
Andin menghampiri Dinda diruang make up yang kini baru saja selesai sedang memakai gaun pernikahannya untuk resepsi malam ini.
"Cantik banget shay!" Andin merangkul bahu adik ipar plus sahabatnya itu.
"Serius Din?" Dinda tampak mematut diri di cermin memastikan penampilannya.
"1000 Rius malahan. Bisa ga ngedip Fandi lihat Lo Din!" Andin pinter gombal ketularan Satya.
"Ih Gw deg deg an tahu!" Dinda memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Ntar malem lebih deg degan lagi Din!" Andin dengan tawa renyahnya menyenggol bahu Dinda.
"Ih, maksud gw resepsi. Otak Lo ya. Dasar Emak-emak pikirannya!" Dinda menampilkan rona merah di pipinya.
"Ya, rasain aja sendiri. Emang sih pertama kali rasanya sakit, tapi selebihnya nagih shay!" Andin berbisik pada Dinda.
Dinda memutar bola matanya. Fix sahabatnya Andin sudah serupa emak-emak komplek yang mesum dan losdol mirip Bunda Dona ibundanya.
Kedua pengantin tampak memasuki ballroom hotel dengan perasaan bahagia bercampur dag dig dug.
Fandi yang melihat Dinda setelah pagi tadi akad nikah berlangsung, selama itu pula ia masih dipisahkan kamar oleh bunda-bundanya agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan mengingat malam ini mereka harus resepsi.
"Ga lucu dong, kalo kamu merah-merah plus susah jalan Din." begitulah ucapan Bunda Dona yang tanpa ayakan lolos tanpa disaring.
"Tenang, udah cantik. Relax honey." bisik Fandi ditelinga Dinda saat memasuki arena resepsi keduanya.
Bak raja dan ratu, keduanya mampu memukau para undangan yang menghadiri resepsi.
Sahabat, Rekan Bisnis, Relasi, Kerabat dan tentu saja genk sosialita para Bunda Cantik mereka turut meramaikan pesta malam ini.
Satya, Andin dan Abizhar turut mengiringi kedua mempelai saat memasuki ruangan tersebut.
...Fandi & Dinda Memasuki Ballroom Resepsi...
"Ma, Aunty cantik banget ya." Abizhar yang kini tersenyum menatap Aunty Dinda Favoritnya.
"Tentu, Aunty Dinda kan memang selalu cantik." Andin membenarkan perkataan Abizhar.
Kecantikan Dinda begitu memukau malam ini.
Dinda memang dasarnya sudah cantik namun malam ini tampilannya begitu perfect numero uno.
Fandi yang kini berada disamping Dinda tampak tak melepaskan pandangannya pada istri cantiknya itu.
Dinda menggandeng tangan suaminya selama di pelaminan.
"Cantik banget, jadi gemes!" Fandi yang berbisik pada Dinda membuat sang pemilik telinga tampak merinding tersapu deru nafas Fandi.
Dinda tentu saja semakin dad dig dug der ga pake daia ya Bun!
Satya menggendong Abizhar yang kelelahan plus ngantuk disampingnya tampak Andin membujuk Abizhar agar tetap stay dalam resepsi Aunty dan Unclenya.
Maklum ya Bun, namanya anak-anak kalau ngantuk suka rada tantrum dikit.
...Andin, Satya dan Abizhar...
Para tamu bergantian memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Mereka juga mengabadikan momen dengan berfoto bersama.
Gilang bersama bundanya tampak hadir memberikan ucapan selamat pada Dinda dan Fandi.
__ADS_1
Jodoh itu rahasia Allah, sekeras apapun manusia berusaha kalau belum jodoh tentu tidak akan bersatu.
Karena setiap manusia sudah diberikan jodohnya masing-masing oleh Allah SWT yang terbaik.
Seperti itulah suasana hati Gilang kala melihat Dinda yang kini bersanding bersama Fandi yang kini resmi sebagai suami istri.
"Brakk!!!
Hampir saja Gina terhuyung setelah ia tertabrak Gilang yang berjalan sambil melamun.
Dengan cepat Gilang menyadari perempuan yang ia tabrak dan segera tangan Gilang merengkuh pinggang ramping Gina dengan cepat dan tepat.
Kedua manik mata kedua insan beradu, mengunci tatapan yang seakan menusuk kalbu terbuai dalam atmosfer suasana romatis pesta pernikahan Dinda dan Fandi menyulap Ballroom hotel laksana istana sang putri dan pangeran dalam negeri dongeng.
Gina menyadari posisi dirinya segera menarik mundur melepaskan diri dari pelukan Gilang saat menahan dirinya yang hampir terjatuh.
"Sorry!" Gilang dengan canggung melepaskam jemarinya yang tampak nyaman merengkuh lekukan sang hawa.
Gina yang salah tingkah hanya tersenyum sambil mengangguk memilih segera berlalu dari hadapan Gilang.
"Gina, ini punya kamu."
Gilang yang memungut bros Gina yang terjatuh namun Gina tampak sudah tak terlihat lagi dihadapannya.
Gilang mengengok kesana kemari.
Tampak ia melihat Gina sedang sibuk, maklum Gina merupakan tangan Andin.
Gina tentunya sibuk mengatur jalannya acara malam ini.
Gilang pun mengurungkan niatnya menghampiri Gina, Memilih menyimpan bros milik Gina ke dalam saku jasnya.
Pria Bule berwajah tampan dengan fostur tubuh tegap dan siluet yang memastikan si pemilik amat gemar berolahraga masuk ke dalam Ballroom menghadiri pernikahan wanita yang sempat mencuri hari dan pikirannya.
" Happy Wedding Dinda, Fandi." ucap Daniel sambil memeluk Fandi tersenyum.
Daniel menerima bahwa wanita yang berhasil mencuri hatinya memilih Fandi sebagai pendamping hidupnya.
Namun Daniel turut mendoakan kebahagiaan Dinda yang kini telah bersanding dengan Fandi.
Merekapun mengabadikan momen bersama.
Tak ketinggalan Sahabat Abizhar turut hadir dalam pesta Aunty dan Unclenya tersebut.
Kedatangan sahabat-sahabatnya membuat Abizhar melupakan kantuk yang sempat membuatnya tantrum hingga mata melotot sang Mama harus kembali terlihat.
Andrew, Angel, Dito dan Caca malam ini begitu rapi.
Tampan sekali Andrew dalam balutan jas, dan Ditopun memakai jas namun warna dan model yang berbeda.
Sedangkan Angel, gadis cilik dengan wajah bulenya mengenakan gaun yang sangat cantik dan pas untuk usia dan kecantikannya malam ini.
"Caca manis banget, cantik." gumam Andrew saat Caca datang bersama Omanya.
"Siapa yang cantik? aku ya?" Angel sengaja pura-pura tidak mendengar Andrew mengatakan Caca yang dianggapnya cantik dan manis.
"Bukan siapa-siapa." Andrew memilih bergabung bersama dengan Abizhar dan Dito yang kini sedang menemani Miss Lala guru mereka yang turut hadir dalam pesta tersebut.
Miss Lala yang hadir atas undangan Dinda malam itu memang begitu cantik, penampilannya malam ini berbeda saat ia sedang mengajar sehari-hari.
"Wow, Miss Lala, So beautiful." puji Dito pada gurunya.
"Miss, you amazing. So cute Miss!" Angel tak ketinggalan memuji sang guru.
"Miss, Om Jeruk datang kesini." Caca berbisik pada Miss Lala.
__ADS_1
"Uncle Daniel!" sapa Abizhar, Andrew dan Angel.
"Hai Girls, Boys!"
"Hai, Miss Lala." sapa Daniel yang kali kedua berjumpa dengan Miss Lala.
"Hai Tuan Daniel." jawab Miss Lala.
Senyum itu yang membuat Daniel terus mengingat sejak pertemuan pertama di toko buah kala itu.
Tak dipungkiri Daniel, Senyuman Miss Lala seakan membuatnya selalu terbayang guru dari Andrew dan Angel.
"Mari Tuan Daniel." Miss Lala pamit meninggalkan Daniel.
"Syahla, Tunggu!" Daniel memanggil Miss Lala dengan nama lengkapnya.
Miss Lala menghentikan langkahnya.
Tak banyak orang yang memanggil ia dengan nama aslinya karena Miss Lala memang mengenalkan diri sebagai Lala.
Daniel tampak kehilangan kata-kata saat Miss Lala kembali kehadapannya.
"Ada apa Tuan Daniel?"
"Bisa temani saya, saya penasaran ingin mencicipi makanan itu." Daniel dengan cepat mencari alasan dan sasarannya adalah stand yang menyediakan makanan khas indonesia yaitu bubur kampiyun.
Miss Lala pun menemani Daniel menuju stand yang menyediakan makanan yang memiliki rasa manis dan gurih.
...Bubur Kampiyun...
"Ya Allah Dito, ga kenyang-kenyang perasaan Caca." Caca yang melihat Dito bolak balik mencicipi makanan di pesta Aunty Dinda.
"Dito ga banyak kok makanannya, baru nyobain bubur kampiun, sate ayam, kambing guling, bakso malang, zupa soup, siomay. Dito aja belum makan nasi." dengan santai Dito melirik piring Andrew yang sedang menikmati nasi dan lauk pauknya.
"Astagfirullah Dito! makanya kalo makan baca doa. Biar ga dibantuin setan." Caca yang kesal mendengar sangkalan Dito.
Abizhar dan Angel hanya senyum melihat Caca ngomel pada Dito.
"Abizhar ga makan?" Angel yang kini menikmati salad buah.
"Silahkan, tadi Abizhar sudah makan sebelum acara." jawab Abizhar.
"Caca, ga makan nasi?" Andrew bertanya pada Caca yang kini sedang menikmati puding.
"Ga, Caca lagi diet Andrew." Caca lagaknya seperti wanita dewasa.
"Alah, gaya kamu ca, paling tadi juga udah makan Bakso." Dito meledek Caca.
"Ih Dito ga percaya amat sih. Caca tuh pengen kayak Mama Andin dan Aunty Dinda, langsing dan cantik!" Caca memang mengagumi kedua wanita di keluarga Abizhar itu.
"Aunty Dinda makannya banyak, Caca ga tahu aja." Abizhar dengan polos membocorkan kebiasaan Auntynya.
"Masa Sih? Andin Dinda ramping dan Cantik gitu?" Caca yang meragukan kata-kata Abizhar.
"Caca juga cantik!" perkataan Andrew melirik kearah Caca.
"Hahahahahaa, Andrew harus periksa mata deh. Caca cantik? Cantik, kalo dilihat dari ujung Monas!" ledek Dito mendengar pujian Andrew pada Caca.
Tentu saja Caca kembali bertengkar dengan Dito membuat Miss Lala menghampiri keberadaan murid-muridnya yang menarik perhatian sekitarnya karena keributan mereka.
...****************...
__ADS_1