
"Janin ibu saat ini berusia 6 minggu." Jelas dr Obgyn yang memeriksa Andin.
Kebahagiaan tampak terlihat dari raut wajah semuanya tak terkecuali Andin.
"Ibu saya sarankan banyak istirahat. Karena seperti bulan lalu berdasarkan cerita ibu kalau saya analisa bukan haid namun hanya bercak tanda awal kehamilan. Untuk itu sebaiknya ibu istirahat. Meskipun ibu tidak mengalami morning sickness seperti wanita hamil kebanyakan. Saya akan memberikan Multivitamin dan jangan lupa konsumsi susu hamil serta makan buah dan sayur." Jelas Dokter.
"Selain itu berdasarkan apa yang bapak alami, ia wajar terjadi. Meskipun berangsur angsur akan hilang. Memang tidak semua mengalami kehamilan simpatik yang Pak Satya saat ini alami. Saya akan memberikan obat pereda mual sekaligus multivitamin kepada Bapak agar tidak lemas dan bisa tetap makan."Dokter kembali menambahkan penjelasan mengenai kondisi Satya.
Sesampai dirumah, Satya meminta Andin beristirahat sebaliknya Andin pun melakukan hal yang sama pada Satya.
"Sudah. Kalian berdua istirahat. Bunda dan Dinda yang akan merawat kalian." Bunda Dona meminta keduanya beristirahat.
Sementara itu Dinda berbincang pada Andin dan Satya menelepon rekan sekantornya berbicara mengenai pekerjaan.
"Din, nih" Dinda menyodorkan jeruk pada Andin.
Keduanya duduk santai di teras belakang.
" Baby, sehat-sehat ya keponakan aunty." Dinda mengelus perut Andin yang kini menikmati jeruk hasil kupasan Dinda.
"Nak, aunty Dinda baik banget nih sama Mama sejak ada kamu." Andin berbicara dengan janin dalam perutnya.
" Baby, aunty memang sudah baik dari dulu." Dinda membela diri.
Kedua tampak tertawa bersama dan bahagia.
Andin menatap wajah Dinda yang tertawa bahagia dengan kehadiran baby diperut Dinda.
Andin yang tahu Dinda belakangan menghindar dari keluarga sejak peristiwa di Bandung kini kembali terlihat senyuman diwajahnya.
Kehadiran Baby diperut Andin membawa kebahagiaan dan mengembalikan Dinda yang dulu.
Andin mencoba membuka percakapan.
Mungkin ini waktu yang tepat berbicara dari hati ke hati dengan sahabatnya itu.
Sebulan lebih Bunda Dona curhat pada Andin mencemaskan Dinda yang kabur-kaburan menghindarinya.
Sebagai orang tua Bunda Dona hanya ingin melihat Dinda bahagia.
Selayaknya pada Satya Bunda Dona juga ingin Dinda mendapatkan pendamping hidup yang mencintai dan menyanyangi Dinda.
Bunda Dona sedih saat tahu kekasih Dinda yang bernama Soni meninggalkan Dinda memilih menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Terlebih Soni juga kerap kali menyakiti Dinda dan Pernah mengkhianati Dinda.
Namun Bunda Dona kali ini mengalah.
Bunda Dona tidak akan memaksakan Dinda untuk menerima perjodohan.
__ADS_1
Bunda Dona paham betul watak anak gadisnya yang keras kepala, berbeda dengan Satya meski terlihat cuek namun masih memiliki hati lembut.
"Din, boleh gw tanya sesuatu ke lo?" Andin dengan wajah menatap Dinda.
Dinda sepertinya mengetahui arah pembicaraan Andin.
Dinda menggeser tubuhnya kini menatap ke depan.
Tak ada tanda penolakan Andin memulai pembicaraannya dengan Dinda dari hati ke hati.
Dengan sabar Andin mendengarkan segala keluh kesah serta kekhawatiran Dinda.
Tak biasanya Dinda seperti ini. Luka hatinya begitu dalam terhadap hubungannya dengan Soni.
Dinda pribadi ceria yang kini tampak sendu saat bertutur mengenai perasaan hatinya pada Andin.
Andin memeluk sahabatnya erat. Sangat erat.
Menyelami pilu hati Dinda dan membuat airmata Andin menetes.
Tak banyak kata yang bisa Andin ungkapkan dan katakan untuk Dinda.
"Din, jangan pernah menghindar dari gw. Begitupun Bunda. Bunda sangat sayang dan khawatir sama Lo Din. Kita keluarga. Apapun itu Lo bisa cerita ke Gw. Gw ini sahabat Lo Din. Anggap itu agar Lo nyaman seperti dulu. Gw sedih Din Lo ga ada kabar seperti kemaren-kemaren." Andin menangis terisak memelul Dinda
Andin menangis memeluk Dinda sahabatnya. Dinda menepuk punggung Andin.
"Iya maaf Din. Gw janji gw ga akan kabur-kaburan kayak kemaren." Dinda melepas pelukan Andin dan menatap wajah Andin mengusap airmata dipipi sahabatnya.
"Baby, Mama kamu ceneng banget sih. Kamu harus kuat kayak Aunty ya." Dinda kembali mengelus perut Andin berbicara dengan calon keponakannya.
Tanpa mereka ketahui Bunda Dona mendengarkan semua percakapan Andin dan Dinda.
Bunda Dona merasa sesak didadanya. Tak menyangka begitu pedih luka hati Dinda selama ini.
Mendengar semua keluh kesah Dinda pada Andin.
Betapa Putri tercintanya memiliki sisi rapuh meski selama ini tertutupi dengan sikap mandiri dan kuat yang Dinda tampilkan.
Satya merangkul Bundanya, menenangkan Bunda dalam dekapannya.
Satya pun berjanji akan terus menjaga Dinda adiknya.
Satya juga akan kembali menyelidiki Fandi.
Satya tertarik dengan Fandi. Satya memiliki feeling Fandi menyukai Dinda.
Namun sikap Fandi yang sering meledek dan menggoda Dinda membuat Dinda tidak merepon dan cenderung menghindari Fandi.
__ADS_1
Hal ini menjadi PR bagi Satya untuk terus mengawasinya Fandi.
Satya pagi ini sudah sehat dan segar kembali. Mengikuti saran dokter.
Meski selera makannya masih belum pulih dan sensitif terhadap bau-bauan namun wajahnya sudah segar tidak lagi pucat.
Andin menyiapkan sarapan bersama Bunda Dona.
Makan pagi kali ini Sayur Sop dan Ayam goreng.
Bunda Dona dan Dinda kini sementara menemani kedua suami istri tersebut.
Andin yang masih ingin bekerja tentu saja diberikan izin oleh Satya dengam syarat Andin harus selalu menjaga kesehatan dan tidak terlalu memforsir tubuhnya seperti dulu.
Satya tidak berdebat dan memaksa Andin berhenti bekerja karena Andin akan lebih senang memiliki kesibukan dan memang tidak betah berdiam diri.
Dinda juga kembali ke kantor karena beberapa waktu lalu ia banyak meninggalkan pekerjaannya.
Satya kembali beraktivitas seperti biasanya dan kali ini ia berangkat lebih awal karena hari ini ada kunjungan Bu Menteri di Kantornya.
Andin juga bersiap berangkat kantor bersama Dinda karena Satya berangkat lebih awal.
Hari ini ia rencananya akan meeting dengan klien menangani acara unduh mantu yang akan diselenggarakan di sebuah hotel di Jakarta.
Bunda Dona melepas kepergian putra putrinya dengan doa yang mengiringi setiap langkah dan usaha mereka.
Sebagai seorang ibu dan orang tua Bunda Dona tak lepas selalu dan terus berdoa untuk kebaikan putra dan putrinya.
Terlebih kini ia akan menjadi seorang Oma.
Janin di dalam kandungan Andin sebentar lagi akan membuatnya menjadi seorang nenek.
Bunda Dona duduk di halaman belakang.
Memandang sebuah foto pria berwajah mirip Satya namun karakternya serupa dengan Dinda sang putri.
"Mas, sebentar lagi kita akan memiliki cucu. Satya dan Andin akan memiliki anak. Aku bahagia sekali. Mas, bagaimana disana? Semoga Allah senantiasa melapangkan kuburmu Mas."
Bunda Dona memeluk foto pria yang dicintainya.
Pria yang kini sudah tenang dialam sana.
Pria yang membuatnya jatuh cinta.
Meski awalnya layaknya Tom and Jerry namun cinta keduanya tak lekang oleh waktu meski kini terpisah ruang dan waktu.
Pria yang mirip dengan Satya dan karakternya layaknya Dinda membuat Bunda Dona selalu merasakan kehadiran suami tercintanya dalam diri kedua putra putrinya.
__ADS_1
...****************...