
Dinda yang saat ini berjuang antara hidup dan mati meregang nyawa mengeluarkan segenap tenaga dan usahanya akhirnya berhasil melahirkan dengan selamat secara normal kedua putra kembarnya.
Fandi yang senantiasa mendampingi istru tercintanya tak kuasa meneteskan airmatanya saat tangisan kedua putra kembarnya terdengar saling bersahutan.
Dinda terkulai lemas namun senyum dari bibirnya seketika mereka saat melihat kedua jagoan kecilnya sesaat setelah ia lahirkan.
"Terima kasih sayang, Terima kasih sudah berjuang bersama kedua putra kita. Terima kasih telah menjadi wanita hebat dan tangguh."
Fandi tak henti menciumi wajah, pucuk kepala dan kening Dinda seakan kebahagiaan itu terasa nikmat dan rasa syukur terus terucap dari mulut kedua orang tua baru ini.
Fandi mengadzani kedua putranya dengan perasaan mengharu biru.
Fandi terbayang almarhum Ayahnya dan begitupun Dinda tanpa terasa airmata menetes dipipi.
Perawat meletakkan kedua bayi Dinda untuk melakukan IMD.
Dinda tampak kegelian saat kedua anaknya berhasil mendapatkan pucuk sumber makanan mereka.
Trio Oma beserta Satya family sudah hadir dengan formasi lengkap melihat sang anggota baru keluarga mereka.
"Masya Allah, ganteng betul keponakan Pakde." Satya mengendong salah satu dari bayi Fandi dan Dinda.
"Ganteng banget cucu Oma sih," Oma Dona tampak gemas dengan cucunya.
Bergantian dengan Satya Kini Oma Arini mengendong cucunya sambil terus tersenyum bahagia.
"Cucu Oma haus? Mau mimik?"
Oma Shopia kini menggendong bergantian dengan Oma Dona.
"Cah bagus, ganteng amat Sayang."
Andin memeluk sahabatnya Dinda.
"Hebat Din. Selamat, Lu kini udah jadi Ibu. Mana ganteng-ganteng amat itu keponakan gw." Andin memberikan pelukan hangat kepada sahabat sekaligus adek iparnya.
Belum sempat Dinda menjawab Fandi menyela dengan bangganya.
"Kan ayahnya ganteng Mbak. Jadi keponakan Mbak Andin ganteng.
Semua tertawa menanggapi guyonan Fandi dan Dinda hanya bisa geleng kepala dengan kenarsisan suaminya.
Fandi dan Dinda meletakkan kedua putra mereka dalam box baby yang berada di kamar rawat inap mereka.
Fandi memang khusus memesan 1 kamar rawat VIP agar Dinda dan kedua putranya nyaman.
Setelah dokter visit menyampaikan bahwa besok Dinda dan kedua babynya sudah diperbolehkan pulang.
__ADS_1
"Beib, jadi kita dipanggil apa? Ayah Bunda? atau Pepo dan Memo?" Dinda menjadi bingung panggilan apa yang mau ia biasakan pada kedua putranya.
"Aku terserah kamu Sayang, senyamannya kamu mau dipanggil apa sama kedua jagoan kita. Aku ikut." Fandi memandangi kedua baby mereka yang tertidur pulas.
"Bismillah. Ayah dan Bunda. Sepertinya cocok." Dinda memantapkan hatinya.
Seakan mendengarkan perbincangan kedua orang tuanya, salah satu baby mereka menangis terbangun.
"Sayang, haus ya?"
Dinda menghampiri box baby dan menggendongnya.
Dinda yang masih belum terbiasa menyusui agar sedikut geli saat babynya mulai menyusu padanya.
Sementara Fandi dengan mata membulat tampat memperhatikan aktivitas sang anak dan Dinda.
Dinda tampak mengamati ekspresi wajah Fandi dan sengaja malah menggodanya.
"Sayang baby kita jadi dikasih nama seperti waktu itu yang kamu katakan?"
"Kamu setuju?" Fandi balik bertanya.
"Aku suka nama itu. Sesuai yang kita sepakati kalau cewek inisialnya sama denganku namun kalo cowok sama dengan inisial namamu sayang." Dinda mengusap lembut baby yang kini menyusu dengan lahap dalam buaiannya.
Fandi mendekati Dinda dan baby dalam dekapan Dinda. Diusapnya kepala sang anak.
"Iya. Fadli dan Fadlan. Bagus Ayah. Nama yang yang bagus untuk kedua jagoan kita." Dinda menggenggam tangan Fandi.
Fandi tersenyum melihat kedua putranya.
"Tidak menyangka ya Bunda, kita sudah jadi orang tua dan diberikan dua putra sholeh dan tampan." Fandi seakan flashback saat pertemuan pertamanya dengan Dinda dan susahnya mendapatkan hati wanita yang kini telah menjadi ibu dari anak-anaknya.
"Kalo kata orang jodoh itu rahasia Allah, bener banget sayang, eh Ayah." Dinda masih belum terbiasa memanggil Fandi Ayah.
"Siapa sangka, akhirnya aku yang berhasil mendapatkan bidadari surga yang kini telah menjadi ibu dari anak-anak gantengku." Fandi dengan gombalannya tentu saja membuat Dinda menyubit pinggang suaminya.
"Malu ih ada anaknya juga, gombal!" dengan bibirnya yang merengut manja Dinda membuat Fandi gemas.
"Bunda jangan manyun-manyun gitu, Ayah kan jadi pengen." Fandi menggantung kata-katanya.
Pergerakan Fandi semakin mendekat kearah Dinda yang masih menyusui si sulung Fadli membuat Dinda reflek memejamkan matanya.
Seolah mendapat lampu hijau Fandi mendekatkan wajahnya pada Dinda, dan...
"Oek,,,Oek,,,Oek,,,"
Suara tangisan Fadlan yang berada di box bayi menggagalkan jatah Fandi menerima kecupan nikmat dari istrinya.
__ADS_1
"Ayah, Fadlan digendong bawa sini," Dinda menepuk lengan Fandi seolah mengisyaratkan bahwa ambil Fadlan dan bawa kesisi Dinda karena sang baby haus minta mimik susu.
"Jagoan Ayah, kenapa kalian nangis Nak, Ayah kan belum tuntas." Fandi menggendong Fadlan dan menyerahkannya pada Dinda.
Sementara kini Baby Fadli berada dalam gendongan Fandi dininabobokan agar kembali tertidur.
Dinda menyusui Fadlan dan benar saja babynya menangis karena haus.
"Kalian itu sudah mengambil jatah Ayah." Fandi menyolek pipi Fadlan yang kini lahap mimik susu pada Dinda.
"Ayah, jangan iri. Ini memang milik mereka. Ayah ngalah dulu ya." Dinda tersenyum menggoda Fandi yang kini rampak merengut wilayah favoritnya kini dijajah kedua jagoan kecilnya.
"Satu lagi Ayah, Ayah juga puasa dulu ya, Bunda kan baru lahiran." Dinda menambah penderitaan Fandi dengan ultimatumnya.
Fandi seakan semakin pundung, mendengar ultimatum Dinda.
"Demi kamu dan sibuah hati aku rela berkorban bersama, meski si pesut mahakam harus sabar-sabar dulu ya." Fandi seakan memberikan pengertian kepada juniornya yang terkadang tak bisa diajak kompromi saat melihat sang istri yang tampak selalu menggairahkan buatnya.
"Ga lama kok Ayah, Cuma 40 hari." Dinda semakin memperjelas.
Fandi menepuk jidatnya lemas dan mengulang kata "40 hari, kamu sabar ya, ingat kesabaran akan berbuah manis." Fandi mencoba berdialog dengan si pesut mahakam.
Tentu saja ulah Fandi membuat Dinda tertawa.
Kasihan sebetulnya namun ini memang harus dijalani oleh Fandi.
"Apa ga bisa nawar dikit Bun?" Fandi seakan mendengarkan bisikan si pesut mahakam untuk melobi.
"Ya karena Ayah baik waktu bunda hamil wakilin Bunda ngidam jadi Bunda akan kasih bonus, tapi sesekali dan pake ini ya." Dinda membawa angin segar untuk Fandi.
"Eits, jangan seneng dulu, kalo waktu dan situasinya memungkinkan ya Ayah, anak Ayah ini sepertinya senang begadang deh. Ayah temani Bunda begadang juga ya." Dinda seakan mencari kejelasan tentang teman begadang mengurus kedua buah hatinya.
"Tanpa kamu pinta aku akan menemani kamu saat malam begadang untuk menjaga kedua jagoan kita Bunda."
Fandi meletakkan kepala Dinda dalam bahunya mengusap rambut istrinya lembut penuh kasih sayang.
Sambil terus menghujani kecupan pada pucuk kepala Dinda Fandi tak henti-hentinya mengucapkan segala kebagaiaan dan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang keluarga mereka terima hingga kini.
"Bunda, setelah pulang dari RS kita adakan acara tasyakuran aqiqah Fadli dan Fadlan ya." Fandi mengatakan pada Dinda.
"Iya Ayah, Bunda, Mama Arini dan Mama Shopia beserta Andin sudah menyiapkannya untuk kita." Dinda menjawab.
"Alhamdulillah. Aku sangat bersyukur bisa memiliki kamu sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku. Selain itu aku bersyukur memiliki keluarga tang selalu mendukung kita dalam keadaan apapun. Betapa Allah sangat menyayangi kita Bunda." Fandi dengan bijaksana.
"Ya, Semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi kita." Dinda berharap dan mengamini doa Fandi.
...****************...
__ADS_1