
Lusa mereka akan kembali ke Indonesia.
Liburan kali ini bagi Andin terasa sangat spesial karena banyak hal yang istimewa terjadi dikeluarga mereka.
Andin yang telah berhasil menidurkan Abizhar kini mendekati Satya yang asik bermain games di HP nya.
"Sayang, Abizhar sudah tidur?" Satya memeluk pinggan Andin mencium ceruk leher istrinya.
Satya begitu menyukai aroma tubuh Andin dan membuat ia semakin candu dan ingin selalu berada dekat istrinya.
"Mas, nanti Abizhar bangun bagaimana?" Andin dibuat gelisah oleh sentuhan suaminya yang membuatnya dimabuk kepayang.
"Tidak. Abizhar sudah tidur katanya. Mas kangen kamu sayang." nafas Satya terdengar berat sambil terus berpetualang di area favoritnya.
"Mas aku bahagia, akhirnya Dinda dan Fandi akan menikah."
Andin sangat amat berbahagia sahabatnya sekaligus adik iparnya Dinda akhirnya akan menikah.
"Semoga Fandi selamanya akan selalu mencintai san mendampingi Dinda. Mas berharap Dinda selalu bahagia bersama Fandi." Satya terselip doa dan harapan terdengar daei ucapannya.
"Aamiin Ya Allah." Andin menjawab mantap ucapan Satya.
"Kalo denger ada yang mau nikah, rasanya aku jadi ingat malam pertama kita sayang, bagaimana malam ini kalo kita ulangi?" Satya dengan wajah tersenyum nakal sambil menaikkan kedua alisnya.
"Dasar mesum kamu Mas." Andin selalu paham keinginan suaminya.
"Abizhar sudah minta adik sayang, yuk kita cetak adiknya Abizhar."
Satya tanpa menunggu jawaban dan persetujuan sang istri langsung memulai star dan berlari sekuat tenaga, meraih kemenangan hingga garis finish.
Seakan perlombaan lari estafet, Satya dan Andin begitu kompak berkolabirasi mengikuti pertandingan yang sangat menegangkan malam ini hingga seluruh tenaga dikerahkan agar mencapai garis finish dan memperoleh kemenangan mutlak.
Entah berapa putaran tongkat estafet sudah tersampaikan kepada mereka seolah rute pendakian begitu panjang dan melelahkan.
Semua terbayarkan saat detik-detik terakhir keduanya kompak berteriak melepas segala ketegangan dalam perasaan lega dan bahagia.
Sisa-sisa pertandingan begitu tampak terlihat oleh kedua.
Seakan menjadi saksi bagaimana kedua anak manusia yang begitu gigih dalam memperjuangan kemenangan hingga garis akhir.
Layak bagi keduanya mendapatkan trofi setelah perjuangan panjang menghabiskan 1/3 malam menunaikan kewajiban dalam pertandingan babak penyisihan malam ini.
"Terima kasih sayangnya Mas Satya." Satya mengusap dahi Andin yang basah keringat kemudian mengecupnya.
"Untung Abizhar ga kebangun Mas. Kalau sampai kebangun bagaimana coba?" Andin seketika menoleh kearah ruangan sebelah yang memang terdapat connecting room dikamar mereka.
"Abizhar anak baik sayang. Dia paham Papa dan Mama lagi persiapan Launching Adik." Satya dengan senyumannya menjawab dengan santai.
"Ga bapak, Ga anak, ada aja jawabannya. Semoga kalau adiknya Abizhar lahir jangan seperti kalian berdua." Andin dari hati paling dalam.
"Justru kamu harusnya bangga sayang" Satya dengan senyuman membanggakan dirinya.
"Narsis!" Andin mencubit pinggan Satya.
Satya yang segera beranjak dari kasur hanya terkena sedikit cubitan Andin namun masih terasa sakit.
__ADS_1
"Cubitan kamu walau dikit tapi pedes juga sayang." Satya mengambil handuk bergegas membersihkan diri pasca pertandingan.
Andin bergantian membersihkan dirinya setelah Satya.
Untung saja pertandingan yang berlangsung tadi telah selesai, saat Abizhar terbangun ingin buang air kecil.
"Mama, Abizhar ingin pipis." Abizhar yang masih ngantuk matanya sambil terpejam berjalan mencari Andin.
"Sini anak Mama, yuk kekamar mandi."
Andin mengantar Abizhar dan menemani Abizhar ke toilet.
Setelah selesai Abizhar tak langsung ke kasurnya.
Abizhar naik ke ranjang Papa dan Mamanya.
Ia ingin tidur bersama Papa dan Mamanya.
"Abizhar kok bobo disini Sayang?" Satya saat melihat Abizhar audah mengambil posisi ditengah mereka.
"Abizhar mau bobo sama Papa dan Mama."
Abizhar sudah memeluk Andin memunggungi Satya.
"Untung pertandingan udah selesai, kalau belum bisa kentang." Gumam Satya pelan.
Andin yang mendengar gumaman Satya mengangkat kepaalanya menengok kearah sang suami.
"Papa, sudah malam tidur Pa." Andin mengatakan kepada Satya memberikan kode keras.
Satya mengusap kepala Abizhar.
Perlahan raut wajah Satya berubah melow.
Andin yang sedang menepuk-nepuk menidurkan Abizhar melihat kearah wajah suaminya.
Andin melihat ada gurat haru yang tampak dari wajah Satya kala menatap Abizhar.
Tanpa terasa kedua pria yang sangat Andin cintai telah tertidur pulas.
Andin memandangi Satya dan Abizhar.
Seketika Andin membenarkan perkataan semua orang bahwa Abizhar adalah miniatur Satya.
Baik wajah maupun perilaku kedua sangat mirip.
Andin tak pernah terbayangkan ia akan menjadi istri Satya dan Ibu dari Abhizar.
Pernikahannya yang dadakan dan terkesan instan kini justru dirasakan sangat bahagia.
Andin tak pernah menyangka, ia akan mencintai pria yang saat itu tiba-tiba menjadi suaminya.
Pria yang merupakan kakak dari sahabatnya.
Pria yang merupakan klien WO Andin.
__ADS_1
Pria yang sama sekali tak ia kenal dekat.
Pria yang kini menjadi suaminya.
Pria yang kini menjadi ayah dari putranya.
Tak henti dalam setiap doa dan sujudnya Andin berterima kasih kepada Allah.
Karena Allah telah mengirimkan kebahagiaan melalui cara yang tidak terduga.
Malam itu di langit benua yang ditemukan oleh Colombus, ketiganya terlelap dalam mimpi indahnya.
Satya, Andin dan Abizhar.
Siapa yang tahu barangkali selepas liburan mereka mendapat anggota keluarga baru.
Tentu saja hal tersebut akan membuat keluarga senang dan bahagia.
"Papa, Mama, Abizhar ga bisa bangun nih."
Abizhar mengguncang tubuh kedua orang tuanya.
Tanpa mereka sadari keduanya tidur sambil memeluk Abizhar.
Abizhar yang tekurung oleh kedua orang tuanya, merasakan sulit bergerak karena tertahan tangan dan kaki kedua Papa dan Mamanya.
Bersamaan dengan bunyi alarm HP Satya dan Andin.
"Pa, sudah azan subuh." Andin segera bangun saat alarm shalat subuh berbunyi dari HP miliknya dan Satya.
Satya bergegas bangun ia segera menuju kamar mandi bersiap sholat subuh.
Andin pun segera menyiapkan Abizhar dan dirinya shalat subuh berjamaah dengan Satya.
Tampak semua anggota keluarga kini sudah siap berkumpul di mushola rumah untuk melaksanakan shalat subuh.
Satya yang menjadi imam bagi keluarganya sudah siap didepan dan segera mengecak shaf makmumnya setelah rapi kemudian Satya segera memulai.
Satya melantunkan setiap bacaan ayat suci al quran dengan merdu.
Begitu fasih dan mantap setiap bacaan yang keluar dari bibir Satya.
Selepas shalat mereka meneruskan dengan membaca al quran.
Sementara Abizhar seperti biasa menyetor hapalan surat-surat pendek kepada Satya.
"Alhamdulillah. Pinter anak Papa. Semangat terus ya. Jangan pernah bosen belajar menghapalnya Nak. Kelak ini sebagai bekal kamu dalam mengimami istri dan anakmu kelak." Satya mengusap pucuk kepala Abizhar.
"Abizhar nanti kalau sudah besar kayak Papa?" Abizhar dengan maksud mengimami shalat keluarganya.
"Tentu Nak. Sebagai laki-laki Abizhar kelak akan mengimami shalat istri dan anak-anak Abizhar. Karena laki-laki akan menjadi imam didalam keluarganya." Satya menjelaskan pada Abizhar.
Abizhar yang masih belum memahami betul maksud perkataan Papanya ia hanua mengangguk-angguk mengiyakan.
...****************...
__ADS_1