Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 87 Gombal


__ADS_3

Andin dengan serius mendengarkan permintaan kliennya yang sedikit detail untuk wedding kliennya sekitar bulan depan.


"Mbak Andin aku percaya sama mbak pasti bisa mewujudkan wedding impian aku." wanita berwajah imut yang menjadi klien Andin seorang bintang film terkenal tanah air.


"Saya dan tim akan berusaha semaksimal mungkin agar pernikahan impian Mbak Prilly dan Mas Reza bisa terwujud." Andin dengan senyum manis penuh keyakinan.


"Ok kalo gitu Mbak Andin aku permisi dulu ya, masih ada jadwal syuting." Andin dan Sang aktris bercipika cipiki sebelum akhirnya meninggalkan kantor Andin.


"Mari saya antar Mbak, Mas." Gina mengantarkan klien mereka keluar.


Andin meregangkan punggungnya sambil mengusap perutnya yang kini sudah mulai membesar.


"Sayang, kamu pengertian sekali nak kalau Mama sedang kerja." Andin dengan lembut mengusap perutnya berbicara pada janin dalam rahimnya yang seolah mengerti akan kesibukan sang Mama.


"Mbak, Gina mau langsung ke Kempinski ya, mau ngecek disana." Gina minta izin saat memasuki ruangan Andin.


"Gin, mungkin nanti Mbak pulang lebih cepat, mau periksa ke dokter. Titip kantor ya." Andin memberitahu Gina.


"Ok Mbak. Gina langsung ya." Gina selepas izin segera otw tempat tujuannya.


Andin mencari HP berniat menghubungi sang suami.


Seakan sehati dering HP Andin menunjukkan panggilan Satya suaminya.


"Assalamualaikum Mas. Baru aku mau telp Mas. Eh udah keduluan." Andin dengan senyuman merekah dibibirnya.


"Waalaikumsalam Sayang. Wah kita sehati dong." Satya dengan suara renyah membuai telinga Andin.


"Mas nanti aku jadwal kontrol kedokter. Mas jemput jam berapa?" Andin menanyakan suaminya.


"Insha Allah jam 5 Mas sampai ke kantor kamu. Kenapa? Udah kangen ya Sayang?" Satya menggoda istrinya.


"Kok tahu?" Andin layaknya Abg yang dirayu pacarnya.


"Karena kamu adalah belahan jiwaku."


Mohon maaf ini Satya atau Denny cagur ya. Hehehehe...


Andin tertawa dengan gombalan Satya.


Suami yang sudah 10 tahun menikahinya tak pernah kehabisan rasa cinta dan sayangnya pada Andin dan keluarga.


"Mas lagi apa?" Andin menanyakan aktivitas Satya.


"Lagi sibuk." jawab Satya.


"Oh sibuk ya. Sibuk apa sih?" Andin jadi merasa tak enak.


"Sibuk mikirin kamu." Satya lagi-lagi meluncurkan gombalannya.


"Ya Allah Mas, Aku pikir lagi sibuk beneran, aku takut ganggu." Andin masih saja merona meski setiap hari mendapatkan gombalan suaminya.


"Sayang, sudah makan?"


"Aku males banget deh Mas makan." Andin yang sedang kurang berselera makan.


"Kamu mau Mas orderin online aja? Kepingin makan apa gitu?" Satya menawarkan.


"Apa ya? Bingung aku." Andin tak terpikir apapun.


"Sayang, kalo bakso mau?" Satya teringat Bakso Pak Kosim yang ramai pengunjung.


"Wah boleh juga Mas." Andin terpikir sepertinya enak juga.


"Kalau gitu Mas orderin ya. Mau berapa? Sekalian buat karyawan disana."


"Wah makasi Mas." Andin sambil mengingat siapa saja pegawainya yang masih dikantor.

__ADS_1


"Ok. Sayang. Selamat menunggu baksonya ya. Selamat makan. Awas jangan banyak-banyak kasih sambelnya nanti kasian Baby." Satya mengingatkan.


"Iya Mas makasi banyak suamiku yang baik. Love banget deh. Muach!" Andin dengan ciuman mengudara.


"Kalo yang barusan harus diulang saat Mas jemput ya." Double pokoknya! Mas tutup ya, Assalamualaikum." Satya mengucapkan salam sebelum menyelesaikan obrolannya.


"Waalaikumsalam." Jawab Andin.


Gina terpaksa pergi menuju lokasi sendirian karena yang lain sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Bulan ini jadwal wedding dan enggagement sangat padat.


Minggu ini saja ada 4 event, 3 wedding dan 1 enggagement.


Memasuki Lobby hotel Gina tampak terburu-buru sambil menelpon pihak hotel.


"Gina!"


Gina yang sedang sibuk dengan HP ditelinga tak mendengar ada suara yang memanggilnya.


Gina sudah handal menangani klien dan paham bagaimana semestinya.


Wajar jika Andin percaya dan menjadikan Gina Sekretaris sekaligus asisten pribadinya.


"Ok kalau begitu terima saya pamit. Jika ada perubahan kabari Saya secepatnya." Gina berjabat tangan saat meninggalkan pihak hotel.


Dengan langkah cepat Gina bergegas keluar hotel akan balok ke kantor sesuai dengan pesan Andin.


"Gina! Tunggu!" bahu Gina dicengkram seseorang dari belakang saat ia akan membuka mobil.


Reflek Gina dengan sekali tarik membuat tangan orang yang menyentuh bahunya dibuat melintir dengan jurus silat yang ia miliki.


"Awwwww! Ini aku Gilang, Gin!"


Gilang yang merintih sakit sakit tangannya dikunci dengan sekali tarik oleh Gina dengan jurus silat.


Gilang memegang tangannya yang sakit dengan wajah masih meringis.


"Kamu lagian ngapain sih!" Gina kesal saat tahu Gilang yang ternyata ia piting.


"Kamu yang apa-apaan main piting aja. Tanganku terkilir nih!' Gilang mendramatisir sakit ditangannya.


"Lemah banget!" Gina dengan santainya.


"Eh mau kemana? Kamu harus tanggung jawab. Anterin aku kedokter." Gilang sengaja menjadikan alasan sakitnya agar Gina mau tanggung jawab.


"Masa begitu doang mesti kedokter." Gina curiga Gilang berpura-pura.


"Ini memang sakit Gina!" Gilang meninggikan suaranya dan merintih sakit.


Gina yang seharusnya balik ke kantor, namun ia harus bertanggung jawab menemani Gilang berobat.


"Untung saja tanganku tidak patah! Tapi ininsakit sekali." Gilang setelah periksa ke dokter.


Gina mau tak mau harus mengantar Gilang pulang karena Gilang mengatakan tangannya sakit hingga ia tak bisa menyetir.


"Hei, kamu diam saja sih. Iba sedikit kek. Inikah gara-gara kamu."


Gilang yang sejak tadi mengoceh tak mendapatkan jawaban ataupun tanggapan dari Gina.


"Itu rumah yang warna putih, pagar hitam." tunjuk Gilang pada Gina.


Gina menepikan mobil Gilang.


"Sudah sampai kan? Aku pamit." Gina yang memberikan kunci mobil pada Gilang dan akan bergegas balik.


"Mana bisa begitu, Tas ku terus barang,barang dimobil siapa yang bawa? kalo tanganku tidak sakit aku pasti ga minta tolong. Tapi karena..." ucapan Gilang terhenti.

__ADS_1


"Iya. Sini aku yang bawa! Manja banget!" umpat Gina kesal.


Gilang berjalan mendahului Gina dengan tersenyum sementara Gina membawakan Tas dan barang-barang Gilang mengikuti Gilang memasuki rumahnya.


"Mas Gilang, Sini Saya..." ucap seorang security pada Gilang yang terhenti karena Gilang memberikan kode larangan.


Gina yang dengan wajah kesalnya merasa Gilang sedang mengerjainya namun ia memilih menuruti daripada Gilang semakin lebay.


"Assalamualaikum Bun." Gilang menyapa Bundanya saat memasuki ruang keluarga dengan Gina berada dibelakanh Gilang membawa Tas dan barang-barang Gilang.


"Waalaikumsalam. Tangan kamu kenapa Lang? Loh ini siap" Bunda Gilang yang kaget Gilang datang dengan seorang wanita dan tangan Gilang yang dibebat.


Gina menyapa Bunda Gilang, mencium tangannya.


"Saya Gina tante, maaf Saya tadi tidak sengaja membuat tangan Gilang terkilir." Gina yang tak enak hati melihat raut kekhawatiran ibu Gilang pada putranya.


"Gapapa, lagipula masa Gilang bisa terkilir sama perempuan. Gilang itu padahal jago..." Bunda Gilang menghentikan ucapannya seiring Gilang menyela pembicaraan mengalihkan Bundanya.


"Bun, aku minta tolong dong, panggilin Bibi buatin jus buat aku sama Gina." Gilang segera menyelak ucaoan Bundanya.


Bunda Gilang akhirnya menuruti permintaan Gilang.


"Gina, berikan pada Bibi Tas dan Barang-barang Gilang."


Gina menyerahkan kepada Bibi yang membantu dirumah Gilang.


"Bi sekalian buatin jus Alpukat satu, Gina mau jus apa?" Bunda Gilang menanyakan Gina.


"Tante Saya langsung pamit pulang saja." Gina berdiri mohon pamit.


"Sebentar Nak Gina. Tunggu Gilang sebentar." Gilang yang sedang ke kamarnya mengganti baju kantornya dengan pakaian rumah.


"Mohon maaf Tante tapi Saya buru-buru karena jarus balik ke kantor." Gina dengan bergegas segera pamit pada Bunda Gilang.


"Oh iya. Kalo begitu terima kasih ya Nak Gina. Maaf merepotkan." Bunda Gilang berdiri mengantar Gina.


"Kalo gitu saya permisi dulu Tante. Assalamualaikum." Gina undur diri dari rumah Gilang.


"Bunda, Loh kok ga ada?" Gilang menuju ruang keluarga dimana tadi Bunda dan Gina berada.


Bunda Gilang masuk mendekati putranya dengan wajah juteknya.


"Bun Gina mana?" Gilang meleongok kearah pintu tak dilihatnya Gina.


"Sudah pulang. Lagian kamu kenapa pake acara pura-pura segala." Bunda sambil menepuk lengan Gilang.


"Sakit Bun!" Gilang meringis.


"Bilang sama Bunda, kamu suka ya sama Gina?" Bunda dengan tatapan penuh intimidasi.


"Kalo iya kenapa? Bukannya Bunda bilang aku harus move on?" Gilang kini balik bertanya.


"Bener sih. Tapi jangan kamu kerjain begitu anak orang. Lagian Masa sabuk hitam taekwondo bisa kalah sama cewek?" Bunda meledek Gilang.


"Gina itu jago silat Bun. Bunda tahu Kong Ali yang ketua PB IPSI yang Bunda temui saat mendampingi Ayah waktu acara kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki? Nah Gina itu salah satu murid seniornya." Gilang yang memang sidah mencari latar belakang Gina sampe keakar-akarnya.


"Wah seru dong kalo begitu! Ga kebayang kalo nikah malam pertamanya bakal heboh!" Bunda Gilang yang memang sangat ceplas ceplos dengan asal berbicara begitu.


"Bunda! nikah aja belum! Emang Bunda setuju kalo Gilang deketin Gina?"


"Ginanya mau ga sama kamu? kayaknha Gina ga tertarik deh sama kamu?"


"Asal Bunda setuju, urusan Gina, serahin aja sama Gilang."


"Duh, yang takut kena tikung lagi. Gercep amat!" Bunda entah tahu istilah gercep darimana.


Gilang tersenyum penuh arti. Tentu saja dengan restu Bundanya Gilang mantap melancarkan segala cara agar bisa mendapatkan Gina.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2