkan mainannya yang belum tertampung pada Oma Shopia.


"Ok Sayang." Oma Shopia juga menerima titipan Abizhar.


Abizhar tinggal menghampiri sang Papa untuk menitipkan 2 mainannya lagi.


Abizhar tampak tersenyum senang.


Andin mengetahui apa yang dilakukan Abizhar namun iya hanya bisa menggeleng-geleng.


Menurut Andin ada saja akal Abizhar saat anak itu tidak bisa dengan satu cara.


Namun Andin sering dibuat kewalahan oleh Abizhar karena otak putranya terkadang layaknya orang dewasa yang bisa berpikir melebihi usianya.


Satya menghampiri istrinya yang kini tampak sudah selesai mengurus segala barang-barang mereka.


"Capek ya Sayang. Oh Iya besok kita Take Off jam 07.00 pagi. Btw, kenapa istriku yang cantik manyun begitu? pingin Mas cium?" Satya yang kini sudah memeluk sang istri.


"Abizhar itu banyak sekali akalnya."


Andin menceritakan hal tersebut kepada Satya.


Satua mendengarkan penjelasan Andin dengan senyum dan terus tersenyum.


"Mas kamu kok malah ketawa?" Andin semakin cemberut seakan tak mendapat dukungan Satya.


"Sayang, itu artinya anak kita cerdas. Mas justru bangga karena Mas memiliki putra yang pintar." Satya mencium pucuk kepala Andin dengan penuh rasa sayang.


"Iya, pinter. Pinterin Mamanya." Andin masih mendengus kesal mengingat trik Abizhar mengakali dirinya membawa semua mainannya dengan cara dititip pada bagasi kedua Omanya.

__ADS_1


"Suatu saat aku yakin putraku akan menjadi pria yang hebat. Bahkan sejak kecil ia bisa berpikir seperti itu. Untuk itu kita sebagai orang tuanya harus bisa mengarahkan bakat dan kecerdasannya kearah yang positif. Agar bisa menjadi manfaat bagi dirinya dan orang banyak." Satya menjelaskan secara bijak pada Andin.


"Iya Mas. Aku juga senang Abizhar tumbuh sehat, tampan cerdas. Seperti kamu." Andin menggombali suaminya.


"Seperti Mamanya juga. Baik hati dan berjiwa sosial tinggi." Satya menambahkan.


Satya dan Andin memang sepakat akan hal tersebut.


Abizhar yang masih kecil memang memiliki jiwa sosial yang tinggi.


Tak pernah disuruh namun dengan kesadarannya sendiri Abizhar sering sekali berbagi.


Contoh sederhananya adalah saat iya membeli mainan baru maka, mainan nya yang lama iya berikan atau sumbangkan bagi anak-anak panti.


Kemudian beberapa waktu lalu saat lebaran tiba dengan lugunya Abizhar berkata,


"Mama Abizhar ingin kasih ini ke teman-teman dipanti." Abizhar menyerahkan uang yang ada ditangannya kepada Andin.


"Abizhar punya uang dari mana?" Andin tentu heran putranya memegang uang yang cukup banyak.


"Mama Abizhar dapat uang lebaran dari Oma Dona, Oma, Shopia, Aunty Dinda, Oma Arini, Uncle Fandi, Oma Sinta, Uncle Gilang, Oma Dokter, Uncle Daniel, Tante Gina, Terus teman Papa, Teman Mama." Abizhar dengan hapal menyebutkan orang-orang yang memberikannya uang lebaran.


"Benar Abizhar mau kasih uang ini untuk teman-teman dipanti?" Andin menanyakan kembali niat dan ucapan putranya.


"Betul Mama, Abizhar minta tolong sama Mama untuk memberikannya. Mama mau kan?" Abizhar dengan gaya layaknya orang dewasa.


Andin bangga Abizhar memiliki kepedulian terhadap sesama.


Menikmati makan malam tentu saja bukan Abizhar namanya kalau tak ada tingkahnya yang membuat semua tertawa.


"Mama Abizhar ga mau makan brokoli."


Abizhar memang sejak MPASI tidak begitu menyukai sayuran Brokoli.


Menurut Abizhar rasanya aneh. Padahal kalau bagi yang nyukainya Brokoli sangat enak.


"Mama Please, Abizhar udahan ya makannya." dengan wajah memelasnya Abizhar memohon pada Mamanya agar tidak menyuapinya brokoli lagi.


"Katanya mau jadi Polisi, masa Polisi ga mau makan sayur?" Andin kini membujuk putranya dengan menggunakan embel-embel cita-cita yang diinginkan Abizhar.


"Memang kalau jadi Polisi harus makan brokoli Pa?" Abizhar meminta penjelasan pada Papanya.


Satya mau tak mau harus bisa memberikan penjelasan yang masuk akal karena jika asal putranya yang kritis terus mencecarnya.


"Polisi itu harus tinggi, sehat, cerdas dan tentu itu semua diperoleh dari makanan yang sehat, pola hidup yang teratur, dan disiplin. Salah satunya harus gemar makan sayur dan buah. Brokoli kan sayur, jadi bagus untuk kesehatan tubuh Abizhar. Nah itu berarti bisa mendukung Abizhar menjadi polisi." Jelas Satya dengan bahasa yang Abizhar dapat mengerti.

__ADS_1


"Benar begitu Oma, Aunty?" Abizhar seakan tak ingin hanya mendengar satu sisi ia meminta pendapat lain dari Oma dan Auntynya.


"Betul Sayang." kompak jawab Duo Oma dan Dinda.


"Ok. Abizhar mau makan Ma." Abizhar menerima walau wajahnya sedikit terpaksa.


Andin yang melihat wajah terpaksa putranya sedikit ga tega juga namun Andin hanya ingin memberikan semacam pengajaran pada Abizhar putranya.


"Sayang Mama, Denger Mama. Manusia wajar kok suka atau tidak menyukai sesutu. Namun jangan terlalu suka atau tidak dalam menerimanya. Sebagai contoh obat itu rata-rata rasanya ga enak, pahit pokoknya Abizhar tahu kan bagaimana kebayakan rasa obat? tapi Obat itu memiliki manfaat dan bisa menyembuhkan penyakit. Artinya tidak semua yang kita sukai baik untuk kita, tapi sebaliknya adakalanya yang tidak kita sukai ternyata baik bagi kita." Andin menatap lembut sambil mengusap pipi dan kepala Abizhar.


Tampak Abizhar mencerta kata-kata Mamanya meski mungkin belum sepenuhnya Abizhar pahami tapi ia bisa mencerna berdasarkan contoh yang Mamanya jelaskan.


Matahari sudah bersiap menyinari bumi dengan rona cerahnya.


Seluruh Anggota keluarga Satya tampak bersiap berangkat menuju bandara.


Oma Dona dan Oma Shopia tampak menuntun Abizhar. Sementara Satya memastikan koper-koper keluarganya tak tertinggal.


Andin dan Dinda juga tampak sibuk dengan segala perintilan perempuan.


Semuanya kini sudah berada di pesawat siap untuk Take Off.


Oma Shopia mengajak Abizhar untuk membaca doa sebelum pesawat mereka terbang.


"Abizhar ayo baca doa dulu sayang, agar peejalanan kita selamat sampai tujuan tak kurang satu apapun." Oma Shopia yang kini mengajak cucunya membaca doa.


Abizhar mengangkat kedua tangannya membaca doa dengan khusuk.


Bismillah majreeha wa mursahaa inna robbli laghafuurur rahim.” (Surah Hud (11:41))


Artinya: Dengan nama Allah, (Semoga) menyertai perjalanan dan mendaratnya (pesawat ini). Sungguh, Tuhanku, benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


"Aamiin." Abizhar mengusap wajahnya.


Andin dan Satya tersenyum bangga menatap Abizhar.


Keluarga memang menanamkan pelajaran agama dan nilai-nilai keagamaan pada Abizhar sejak dini.


Bagaimanapun juga agama adalah pondasi hidup bagi manusia.


Andin dan Satya ingin agar Abizhar memiliki pondasi agama sejak dini.


Agar sampai kapanpun Abizhar hidup, kemanapun Abizhar kelak melangkah ia selalu ingat bahwa iman dan islamnya harus tetap tumbuh dan terjaga dihati dan perbuatannya.


Perjalanan Indonesia - Amerika memakan waktu 18-19 jam jika lancar.

__ADS_1


Tentu selama perjalanan banyak sekali tingkah Abizhar yang tak berhenti membuat Papa, Mama, Duo Oma dan Aunty nya tertawa.


...****************...


__ADS_2