
Bunda Dona dan Mama Shopia tampak sibuk mempersiapkan acara 7 bulanan kehamilan Andin.
Andin sangat bahagia karena memiliki ibu seperti Bunda Dona dan Mama Shopia yang begitu menyayanginya.
"Sayang, pokoknya hari ini aku bakal jemput kamu tepat waktu. Jadi ga ada cerita lembur-lembur. Sayangnya Papa, nanti masih Alarm ke Mama supaya Mama kerjanya ga capek-capek ya." Satya berpesan pada Andin juga pamit pada anak didalam perut Istrinya.
"Iya Papa, Mama aku sekarang jadi anak baik dong." Andin menirukan suara anak didalam perutnya.
"Mas berangkat dulu ya. Bun, Mama, Satya berangkat ya."
Satya pamit mencium tangan kedua ibunya Bunda Dona dan Mama Shopia serta mengulurkan tangannya pada Andin disambut sang istri salim pada Satya.
"Assalamualaikum." Satya mengucap salam pada semua keluarganya.
"Waalaikumsalam." jawab serentak ketiganya.
Andin hari ini berangkat dijemput Gina karena mereka akan menuju lokasi pernikahan untuk mengecek persiapan pernikahan klien mereka.
Sedangkan Bunda Dona dan Mama Shopia hari ini akan mengurus segala keperluan acara 7 bulanan.
Meskipun memakai Perusahaan mereka sendiri yang menangani namun ada beberapa hal yang kedua ibundanya akan mengurus langsung.
Andin sebenarnya hanya ingin acara sederhana namun tentu saja kedua ibunda tersayangnga menolak.
Alasannya mereka ingin memberikan yang terbaik bagi anak dan cucu mereka.
Bunda Dona dan Mama Shopia juga sudah menyebarkan undangan digital pada semua tamu yang di list untuk hadir dalam acara 7 bulanan Andin.
Sementara Dinda kini masih ada di Amerika mengurus beberapa hal terkait perusahaan.
Dihati kecil Andin Dinda sedang berusaha menghindar atau menenangkan diri sekaligus memang ada pekerjaan.
Bunda Dona memang sengaja mengizinkan kepergian Dinda.
Selain Bunda Dona sudah memastikan memang ada pekerjaan di perusahaan yang harus diurus sekaligus Bunda Dona memberikan ruang pada putri tercintanya agar memiliki pemikiran yang lebih jernih dan tenang.
Bunda Dona paham betul watak Dinda yang mirip seperti almarhum Ayahnya.
"Bunda, Mama Andin berangkat dulu ya." Andin salim pada Bunda Dona dan Mama Shopia.
"Hati-hati Sayang." jawab kedua wanita yang begitu dihormati dan dicintai Andin secara serentak.
Andin bersama Gina menuju lokasi tujuan mereka.
Dalam perjalanan Gina membicarakan hal apapun.
Gina yang pembawaannya ceria meski kadang polos dan ceplas ceplos membuat Andin yakin memilih Gina sebagai tangan kanannya di kantor.
"Mbak Andin, Mbak Dinda masih di Amerika?" Gina melihat ke arah Andin dan kembali fokus menyetir.
"Iya masih. Kenapa Gin? Tiba-tiba menanyakan Dinda?" Andin memang tahu Gina kenal dengan Dinda karena Dinda adalah sahabatnya sekaligus pelanggan setia butik Mama Shopia.
"Sebenernya kemarin aku lihat Mantan pacarnya Mbak Dinda sedang bersama Tetangganya Mbak Andin." Gina sedikit ragu mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
"Maksud kamu Soni dan Fandi?" Andin menebak kedua nama tersebut.
Gina memang tahu kedua orang tersebut selain beberapa kali bertemu di acara rumah Andin, selain itu Dinda pernah beberapa kali diantar Soni saat kedua masih berpacaran saat mengunjungi Butik Mama Shopia.
"Iya Mbak." Gina menjawab sambil menganggukan kepalanya membenarkan tebakan Andin.
Kepala Andin mencoba mencari jawaban mengenai kebenaran yanh disampaikan Gina.
"Apa hubungan Fandi denhan Soni?" bagin Andin.
Sejuta pertanyaan memenuhi kepala Andin.
Penasaran rasanya ingin sekali Andin bertanya pada Dinda mengenai kebenaran hal tersebut.
Andin mengutak atik ponselnya mengirim pesan pada Dinda.
"Assalammulaikum Din." chat yang dikirim Andin pada Dinda.
Andin berharap chatnya pada Dinda segera dibalas.
"Waalaikumsalam. Iya Din." Dinda membalas.
"Kangen Aunty kapan pulang?" Dinda menirukan anak diperutnya menyapa Dinda.
"Aunty juga kangen pengen ngelus ponakan Aunty diperut Mama." Dinda menyertai emoticon smile diakhir chatnya.
"Din, are you ok?" Andin ingin mengetik panjang lebar menanyakan banyak hal, namun ia urungkan niatnya.
Andin terus ber balas chat dengan Dinda mengobrol apapun mencairkan suasana.
Aktivitas berbalas chat terhenti saat Andin sampai lokasi tujuannya.
"Aunty nanti kita ngobrol lagi. Udah sampe di venue nih." Andin pamit undur diri dari obrolan mereka.
"Jangan capek-capek bumil. Pokoknya gw pulang bakal jadi satpam buat Lo ya. Biar tambah Bodyguardnya selain Bapack-Bapack Bucin." Andin mengakhiri chatnya dengan emoticon melet disamping kata Bapack-Bapack.
"Lo juga, beneran pulang ya. Weekend acara 7 bulanan gw soalnya. Lo harus ada Din." Andin menegaskan pada sang sahabat.
"Siap Bumil!"
Begitulah keduanya sahabat yang saling rindu dan kangen.
Walaupun kedua tetap menghormati privasi masing-masing.
Andin tak akan mendesak Dinda berbicara jika memang Dinda tak siap bicara.
Begitupun sebaliknya Dinda meskipun sahabat Andin tetapi Dinda tahu porsi bahwa Andin kini adalah kakak iparnya.
Persahabatan mereka bisa awet karena kedua mengerti arti saling memahami dan menghormati.
Pesan masuk ke HP Andin.
Ternyata panjang umur, Satya yang mengirimkan pesan.
__ADS_1
Tampaknya telinga Satya gatal saat kedua wanita itu membicarakannya.
"Sayang sudah berangkat? Jadi dijemput Gina?" isi chat Satya pada istri tercintanya.
"Sudah sampai lokasi Mas. Mas lagi apa?" balas Andin balik menanyakan aktivitas suaminya.
"Baru selesai rapat, nih lagi digangguin Jones." rekan kantor yang pernah membelikan Satya susu cimory rasa strawberry yang dimaksud oleh Satya.
"Mas tega banget ngatain Gilang Jones. Mentang-mentang udah laku." Andin menyertakan emoticon melet pada Satya.
"Emang Jones Sayang si Gilang. Nih aja lagi ngerengek, minta ijin sama Mas buat deketin Dinda. Males banget punya adek ipar dia." Satya malah curhat rekannya naksir Dinda.
"Serius Mas? Terus?" Andin kini mendapati fakta lain tentu kepala Andin menjadi rumit memikirkan Dinda dan Fandi kini bertambah Gilang rekan Satya.
"Serius, ternyata modus dia baik-baik Mas." Satya jadi overthingking.
"Ih ga boleh suudzon Mas." Andin mengingatkan.
"Oh iya ya, Astagfirullah. Maafin Mas Sayang. Sayang nanti sore Mas yang jemput ya." Satya mengingatkan kalau sore ini iya akan menjemput Andin di kantor.
Satya mengirimkan foto selfi dirinya namun Gilang malah ikut nempel saat tahu Satya akan mengirimkan foto itu pada Andin.
"Lucu ih, kenapa wajah Gilang ngeblur gitu Mas?" Andin melihat foto yang Satya kirim dan Andinpun balas mengirim selfie dirinya pada Satya.
"Emang nih jones nempel mulu kayak makhluk halus. Katanya biar Dinda liat," Jawab Satya.
"Lah kalo gitu salah tempat, harusnya kirim langsung ke Dinda." jawab Andin.
"No, Mas ga kasih nomor Dinda, walaupun si jones udah melas minta nomor Dinda." penolakan Satya.
"Ya ampun kakak possesive banget ke adeknya. Biaran aja kenapa Mas. Siapa tahu cocok, jadi adek ipar gitu." Andin mengatakannya sambil tersenyum.
"NO!" Satya dengan tegas.
Kedua suami istri tersebut khirnya selesai berbalas pesan.
Andin memulai pekerjaannya ditemani Gina, Sementara Satya kembali disibukkan dengan pekerjaannya yang selalu dan selalu berputar disektor keuangan.
Sementara Jauh di sana Dinda melepas penatnya setelah seharian bekerja menikmati kopinya bersama rekan bisnisnya pria bule yang 1 bulan ini berinteraksi dengan Dinda selama di Amerika terkait kerjasama kedua perusahaan.
"Dinda, when are you coming back to indonesia?" Mr. Daniel.
"Tomorrow." Dinda meneguk kopi sambil menikmati dessert.
Mr. Daniel mengangkat alisnya menatap Dinda lekat. Hal yang selalu dihindari Dinda.
"I will miss you, may I visit Indonesia to meet you?" Mr. Daniel spontan mengatakan pada Dinda.
"Sure, I'll be waiting for you, thank you for being the best partner. We wish our two companies a successful cooperation." Dinda menegaskan keduanya adalah partner bisnis.
Mr. Daniel tersenyum sambil meneguk kopinya tanpa melepaskan pandangannya dari Dinda.
...****************...
__ADS_1