Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Meminta


__ADS_3

Seminggu telah berlalu.


Resepsi pernikahan kurang dari dua minggu lagi, tetapi Sean dan Viana masih bekerja di kantor.


Mereka akan cuti seminggu sebelum resepsi pernikahan di gelar.


Tidak ada tanda - tanda bahaya yang mengintai Sean. Viana berpikir kalau kakak tirinya pasti sedang merencanakan hal baru. Karena itu dia membuat permohonan agar meja kerjanya berada dalam satu ruangan bersama Sean agar bisa mengawasi pergerakan Sean.


Tentu saja Sean tidak menolak, karena ini akan menjadi kesempatan emas untuknya, karena sejujurnya dengan begitu Sean bisa dengan leluasa bermesraan dengan Viana setiap saat.


Seperti hari ini. Viana sedang fokus dengan berkas di depannya. Namun tiba tiba Sean memanggilnya.


"Viana" Panggil Sean.


Viana menoleh ke arah Sean.



"Ada apa Sean?" Tanya Viana.


"Kemari lah, lihat berkas ini" Ucap Sean.


Viana melangkahkan kakinya ke meja kerja Sean dan melihat berkas yang diberikan Sean.



Viana melihatnya dengan teliti.


"Apa yang salah?" Tanya Viana.


"Tidak ada yang salah, aku hanya ingin kau melihatnya" Kata Sean.


"Ha?" Viana menatap heran ke arah Sean.



"Aku sangat senang kau tidak melakukan kesalahan jadi aku tidak perlu memarahimu" Kata Sean


Viana mentap lekat ke arah Sean.


Ya ampun kenapa suamiku tampan sekali.



"Hei apa yang kau pikirkan? Pujian tidak harus membuatmu terlihat bodoh begitu kan?" Sean mencoba menyadarkan Viana yang terus menatapnya bahkan tanpa berkedip.


Viana mengerjapkan matanya.

__ADS_1


"Eh, maaf. Ya sudah aku lanjut kerja lagi ya" Ucap Viana.


Namun ketika dia hendak melangkah, tiba tiba Sean menariknya dan memeluknya dari belakang.


Viana terkejut.


"Sean apa yang kamu lakukan?" Tanya Viana.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh memeluk istriku?" Sean semakin mempererat pelukannya.


"Tidak bukan begitu, hanya saja ini kan di kantor" Kata Viana


"Oh jadi kau ingin di kamar ya. Kau harus bersabar hingga kita pulang ke rumah" Bisik Sean sambil mencium telinganya yang tertutupi rambut.


Viana tersenyum malu.



"Oh ya apakah PMS mu sudah selesai?" Bisik Sean lagi.


Viana mengangguk. Sean tersenyum senang.


"Kembali lah bekerja. Jangan menggodaku. Aku tidak mau terpancing disini" Sean melepas pelukannya dan kembali duduk.


Viana melangkah kembali ke meja kerjanya lalu duduk.



"Apa yang kau tertawakan? Kembali lah bekerja" Kata Sean.


Viana kembali fokus ke pekerjaannya sambil menggelengkan kepalanya.


Siang harinya, saat jam makan siang, mereka segera keluar. Dan lagi lagi mereka berpas pasan dengan Kevin.


"Selamat siang Tuan, Nona" Ucap Kevin sambil menunduk.


Viana agak risih menerima perlakuan seperti itu dari kevin. Mungkin Sean sudah terbiasa, tapi dirinya tidak.


"Siang" Balas Viana sedangkan Sean tidak menjawab. Sepertinya dia ingin terus berperang dengan Kevin.


Sean merangkul bahu Viana lalu berlalu kembali melangkah.


"Sean, berhenti lah cemburu padanya. Maksudku kamu sangat terlihat membencinya" Ucap Viana.


Sean mencengkram bahu Viana.


"Aku pernah bilang apa soal membicarakan dia. Apa kau sudah bosan hidup?" Sean menatapnya tajam.

__ADS_1


Viana tidak berani melihat sorot matanya. Dia langsung menunduk.


"Kenapa? Kau takut? Kau bisa menghajarku disini. Kau kan punya tenaga monster" Ejek Sean.


"Tidak Sean. Maaf" Kata Viana.


Apa kamu sudah gila Sean? Bagaimana mungkin aku menghajarmu disini? Kamu suamiku, bosku dan ini tempat umum. Dan apa yang akan di katakan orang? media di seluruh dunia? Apalagi Oma? Oh tidak aku tidak bisa membayangkannya.


Mereka sudah sampai parkiran. Sean mengemudikan mobilnya ke sebuah cafe, dia malas jika bertemu dengan Lidya lagi disana.


Saat masuk ke sana, semua pengunjung cafe melihat mereka.


"Eh, bukannya itu Sean Armadja? Gila ganteng banget aslinya? Selama ini aku cuma liat di Tv doang. Ternyata aslinya 100 kali lipet lebih cakep"


"Sadar woy, dia sama istrinya noh"


"Istrinya biasa aja, seksian lagi aku"


"Mau secantik atau seseksi apapun kamu, dia tetap pemenangnya karena dia istrinya"


"Huuuh dasar"


Viana merasa risih dengan tatapan orang orang. Sean memahami itu.


"Jika kau mau pindah, kita bisa pergi sekarang" Kata Sean.


"Tidak, kita disini saja" Kata Viana. Rasanya akan sama meskipun mereka berpindah tempat, orang orang akan menjadikan mereka pusat perhatian.


"Apa aku perlu mencongkel mata mereka?" Tanya Sean serius.


"Tidak, tidak Sean" Viana berusaha tersenyum untuk menutupi kegugupannya.


Sean juga tersenyum dan memegang tangan Viana.


Tentu saja ini membuat semua pengunjung wanita semakin iri.


.


.


.


.


Ya maaf kalo gambarnya kebanyakan 😂.


Maaf juga kalo penulisan kata kata author terbilang biasa. Soalnya author memang nggak bisa memakai berbagai phrase ataupun berpuitis ria.

__ADS_1


__ADS_2