
Fandi dan Dinda kini sudah berada dirumah mereka.
Selepas mampir ke rumah Satya dan Andin yang hanya 5 langkah dari rumah.
Ampun Thor kenapa kayak lagi dangdut 😄
Dinda sedang membersihkan make up di meja riasnya namun pandangan mata Dinda seolah menerawang entah kemana.
Fandi baru saja selesai mandi menggunakan handuk dililit dipinggangnya dengan rambut basah masih menetes.
"Sayang, kok ngelamun?" Fandi merangkul Dinda dari belakang.
Sontak tubuh dingin Fandi yang polos tanpa pelindung mengejutkan Dinda.
"Eh, Beib. Kamu sudah selesai mandinya?"
"Iya, emang kenapa? kamu mau ngajak aku mandi bareng ya? Aku gapapa kok mandi 2 kali kalo diajak mandi bareng kamu sayang." Fandi mengedipkan sebelah matanya menggoda Dinda.
"Iti sih alamatnya bukan mandi, yang ada bisa main basket!" Dinda dengan mata membulat.
"Kok kamu tahu aja sayang pikiran aku." Fandi yang melepas handuk dipinggangnya begitu saja.
"Nah,Nah ini mau ngapain?" Dinda masih saja terkejut dengan kelakuan suaminya.
"Kok muka kamu merah gitu si Sayang, kenapa kangen ya sama Naga?"
Dinda buru-buru ke kamar mandi mengamankan dirinya dari serangan Fandi.
Fandi tertawa melihat tingkah Dinda yang masih saja merona meski mereka bukanlah pengantin baru.
Fandi akhirnya melanjutkan pekerjaannya membuka laptop sambil bersandar di sofa kamar.
Dinda dengan mata terpejamnya menikmati air hangat yang kini merelaksikan tubuhnya begitu nyaman berlama-lama di bathup hingga tidak tahu jam berapa saat ini.
Pikiran Dinda terus menerawang.
Dinda memikirkan kapan ia akan merasakan hamil.
Dinda turut bahagia saat Andin memberitahukan bahwa Andin kini sedang hamil terlebih hamil kembar.
Tak ada sedikitpun iri dihati Dinda, Dinda percaya Allah akan memberikan ia anugrah harta yang paling berharga itu pada saat yang tepat.
Hanya saja pertanyaan orang, dan melihat Bunda-Bunda sering ditanyakan perihal Dinda yang tak kunjung hamil membuat Dinda sedih.
Ia merasa sedih Bunda-Bundanya mengalami hal seperti itu.
Terlebih Bunda Arini, mertuanya yang memang hanya memiliki anak satu-satunya yaitu Fandi.
Sering kali Bunda Arini ditanya oleh teman-temannya kapan Fandi punya anak, Kapan ia punya cucu.
Meski begitu tak pernah lisan Bunda Arini menyudutkan anak dan menantunya.
Bunda Arini sangat bijak, Bunda Arini yakin Allah akan memberikan segala sesuatu bagi hambanya yang terbaik dan disaat yang tepat.
Tanpa terasa airmata Dinda meleleh disudut matanya.
__ADS_1
Diam yang tadi hanya bergemuruh dalam pikirannya kini tak terasa Dinda terisak.
Dinda merasakan pilu hatinya disaat orang lain dengan mudahnya hamil namun begitu sulit dirinya untuk merasakan hal yang sama.
Memang sesuatu yang dikerjar akan lari dan cenderung menjauh.
"Aku hanya ingin hamil dan punya anak. Apakah itu berlebihan?" batin Dinda sering menyapa hati kecilnya dengan pertanyaan yang terdengar memilukan.
"Sayang, ada apa?"
Dinda tidak mengunci pintu kamar mandi hingga Fandi bisa masuk ke dalam.
Fandi yang mendengar sayup-sayup suara tangisan, mendekati kamar mandi dan benar Dindalah yang kini menangis dengan dirinya sedang berendam dalam bathup.
Dinda larut dalam renungan kesedihannya hingga tak menyadari kehadiran Fandi yang kini tengah memeluk dirinya.
"Ayok, bangun. Nanti kamu kedinginan masuk angin dan sakit Sayang." Fandi segera mengangkat tubuh istrinya mengenakan bathrobe dan menggendong ala bridle Dinda ke kamar.
"Maaf Sayang. Aku tertidur." Dinda seolah menutupi.
Fandi yang tahu rasanya apa yang kini membuat Dinda bersedih memilih mengambilkan baju dilemari pakaian dan membantu Dinda memakai pakaian agar tidak masuk angin.
Keduanya kini duduk bersandar diatas ranjang.
Fandi merebahkan kepala Dinda di dadanya mengusap lembut kepala serta mengecup ringan kening istri tercintanya.
"Sayang, kenapa menangis?" Fandi membelai rambut Dinda.
"Kapan aku hamil ya beib?" Dinda dengan suara bergetar.
"Tapi kalau aku ga bisa hamil bagaimana?" Dinda menatap wajah Fandi dengan seribu tanda tanya.
"Sayang, apa kamu mau ke dokter? Aku tak akan memaksa jika kamu tidak siap. Lagi pula hamil afau tidak hamil, punya anak atau tidak punya anak, rasa cintaku, rasa sayangku kepadamu tidak akan berkurang. Lagi pula soal kehamilan tidak hanya pihak istri, ada peran suami juga. Bisa saja kamu belum hamil karena aku yang ada masalah. Kalau begitu bagaimana? Apakah kamu akan meninggalkan aku?" Fandi dengan penjelasan dan sudut pandangnya mengajal Dinda berdiskusi.
"Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu Beib. I Love you, Beib." Dinda memeluk Fandi.
"Sayang, ada atau tidak adanya anak ditengah kita bukan berarti kebahagiaan kita berkurang. Abizhar dan Calon Baby Twin Girl, juga anak kita. Jadi kenapa aku dan kamu harus mempersoalkan hamil atau tidak hamil." Fandi dengan senyuman manisnya.
"Semoga apa yang kamu katakan ikhlas dan tulis daei lubuk hatimu. Dan kamu tidak akan pernah meninggalkan aku beib." Dinda seakan masih ragu cemas suatu saat Fandi akan meninggalkan dirinya jika Dinda tal kunjung hamil.
"Insha Allah Sayang, aku berjanji."
"Tapi aku jiga ga mau di madu loh beib. Aku ga mau nanti suatu saat ada perempuan darang bawa anak mengaku istri dan anak kamu." Dinda dengan mata membulatkan dengan bibir mengkerut.
Melihat ekspresi wajah Dinda Fandi malah gemas dan langsung mengecup bibir merah Dinda.
"Jangan lagi kamu ngomong gitu Sayang, karena aku akan menciummu untuk membersihkan dari omongan yang tidak baik. Ucapan adalah doa. Maka berucaolah yang baik."
"Astagfirullah. Amit-amit, Amit-amit. Jangan sampe. Aku ga mau dan ga mampu walau hanya membayangkannya saja." Dinda mengetuk kepala dengan tangan dan mengetuk lantai seolah mitos untuk mengiringi kata Amit-amit.
Fandi tertawa melihat ulah Dinda yang aneh menurutnya namun disitulah letak uniknya yang membiat Fandi langsung kepincut sejak pertemuan pertama dirinya dengan Dinda perihal parkir memarkir mobil.
"Sayang, aku mau ngaku ya tapi kamu jangan marah."
Pikiran Dinda semakin macam-macam.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu punya cabe-cabean ya!" Dinda dengan praduga asalnya.
"Ya Allah kamu sayang. Bukan lah!" Fandi dengan tegas membantah.
"Terus apa? jangan bikin negative thingking deg!" Dinda jadi kesel sendiri.
"Kamu masih inget pertemuan kita pertama kali?"
"Inget banget! Ga bakal lupa!" Dinda langsung dibawa memorinya mengingat momen tersebut.
"Nah sebetulnya aku bukan pertama kali liat kamu karena kasus parkir mobil."
"Loh Mass? terus kamu pertama ketemu aku dimana? aku ga ngerasa pernah ketemu kamu selain gara-gara soal parkir."
"Kamu inget pernah ke Brevilia Hotel acara Love Care?"
Dinda memutar ingatannya. Dan Dinda kini mengingat kejadian itu.
"Oh iya aku kan datang karena diundang sebagai salah satu donatur di Yayasan Love Care yang didirikan oleh Bu Anara dan Pak Baskara. Memang kamu ada disana?" tanya Dinda menatap Fandi.
"Aku ada disana. Aku kan Lawyer mereka bahkan yang mengurus soal panti asuhan yang akhirnya di alihkan menjadi milik Bu Anara karena terancam bangkrut kemudian oleh Pak Baskara dibeli diatasnamakan untuk Bu Anara. Semua aku dan tim yang mengurus legalisasinya." Jelas Fandi.
Dinda hanya ber o ria tanpa ia mengingat ada sosok Fandi disana.
"Dari situ aku lihat kamu. Aku juga cari tahu tentang kamu. Tapi ga banyak yang aku tahu. Sampai akhirnya aku lihat kamu parkir mobil didepan rumah aku. Nah aku sengaja deh bikin masalah supaya aku bisa ketemu dan ngobrol sama kamu." Fandi jujur.
"Oh gitu. Pengacara kita bangak triknya ya, kayak sedang dipengadilan aja kamu ya pake strategi." Dinda kini menggelitik pinggang Fandi.
"Geli sayang."
Dinda tertawa dengan senang menggelitik Fandi.
Fandi kini membalas menggelitik Dinda dan keduanya malah berguling-guling bercanda.
Dinda kelelahan dan berhenti.
Fandi mengukung Dinda dengan kedua tangannya.
"i want you, honey." suara Fandi berat dengan tatapan teduh.
"Kita sering melakukan tapi aku tak kunjung hamil, apa kamu kecewa?" Dinda teringat kembali.
"Kalau kemarin belum, kita coba hari ini. Kalau hari ini belum, kita akan coba besok. Kuncinya adalah kita harus terus mencoba sayang. Bagaimana?" Kedip mata Fandi.
Tanpa suara hanya dengan gelengan Dinda menyetujuinya.
Fandi mendapat kesempatan dan angin segar tentu malam ini tidak akan ia lewati dengan sia-sia.
Malam yang panjang menjadi milik keduanya.
Seolah jangkrik dan cicak tengah mengintip keduanya yang kini dalam gulungan selimut.
Bintang seakan menjadi saksi atas kebahagiaan tang dinikmati oleh kedua insan yang memadu cinta dalam peraduan.
...****************...
__ADS_1