Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter- Masalah


__ADS_3

Di sebuah sekolah ternama di kota.


Sepasang suami istri sedang berjalan keluar dari sekolah itu. Sang suami menggandeng tangannya dengan senyuman diwajahnya namun Sang istri wajahnya terlihat masam.



Mereka adalah Sean Armadja dan Viana Armadja yang baru saja mendapat panggilan dari sekolah putri pertama mereka yang bernama Sevina Armandja. Seorang gadis kecil berusia 5 tahun yang arogan dan bertenaga kuat seperti ibunya.


"Sean bagaimana bisa kau setenang ini? Sevina baru saja meninju teman laki-lakinya." ucap Viana ditengah derap langkahnya bersama Sean. Mereka baru saja menerima panggilan dari sekolah Sevina karena Sevina telah meninju anak laki-laki di sekolahnya yang telah mengganggunya.


"Aku tau. Tapi Sevina tidak bersalah. Dia hanya membela diri. Kau sudah dengar kan apa kata gurunya tadi. Bahkan orang tua David juga merasa itu bukan salah Sevina. David lah yang bersalah karena telah mengganggu Sevina. Kau juga pasti akan meninjuku jika aku sengaja menyiram air ke wajahmu dan mendorongmu ke lantai seperti yang dilakukan David pada Sevina." ucap Sean yang masih terus menggandeng tangan Viana sepanjang berjalan menuju mobil.


"Jika kau melakukannya padaku, aku tidak hanya akan meninjumu sayang. Aku bukan mempermasalahkan itu. Tapi puterimu yang ku khawatirkan. Dia masih TK dan dia sudah meninju temannya. Biasanya anak perempuan akan menangis jika diganggu. Tapi lihat Sevina. Dia malah meninju David." ucap Viana dengan wajah kesal.


"Jangan salahkan dia. Dia hanya mewarisi tenaga monstermu sayang. Tapi sayangnya dia juga mewarisi sifat aroganku." Sean menghela nafas panjang.


"Kenapa kau selalu mengaitkanku dengan tenaga monster. Apa aku separah itu. Aku bukan Hulk, kau mengerti?" Gerutu Viana.


"Aku mengerti Tuan Putri yang lembut dan anggun. Silahkan masuk." ucap Sean sambil membukakan pintu mobil layaknya seorang supir.


"Hentikan, kau membuatku malu sayang." ucap Viana yang kemudian masuk kedalam mobil.


"Memangnya kenapa? Aku heran. Sejak dulu hingga sekarang kau tidak pernah mau ku perlakukan seperti ratu. Padahal kau itu Viana Armadja." ucap Sean saat keduanya sudah masuk kedalam mobil.


"Karena kau suamiku bukan pengawal apalagi supir." ucap Viana.


"Ya ya ya kau benar. Terserah lah." ucap Sean mengalah. Mobil terus melaju menuju rumah utama keluarga Armadja.


Sesampainya di sana, Zein dan Lyana serta anaknya Zevin juga berada disana. Sean heran melihat kedatangan mereka disana. "Apa kalian punya undangan?" tanya Sean.


"Tentu saja. Undangan kami adalah kasih sayang, mengerti." ucap Zein sambil menggandeng tangan Lyana kedalam.


"Kenapa kau suka sekali menggodanya Sean." ucap Viana.


"Entahlah, mungkin karena Raya terlalu menyebalkan untuk diganggu." ucap Sean sambil menggandeng tangan Viana memasuki rumah mewah itu.

__ADS_1


Alya menyambut mereka dengan pelukan hangat. Reyza anak kedua Sean dan Viana juga sudah berada disana karena sebelumnya Rangga dan Alya sudah duluan menculiknya.


Raya dan Axel juga sudah berada disana. Sedangkan Dirga dan Celin sedang berada diluar Negeri karena suatu pekerjaan.


Mereka semua duduk di ruang keluarga.


Rangga pun mulai membuka suara. "Sebenarnya ada yang mau papa sampaikan pada kalian." ucapnya.


Semua penasaran dengan apa yang akan di bilang oleh Rangga. "Raya dan Axel akan tinggal di Amerika menemani Oma Laura." ucap Rangga.


Semua terlihat terkejut dengan keputusan Rangga. "Tapi Pa, Raya sedang hamil besar." ucap Sean dengan raut wajah kecewa karena adiknya akan pergi meninggalkannya. Karena sesungguhnya Sean sangatlah menyayangi Raya walau dia sangat menyebalkan.


"Dia akan melahirkan disana. Ini adalah permintaan Oma Laura karena dia sudah mulai sakit-sakitan. Dia ingin sekali ada yang menemaninya. Dan kelahiran anak Raya disana akan membuatnya senang." ucap Rangga.


"Tapi Raya akan sangat cerewet seperti Oma Laura." ucap Sean yang mengecilkan volume suaranya dikalimat terakhirnya.


"Jadi maksud kakak aku akan membuat Oma Laura lebih sakit." Raya menatap kesal.


"Tidak, hanya saja...." Menggantung kalimat. Jika kalian bersama, kemungkinan Axel akan stres. Batin Sean.


"Iya sayang." ucap Axel. Ya begitulah Axel. Hanya berbicara seperlunya saja dan lebih banyak diam. Dia memang jiplakan papanya, Alex.


"Ya sudah, jika Raya juga tidak keberatan maka kami juga tidak akan keberatan." ucap Sean.


"Keberatan? Siapa yang meminta pendapatmu. Papa hanya mengumumkan saja, bukan mendengarkan pendapatmu." tutur Rangga.


Sean menghela nafas panjang. Papanya ini sangat senang sekali membuatnya terpojok.


"Raya, kapan kalian akan berangkat?" tanya Zein.


"Beberapa hari lagi kak." ucap Raya.


"Jagalah dirimu disana ya." ucap Zein.


"Iya kak. Jika aku sudah melahirkan kalian datanglah kesana." ucap Raya.

__ADS_1


Semua mengangguk.


"Ya ampun. Sean, aku melupakan hal penting. Seharusnya kita meeting dengan Shaka sekarang." ucap Zein.


"Astaga aku sampai lupa. Dia pasti sudah menunggu." sahut Sean.


"Naiklah ke mobil dan aku akan mengantar kalian. Viana, Mama Alya aku titip Zevin ya." ucap Lyana.


"Baiklah sayang, hati-hati ya." ucap Alya.


Mereka bertiga segera masuk ke mobil. Lyana segera melajukan mobil mereka. Dia hanya akan mengantar saja. Setelah itu supir akan membawa mobil untuk menjemput mereka berdua.


Lyana terus melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Kelihaiannya membawa mobil serta menyalip kendaraan membuat Sean dan Zein merasa was was sepanjang perjalanan.


"Astagfirullahaladzim, Lyana kurangi kecepatannya atau aku bisa terkena serangan jantung." ucapnya dengan wajah tegang dan panik.


"Jangan khawatir sayang, kita akan segera sampai." ucap Lyana tanpa mengurangi kecepatannya.


Sean hanya diam. Dia ingin sekali menyuruh Lyana mengurangi kecepatannya namun itu hanya akan menambah daftar ejekan di daftar Zein.


10 menit kemudian, mereka sampai. Kaki Zein terasa lemas karena kecepatan Lyana tadi hampir membuat jantungnya copot. Kaki Sean juga bergetar namun dia berusaha menutupinya.


Lyana pun pamit pulang dan meninggalkan mereka. "Aku pulang dulu ya. Sean, biar Sevina aku jemput saja karena sebentar lagi jadwalnya pulang sekolah." ucap Lyana.


"Terima kasih Lyana." ucap Sean.


Lyana mengangguk dan melajukan mobilnya.


"Jika kau takut naik mobil, aku akan membelikan odong-odong untukmu agar kau bisa pergi kemana saja dengan perasaan nyaman dengan musik dan lampu warna warni yang indah." ucap Sean.


"Diamlah berengsek." Gerutu Zein.


Mereka pun masuk dan menemui Shaka Prasetya yang merupana klien bisnis sekaligus temab mereka. Namun Shaka lebih dekat dengan Sean yang lebih banyak omong daripada Zein yang sama pendiamnya seperti Shaka.


Meeting pun dimulai. Mereka terus membicarakan perihal bisnis mereka.

__ADS_1


Setelah meeting selesai, Zein pamit duluan karena ada pertemuan lagi dengan kliennya. Tinggallah Sean dan Shaka yang terlihat mengobrol ringan sambil makan siang. Setelah selesai, Sean pun pulang ke rumah orang tuanya untuk menjemput istri dan juga anaknya.


__ADS_2