Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 77 Menemuinya


__ADS_3

Satya memikirkan ucapan Gilang.


Satya akui sikapnya belakangan ini salah pada Andin.


Seharusnya Satya bisa menceritakan segala kegelisahannya atas apa yang ia rasakan sehingga Andin tak salah paham.


"Haruskah aku menemuinya untuk menuntaskan semuanya?" batin Satya bergejolak terefleksi dengan usapan diwajahnya dengan kasar.


Satya keluar kantor dengan hati gamang.


Suasana kantor Satya yang sudah sepi hanya menyisakan petugas keamanan.


Gilang dan rekan lainnya sudah lebih dahulu pulang kantor.


Satya memang sengaja balik belakangan berharap ada kabar dari sang istri.


Panggilan telp dan chat Satya pun tak dibalas oleh Andin.


Satya tahu saat ini istrinya sedang marah padanya.


Satya bergegas menuju parkiran dan akan segera menemui Andin dikantornya.


"Satya, Tunggu!"


Rona wajah Satya yang memang curat marut sejak pagi kini semakin kaku, rahangnya mengeras menatap tajam pada pemilik suara.


"Mau apa kamu kesini! Ingat, ini kantor, aku tak mau orang salah paham terhadapku!" Satya dengan ketus tatapannya bagai sembilu menusuk jantung.


"Bisakah kita bicara?" Vera memohon dengan tatapan memelas.


"Bicara? Ku kira tak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Permisi!" Satya berlalu meninggalkan Vera.


"Please, Beri aku waktu!" tangan Vera dengan cepat menahan Satya.


Satua menoleh dengan tatapan marah mengisyaratkan Vera untuk melepaskan tangannya.


"Sorry Sat. Aku mohon kali ini saja." Vera memberanikan menatap kedua bola mata Satya yang menghunus relung hatinya begitu pilu.


Satya menerima ajakan Vera.


Namun Satya menolak mereka pergi dalam mobil yang sama.


Akhirnya Vera mengalah. Ia tetap menggunakan mobilnya sendiri dan Satya dengan mobilnya.


Keduanya memilih Restoran X sebagai tempat bicara.


"Cepat apa yang mau kamu katakan." Satya berbicara tanpa menatap Vera.


Vera menatap wajah pria yang pernah dicintainya.


Terbayang dalam benak kotak ingatan Vera bagaimana keduanya merajut jalinan asmara dengan sangat bahagia.


Sikap dan perhatian Satya membuat Vera semakin hari semakin dalam mencintai pria yang kini berada di depannya.


Namun peristiwa itu membuat keadaan keduanya memporak porandakan angan dan impian Vera yang selangkah lagi menjadi Nyonya Satya.


Penyesalan Vera akan kecerobohannya malam itu membawanya pada petaka mengantarkan takdir buruk bagi Vera membuatnya harus meninggalkan Satya dihari pernikahan mereka.


"Sata, aku minta maaf sama kamu." Vera dengan lirih kini sudut matanya telah menganak sungai.


Satya tak bergeming dengan ucapan Vera.


"Aku tahu, mungkin kata-kata itu kini sudah tidak berarti lagi bagi kamu. Aku tahu permintaanku sangat amat terlambat. Tapi aku mohon Sat, maafkan aku. Aku mengaku salah dengan apa yang aku lakukan padamu saat itu." Vera terus membanjiri pipinya dengan airmata yang kini tak mampu lagi dibendungnya.


"Semua sudah berlalu. Akupun sudah melupakan hal itu. Maaf istriku pasti sudah menunggu, Permisi!" Satya hendak bangun meninggalkan Vera.


"Saat itu aku hamil Satya!" Vera mampu menghentikan langkah Satya dengan sebuah pengakuan dari bibirnya.


Satya berbalik, Vera seakan mendapat kesempatan untuk bisa berbicara panjang lebar menjelaskan kesalah pahaman kala itu.

__ADS_1


Namun dugaan Vera salah.


"Keputusanmu meninggalkanku saat itu tepat Vera, ternyata memang kamu bukan perempuan baik-baik. Permisi, aku tak punya urusan dengan istri orang dan masa lalunya yang kotor!" Satya dengan tatapan mata memicing serta senyuman mencibir meninggalkan Vera yang shock dengan apa yang baru saja Satya lontarkan padanya.


Masih dalam keadaan Shock Vera memejamkan matanya.


Hatinya begitu sakit mengingat apa yang Satya baru saja katakan.


Vera memang bersalah.


Vera mengakui kebodohannya dan hingga kini perasaan bersalah terus menghantuinya.


Vera terus memendam perasaan bersalah dan keinginan untuk meminta maaf kepada Satya sejak lama.


"Begitu bencikah Sat dirimu padaku? Aku tahu aku salah Sat, Aku hanya ingin meminta maaf padamu. Aku mau kamu mendengarkan penjelasanku Sat." batin Vera menjerit perih.


Beban batin yang ditanggungnya selama ini seakan belum hilang dan kini semakin bertambah dengan ucapan Satya yang menyudutkan Vera.


"Haruskah aku menemui Andin?" terbersit nama istri Satya dalam benaknya.


Lamunannya terhenti kala merasakan ponselnya bergetar.


Vera mengambil ponsel dalam tasnya.


"Halo."


"Cepat pulang Andrew dan Angel di RS!"


Suara pria terdengar meninggi mengabarkan Andrew dan Angel putra putri Vera berada di RS.


Segera Vera menuju RS.


"Ya tuhan selamatkan putra putriku. Jangan biarkan mereka bernasib seperti almarhum Daddy nya." Vera dengan langkah secepat gamang tak memperdulikan sekitar ia bergegas menuju RS.


Satya mengemudikan mobilnya dengan kencang hingga tak menyadari bahwa Andin beberapa kali menghubunginya.


Satya seakan diberikan tanda oleh sang pencipta saat suara adzan terdengar di dalam radio mobilnya.


Satya mengambil HP di dalam tas kerjanya.


Betapa kaget Satya saat banyaknya panggilan masuk dari Andin, Dinda dan Fandi.


Ketiganya pun menchat dirinya dengan isi serupa.


"Abizhar!"


Satya segera menyalakan mobil menuju RS.


"Ya Allah, semoga putraku tidak apa-apa. Maafkan Papa Nak, Maafkan aku Andin." Satya dengan penyesalan merutuki diri sendiri sepanjang perjalanan.


Sementara di RS suasana riuh dan ramai di depan ruang IGD dipenuhi para orang tua dan wali murid kelas Abizhar.


Andin didampingi Dinda dan Fandi sedang menemani Abizhar yang kini tengah mendapatkan penanganan dari dokter.


Bus yang membawa mereka dalam kegiatan Karyawisata sekolah mengalami kecelakaan. Meski para siswa luka-luka dan Miss Lala sebagai guru mereka mengalami luka yang cukup parah namun tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan itu.


Sementara sang sopir sedang dalam pemeriksaan polisi untuk ditelusuri penyebab kecelakaan itu bisa terjadi.


"Sayang, bagaimana Nak, sakit ya." Andin dengan airmata tak henti mengucur dari kedua matanya terus mengusap seluruh tubuh Abizhar dengan perasaan sedih dan terluka.


"Abizhar gapapa Ma, alhamdulillah Abizhar tidak parah. Hanya tangan Abizhar saja yang luka dan perih." Abizhar alhamdulillah Allah berikan keselamatan dan perlindungan.


Kondisi Abizhar tidak memprihatinkan hanya luka-luka luar dan sudah diperiksa tidak ada luka dalam karena Andin segera meminta pihak RS melakukan pemeriksaan full pada Abizhar. Dan hasilnya Abizhar tidak ada luka dalam hanya luka ringan bagian luar.


Meski begitu saat dikabari Bus yang membawa Abizhar beserta teman-temannya kecelakaan seketika membuat Andin lemas dan pingsan.


Kondisi Andin yang sedang hamil ditambah perdebatannya dipagi hari dengan Satya ditambah kabar mengenai kecelakaan Abizhar membuat Andin hampir hilang keseimbangan.


Beruntung Gina yang saat itu berada bersama Andin segera mengabari Dinda akan kondisi Andin dan tentunya Fandipun diminta Dinda datang terlebih dahulu ke RS mengecek Abizhar sementara Dinda menyusul Andin dikantornya mengetahui kondisi Andin yang pingsan di kabari oleh Gina.

__ADS_1


Andin dengan erat memeluk Abizhar putra sulungnya seakan membayangkan saat kecelakaan terjadi.


Andin tak bisa membayangkan jika hal buruk terjadi pada Abizhar, Andin tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Kehamilan semakin membuat Andin lebih sensitif dan semakin larut dalam pikirannya.


Dinda yang melihatnya memeluk Andin. Menenangkan Andin dan menghiburnya agar Andin tak lagi menangis.


"Din sudah jangan menangis kasian anak dalam kandunganmu. Alhamdulillah Abizhar selamat dan keadaannya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau kamu nangis terus Abizhar pasti sedih." Dinda memeluk Andin yang masih menangis.


"Mama, jangan nangis. Abizhar gapapa Ma. Mama jangan sedih nanti adik Abizhar ikut sedih. Mama berenti nangisnya ya." Abizhar kini memeluk Mamanya menenangkan Mamanya yang menangis.


Andin mengirai pelukannya dari Dinda dan Abizhar.


"Iya Sayang. Mama ga akan nangis lagi. Abizhar bilang sama Mama kalau ada yang sakit Nak. Kita obati sampai sembuh." Andin masih menelisik tubuh Abizhar memastikan putranya benar tidak kenapa-kenapa.


"Abizhar! Sayang!"


Satya yang berlari setelah turun mobil terlihat jelas nafasnya seakan memburu hingga suaranya terdengar lantang saat menemukan Abizhar dan Andin.


Satya segera mendekat kearah Abizhar mengecek putranya dengan seksama.


Memegang semua tubuh Abizhar memastikan Abizhar apakah terluka atau tidak.


"Aww. Duh! " bukan karena luka namun pelukan Satya begitu erat membuat luka di lengan Abizhar tersenggol dan menimbulkan rasa perih.


"Mana yang sakit Nak, Mana Papa lihat!" Satya panik mendengar suara Abizhar mengaduh.


"Papa peluknya jangan kenceng-kenceng. Papa nyenggol ini." Abizhar menunjukkan luka yang sudah diperban pada Satya.


"Ini sakit Nak, ayo kamu harus MCU. Papa ga mau terjadi apa-apa sama kamu." Satya begitu khawatir hingga ia belum sempat bertanya apakah Abizhar sudah ditangani dan di MCU atau belum.


"Abizhar sudah di MCU dan hasilnya alhamdulillah tidak ada luka dalam. Hanya luka kecil di bagian luar. Dokter juga sudah melakukan perawatan. Abizhar hanya akan dirawat malam ini besok sudah diperbolehkan pulang." suara Andin yang tenang dan datar membuat Satya menoleh meraih tangan Andin menatap pada istrinya yang telah ia buat kecewa.


Andin menahan kemarahan dan kekesalannya pada Satya didepan Abizhar.


"Ayo Pa, kita ambil obat untuk Abizhar di Farmasi. Din, Fan titip Abizhar ya. Sayang, Mama dan Papa mau ambil obat. Abizhar mau titip dibelikan apa sayang?"


"Tidak Ma. Abizhar tidak lapar." Abizhar tersenyum pada Mama dan Papanya.


Banyak hal yang ingin Andin segera tanyakan pada Satya hingga alasan itu cukup untuk membawa keduanya keluar dari ruang rawat Abizhar.


Dinda tampak memahami kondisi tersebut.


Fandi mengambil alih menemani Abizhar.


Dinda mengatakan pada Abizhar bahwa ia akan ke toilet.


Dinda tak tenang karena ia mengenal Andin.


Saat ia mendapat kabar dari Gina Dinda segera menuju ke kantor Andin.


Dinda yakin memang ada yang tidak beres dari hubungan Andin dan Kakaknya.


Sementara kedua suami istri yang kini dalam mode diam keluar ruangan rawat putranya mencari tempat menepi untuk berbicara.


Andin butuh penjelasan kemana dan mengapa Satya sulit dihubungi.


Namun sepasang orang yang mereka kenal sedang terburu-buru masuk menuju ruang IGD.


"Aku akan melihat Andrew dan Angel. Tampaknya kamu lebih tertarik bertemu mantan pacarmu hingga kabar kecelakaan Andrew dan Angel tak kau sadari!"


Suara pria di samping Vera cukup keras membuat Satya, Andin dan Vera terkejut.


Andin menatap keduanya dengan tatapan marah dan sangat kesal.


Satya tak pernah sekalipun melihat wajah Andin semarah dan semurka saat ini.


"Andin!" tanpa sengaja Satya dan Vera kompak memanggil namanya.

__ADS_1


"Stop! Urus masalah percintaan kalian yang belum tuntas! Dan jangan pernah libatkan aku dan anakku!" kemarahan Andin memuncak hingga suaranya meninggi dan meninggalkan kedua orang yang saat ini tak ingin dilihatnya.


...****************...


__ADS_2