
Oma Dona dengan tak sabar saat memasuki rumah namun tak lupa tetap mengucapkan salam.
Kepulangan ketiga Oma tentu saja kaget mendengar cucu kesayangan mereka mengalami kecelakaan.
"Assalamualaikum." Trio Oma kompak mengucap salam.
"Waalaikumsalam." jawab berbarengan semua yang berada didalam rumah.
"Oma!" Abizhar memeluk ketiga Oma tersayangnya yang ia rindukan.
"Mana yang sakit Sayang?"
"Ini Lukanya sakit Sayang?"
"Gimana kata Dokter?"
Secara beruntun Trio segera mengecek kondisi Abizhar terlihat wajah ketiganya begitu cemas.
Andin, Satya, Dinda dan Fandi mencium tangan para orang tuanya yang disambut dengan pelukan hangat dari ketiga Oma kepada anak dan menantu mereka.
"Tenang Oma. Abizhar gapapa. Abizhar sudah sembuh lukanya. Sudah di obati sama Oma Dokter." Abizhar justru merasakan tubuhnya terombang ambing saat ketiga Omanya memutar mengecek tubuh Abizhar.
Secara bergantian Satya, Andin, Dinda dan Fandi menceritakan kronologis kecelakaan yang dialami Abizhar dan kawan-kawannya.
"Terus gimana sudah diusut?" Oma Dona tampak emosi mendengar ada kelalaian dari pihak penyedia Bus dan Pengemudi mengantuk saat Bus tersebut.
"Bunda tenang aja, Fandi bersama pihak sekolah sudah mengurus dan mengajukan laporan segera diproses. Tentu akan ada sanksi terhadap kelalaian tersebut." jawab Fandi dengan tenang agar mertuanya tidak semakin murka.
"Kamu harus pantau terus Fan, ini menyangkut nyawa anak-anak. Syukur Alhamdulillah Abizhar dan teman-teman semua selamat." Kini Oma Arini yang biasanya kalem dan lembut raut wajahnya sedikit tegang.
"Pasti Bunda." Fandi pun menenangkan Bundanya yang raut wajahnya mengeras dan tegang.
"Sayang, cucu Oma benar sudah tidak sakit?" Oma Shopia dengan sisa airmata yang masih terlihat dipipinya.
"Abizhar sudah sehat Oma. Oma jangan nangis dong." Abizhar dalam pangkuan Oma Shopia mengusap airmata Oma Shopia yang mengalir dipipinya.
Andin begitu terharu.
Abizhar putranya sangat amat beruntung memiliki keluarga yang begitu menyayanginya.
3 Oma sekaligus yang Abizhar miliki membuatnya tak kekurangan kasih sayang. Aunty Dinda dan Uncle Fandi juga tak kalah sayang pada Abizhar.
"Oma ayo semuanya kita makan dulu. Dinda dan Andin sudah masak buat semuanya."
"Yuk, Oma - Oma Cantik yang baik, makan dulu ya, biar tenang ga keluar tanduk lagi." Dinda melirik ke arah Bunda Dona ibunya.
"Ini sih sudah reda Din, waktu pertama dengar rasanya Oma mau langsung pulang, mau langsung bejek-bejek aja! Kesel! Panik Oma denger Cucu Oma kecelakaan. Rasanya lutut Oma lemes. Mau copot! Untung Shopia dan Arini menenangkan Oma." Bunda Dona berbicara tanpa titik koma.
"Oma lucu deh. Terima kasih Oma Dona, Oma Shopia dan Oma Arini sudah khawatir dengan Abizhar. Abizhar sayang Oma-Oma Semua." Abizhar tertawa mendengar reaksi Omanya sekaligus bahagia mengetahui Trio Oma begitu menyayanginya.
"Yuk kita makan dulu Oma. Kalo ngobrol terus ga jadi-jadi makan." Satya mengingatkan semuanya.
"Papa Abizhar yang pimpin doa ya?" Abizhar mengajukan diri.
__ADS_1
"Boleh Nak. Ayo mulai." Satya senang putranya kini mulai belajar memposisikan diri sebagai pria dalam keluarganya.
Abizhar dengan fasih memimpin membaca doa makan.
Tentu saja diikuti semua anggota keluarga dan mengaminkannya saat doa telah usai.
Malam pun tiba.
Semua sudah beristirahat didalam kamarnya masing masing.
Fandi, Dinda dan Oma Arini kembali ke rumah mereka.
Abizhar sudah tidur setelah makan dan minum obat.
Kini dalam ruang kerja Satya ada Oma Dona, Satya dan Andin.
Oma Dona sudah mengetahui dari Dinda konflik seputar Vera, Satya dan Andin.
Sengaja tanpa menunda malam ini secara pribadi Oma Dona mengajak keduanya berbicara.
"Satya, Andin, duduk. Ada yang ingin Bunda bicarakan." raut wajah Bunda Dona pun tampak serius kala keduanya masuk kedalam ruangan itu.
Andin dan Satya duduk bersebelahan sedangkan Bunda Dona berada dihadapan mereka.
"Kalian tahu kenapa apa yang mau Bunda bicarakan?"
"Tahu Bun."
"Satya, coba jelaskan pada Bunda dan Andin bagaimana semua ini bisa terjadi?" Bunda Dona meminta penjelasan Satya.
Bunda Dona menarik nafas panjang.
Perlahan Bunda Dona mengatur nafasnya, dan mulai berbicara.
"Satya, dengarkan apa yang akan Bunda katakan. Saat kamu dan Andin ijab qabul waktu itu, maka apapun yang ada dalam diri kamu adalah hak Andin dan sebaliknya apapun yang ada pada diri Andin adalah hak kamu. Seharusnya kamu jujur sejak awal pada Andin. Katakan dengan sejujurnya secara jelas sehingga tidak menimbulkan salah faham. Karena kini status kamu adalah seorang suami dan ayah Satya. Bahkan dalam perut Andin kini sedang mengandung anak keduamu, Adiknya Abizhar. Bunda bukan membela Andin, namun wajar jika seorang istri merasakan kekecewaan saat mengetahui suaminya bertemu mantan pacarnya tanpa sepengetahuan pasangannya."
"Satya, Bunda tahu Vera kini sedang menderita sakit kronis. Namun bukan tanggung jawabmu dan bukan hakmu memperhatikan kondisinya. Karena tanggung jawabmu yang utama adalah menjaga istri dan anak-anakmu. Bukan mengurus orang lain yang tak punya hak apapun atas dirimu."
"Bunda tidak ingin, ada perceraian atau perpisahan pada rumah tangga anak-anak Bunda. Lain soal jika seperti Bunda dan Ayah dipisahkan karena maut menjemput Ayah lebih dahulu."
"Satya, ingatlah bahwa apa yang Allah takdirkan padamu adalah yang terbaik untuk dirimu. Karena Allah lebih tahu apa yang hambanya butuhkan bukan hanya sekedar apa yang kita inginkan. Kamu dan Andin ditakdirkan berjodoh, itu sebabnya ada saja jalan kalian sampai menikah hingga kini akan memiliki dua anak."
" Satya, jangan main-main dengan pernikahan, karena pernikahan bukanlah permainan. Janjimu saat ijab qabul bukan hanya pada Andin, Bunda dan orang yang hadir, namun janjimu langsung pada sang pencipta. Dan ingat Allah memang menghalalkan perceraian namun Allah sangat membencinya!"
"Minta maaflah pada Andin istrimu. Jangan kamu sakiti hatinya Satya. Terlebih ia sedang mengandung anak kalian."
Satya tak kuasa menahan tangisnya.
"Andin, maafkan aku. Tak ada sedikitpun aku tergoda dan goyah akan kedatangan Vera. Maafkan atas ketidak terbukaanku semua aku lakukan karena aku takut membuatmu marah dan cemburu. Andin sungguh aku kehilangan dirimu, diammu membuatku sadar betapa aku mencintaimu sayang." Satya memohon maaf pada Andin dalam pangkuan Andin.
"Maafkan aku Mas, aku juga salah. Aku tidak mendengarkan penjelasanmu. Aku terlalu cemburu saat perhatianmu selalu tertuju pada Vera sejak ia hadir. Kepalaku tak dapat berpikir karena ku tahu dulu kau begitu mencintainya. Masih jelas dalam ingatanku bagaimana awal-awal pernikahan kita tak satupun kenangan bersama Vera yang kau hapus di kamar dan HP mu. Saat Vera hadir kembali aku hanya takut hatimu kembali meragu apalagi saat tahu Vera dan Richard bukan suami istri dan kini Vera sedang sakit. Semua kenyataan itu menyesakanku. Aku hanya takut Abizhar dan Adiknya akan kehilangan ayahnya yang masih mencintai mantan pacarnya."
Andin menumpahkan semua isi hatinya.
__ADS_1
Kegalauan, Kebimbangan, kemarahan, dan rasa takut yang ada dalam diri, hati dan pikiran Andin seketika ia keluarkan tanpa sisa.
"Andin aku berjanji, Bunda menjadi saksi aku tidak akan pernah meninggalkanmu, sekalipun 1000 Vera hadir dihadapanku. Aku mencintaimu dan aku sangat menyayangi anak-anak kita. Bagaimana mungkin aku sanggup meninggalkan kalian, kalian adalah separuh nafasku, belahan jiwaku." Satya menumpahkan segala rasa dihatinya agar Andin yakin akan cintanya pada Andin.
Keduanya berpelukan dan saling memaafkan.
Bunda Dona terharu dan bahagia.
Rumah tangga anaknya kembali bahagia yang sempat berada pada bibir perpisahan.
"Sudah sebaiknya kalian lanjutkan di kamar. Bunda tahu kalian puasa cukup lama kan? Segera pergi. Bunda juga mau istirahat!" Bunda Dona keluar lebih dahulu meninggalkan kedua suami istri yang baru berbaikan.
"Sayang, yuk kita ke kamar."
Layaknya pasangan pengantin baru keduanya tampak tersipu malu.
Andin mengikuti Satya ke kamar mereka.
Menutup rapat dan menguncinya.
Andin duduk dipinggir ranjang. Melihat wajah istrinya yang menunduk Satya mendekati perlahan mengangkat wajah istrinya menjadi selurus dengan pandangannya.
"Sayang maafkan aku. Aku tak sanggup didiamkanmu berhari-hari. Diammu menyiksaku dan menyiksa dia." Satya menunjuk pada Raja Naga.
"Dasar mesum kamu Mas!" Andin menyubit pinggang Satya.
"Sayang percayalah Mas mencintaimu seluas hati Mas. Tak ada nama lain yang ada hanya namamu seorang." Satya entah kesambet setan gombal dari mana.
"Tapi saat matamu melihat sang mantan terindah seakan terhipnotis seolah Aku dan anak kita cuma ngontrak di bumi!" Andin masih kesal jika mengingat ekspresi Satya saat berjumpa Vera.
"Istriku kalau cemburu semakin cantik. Bikin Mas jadi ingin." Satya menggantung perkataannya.
"Dasar Omesh!"
"Sayang boleh ya, 2 minggu loh kamu portal sarangnya Raja Naga." Satya sambil memberi kode.
"Kamu bisa janji satu hal Mas?"
"Apa? katakan!"
"Jangan pernah menyembunyikan apapun, katakan semuanya padaku."
"Aku berjanji sayang. Mulai sekarang aku akan jujur semuanya. Taoi kamu juga janji jangan marah jika aku jujur."
"Tergantung. Kalo kamu masih menatap perempuan lain seperti saat kamu menatap Vera waktu itu aku akan marah!"
"Senang deh Mas, dicemburuin istri." Satya kini memeluk gemas Andin.
"Mas, ada baby pelan-pelan." Andin mengingatkan.
"Maaf nak, papa lupa. Abis mama kamu bikin papa gemes!"
Satya dan Andin kini tampak layaknya sepasang merpati yang saling bertukar rindu.
__ADS_1
...****************...