Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 50 Keluarga Bahagia


__ADS_3

Satya dan Andin pagi ini mengajak Abizhar keliling komplek.


Satya mendorong Stroller Abizhar sedangkan Andin sibuk sekali mendokumentasikan putra tercintanya yang kini sudah berusia 6 bulan.


Abizhar kini sudah diberikan makanan pendamping ASI (MPASI).


Andin bahagia sekali selama 6 bulan kebelakang ia berhasil memberikan ASI eksklusif bagi Abizhar.


Walaupun Andin saat ini juga masih memberikan ASI pada Abizhar namun ditambah MPASI.


Abizhar sangat senang sekali saat disuapi MPASI yang memiliki rasa segar dan manis.


Andin menyuapi Abidzar yang begitu lahap menikmati menu makanannya.


...MPASI ABIZHAR...



"Pinter banget sih anak Papa, enak ya Nak?" Satya mengelap bibir Abizhar yang ada sisa makanan.


"Iya Papa, anak siapa dulu dong." Andin kembali menyuapi Abizhar.


Tampak beberapa cewek-cewek ABG yang lagi jogging ditaman menegur Abizhar.


"Duh lucu banget si dede bayi, namanya siapa?"


Cewek ABG yang modus mencuri lirik pada Satya dengan cara menegur Abizhar.


Andin yang tahu maksud terselubung ABG gatel itu dengan santai justru melirik ke arah Satya yang tahu kalau saat ini istrinya sedang cemburu.


Satya segera mendorong stroller Abizhar meninggalkan ABG gatel yang mencoba menggodanya.


Sementara Andin kini sedang berbincang dengan ibu komplek yang satu blok dengan mereka.


"Wah Abizhar sudah bisa jalan-jalan ya." Sapa si Ibu.


Satya yang mendekati istrinya namun seolah tak mendapat respon dari Andin.


"Kak Satya, Mbak Andin, halo Abizhar." Sapa Fandi yang ternyata sedang jogging di taman.


"Hai Fan, Jogging." jawab Andin.


"Jogging juga Fan?" Satya mengulang pertanyaan Andin.


"Iya Ka. Bertiga aja Ka?" Fandi seolah mencari keberadaan Dinda.


"Iya. Ada yang dicari?" Satya sengaja memancing.


"Eh, Tante Dona dan Tante Shopia belum pulang dari Amerika?" Satya sebenarnya mau sekalian menanyakan Dinda.


"Ga Sekalian nanya Dinda Fan?" Andin tak kalah jahil dan tampak melupakan kekesalannya dengan Satya.


"Ee,, iya, Dinda ga ikut jogging?" Fandi sudah tertangkap basah sekalian saja iya tanya keberadaan Dinda.


"Dinda lagi ke Bali Fan." Dinda kini menjawab.


"Bali?" Fandi menggantung pertanyaannya.


"Iya, Ada urusan kantor. Kalau tidak salah Mr Daniel juga ada disana. Soal pembangunan Resort." Andin tampaknya sengaja menyebutkan detail mengenai kondisi Dinda disana.


Terlihat raut wajah Fandi lebih serius.


"Sejak kapan Ka? Maksud Fandi Dinda sampai kapan disana?" Fandi sangat penasaran.


Satya melihat Fandi layaknya menahan kesal.


"Setau Kakak acara peresmiannya jam satu siang ini." Satya kini menjawab.


Andin menoleh kearah suaminya.

__ADS_1


"Kalau begitu Fandi permisi Ka. Pamit dulu. Abizhar Uncle Fandi pulang dulu ya."


Fandi pamit dengan Satya dan Andin serta Abizhar.


Sepeninggal Fandi, Satya dan Andin melanjutkan jalan-jalan santai sambil menyuapi Abizhar yang sempat tertunda.


"Sayang kenapa kamu kasih tahu Fandi rinci banget pake bawa-bawa nama Daniel lagi."


"Ya gpp kan, biar seru."


"Maksudnya?" Satya bingung.


" Ya ga maksud apa-apa, namanya juga ngomong eh keceplosan Mas." Andin jawab santai.


Saat Satya masih memikirkan rencana apa yang ada di otak istrinya, Andin memilih mendorong Stroller Abizhar.


"Eh Abizhar, Lagi jalan-jalan ya? Abizhar sudah MPASI Bu Andin?" tanya salah satu tetangga di blok rumah mereka.


"Iya Bu, baru minggu lalu mulai MPASI." jawab Andin.


Satya sudah berada di dekat istri dan anaknya.


"Eh ada Pak Satya juga. Libur Pak?" tanya suami sang ibu.


"Iya Pak." Satya menjawab.


"Kalo liat Pak Satya dan Bu Andin layaknya keluarga harmonis, keluarga bahagia. Ditambah ada Abizhar yang ganteng." Si Ibu sedang meneguri Abizhar diaambut tawa Abizhar.


"Duh,,, Pinter banget Abizhar. Eh ketawa ya sayang." Si Ibu gemas dengan respon Abizhar yang tertawa saat diajak berbicara.


Rumah tampak sepi.


Karena hanya ada mereka bertiga selain ada assisten rumah tangga.


Andin menyiapkan makan siang untuk Satya.


"Mas, makan siang dulu." Panggil Andin.


Satya menghampiri Andin, duduk dimeja makan melihat makanan yang disiapkan Andin.


"Wanginya sedap sayang." Satya menyodorkan piringnya disambit Andin dengan mengambilkan nasi dan lauk pauk.


"Mas sepi ya kalau ga ada Bunda, Mama dan Dinda." Andin menggambil makanan untuk dirinya setelah selesai melayani makan suaminya.


"Iya. Ga ada yang ngabisin makanan kalo ga ada Dinda." Satya menyuap makanannya dan asal ngomong.


"Ih jahat banget sama adek sendiri." Andin tak terima sahabatnya pun dibela.


"Sayang, besok kita jalan-jalan yuk ajak Abizhar."


"Jalan kemana Mas?"


"Maunya kemana?"


"Gimana kalo kita bawa Abizhar ke tempat baby spa. Abizhar kan mulai aktif, pasti badannya pegel-pegel. Aku baca katanya bagus kalau bayi di spa."


" Ok. besok kita kesana sayang. Abizhar mau di Spa ?" Satya mengajak bicara anaknya.


Abizhar yang sedang disuapi mangga yang dihaluskan tamoat lucu saat bibirnya belepotan karena Abizhar senang menyembur.


"Loh anak Papa udah bisa sembur-sembur ya?"


Andin mengelap bibir Abizhar yang belepotan mangga.


"Iya Pa. Abizhar sudah bisa sembur. Apalagi sembur-sembur ABG gatel."


Andin teringat lagi kejadian pagi tadi.


"Cie, Mama cemburu Abizhar sama Papa." Satya kini mengajak Abizhar bicara soal Andin yang mengungkit kejadian pagi tadi.

__ADS_1


"Abizhar Sayang, besok kalau papa dideketin Cewek gatel disembur aja ya Nak." Andin mengatakan pada Abizhar.


"Sayang, Abizhar jangan diajarin yang enggak-enggak." Satya merasa kelak Andin akan mengajak Abizhar membasmi para kutu gatel.


"Papa itu suami setia Ma." Satya membujuk Andin.


"Setiap Tikungan Ada maksudnya!" Andin tak pernah kehabisan jawaban.


"Bikin gemes deh Sayang kalo lagi ngembek."


Satya pasang ancang-ancang siap menerkam istrinya namun sang istri licin layaknya belut sengaja menghindar membuat Satya semakin penasaran.


Abizhar tertawa entah bayi itu mengerti atau menurutnya menarik saja melihat tingkah kedua orang tuanya.


"Anak Papa senyum, ketawa. Seneng ya Nak kalo Papa diledekin Mama?" Satya menggendong putranya yang lucu dan menggemaskan.


Satya mengajak Abizhar main dengan senang.


Begitupun Abizhar sangat senang sekali bisa bermain seharian dengan Papanya saat Satya libur bekerja.


Andin yang baru selesai dengan dunia perdapuran membuat cemilan melihat kebersamaan kedua bapak dan anak didepan matanya tiba-tiba saja airmatanya mengalir.


Andin begitu bahagia, melihat kebersamaan Abizhar dengan Satya.


Andin bersyukur Abizhar lahir ditengah-tengah keluarga yang bahagia.


Abizhar memiliki ayah yang sangat menyayanginya.


Oma Dona dan Oma Shopia tak kalah kasih dan sayangnya untuk Abizhar.


Setiap hari Oma-Oma cantik Abizhar selalu menelpon rindu cucu tercintanya.


Abizhar juga punya Aunty yang selalu menyayanginya dengan segenap hatinya.


Andin sungguh bersyukur betapa Allah kini seakan menjawab doa-doanya sejak dulu.


Andin yang tak tahu siapa ayah kandungnya dan ibunya yang meninggal sejak iya masih sekolah sering berdoa untuk memiliki keluarga yang bahagia.


Kini seakan Allah menjawab doa-doa Andin.


Allah mengirimkan Satya, Bunda Dona, Mama Shopia, Dinda dan kini Abizhar dalam hidupnya.


"Abizhar, ayo kita dekati Mama, Mama bawa apa itu."


Satya menghampiri Andin yang terlihat termenung di ambang pintu.


Andin tersadar dari lamunannya.


Segera Andin mendekati suami dan putranya.


Satya melihat Pisang bakar yang dibuat Andin.


"Mama suapin Papa pisang bakarnya dong."


Satya tampak tergiur dengan pisang bakar buatan Andin.


Andin menyuapi pisang bakar pada Satya.


Abizhar yang melihat ada makanan mulutnya seakan mengerti bayi tersebut mengulum-ngulum bibirnya.


"Abizhar mau? Nanti ya sayang, sekarang Abizhar makan ini aja."


Ansin menyiapkan pepaya yang dihaluskan layaknya bubur bagi Abizhar.


Abizhar dengan senang hati, tampak bayi itu tertawa dan tersenyum sambil menikmati suapan buah pepaya yang diberikan mamanya.


Keluarga Bahagia versi Satya, Andin dan Abizhar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2