Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 24 Hadiah Tuhan


__ADS_3

"Mas ke dokter yuk."


Andin memijat tengkuk leher Satya yang muntah-muntah.


Satya terlihat lebih pucat belakangan.


Satya juga sudah seminggu kehilangan selera makannya.


Selesai muntah-muntah Satya dibantu Andin berbaring di kasur.


Satya pun menuruti Andin agar izin ke kantor hari ini.


"Mas makan dulu ya, sedikit aja. Perut Mas kosong dari kemarin." Andin membawa mangkok berisi bubur ditangannya.


Satya yang sebenarnya enggan terpaksa menuruti perkataan Andin.


Andin menyuapi bubur ke Satya.


Satya memakannya.


Namun tak butuh waktu lama Satya kembali mual dan muntah-muntah.


Andin tentu khawatir dengan keadaan Satya.


Andin menelpon dokter untuk memeriksa Satya.


Dokter Harun memeriksa Satya.


Mengecek tubuh Satya.


"Bagaimana Dok?" Andin menanyakan kondisi Satya pada Dokter Harun.


"Sepertinya Pak Satya kecapean dan lelah. Saya sudah meresepkan obat, vitamin dan obat pereda mual. Istirahat yang cukup. Tidak ada yang mengkhawatirkan." Dokter Harun memberikan resep kepada Andin.


"Terima kasih Dok." Ucap Satya.


Andin mengantar dokter Harun.


"Bu Andin, bisa saya bicara sebentar?" Dokter Harun menghentikan langkahnya.


"Ada apa Dok? Ada apa dengan suami Saya?" Andin khawatir Dokter Harun akan membicarakan kondisi Satya yang sebenarnya.


"Tidak. Pak Satya baik-baik saja. Maaf sebelumnya apakah bu Andin sedang hamil?" Dokter Harun bertanya.


"Saya? Tidak Dok. Memang kenapa?" Andin mengerutkan dahinya.


Dokter Harus tersenyum. Sering sekali ia mendapati pasiennya yang mengalami kehamilan simpatik.


Dokter Harun sepertinya kali ini mendapati pada pasiennya.


"Apa ibu sudah tes?" Dokter Harus bertanya.


"Maksud Dokter bagaimana? Tolong jelaskan." Andin merasa kesal dengan perkataan Dokter Harun yang tampak berputar-putar.


Dokter Harun menjelaskan secara detail kepada Andin. Dokter Harun juga menyarankan Andin untuk mengecek apakah Andin Hamil atau tidak.


Andin membawa teh hangat ke kamarnya.


Satya kini tertidur setelah minum obat.


Andin menatap wajah Satya dan memikirkan omongan Dokter Harun.


Andin merasa tidak ada didalam dirinya tanda-tanda perempuan hamil.


Bulan lalu Andin juga masih haid seperti biasa.


Bulan ini memang belum jadwal haid Andin.

__ADS_1


Andinpun tak mengalami gejala apapun layaknya wanita hamil pada umumnya.


Namun penjelasan Dokter Harun membangkitkan rasa penasaran Andin.


Andin bergegas membeli alat tes kehamilan.


Menurut Dokter Harun tes kehamilan akan efektif bila dilakukan pada saat bangun tidur.


Andinpun memutuskan esok hari ia akan melakukan tes pada saat ia bangun tidur.


Andin membantu Satya menuju kamar mandi.


Satya ingin mandi karena tubuhnya gerah dan lengket.


Kondisi Satya sudah mulai membaik.


Paling tidak Satya bisa makan walau hanya 3 suap bubur.


"Mas, besok istirahat dulu ya. Dokter Harun juga memberikan surat izin Mas harus istirahat 3 hari." Andin memberikan teh hangat tawar kepada Satya.


Satya menjadi sensitif terhadap rasa manis.


Satya lebih nyaman Teh Tawar hangat tanpa gula.


Satya hanya mengangguk mendengarkan perkataan Andin.


Bunda Dona dan Dinda kini sudah sampah dirumah Andin dan Satya.


Sakitnya Satya membawa berkah.


Dinda yang sejak kejadian di Bandung seakan menghindar kini datang khawatir dengan keadaan Kakaknya yang memang jarang sakit.


"Sayang, gimana Satya?" Bunda Dona dan Dinda terlihat begitu khawatir.


Andin menjelaskan kondisi Satya kepada keduanya


"Maksud kamu gimana Din?" Bunda Dona menatap Dinda dan kepada Andin.


"Dokter Harun juga bilang begitu." Andin membenarkan perkataan Dinda sama dengan Dokter Harun.


"Tidak ada salahnya kamu cek Din. Siapa tahu benar." Bunda Dona meyakinkan Andin.


"Tapi kalau Andin tidak hamil, Andin takut mengecewakan semuanya Bun." Andin menunduk lemas.


"Sayang, kalo belum ya usaha lagi. Usahanya enak kan?" Bunda Dona memang mertua paling bar bar tanpa malu malah cenderung frontal.


Dinda geleng-geleng kepala dengan ucapan bar bar ibundanya.


Satya yang hari ini sudah lebih baik, bisa ikut sarapan dimeja makan.


Andin dengan telaten melayani suaminya.


"Sat, gimana kondisi kamu?" tanya Bunda Dona sambil menyendokkan nasi goreng dipiringnya.


Sementara Dinda yang lebih dulu menyuap nasi goreng memperhatikan kondisi Satya yang masih terlihat pucat.


"Sudah lebih baik Bun. Mualnya berkurang. Tapi masih lemas." Jawab Satya.


Bunda Dona menatap Andin.


Andin paham maksud tatapan Bunda Dona kepadanya.


Setelah selesai menyantap sarapan, Dinda sedang siap-siap ke kamar hendak berangkat kerja.


Satya memilih duduk santai diruang TV.


Sementara Bunda Dona dan Andin kini berada didapur.

__ADS_1


"Sayang, bagimana sudah cek?" Bunda Dona berbisik pada Andin.


Andin menghentikan aktivitasnya.


Andin menatap Bunda Dona.


Sejenak tak ada suara yang Andin keluarkan.


Bunda Dona menangkap wajah sedih Andin.


Bunda Dona memeluk menatu kesayangannya.


"Sayang, gpp, kamu bisa berusaha terus. Bunda akan selalu berdoa dan akan terus berdoa untukmu dan Satya."


Bunda Dona memeluk Andin dengan kasih sayang, mengusap kepala sang menantu.


Andin melepaskan pelukannya dari Bunda Dona.


Bunda Dona, Dinda dan Satya tampak cemas dengan sikap Andin.


Ketiganya duduk diruang keluarga menunggu Andin yang belum keluar dari kamar.


Andin memandang ketiganya yang menatap dengan wajah cemas.


Andin menghampiri ketiganya.


Satya meraih telapan tangan Andin yang duduk di sampingnya.


"Sayang, ada apa, katakan." Satya memandang khawatir pada Andin.


Tatapan Bunda Dona dan Dinda tak kalah cemas menantikan jawaban Andin.


Andin mengeluarkan Tespack yang ada ditangannya.


Tidak hanya 1, tapi 5 Tespack dari berbagai merk berbeda.


Dari yang dicelup hingga dikucuri cara pemakaiannya.


Dari yang murah sampai yang mahal.


Dari yang manual hingga digital.


Satya meraih Tespack yang disodorkan Andin tersenyum bahagia.


"Sayang kamu hamil!"


Satya memeluk tubuh Andin begitu erat.


Bahagia tak terkira yang dirasakan Satya.


Bunda Dona dan Dinda segera melompat memeluk Andin.


Bunda Dona begitu terharu hingga pipinya telah basah airmata kebahagiaan.


Dinda yang memeluk sahabat sekaligus kakak iparnya segitu bahagia sekali akan kehadiran keponakannya dirahim Andin.


"Terima kasih Sayang. Kamu telah menghadirkan cucu buat Bunda. Bunda bahagia, senang sekali." Bunda Dona mencium Andin masih dengan airmata yang terus mengalir luapan kebahagiaannya.


"Mas, Bun, Din, sebaiknya aku periksa ke dokter untuk memastikannya. Bagaimana?" Andin ingin memastikan agar semakin yakin.


"Oke, Kita semua akan antar kamu ke dokter. Mas ga sabar mau lihat baby didalam sini." Satya mengusap lembut perut Andin dimana buah cinta keduanya kini tumbuh dalam rahim Andin.


"Kalau begitu kita akan periksa ke dokter Obgyn kenalan Bunda." Bunda Dona menghubungi kenalannya yang merupakan salah satu dokter Obgyn favorit banyak orang.


Dinda memeluk Andin dengan kasih sayang. Betapa bahagianya Dinda akan memiliki keponakan.


Dinda yang merupakan anak bungsu begitu senang karena ia akan memiliki mainan baru keponakannya dari Satya dan Andin.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2