Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Episode Spesial - Tidur


__ADS_3

Sean sudah sampai di butik Alena. Ia berjalan menuju ruangan Alena. Tetapi semua mata melihatnya sambil tersenyum geli. Terang saja, Sean berjalan sambil menggendong Reyza yang masih tidur lengkap dengan piyamanya.


Sesampainya di ruangan Alena, pandangan mata Alena juga tertuju pada Reyza yang tidur di gendongan Sean.


"Sean, letakkan saja Reyza di sana." Alena menunjuk sebuah sofa multifungsi yang kini ia rubah menjadi kasur dengan cara menggeser bagian bawah sofa.


Sean meletakkan Reyza di sana, lalu kembali duduk dengan Alena.


"Mana kainnya?"


"Ini." Sean mengeluarkan kain dari dalam paper bag.


"Wah, motifnya cantik sekali." Alena mengagumi keindahan motif kain tersebut.


"Bisakah kau buatkan model seperti ini? Tetapi ditambah dengan desain modern. Aku yakin kau mengerti bagaimana selera Viana." Sean menunjukkan foto baju yang sudah ia cetak kepada Alena.


Alena meneliti foto tersebut. "Bisa, tapi, apa boleh aku tahu apa yang sedang kau rencanakan?"


Sean bercerita dari awal hingga akhir. Ia percaya bahwa Alena adalah orang yang dapat menjaga rahasia.

__ADS_1


"Wah, pasti Viana sangat senang. Tapi, apakah kau tahu satu hal yang paling utama dari ini semua?" tanya Alena.


"Apa?"


"Viana bukan bersedih karena baju ini, tetapi ia bersedih karena mengecewakan si pembuat baju. Dan ketika ia tahu bahwa aku yang menjahit baju ini, apa menurutmu dia akan terkesan?"


"Jadi maksud mu aku harus turun tangan saat menjahit baju ini?"


"Sean, hadiah bukan tentang betapa bagusnya barang tersebut. Tetapi betapa besar perjuangan si pembuat. Jika ini hasil tanganmu, dia pasti akan sangat bahagia. Ini akan menjadi barang yang bahkan lebih berharga dari perhiasan atau samsak tinju miliknya."


"Tapi aku tidak bisa menjahit."


"Kau juga tidak bisa mencangkul, tapi kau belajar mencangkul bersama ayah mertuamu. Aku dapat melihat betapa bahagianya dia di pesta ulang tahunnya waktu itu. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Yang kau lakukan adalah suatu hal yang sangat berarti untuknya."


"Ada aku yang akan mengawasi mu selama mau menjahit. Kau tidak akan ku biarkan melakukan kesalahan."


Sean tampak berpikir serius.


"Baiklah, aku akan menjahitnya." Sean akhirnya setuju.

__ADS_1


"Aku akan menyiapkan desain dan potongan dalam beberapa hari. Setelah selesai, aku akan menghubungi mu."


"Baik, terima kasih."


"Mmmhhh Ma, jangan banting Papa. Kasihan Papa."


Tiba-tiba Reyza mengigau.


"Ma, kenapa tangan Papa dipelintir?"


"Jangan dengarkan dia. Itu hanya mimpi saja. Mungkin dia mengingat saat melihat aku dan Viana latihan bela diri."


"Ya, dan aku juga tahu siapa yang menang." Alena tersenyum geli.


"Ya sudah, kalau begitu aku harus pulang sebelum Viana kembali. Bisa gawat kalau sampai dia tahu aku ke sini dengan Reyza yang masih pakai piyama.


"Ya sudah, pulanglah. Jangan biarkan dia bergadang lagi atau kau akan terlihat seperti suami yang ditinggal istri." Alena sedikit tertawa.


"Bisanya mengejek saja. Ya sudah, aku pulang dulu." Sean pun pergi sambil menggendong Reyza yang masih tidur.

__ADS_1


Semua karyawan Alena dibuat tertawa lagi. Pemandangan itu memang sangat unik. Sean adalah seorang CEO yang terkenal galak, tapi saat menjadi ayah, ia benar-benar sangat manis.


Sean melajukan mobilnya menuju ke rumah. Ia terus menelepon pengawal untuk memastikan bahwa mereka Viana belum pulang. Bisa gawat kalau Viana sampai duluan, ini akan menghancurkan rencananya.


__ADS_2