Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 16 Rumah Baru


__ADS_3

Satya sudah sampai di parkiran gedung tempat Andin bekerja.


Seperti biasa Satya menjemput Andin pulang bersama.


Satya mengirim chat pada Andin.


Tak perlu waktu lama Andin sudah sampai di mobil Satya.


"Sayang, besok rencananya aku mau ajak kamu melihat rumah." Satya membuka percakapan mereka selama perjalanan.


"Rumah?" Andin bertanya.


"Iya, aku ingin kamu pilih rumah untuk kita tinggal. Rencananya besok ada 3 rumah yang akan kita lihat, nanti kamu yang pilih sesuai yang kamu suka." Satya menjelaskan.


"Kan sudah ada apartemen Sayang." Andin merasa baik-baik saja tidak keberatan karena apartemen Satya menurut Andin sangat bagus dan mewah.


"Sayang kelak kita akan punya anak. Aku mau anak-anak kita hidup bersosialisasi dengan lingkungan. Jadi aku membeli rumah untuk bisa membuat anak-anak kita kelak merasa nyaman." Satya menjelaskan alasannya pada Andin.


Andin mengangguk memahami penjelasan Satya.


Selepas makan malam kedua duduk santai sambil mendengarkan musik.


Ditemani cemilan buatan istri tercintanya, Croffle with sauce blueberry and strawberry.


"Sayang ini gambar dari ketiga rumah yang besok akan kita lihat."


Satya menunjukkan gambar-gambar ketiga rumah yang besok akan mereka survey.


Andin mengambil tablet dari tangan Satya dan ia mengamati satu per satu rumah yang akan mereka pilih.


Rumah pertama



Rumah Kedua



Rumah Ketiga



Andin melihat dengan seksama.


Ketiga rumah yang Satya perlihatkan bagus-bagus.


Semua memiliki keunikan masing-masing.


"Kamu suka yang mana sayang?" Satya bertanya pada Andin.


"Kalau ketiganya kamu kurang cocok nanti aku akan pilih lagi yang lain." Satya memberikan penawaran pada Andin.


"Aku suka Sayang. Ketiganya bagus-bagus. Bahkan lebih bagus dari apa yang aku bayangkan. Mungkin setelah besok survey dalam melihatnya langsung aku akan tahu mana rumah yang pas untuk keluarga kita." jawab Andin.


"Baiklah kalau begitu Sayang. Besok kita akan survei. Aku mau kamu pilih sesuai yang kamu mau. Rumah yang bisa membuat kamu nyaman karena aku mau istriku yang cantik ini senang dengan rumah baru kita." Satya memeluk Andin.


"Rumah yang paling nyaman buat aku, adalah rumah yang aku tempati bersama kamu Sayang, karena yang membuat aku nyaman bukan rumahnya, tapi kamu." Andin menggombali Satya.


"Istriku sekarang pandai gombal rupanya." Satya mencubit hidung Andin.

__ADS_1


"Sayang bagaimana kalau malam ini kita ..."


Satya tak melanjutkan kata-katanya namun tangan Satya mulai aktif menjelajahi wisata dataran tinggi dihadapan matanya.


Andin tak sempat menjawab.


Sentuhan Satya selalu mampu membuat Andin dimabuk asmara.


Malampun semakin larut dalam gejolak dua anak Adam yang kini memadu kasih.


Suara saling bersahutan menjadi lolongan panjang di malam yang bertabur bintang.


Setiap tetes keringat tercurah sebagai bukti kerja keras keduanya dalam penyatuan cinta.


Tak hanya sekali, berkali-kali repetisi terjadi tanpa henti seakan malam memberikan kesempatan keduanya mengukir mahakarya yang luar biasa.


Entah pancuran ke berapa, yang jelas rasa lega dan lelah bersamaan dengan keinginan untuk terus melanjutkan tanpa henti.


Seolah energi baru selalu terisi dan tak pernah habis meski terkuras tak bersisa.


Petualangan panjang malam ini melewati hari hingga berganti.


"Sayang, ayo." Satya memanggil Andin.


"Oke. Let's Go!" Andin bersemangat.


Hari ini Andin dan Satya akan survey ke calon rumah mereka.


Keduanya kini sampai di rumah pertama.


Rumah yang didominasi warna putih dengan model klasik.


"Bagus Sayang. Aku suka. Putih terlihat bersih dan luas." Andin memberikan pendapatnya.


"Masih ada 2 rumah lagi, yuk kita kesana." ajak Satya kepada Andin.


Kedua bergegas menuju rumah kedua yang lokasinya tak jauh dari rumah pertama.


Rumah bergaya minimalis bernuansa tone stone.


Andin menjelajahi setiap bagian rumah tersebut.


Satya mengikuti sang istri sambil memeriksa dan mengecek bagian-bagian dari rumah tersebut.


"Menurut kamu bagaimana sayang?"Andin menanyakan pendapat Satya.


"Bagus, aku terserah kamu sayang. Apapun yang kamu mau aku dengan senang hati menurutinya." Satya malah gombal.


Ketika melihat waktu yang sudah menjelang sore keduanya segera menuju lokasi terakhir.


Saat sampai di rumah ketiga, keduanya segera keluar mobil.


Satya dan Andin tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang sama.


"Romantis." ucap keduanya secara bersamaan.


Satya mengajak Andin masuk kedalam rumah tersebut.


Rumah dengan didominasi warna cokelat dan batu alam, serta bergaya minimalis membuat keduanya tampak menyukai look dari rumah tersebut.

__ADS_1


Ditambah suasana menjelang magrib membuat look rumah tersebut terlihat menciptakan suasana hangat dan romantis.


Satya dan Andin jatuh hati dengan rumah tersebut.


"Sayang aku suka rumah ini. kamu bagaimana?" Andin menatap Satya yang selalu menggenggam tangan Andin.


"Aku juga suka dengan rumah ini. Terlintas aku dan kamu menikmati sore hari sambil minum teh menyaksikan anak-anak kita bermain dihalaman." pikiran Satya terlintas begitu saja.


"Aku pun demikian. Kita sesekali bisa mengadakan barberque dan suasana malam membuat rumah ini semakin cantik." Andin membayangkan mereka kelak bisa mengadakan pesta kebun atau sekedar kumpul-kumpul keluarga.


"Jadi? Kamu pilih mana?" Satya memastikan pilihan Andin.


"Aku suka rumah ini. Aku mau rumah ini Sayang." Andin menggandeng lengan suaminya.


"Baiklah Tuan putri. Aku akan mengabulkan permintaanmu." Satya layaknya pangeran yang siap mengabulkan keinginan sang putri.


Satya berbicara kepada penanggung jawab rumah tersebut.


Satya meminta segera diurus kepemilikan rumah tersebut.


"Baik Pak Satya, Bu Andin. Saya permisi dulu."


Sepeninggal Developer rumah, Satya dan Andin memilih kembali ke Apartemen.


Dalam perjalanan Satya mengajak Andin untuk makan malam bersama.


"Sayang terima kasih banyak ya, aku seneng banget." Andin yang kini sedang menyuapi Satya ikan bakar.


Satya memang selalu tak bisa makan ikan karena memilah dan memisahkan duri sungguh merepotkan.


Jika dulu saat ia pulang kerumah, maka Bunda Dona yang melakukannya.


Kini Satya dengan senang hati menikmati ikan bakar karena ada Andin yang sangat telaten memisahkan duri-duri ikan yang sangat menyebalkan untuk Satya.


"Eits, makasinya nanti sayang. Kamu harus bayar aku Sayang." Satya tersenyum licik sengat niat terselubung.


"Aku mana punya uang Sayang buat bayar kamu." Andin sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Aku ga butuh uang sayang," Satya kini menaikkan kedua alisnya sebagai kode.


"Wah apa tuh, kok aku ga paham ya?"Andin pura-pura tidak mengerti.


"Serius kamu ga paham?" Satya dengan mode meledek.


"Ayo makan dulu."Andin menyuapi ikan bakan ke mulut Satya.


"Oke sayang aku akan cepat selesaikan makanku agar segera pulang dan bikin kamu paham."


Satya mengedipkan matanya kepada Andin.


Andin tentu sangat amat paham.


Satya suaminya tentu tak lain menginginkan olahraga bersama dirinya setelah ini.


Tentu Andin harus menyiapkan tenaga ekstra malam ini.


Tak tanggung-tanggung terlebih seminggu Satya harus off olahraga karena Andin kedatangan tamu bulanan.


Andin juga tak kalah dengan Satya, tanpa sepengetahuan Satya ia membeli sebuah baju dinas malam yang tentu bisa membuat Satya semakin belingsatan kala Andin mengenakan pakaian itu dihadapannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2