
Bunda Dona, Dinda dan Andin begitu asik cuci mata di sebuah Mall dikawasan Sudirman.
Bunda Dona yang memiliki jiwa belanja menurun kepada Sang anak Dinda asik memilih beberapa item fashion terbaru di butik yang berlogo H tersebut.
Andin yang memang terbiasa hidup sederhana dan memang bukan dari kalangan jetset memilih duduk bersantai di sofa yang nyaman.
"Sayang, yuk pilih apa yang kamu suka. Sebagai kado ulang tahun kamu." Bunda Dona menggiring Andin memilih.
Andin berdecak kaget melihat harga yang tersemat pada barang-barang di toko berlogo H itu.
Bayangkan saja harga sepasang sendal mampu mencapai jutaan rupiah.
Andin merasa sayang sekali mengeluarkan uang hanya untuk membelinya.
"Sayang, ayo pilih. Atau mau Bunda yang pilihkan?" Bunda Dona tahu Andin bukanlah perempuan yang senang shopping.
Bunda Dona meminta pramuniaga menunjukkan koleksi Tas terbaru di toko tersebut.
Bunda Dona melihat sebuah Tas cantik yang berlogo H bermotif Croco biasa dipakai sejumlah artis-artis tanah air.
"Nah sepertinya ini cocok Din, bagus untuk kamu." Bunda Dona menyerahkan pada Andin.
Andin memegang dan melihat Tas tersebut.
Dalam hati Andin Tas ini mirip sekali dengan Tas yang ia lihat di TV dan sosial media saat Ibunda dari Rafatar istri artis kondang Raffi Ahmad.
Andin sangat kaget ketika mengetahui harga Tas tersebut senilai 1 unit rumah.
"Bun, ga usah ya." Andin tidak menolak halus pada Bunda Dona.
"Sayang, kamu ga suka Tas nya? Pilih yang mana yang kamu suka." Bunda Dona menepuk bahu Andin.
"Tapi Bun..." Andin dengan wajah yang dapat dipahami Bunda Dona.
"Gpp sayang, ini hadiah dari Bunda." Bunda Dona meminta pelayanan mengemas Tas cantik tersebut.
Andin tentu sangat tidak enak dengan mertuanya meskipun Bunda Dona yang memaksa memberikannya.
Setelah puas memanjakan diri dengan koleksi di toko H dan semua belanjaan ketiganya agar dikirim langsung kerumah mereka.
Kini, mengisi perut yang lapar ketiganya memilih mampir ke salah satu restoran jepang pilihan Dinda.
"Din, gimana kapan kamu ada waktu, Bunda mau ajak kamu kenalan sama teman Bunda?" Bunda Dona masih gigih akan niat perjodohan Dinda dengan putra sahabatnya.
"Aku lagi banyak banget kerjaan Bun." Dinda paham gelagat Bundanya.
Tanpa jawaban Bunda Dona tampak bertindak dengan HP nya.
Sementara Dinda dan Andin asik mengobrol.
Menikmati makan siang yang kesorean ketiganya masih asik dan masih akan berlanjut.
"Assalamualaikum." jawab Andin menerima telpon sang suami.
"Waalaikumsalam. Sayang kapan pulang? Masih lama?" Satya yang berada dirumah sudah kangen dengan Sang istri.
__ADS_1
Bunda yang menanyakan pada Andin segera tahu kalau telpon tersebut dari putranya, meminta memberikan langsung telpon tersebut pada Bunda.
"Sayang, Mas kangen nih, mau kamu." Satya yang tidak tahu kalau saat ini HP Andin dipegang Bunda.
"Kamu mau apa Sat?" Bunda menjawabnya
"Bunda. Kapan Balik. Seharian Istri Satya Bunda Culik." Satya menutupi rasa malunya dengan lebih menekan suara.
"Bilang aja kamu kangen ehem-ehem ya?" Bunda meledek putranya.
"Jelas dong Bun. Bunda sendiri bilang mau punya cucu. Malah dibawa Andinnya!" Satya sebal dengan ledekan ibunya.
"Iya Bunda bakal balikin. Tapi ada syaratnya" Bunda Dona kini memliki rencana.
"Ya ampun Bun. Kayak apa aja." Satya semakin sebal dengan Bundanya.
"Nanti Bunda kabari. Bunda masih mau ajak Andin dan Dinda shopping. Kamu baik-baik aja dirumah." Binda memutuskan panggilang telpon.
"Bun, Mas Satya bilang apa?" Andin tahu pasti suami bucinnya saat ini lagi ngambek seharian ia tinggal.
"Kangen sarangnya Din." Bunda Dona memang sefrontal itu.
Wajah Andin memerah mendengar jawaban sang ibu mertua.
"Ih Bunda, Ga ngerti banget ada anak gadis nih!" Dinda uang sedikit risih dengan kata-kata ibunya.
"Makanya cepet nikah, biar tahu rasanya silahturahmi." Bunda Dona sambil tertawa melesek pada putri kesayangannya.
"Ih kesitu lagi." Dinda kesal dengan Bundanya malah semakin horor.
Benar saja setelah mengisi perut, semangat dan tenaga Bunda Dona kembali full.
Bunda Dona mengajak kedua kesayangannya kini ke toko dengan logo huruf C.
Tak kenal lelah Bunda Dona kembali membelanjakan Andin dan Dinda beberapa dress dan sepatu.
Andin mengikuti saja keinginan mertuanya dan adik iparnya.
Setelah itu ketiganya juga mampir ke salah satu butik sahabat Bunda mengambil pesanan gaun untuk ketiganya.
Betapa cantiknya gaun tersebut.
Bunda Dona, Dinda dan Andin mengepas gaun tersebut.
Ketiganya mematut diri dicermin.
Bunda sangat menyukai gaun yang mereka kenakan.
Sesuai ekspektasi Bunda gaun tersebut sangat cantik melekat pada tubuh Andin dan Dinda.
"Sayang nanti dipakai ya." Bunda Dona merangkul bahu Andin.
"Jangan sampai ga dateng. Luangin waktu pokoknya!" Bunda Dona mewanti-wanti pada Dinda.
Bunda Dona dengan segala rencana dikepalanya tampak tersenyum penuh arti pada Dinda.
__ADS_1
Sementara Dinda tak perduli dengan apapun yang ada dipikiran ibunya.
Tepat pukul 7 malam ketiganya sudah kembali.
Bunda dan Dinda kembali pulang kerumah tak lagi menginap dirumah Satya dan Andin.
Andin begitu lelah, seharian kesana kemari menjelajahi Mall.
"Sayang, capek?" Satya mendekati Andin yang kini sedang memakai skincare malam dimeja riasnya sambil memijat bahu istrinya.
"Mas maaf ya lama, bete ya?" Andin menghadap wajah suaminya yang seharian ia tinggal dirumah.
Satya mengangguk manja dengan tatapan iba.
"Aduh kasian suamiku, sini-sini." Andin merentangkan tangannya memeluk Satya.
Tentu saja Satya dengan senang hati memeluk Andin yang seharian ia rindukan.
"Sayang, kalo itu ga capek kan?" Bukan Satya namanya kalau tak pintar membaca kesempatan.
"Itu apa Mas?" Andin dalam posisi masih berpelukan.
Satya melepaskan pelukannya berganti menggendong Andin.
Satya membawa Andin ke ranjang menempatkan dengan perlahan.
Dengan segala keinginan yang sudah diubun-ubun Satya tak banyak babibubebo langsung mengeksekusi istrinya tanpa jeda.
Satya tak akan cukup jika hanya 1 putaran.
Begitupun dengan malam ini, setelah 3 malam Andin dibajak tidur bersama ibu dan adiknya seakan balas dendam Satya malam ini mengajak Andin berolahraga hingga pukul 2 pagi.
Satya menjatuhkan tubuhnya disebelah Andin.
Keringat keduanya bercucuran membasahi tubuh polos keduanya.
Satya mengusap perut Andin berdoa agar segera tumbuh hasil kerja kerat keduanya.
Andin yang terlelap dengan tubuh polosnya diselimuti Satya.
Satya mengecup kening Andin yang telah tertidur setelah bergumulan yang melelahkan.
Menyingkap rambut Andin yang menutupi wajah menautkannya pada telinga Andin.
Andin memeluk Satya.
Kondisi keduanya yang sama-sama polos dalam satu selimut yang sama.
Sekejap Satya pun tak sadar terlelap mendekap Andin dalam pelukannya.
Keduanya tidur dengan nyenyak, saling berpelukan.
Hingga suara adzan subuh membangunkan keduanya menandakan hari telah pagi.
...****************...
__ADS_1