Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Anggun


__ADS_3

Keluarga Armadja sudah kembali pulang ke Indonesia. Dan hari ini Sevina sudah kembali bersekolah. Viana turun dari mobil mengantarkan Sevina ke depan pintu gerbang seperti biasanya.


Dia melambaikan tangan kala Sevina berlari kedalam sambil melambaikan tangannya juga.


"Bu Viana." Sapa seorang wanita.


"Eh Bu Anggun." ucap Viana. Anggun adalah Ibunya David. Siswa yang beberapa waktu lalu pernah ditinju Sevina.


"Apa kabar Bu. Sudah lama kita tidak bertemu." ucap Viana.


"Baik. Belakangan ini saya sangat sibuk jadi tidak sempat mengantar David ke sekolah." ucap Anggun.


"Oh, Bu Anggun kan wanita karir. Tapi saya salut karena Bu Anggun bisa menyempatkan diri di sela kesibukannya." Puji Viana.


"Ah Bu Viana bisa saja. David anak saya satu-satunya. Tapi suami saya bukan orang sehebat dan sekaya suami anda jadi saya harus ikut bekerja juga. Saya tidak seberuntung anda. Punya suami kaya, tampan dan sangat menyayangi keluarganya." ucap Anggun.


Viana terdiam. Apa maksudnya menyayangi keluarga? Apa suaminya tidak menyayanginya. Ah aku memikirkan apa sih. Batin Viana.


"Saya yakin David sangat bangga punya Ibu seperti anda." ucap Viana sembari tersenyum.


"Bu Viana selain cantik ternyata juga sangat ramah. Saya permisi dulu ya." ucap Anggun sambil melangkah pergi setelah mendapat anggukan dari Viana.


Viana menatap kepergiannya. Anggun menaiki taksi yang tadi dia tumpangi saat mengantar David. Sepertinya keterbatasan ekonomi tidak membuatnya patah semangat. Dia memprioritaskan anaknya agar mendapatkan yang terbaik.


Viana kembali ke mobil dan bergegas pulang. Seperti biasa, setelah sampai di rumah dia akan menghabiskan waktu bersama Reyza sambil menunggu jam pulang sekolah Sevina. Itulah kesehariannya. Sean tidak memperbolehkannya bekerja karena kedua anaknya masih butuh kasih sayang. Saat kedua anaknya sudah lebih besar mungkin dia akan kembali bekerja itupun jika Sean mengizinkan.


Jam pulang sekolah Sevina pun tiba. Viana bergegas ke sekolah untuk menjemput Sevina. Sesampainya disekolah, Sevina sudah menunggu bersama gurunya yaitu Fira dan David. Viana menyapa Fira. "Terima kasih ya Bu sudah mengawasi anak saya." ucap Viana.


"Iya sama-sama Bu." balas Vira.


"Oh ya David. Siapa yang akan menjemputmu?" tanya Viana.


"Mama, tante. Tapi sampai sekarang belum datang." jawab David.


"Bu Fira, boleh saya minta nomor Hp Bu Anggun?" tanya Viana.


"Boleh Bu, ini." Fira membacakan nomor Hp Anggun dan Viana mencatatnya lalu memanggil nomor itu.

__ADS_1


"Halo." Terdengar sahutan dari seberang telepon.


"Halo Bu Anggun saya Viana. Kalau saya boleh tau dimana posisi Bu Anggun ya karena David sudah menunggu di depan sekolah." ucap Viana.


"Katakan padanya untuk menunggu saya sebentar lagi ya Bu. Karena saya sedang terjebak macet. Ada kecelakaan di Jl. xxx." ucap Anggun.


"Bagaimana kalau David ikut dengan saya saja Bu. Kita bertemu di Jl. www. Ibu putar balik saja." tawar Viana.


"Tidak usah Bu itu akan sangat merepotkan Bu Viana." tolak Anggun.


"Tidak masalah Bu. Saya hanya tidak ingin David merasa jenuh menunggu. Kasihan dia." ucap Viana.


"Baiklah Bu. Maaf merepotkan. Kita bertemu di taman di jalan Jl. www. Terima kasih ya Bu." ucap Anggun.


"Iya Bu sama-sama." ucap Viana sambil mematikan teleponnya.


"David. Ayo ikut tante. Mama kamu menunggu disana." ucap Viana.


"Tapi David takut tante." ucap David sambil memnudukkan wajahnya.


"David takut nanti Sevina akan meninju wajah David lagi." ucapnya sambil melirik Sevina sebentar lalu menunduk lagi karena Sevina memasang wajah masam.


"Tidak apa-apa sayang. Sevina tidak akan memukul orang yang tidak bersalah." ucap Viana yang berusaha meyakinkan David.


"Iya Tante." ucap David pelan.


Viana pun berpamitan kepada Fira mengajak mereka masuk ke mobil. Mobil segera melaju ditempat janjian mereka.


"David Papamu kemana?" tanya Sevina.


"Papa sibuk bekerja." jawab David.


"Papaku juga sibuk tapi dia sering menjemputku." ucap Sevina.


"Sevina, jangan berbicara seperti itu. Tidak baik membanding-bandingkan begitu." tegur Viana.


"Papaku selalu pulang malam dan kadang marah-marah sama Mama dan aku." ucap David sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"David, kau tadi dapat nilai berapa?" tanya Viana berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Nilai seratus tante. Sevina hanya sebilan puluh lima." ucap David.


"Mamaku kan hanya menanyakan nilaimu. Kenapa kau juga memberitahu nilaiku." gerutu Viana.


"Sudahlah sayang." Mengelus rambut Sevina. "Wah kau hebat sekali David. Mamamu pasti bangga padamu." Puji Viana.


"Mama selalu bangga pada David tante. Tapi Papa tidak pernah mau melihat nilai David. Ketika David menunjukkannya Papa malah sibuk dengan ponselnya dan terkadang David sering dimarahi. Katanya David mengganggu." ucap David tertunduk sedih.


"Kau anak hebat. Papamu pasti sangat sibuk mencari uang untukmu agar kau selalu mendapatkan yang terbaik." hibur Viana.


"Papa tidak pernah memberi David uang tante. Setiap David meminta pasti Papa marah dan menyuruh David minta sama Mama. Padahal setiap Papa gajian, Mama tidak pernah diberi uang. David sering melihat mereka bertengkar karena masalah uang. Mama bilang Papa tidak pernah memberi uang." ucap David semakin bersedih.


"David, sudahlah. Tante yakin ada hikmah disetiap cobaan. Berjanjilah untuk tidak menceritakan ini pada orang lain. Tante takut orang lain tidak bisa menjaga mulutnya dan malah membeberkannya, kasihan Mama. Kau mau kan berjanji pada tante." ucap Viana.


David mengangguk dan mencoba tersenyum ditengah raut kesedihannya.


Viana merasa kasihan terhadap David. Ternyata keluarganya tidak begitu harmonis. Sikap Papa David berbanding terbalik dengan sikap Sean yang sangat menyayangi Sevina maupun Reyza. Semua perhatian Sean tercurah pada istri dan kedua anaknya. Entah Viana harus sedih atau senang. Yang pasti dia sangat beruntung memiliki suami seperti Sean. Wajar saja jika banyak para wanita yang iri padanya. Selain uang, Sean juga mencukupi kasih sayang untuk mereka.


Tiga puluh menit kemudian, Mobil pun sampai disebuah taman yang tidak begitu besar. Viana turun bersama David dan Sevina. Mereka berjalan memasuki taman dan menemui Anggun yang sedang duduk sendirian. Tampak Anggun sedang menyeka sudut matanya seperti habis menangis namun Viana berpura-pura tidak memperhatikan.


"Bu Anggun." Sapa Viana.


Anggun menoleh dan berdiri. David datang dan menghambur ke pelukannya. "Mamaaa."


Anggun tersenyum melihat anaknya. "Terima kasih ya Bu Viana. Maaf saya sudah merepotkan." ucap Anggun.


"Tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya karena Sevina pernah meninju David beberapa minggu yang lalu." ucap Viana.


"Bu Viana masih mengingatnya? Ya ampun. Saya sudah lupa malahan. Lagi pula itu salah David karena mendorong dan menyiram air ke wajah Sevina. Tapi lihat lah. Anak manis ini masih mau menjadi temannya." ucap Anggun sambil membelai pipi tembam Sevina. Sevina pun tersenyum.


Viana juga tersenyum melihat putrinya bersikap manis seperti itu. "Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu ya." ucap Viana.


"Iya Bu taxi yang saya pesan juga sudah sampai kok. Sekali lagi terima kasih ya." ucap Anggun.


Viana mengangguk dan tersenyum. Mereka pun berpisah disana dan memasuki kendaraan mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2