Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 21 Surprise Untuk Andin


__ADS_3

Andin terbangun haus.


Andin melihat Satya tidak ada disampingnya.


Andin melirik nakas mencari gelas air yang biasa ia letakkan sebelum tidur.


Andin melihat kosong tak ada gelas yang ia cari.


"Aku lupa mungkin." Andin dengan mata ngantuk keluar kamar mengambil minum dan mencari suaminya yang tak ada dikamar.


Andin yang masih ngantuk tentu tak memperhatikan langkahnya karena kesadarannya masih belum sepenuhnya kumpul.


Andin hendak menyalakan lampu namun lampu tak kunjung nyalah.


"Mati lampu?" Andin menuju dapur mengambil air dan kini ia memanggil Satya karena tak kunjung menemukan suaminya.


Panggilan Andin tak mendapat sautan dari Satya.


Suasana gelap yang Andin anggap mati lampu dan Satya yang tak kunjung ada, membuat haus Andin hilang berganti panik.


Andin berkeliling dalam gelap setelah sebelumnya entah mengapa HP nya lowbat dan rak satupun Andin menemukan lampu emergency, lilin atau apapun sebagai sumber cahaya meskipun Andin inget betul menyimpan benda-benda penolong mati lampu tersebut.


"Sayang, Sayang, kamu dimana?" Andin dengan panik dan khawatir berkeliling rumahnya yang gelap.


Pikiran Andin semakin takut dan paranoid.


Andin berteriak memanggil asisten rumah tangganya. Namun tak satupun yang datang dan tak ada siapapun.


Andin mulai berpikir jangan-jangan ia kerampokan.


Andin dengan cepat meraih sapu yang terlihat sekilas dihadapannya.


Dalam gelap sambil memegang sapu Andin mengendap-mengendap menyusuri ruangan dikamarnya.


Ceklek!


Andin mendengar suara pintu terbuka.


Andin semakin gemetar, hatinya semakin ciut.


"Sayang, itu kamu?" Andin menduga Satya yang membuka pintu.


Tangan Andin waspada dengan ngacungkan sapu yang dibawanya dihunus ke depan sebagai senjata perlindungan bagi Andin.


Krekkkk!


Kembali suara terdengar.


Namun tak ada orang disana selain dirinya.


Andin mulai takit bercampur kesal.


Bagaimana mungkin ia sendiri dan tak ada siapapun dirumah ini.


Andin semakin gemetaran karena sekilas seperti orang lewat namun tak terlihat.


"Siapa itu! Jangan macam-macam!" Andin dengan sapu sebagai senjata ia arahkan ke depan bayanagn yang sekilas lewat.


Keringat Andin bercucuran membasahi pajamas yang ia gunakan.


Jantung Andin tak perlu ditanya, berdegup kencang dengan pikiran sudah dipenuhi prasangka buruk.


Dengan Mata yang mulai menangis namun tetap masih berusaha mempertahankan diri Andin waspada melihat ke sekitarnya dalam gelap.


Dan disaat kepanikan Andin terus memuncak seketika,


"Surprise!"


Lampu menyala.


Andin dengan tampilan yang kacau.


Ekspresi wajah melongo kaget menatap sekelilingnya.


Terlihat suaminya Satya, Bunda Dona, Dinda dan asistem rumah tangga Andin semua berada disana.


Menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


Dinda memegang kue ulang tahun sementara Satya membawa bunga untuk Andin.

__ADS_1


Andin menyadari kejadian barusan adalah surprise yang diberikan keluarganya.


Satya menghampiri Andin.


Memeluk istri tercintanya yang terlihat takut dengan airmata yang sudah mengalir.


Satu hal lagi Andin masih memegang sapu ditangannya.


"Selamat ulang tahun Sayang." Satya memeluk Andin dan tak luput memberikan ciuman mesra pada bibir istrinya itu.


Tentu saja disaksikan semua yang berada disana.


"Ehemmm, Duh, Jangan bikin iri jomblo dong!" Dinda memberikan kode bahwa mereka ada dan dua bukan milik mereka berdua saja.


"Sirik aja! makanya nikah!" Satya berkomentar saat Dinda mendekat pada mereka sambil membawa kue ulang tahun pada Andin.


"Selamat ulang rahun Ya Din. Tiup dong kuenya. Tapi Lo make a wise dulu." Dinda menyodorkan cake kepada Andin meminta Andin make a wise terlebih dahulu.


Andin menutup matanya.


Dalam hati Andin berdoa.


Andin bersyukur kepada Allah atas usia yang diberikan.


Andin juga berterima kasih karena Allah memberikan suami yang baik seperti Satya kepada dirinya.


Andin bersyukur memiliki mertua dan ipar seperti Bunda Dona dan Dinda yang begitu baik pada dirinya.


Andin kemudian membuka matanya, meniup lilin.


Tampak Bunda Dona memghampiri menantu kesayangannya.


"Sayang selamat ulang tahun, semoga kamu dan Satya segera diberikan momongan, dan kalian selalu bersama." Bunda Dona memeluk Andin.


Asisten rumah tangga Andin diperbolehkankembali beristirahat.


Karena tentu saja ini masih dini hari.


Satya, Andin, Bunda Dona dan Dinda kini masih berbincanh diruang tengah.


"Sayang, ini buat kamu." Satya menyerahkan sebuah kotak.


"Peluk doang nih?"Satya memberikan kode menunjuk bibirnya.


Andin memahami maksud Satya namun memilih memukul lengan Satya, karena disana ada Bunda dan Dinda tentu Andin malu dengan permintaan Satya.


"Buka dong." Satya meminta Andin membuka hadiah darinya.


Andin membuka hadiah pemberian Satya.


Andin menarik pita yang menghiasi kotak berwarna Maroon tersebut.


Andin membuka penutup kotak tersebut.


Terlihat sebuah kunci.


Andin mengambil kunci tersebut dari dalam kotak.


"Ini." Andin memperhatikan sebuah kunci mobil ditangannya.


"Yuk!" Satya mengajak Andin diikuti Bunda dan Dinda menuju luar rumah.


Satya memberikan kode kkepada Andin untuk menekan kunci tersebut.


Terdengar bunyi alarm mobil.


Andin melihat sebuah mobil berwarna putih.


Andin menatap Satya, Bunda dan Dinda.


Satya yang melihat kebingungan Andin menuntunnya ke mobil putih tersebut.


"Sayang, ini untuk kamu. Ayo lihat." Satya kini menuntun Andin melihat mobil milik Andin.


"Sayang, ini buat aku?" Andin membuka mobil tersebut.


Satya melihat Andin yang masih berdiri dengan pintu mobil yang dibuka dan berdiam saja, menyuruh Andin duduk menaiki mobil duduk dibelakang kemudi.


" Iya sayang. itu mobil kamu. kamu ga suka?" Satya kini berada disebelah Andin yang duduk dibelakang kemudi masih diam melongo.

__ADS_1


"Bukan begitu. Ini terlalu mahal untuk aku Sayang. Kamu ga perlu seperti ini."


Andin menangis menatap mobil yang kini dinaikinya.


"Sayang, terimalah. Kamu berhak menerimanya. Kamu istri Satya. Kamu berhak dan layak Sayang." Bunda Dona merangkul menantunya.


"Din, ayok. Kak Satya memang sengaja memberikan mobil untuk Lo." Dinda juga merangkul sahabatnya.


Tangis Andin semakin pecah.


Andin terharu.


Betapa nikmat Allah berlebih terhadap dirinya.


"Loh Sayang, jangan nangis dong." Satya tertawa melihat ekpresi wajah Andin.


"Terima kasih Mas. Makasi Bunda, Makasi Dinda."


Semua memeluk Andin.


Betapa keluarga yang bahagia.


"Asik, weekend kita nyoba mobil baru yuk Din!" Dinda membuka obrolan agar sahabatnya tak lagi menangis.


"Nah bener tuh sayang, kita shopping. Sudah lama Bunda ga shopping." Bunda Dona mengajak Dinda dan Andin.


"Weekend? Ga bisa!" Satya yang punya rencana berniat mengajak Andin staycation tentu menolak rencana Bundanya.


"No! Bunda mau quality time dengan dua anak gadis Bunda. Dan kamu ga boleh ikut Satya. Jaga rumah!" Bunda tidak menerima penolakan.


"Bunda emamg paling the best deh. Tahu aja kalo aku lagi mau beli Tas incaran aku." Dinda tampak bersemangat.


"Oke. Kalau begitu Bunda akan menginap disini. Yuk kita tidur. Agar fresh saat kita shopping!"


Bunda Dona menggandeng Andin dan Dona masuk kerumah.


"Loh, Bun Andin mau dibawa kemana?"


Bunda mengajak Andin dan Dinda untuk tidur bersama.


"Mau tidur Satya. Yuk Sayang" Bunda masih menggandeng Andin dan Dinda menuju kamar.


"Terus aku gimana?" Satya kesal Bunda dan Dinda membajak istrinya.


"Ya kamu tidur dikamar lain dong Sat." Bunda menjawab santai.


"Ga bisa gitu dong Bun! Bunda ga ngertiin banget deh!" Satya merajuk.


"Gapapa lah Sat, lagi pula bukannya kamu lagi perboden juga Din?" Bunda tersenyum ke arah menantunya.


"Eh, iya Bun." Andin bingung kok bisa Bunda tahu Andin sedang period.


"Ya ampun Din, kamu ganti baju gih. Tuh." Dinda memberikan kode ke belakang celana pajamas Andin.


Andin terkejut ternyata celana oajamas Andin terdapat noda merah.


Segera Andin berlari ke kamar membersihkan diri dan berganti pakaiannya.


Satya yang baru tahu justru tampak lemas melihat nya.


"Puasa deh!"


"Kak, jangan lupa beli kuaci. Lumayan 7 hari!" Dinda menepuk bahu kakaknya iseng.


"Bunda istirahat dulu ya Sat." Bunda Dona tersenyum meninggalkan Satya anaknya yang kini lemas.


Satya menatap 3 wanita yang ia cintai kini tertidur lelap.


Ibu, Adik dan istri tercintanya.


3 wanita yang sangat Satya sayangi dan jaga.


Satya menutup pintu kamar.


Satya tak bisa tidur memilih menonton pertandingan sepak bola.


Dalam hati Satya begitu bersyukur memiliki ketiga wanita tersebut dalam hidupnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2