Menikahi Kakak Sahabatku

Menikahi Kakak Sahabatku
Bab 31 Bakwan Sengketa


__ADS_3

Andin, Satya dan Dinda mengantar Bunda Dona dan Mama Shopia ke bandara.


Bunda Dona menemani Mama Shopia menjalani pengobatan ke Amerika.


Dokter yang menangani pengobatan Mama Shopia mengabarkan bahwa Mama Shopia bisa menjalani serangkaian pengobatan di Amerika.


Demi ikhtiar menjemput kesembuhannya Mama Shopia mengikuti saran dokter.


Andin ingin sekali menemani Mama Shopia namun kondisi Andin yang sedang hamil tentu membuatnya tidak memungkinkan menemani Mama Shopia menjalani pengobatan ke Amerika.


Bunda Dona yang memang semakin dekat dengan Mama Shopia memilih mendampingi Mama Shopia menjalani pengobatannya.


"Mama, Bunda sering-sering kirim kabar pada kita." Ansin memelul kedua ibunya melepas keberangkatan keduanya dengan doa dan harapan yang besar akan kesembuhan Mama Shopia.


"Mama, Semoga cepet sembuh, cepat sehat dan pulih seperti sedikala. Bunda juga sehat selalu. Telpon aku ya." Peluk Dinda secara bergantian pada Mama dan Bundanya.


"Bun, Ma, Satya doakan Mama berhasil dan tetap semangat menjalani pengobatan. Semoga Allah mengijabah doa dan ikhtiar kita. Kirim kabar ya Ma, Bun." Salim salim kepada kedua ibunya.


"Kalian tidak usah khawatir, Bunda akan menjaga Mama Shopia. Doakan Mama Shopia agar diberikan kelancaran dan kesembuhan. Mama titip Andin dan Dinda ya Sat." Bunda Dona memeluk anak-anaknya.


"Terima kasih. Kalian anak-anak Mama yang baik. Mama yakin Allah akan mengabulkan doa-doa kita. Andin jaga kandunganmu, jaga cucu mama. Mama yakin akan segera kembali dengan sehat. Ya kan Jeng?" Mama Shopia meminta penguatan dari besan sekaligus sahabatnya.


Perpisahan meski hanya sementara selalu menyisakan haru dan airmata.


Melepas orang tua tercinta, mendoakan kesembuhannya, berikhtiar memperjuangan kesembuhan menjadi momen yang mengharu biru.


Lambaian tangan kedua ibu saat memasuki pesawat menyisakan sejuta harapan dihati semuanya.


Semoga akan ada keajaiban yang Allah takdirnya bagi kesembuhan Mama Shopia.


Andin tentu saja dengan segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya, mengikhlaskan keberangkatan kedua ibu tercintanya.


Dalam setiap sujud dan doa tak lupa Andin titipkan kesehatan, keselamatan bagi kedua ibunda tercintanya.


Begitupun Satya dalam setiap hembusan nafasnya, ia begitu tulus mendoakan agar keajaiban bisa memilih ibu mertuanya dlam meraih kesembuhan atas izin Allah aja wajalla.


Usia kehamilan Andin memasuki bulan ketiga. Sudah sebulan lebih Bunda Dona dan Mama Shopia berada di Amerika.


Keduanya secara rutin mengabarkan progres pengobatan Mama Shopia.


Betapa senang hati keduanya secercah harapan yang ada semoga menjadi jalan kesembuhan dari Allah SWT bagi Mama Shopia.


Tanpa luput syukur yang terucap dari bibir ketiga putra dan putri tercintanya mendengar kabar bahagia tersebut.


"Dokter mengatakan 2 kali tahapan pengobatan dan diakhiri transplantasi. Insha Allah jika semua berjalan baik Mama bisa segera kembali ke Indonesia." Jelas Mama Shopia didampingin Bunda Dona saat mereka Zoom bersama dengan ketiga anak-anaknya Satya, Andin dan Dinda.

__ADS_1


Tentu hal paling membahagiakan bagi keluarga adalah berkumpul bersama orang-orang tercinta.


Satya dan Andin berencana mengadakan tasyakuran dan kepulangan Mama Shopia dan Bunda Dona sekaligus empat bulanan Andin.


Semuanya menyetujuinya.


Perut Andin sedikit membesar.


Mulai terlihat sedikit buncit.


Tampak saat ini ketika Andin mengenakan pakaian-pakaian kantornya menjadi lebih ketat ditubuhnya.


"Mas aku tambah gendut." Andin mengusap perutnya sambil menatap wajah dan dirinya dicermin.


"Apaun kamu tetap paling cantik Sayang." Satya memeluk Andin dari belakang.


Andin membantu Satya bersiap kekantor.


Ketiganya sudah duduk di meja makan menikmati sarapan dengan lontong sayur.


Satya sudah tidak lagi mengalami mual-mual.


Betapa senang kini selera makan Satya sudah kembali seperti sedia kala.


Hanya saja perubahan mood Satya belakangan lebih sensitif.


Ya begitulah. Nampaknya Allah memberikan keistimewaan bagi Satya bisa merasakan apa yang dirasakan ibu hamil.


Seperti pagi ini, Satya asik menikmati lontong sayur sebagai menu sarapan pagi mereka.


Saat bakwan goreng yang terhidang dimeja tinggal satu karena bibi masih melanjutkan menggorengnya didapur.


Satya menatap bakwan yang tinggal 1 begitupun Dinda.


Keduanya serentak mengambil bakwan tak berdaya tersebut.


Naas bagi Satya tangannya kalah cepat dengan Dinda.


Kriuk,Kriuk. Dinda mengunyah Bakwan kontroversi tersebut dengan nikmat.


Satya dengan wajah kesal bibirnya manyun melihat Dinda dengan nikmat menikmati bakwan sengketa tersebut.


"Kak nanti siang jadi mampir ke kantor?" Dinda memasukan gigitan terakhir bakwan penuh kemenangan tersebut.


"Bukan kakak, rekan kakak yang lain yang akan audit." Satya dengan tatapan kesal, bakwan pujaannya tandas dilahap Dinda.

__ADS_1


Dinda masih tak menyadari bahwa bakwan nikmatnya yang kini pindah domisi ke perut Dinda mendapat tatapan jutek Satya.


Andin mengetahui kekesalan Satya akan bakwan incarannya ditelan habis Dinda membawa sepiring bakwan yang masih hangat ke meja makan.


Layaknya pacar yang posesif Satya bergegas mengamankan piring bakwan didekatnya seolah menegaskan. It's my mine.


Dinda melihat Satya mengamankan piring bakwan heran melihatnya.


"Kak Satya, piring bakwannya ketengahin dong. Aku mau nih." Dinda melihat tampak piring bakwan masuk teritorial kakaknya.


"Kamu masih ga puas udah ngambil bakwan terakhir." Satya seolah layaknya tentara menjaga perbatasan kini mengamankan piring bakwan dari serangan Dinda.


"Ya ampun, pantes ketus amat dari tadi. Dasar Pakmil. morning sickness nya ilang berganti mood swing." Dinda menertawakan sikap kakaknya yang selayaknya bumil pada umumnya.


Andin tersenyum melihat suami dan sahabatnya berselisih gara-gara bakwan.


"Nanti aku buatin deh. Bakwan aja direbutin. Kalah Choi Si Won." Andin geleng-geleng kepala melihat kelakuan kakak beradik.


"Itu makanan korea ya sayang? Coba beli dong Mas mau cobain." Satya dengan sotoy menganggap nama tersebut adalah kuliner khas korea.


"Gimana bisa Choi Si Won kakak cobain. Emang kakak udah suka cowok." Dinda menepuk jidat ga menyangka kakaknya ga kenal Choi Si Won.


Satya ga peduli dengan kata-kata istri dan adiknya. Satya tetap asik mengunyah bakwan dihadapannya dengan perasaan senang.


"Baby nanti kalau lahir jangan mirip Papa ya, mirip Mama dan Aunty aja." Dinda mengelus perut Andin.


"Enak aja. yang ada Baby anak Papa yang pinter nanti jangan mirip Aunty. Papa ga mau Baby kalo udah besar jadi Jones." Satya meledek Dinda.


"Aunty itu Jojoba Baby." Dinda membela diri tak mau kalah.


Andin hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal melihat keributan adik kakak dihadapannya.


Ketiganya berangkat kantor setelah berbagai drama sarapan dan konflik bakwan usai.


Andin duduk disebelah Satya.


Satya mengantar Andin menuju kantor.


Sebelumnya mampir ke toko kue untuk dibawa ke kantor.


Hari itu Andin ingin memberikan surprise kepada salah satu Staf senior di Tim nya yang usianya selayaknya ibu bagi Andin.


Satya pun menuruti kemauan istrinya.


Dan saat Andin memilih kue yang akan dibelinya Satya selangkah lebih maju sudah meminta pramuniaga membungkus red velvet slice untuk dirinya.

__ADS_1


Andin yang melihatnya tampak tersenyum.


...****************...


__ADS_2