Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Diserang


__ADS_3

Mobil Sean masih melaju menuju rumah membawa Viana dan Sevina. Namun ditengah jalan, mobil yang mereka kendarai mengalami ban bocor. Sean keluar dan melihat ban mobilnya yang ternyata tertusuk paku yang cukup besar. "Ah sial, aku tidak membawa pengawal." Gerutu Sean.


"Ada apa Sean?" tanya Viana yang baru keluar dari mobil.


"Bannya tertusuk paku." jawab Sean.


"Ya sudah panggil saja montir kemari dan kita bisa memakai mobil mereka untuk pulang. Bengkelnya kan tidak terlalu jauh pasti mereka akan cepat sampai. Jika menunggu pengawal pasti kita akan lama." ujar Viana.


Sean mengangguk. Dia menelepon montir dan tak lama setelah itu montir datang. Sean, Viana dan Sevina menaiki mobil itu. Mobilnya terlihat biasa saja dan tidak ada logo perusahaan Armadja sehingga dia tidak leluasa melewati pengendara lain di jalanan. Jika menggunakan mobil yang berlogo perusahaan Armadja maka pengendara lain biasanya akan menepi dan membiarkannya lewat.


Sean masih fokus menyetir hingga sebuah mobil membuyarkan konsentrasinya. Mobil itu memepetnya sehingga dia harus menghindari agar tidak terjadi tabrakan. "Apa-apaan mobil ini. Kenapa malah memepet mobilku." Gerutu Sean.


Di persimpangan jalan, mobil semakin dipepet sehingga Sean membelok ke kiri menuju jalanan sepi. Saat ada kesempatan mobil itu pun menghadang mobil Sean. "Dasar orang gila. Apa dia sudah bosan hidup?" Gerutu Sean.


"Sabar Sean." ucap Viana menenangkan suaminya.


"Tetaplah disini dan jaga Sevina. Aku akan menanganinya." ucap Sean yang kemudian turun dari mobilnya.


Dia menggedor pintu mobil yang menghadangnya agar segera keluar. Tak berselang lama pintu mobil pun terbuka. Keluarlah dua orang pria bertubuh kekar dan bertato. Wajahnya sangar dan persis seperti preman.


Tanpa aba-aba mereka berdua langsung memeganginya dan membuatnya menyandar di mobil itu. "Serahkan uangmu." ucap salah satu preman.


"Apa? Jadi kalian tidak tau siapa aku?" Bentak Sean.


"Siapa kau? Pangeran?" ucapnya sambil tertawa diikuti tawa temannya.

__ADS_1


"Aku Sean Armadja." ucapnya.


Kedua preman itu tertawa lagi. "Hahaha lihat lah ada orang yang sedang berhalusinasi. Apa menurutmu kami akan percaya begitu saja? Mana mungkin keluarga Armadja mengendarai mobil jelek seperti ini. Yang aku tau mereka menggunakan logo perusahaannya di mobil mereka." ucap sang preman.


Mereka merogo saku celana Sean dan hendak mengambil dompetnya. Sean mendorong mereka dan membuat kedua preman langsung menyerangnya. Sean menghadapi mereka namun dia tidak sekuat dulu. Hanya saat murka saja barulah tenaganya bisa menjadi kuat karena emosi menguasai dirinya.


Namun sebauh tendangan kuat didada salah satu preman itu membuatnya terpelanting. Preman itu meringis kesakitan dan memegangi dadanya yang sesak. Temannya membantunya berdiri.


"Viana. Apa yang aku katakan tentang tetap berada di dalam mobil." ucap Sean dengan tatapan kesalnya.


"Aku tidak mau wajah tampanmu sampai lebam sayang." ucap Viana.


"Aku tidak selemah itu." ucap Sean.


"Tapi kau semakin tua sayang. Tubuhmu semakin renta dan kau jarang berolah raga sekarang. Kau hanya sibuk menonton kami berlatih." ucap Viana.


Sean dan Viana sama-sama menoleh ke sumber suara dan mereka terkejut melihat preman itu terduduk sambil memegangi betisnya. Namun mereka lebih terkejut lagi saat melihat Sevina sedang berdiri didepannya sambil berkacak pinggang.


Sean berlari dan menarik Sevina agar menjauh dari preman itu. "Sayang apa yang kau lakukan." ucap Sean saat menurunkan Sevina di depan Viana.


"Dia mau memukul Papa dengan balok jadi aku menendang kakinya." ucap Sevina sambil menunjuk preman itu.


"Tapi kakimu bisa terluka sayang." Sean memegangi kaki Sevina untuk memastikan bahwa kakinya baik-baik saja.


"Kaki Sevina tidak apa-apa Pa." ucap Sevina mencoba meyakinkan Papanya. Viana juga sibuk memeriksa bagian tubuh Sevina yang mungkin saja terluka.

__ADS_1


"Sayang, Mama mohon jangan pernah lakukan ini lagi. Kau masih kecil untuk melawan preman. Kau tidak boleh memukulnya jika masih ada Papa dan Mama. Kau bisa tetap berada di mobil sayang." ucap Viana memberi pengertian kepada Sevina.


"Tapi dia hampir memukul Papa. Jika saja Mama dan Papa tidak berdebat pasti dia tidak akan melakukan itu." ucap Sevina.


Sean dan Viana saling pandang. Yang dikatakan Sevina benar. Tadi mereka sibuk berdebat dan membuat preman mempunyai kesempatan untuk menyerang mereka dari belakang. "Sayang, terima kasih sudah menolong Mama dan Papa. Lain kali kau cukup berteriak saja jika ada yang mau menyerang Mama dan Papa dari belakang ya." ucap Sean dengan lembut. Sevina mengangguk mengerti.


Tak lama kemudian, polisi pun datang dan menangkap kedua preman itu. Setelah Sean keluar mobil tadi, Viana sudah lebih dahulu menelpon polisi. "Mereka adalah perampok yang kami cari selama ini. Mereka sudah berkali-kali masuk bui namun selalu saja bebas dari jeratan hukum karena pelapor dari kalangan biasa. Terima kasih Tuan dan Nyonya sudah membantu kami menangkap mereka." ucap Pak Polisi.


"Iya sama-sama Pak. Kami tidak akan membiarkan mereka lolos lagi dari jeratan hukum. Kali ini mereka akan mendapat hukuman yang setimpal. Kapanpun and memanggil kami sebagai saksi kami akan usahakan datang." ucap Sean.


Polisi itu mengangguk dan memberi hormat lalu menemui rekannya yang sedang membawa kedua preman itu yang sedang di giring ke mobil polisi. "Dasar preman bodoh. Apa kau tidak mengenal mereka?" ucap Polisi itu ditengah derap langkahnya.


"Memangnya mereka siapa?" tanya salah satu preman penasaran.


"Mereka adalah Sean Armadja dan Viana istrinya. Mereka adalah salah satu orang terkaya di Negara ini. Mereka terkenal sebagai pasangan yang kuat. Bisa-bisanya kalian mencari masalah pada mereka. Lihat saja mereka tidak akan membiarkan kalian lolos dari jeratan hukum seperti sebelumnya." ucap Pak Polisi sambil menggelangkan kepalanya.


Kedua preman itu saling pandang. Mereka baru menyadari bahwa tadi Sean tidak bohong. Harusnya mereka membuka internet terlebih dahulu untuk membuktikannya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Mereka tidak akan bebas dengan mudah kali ini.


Sean dan Viana kembali ke mobil. "Mau makan siang bersama istri dan anak ada saja penghalangnya." Gerutu Sean.


"Sabarlah Sean. Ambil hikmah dari kejadian ini. Dengan tertangkapnya mereka, tidak akan ada lagi pengendara lain yang akan menjadi korban." ucap Viana mencoba menghibur.


"Kau benar." ucap Sean tersenyum.


"Lihat kan. Jika saja tadi aku tidak membantumu pasti sekarang kau sedang tersenyum dengan wajah bengkak." ledek Viana.

__ADS_1


"Kau pintar sekali mengangkat dan membantingku sekaligus ya." ucap Sean sambil menarik hidung Viana. Viana memukul tangan Sean dan itu membuat Sevina tertawa.


Mobil terus melaju hingga akhirnya mereka sampai di rumah dan menikmati makan siang bersama sambil menunggu mobilnya datang.


__ADS_2