Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 78 Rahasia


__ADS_3

"Sayang, Andin!" Satya mengejar Andin.


Vera menatap Satya dengan mata nanar.


"Kakak, biarkan Andin menenangkan diri dulu." Dinda seketika mencegah Satya.


Tatapan Dinda kini tertuju pada Vera.


"Sebaiknya urus putra dan putrimu. Jangan pernah mencoba memgambil apa yang telah kau tinggalkan Vera!" tatapan Dinda bagaikan pedang yang menghunus tepat dijantung hati Vera.


Andin masuk.keruang rawat Abizhar.


Terlihat Abizhar yang kini telah tertidur.


"Mbak, Abizhar sudah tertidur. Sudah minum obat juga. Baru saja suster mengganti infusnya." Fandi memberikan informasi kepada Andin apa saja yang telah dilalui Abizhar sepeninggal Andin.


"Terima kasih Fandi." Andin tersenyum sekilas.


Fandi menangkap Kakak iparnya tampak sedih dan habis menangis.


"Kalau begitu Fandi keluar dulu ya Mbak." Fandi meninggalkan Andin.


Andin hanya menganggukan kepala.


Andin mendekati brankar Abizhar.


Ditatapnya putra sulungnya yang kini tumbuh besar.


Andin menghapus airmata yang tak berhenti membasahi pipinya.


Andin membelai rambut Abizhar.


Wajah Satya yang begitu menurun pada Abizhar membuat airmata Andin semakin deras membasahi pipinya.


Tatapan sendu tak kuasa bagi Andin jika kelak ia dan Satya tidak bersama.


Bagaimana Abizhar kelak tumbuh tanpa seorang Ayah disisinya.


Sementara dalam rahimnya terdapat buah cinta mereka.


Andin memejamkan matanya tak kuasa menahan rasa sakit dalam dada.


"Mengapa disaat semua kebahagiaan ini begitu terasa indah dan sempurna tergerus badai yang datang menghadang?" batin Andin menjerit.


Tak kuasa raganya menahan segala pikiran dan beban didada.


"Andin! Bangun Din!"


Dinda masuk tepat saat Andin roboh dari kokohnya keyakinan yang menguatkan hati dan pikiran.

__ADS_1


Vera menatap kedua putra dan putrinya yang kini tertidur lelap setelah keduanya mendapat tindakan oleh dokter.


Andrew dan Angel mengalami luka terbuka dibagian kaki dan tangan mereka sehingga harus di jahit.


Keduanya diberikan obat agar segera lelap guna mengurangi rasa sakitnya dan bisa beristirahat.


Vera mengusap kedua putra dan putrinya.


"Maafkan Mommy twins." ucap Vera lirih hingga bulir bening kesedihan itu membasahi pipi.


Rasa bersalah meliputi hati Vera yang sakit akan sebuah penyesalan yang membawanya pada kecelakaan di malam itu.


Andai saat itu Vera tidak bertengkar dengan ayah anak-anaknya maka tidak akan terjadi kecelakaan yang membuat ayah dari putra dan putrinya meninggal.


Vera yang kala itu sedang hamil 8 bulan berada dalam mobil yang sama dengan suaminya sedang bertengkar hebat.


#Flashback On


"Tega kamu Robert menjebakku hingga aku hamil. Kau tahu hari itu seharusnya aku menikah dengan Satya. Tapi apa kamu justru memperkosaku hingga aku hamil!" Vera berteriak mengguncang tubuh Robert memukulnya membabi buta saat Robert sedang menyetir.


"Benar Vera, malam itu aku sengaja menjebakmu. Aku yang memasukan obat itu dalam minumanmu. Saat itu aku tidak mabuk. Aku sadar Vera. Aku sengaja melakukan itu padamu." Robert mengatakan yang sejujurnya.


"Kamu biadab Robert! Kamu menipuku!" Vera berteriak mendapati kenyataan bahwa Robert menjebaknya.


"Aku biadab! Aku penipu! Aku Salah! semua kulakukan karena aku mencintaimu Vera. Jauh sebelum laki-laki itu datang dan menjadi calon suamimu!" Robert berteriak mencurahkan isi hatinya pada Vera.


"Kamu tak pernah membalas cintaku Vera, sejak lama aku menyukaimu, aku selalu ada untukmu, aku menyatakan cinta padamu namun kau hanya menganggapku sebagai kakak. Aku menyukaimu, Aku mencintaimu! Aku mau kau menjadi milikku Vera. Aku tak rela kamu menikah dengan pria itu. Itu sebabnya aku nekat melakukan itu padamu malam itu. Agar kau hamil dan menikah denganku!" Robert sudah habis-habisan mengungkapkan semuanya pada Vera.


Vera tak menggubris perkataan Robert. Robertpun kehilangan konsentrasi saat mengemudi akibat Vera yang sangat membabi buta memukuli dirinya hingga tanpa terhindarkan sebuah truk besar menghantam mobil mereka dan terjadilah kecelakaan.


"Kak! Kau sudah sadar. Bangunlah. Vera sudah melahirkan. Anakmu kembar Kak. Laki-laki dan perempuan." Richard adik Robert yang segera datang saat dikabari polisi bahwa kakak dan kakak iparnya kecelakaan.


Kondisi Robert dalam keadaan tidak stabil.


"Panggil Vera kesini Richard. Aku ingin bicara padanya." Robert dengan terbata mengatakan pada adiknya.


Vera dengan kursi roda datang tepat disaat Robert mengharapkan kedatangannya.


"Robert kau sudah sadar. Maafkan aku Robert." tangis Vera pecah.


Bagaimanapun Robert adalah suaminya, ayah dari kedua anak kembar yang harus Vera segera melahirkan akibat kecelakaan yang dialaminya. Meskipun Vera akui ia tidak mencintai Robert, Vera hanya menganggap Robert layaknya Kakak, Karena Vera masih sangat mencintai Satya kala itu.


"Kemarilah. Ada yang ingin aku sampaikan." Robert meminta Vera mendekat padanya.


Vera mendekati Robert dan ia menatap wajah pias dan tubuh Robert yang lemah.


Robert berusaha meraih tangan Vera dan menggenggamnya.


Bulir airmata Vera terus mengalir diselimuti rasa penyesalan akan perbuatan dirinya hingga membuat Robert terbaring kritis.

__ADS_1


"Vera, terima kasih kamu telah melahirkan putra dan putri kita dengan selamat. Aku bahagia akhirnya kita memiliki anak bersama wanita yang paling aku cintai. Vera aku tahu kamu tak pernah sedikitpun mencintaiku, karena cintamu hanya untuk Satya. Namun aku berpesan padamu jangan mengejar pria yang sudah mencintai dan hidup bahagia bersama orang lain, karena hanya akan membuatmu sakit hati dan terluka. Vera berikan nama kepada kedua anak kita Andrew dan Angel. Aku ingin mereka tumbuh menjadi Pria yang kuat dan perempuan berhati malaikat. Richard adikku, aku titip kedua anakku padamu. Jadilah ayah bagi kedua keponakanmu. Jaga ia sampai dewasa sampai mereka bisa mandiri. Anggap keduanya layaknya anakmu sendiri." Robert mengucapkan kata demi kata dengan sulit dan terbata-bata.


"Kakak, aku akan menjaga kedua putra dan putriku layaknya anakku sendiri. Namun kupastikan padamu aku takkan menikahi istrimu Vera karena seperti yang kau tahu aku membencinya dan aku akan selalu seperti itu. Tapi kakak tak perlu khawatir, aku akan menyayangi putra dan putrimu dengan setulus hatiku dan melindunginya dengan segenap jiwaku." Andrew berjanji pada Robert menahan airmatanya agar tidak jatuh.


"Terima kasih Richard. Aku lega mendengarnya. Satu lagi pesanku, Beritahu mereka saat usia ke 18 tahun mengenai siapa aku. Selama itu biarlah mereka menganggap kamu sebagai Daddynya dan Vera adalah Mommynya. Aku tak mau putra putriku bersedih dan menangisi makamku dan merasa mereka tak punya ayah. Bisakah kalian berdua berjanji padaku?" Robert semakin sulit berkata-kata nafasnyapun terdengar tersengal-sengal.


"Aku berjanji Kak akan menjalankan apa yang kamu inginkan." Richard menggenggam erat tangan kakaknya.


Vera terdiam tak kuasa berkata apa-apa.


Vera menangis dan merutuki kebodohan dirinya hingga membuat Robert kritis.


Seketika jantung Robert melemah.


Richard berteriak memanggil dokter.


Dokter dan perawat segera melakukan tindakan terhadap Robert.


" Kak bertahanlah. Aku mohon. Ingat anak-anakmu!" Richard yang kini telah banjir Airmata terus berteriak agar kakaknya selamat dan bangun.


Hingga saat suara mesin detak jantung tersebut berhenti berdetak dan berbunyi panjang, saatlah itulah bersamaan dengan kepergian Robert selama-lamanya.


Richard selesai mengatarkan kakak tercintanya yang sangat ia banggakan keperistirahatan terakhir memilih kembali kerumah sakit untuk melihat kondisi kedua keponakannya.


Dalam ruang PICU Andrew dan Angel bayi dalam inkubator menggeliat seolah mereka tahu bahwa Daddy mereka kini telah kembali menghadap sang ilahi.


Vera mendekati Richard, hendak menyapa adik iparnya.


"Stop! aku tidak sudi kamu menyentuhku dengan tangan kotormu pembunuh!" Richard menatap penuh kebencian pada Vera.


Vera tersentak kaget dengan ucapan adik iparnya.


"Dengarkan aku baik-baik, Seperti janjiku pada kakakku, aku akan menganggap Andrew dan Angel sebagai anakku, putra dan putriku. Jangan pernah berharap aku menerimamu kembali dikeluargaku. Aku akan mengatakan pada Andrew dan Angel kalau kita sudah berpisah. Sesuai amanah Kak Robert aku akan memberitahu kebenarannya saat mereka berumur 18 tahun mengenai kebenaran bahwa kak Robert adalah ayah kandung mereka. Selama itu pula Andrew dan Angel akan tinggal bersamaku dan Mommy. Aku harap kamu memenuhi permintaan terakhir Kak Robert dan jangan sekali-kali merusak apa yang sudah menjadi permintaan Kak Robert."


Dengan penuh intimidasi dan kebencian Richard mendikte setiap perkataannya pada Vera.


"Baik. Aku akan mengikuti amanah Robert dan aku berjanji tidak akan mengatakan apapun pada Andrew dan Angel." Vera sambil menahan tangisannya takut dengan kemarahan Richard.


"Bagus! sejak awal aku dan Mommy tak pernah suka Kak Robert menikah denganmu. Karena saat itu kamu hamil anaknya maka kami dengan berat hati mengizinkan Kak Robert menikahimu. Kamu dengan tidak tahu malu malah masih mencintai mantanmu saat sudah menjadi istri kakakku. Dasar perempuan tak tahu diri. Bagaimana mungkin kebaikan keluargaku merawat mu, mengambilmu dari panti asuhan menganggapmu layak keluarga sendiri, seharusnya kamu berterima kasih saat Kak Robert menyukaimu dan mau kamu jadi istrinya. Bukan kabur memilih pria itu berpacaran dengannya. Hingga kalian sudah menikah kau masih mencintai mantanmu itu meski ia sudah menikah. Sungguh murah sekali dirimu Vera!" Richard dengan tatapan dan senyuman merendahkan mencibir Vera.


Vera tak menjawab apapun hanya membenarkan semua perkataan Richard dalam batinnya.


"Flashback Off


"Sebaiknya kau segera balik ke German. Untuk apa kamu datang kesini jika hanya untuk membuka kisah lamamu dengan pria itu. Lebih baik kau introspeksi dan fokus dengan penyakitmu kini!" Richard saat masuk ruang rawat kedua keponakannya.


"Izinka aku menemani kedua anakku sampai mereka sembuh setelahnya aku akan pamit dan kembali ke German." Vera menjawab ucap Richard sambil menatap sendu pada kedua putra dan putrinya yang kini tertidur lelap.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2