Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Ucapan Selamat


__ADS_3

Pesta sudah selesai. Semua tamu sudah pulang. Begitu juga dengan keluarga Armadja. Mereka kembali ke rumah setelah sebelumnya memberi selamat kepada Sean.


Sean dan Viana pulang ke rumah mereka. Sesampainya, mereka langsung merebahkan diri ke ranjang. Saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba saja Viana berdiri dan bergegas ke kamar mandi.


Sean yang masih rebahan melihatnya sedikit heran. Dia menatap Viana yang baru keluar dari dalam kamar mandi.



"Ada apa Vi?" tanya Sean.


"Perutku terasa kram." jawab Viana sambil memegangi perutnya.


"Apa kau sakit?" Sean tampak khawatir.


"Tidak, ini biasa terjadi jika aku hendak datang bulan." ucap Viana.


Air muka Sean langsung berubah. Dia terlihat kecewa.


Viana menyadari makna kalimatnya sendiri. Dia berjalan menuju ranjang dengan wajah tegang.


"Sean, berjanjilah kalau kamu akan tetap bersikap seperti biasa ketika aku datang bulan." pinta Viana.


"Apa aku sejahat itu? Suami macam apa yang mendiamkan istrinya karena sedang datang bulan." Sean menatap serius.


Suami macam apa katanya? Hahaha lucu sekali. Apa dia tidak ingat apa yang dia lakukan padaku bulan lalu. Batin Viana.


"Kenapa kamu tadi terlihat kecewa?" tanya Viana.


"Aku terlalu berharap." ucap Sean.


"Berharap?" Viana menaiki ranjang dan ikut berbaring sambil menunggu jawaban Sean.


"Aku berharap bulan ada dua garis merah di tespek kehamilan." Sean tersenyum sambil membayangkan sesuatu.


"Sabar ya. Kita harus sama-sama berusaha." ucap Viana meyakinkan.


"Baiklah kalau kau bilang berusaha maka kita harus berusaha MEMBUATNYA." Sean menyeringai dengan senyum nakalnya.


Viana menyadari sesuatu.


Bodohnya aku. Kenapa dia selalu bisa memanfaatkan setiap perkataanku untuk keuntungannya sendiri. Batin Viana, kesal.


Sean mulai melakukan aksinya. Viana hanya pasrah. Lagi pula dia telah melarang Sean mengkonsumsi obat itu sehingga dia harus menerima konsekuensinya.


Setelah selesai, mereka segera membersihkan diri dan kemudian tidur.

__ADS_1


Keesokan harinya, Sean dan Viana segera berangkat ke kantor. Sean telah mengangkat seorang Direktur baru bernama Axel yang tidak lain adalah anak Alex, mantan sekretaris Rangga. Sedangkan Kevin menjadi sekretaris Axel dan Viana menjadi sekretaris Sean. Jika suatu saat Viana tidak memungkinkan untuk bekerja, maka Kevin akan merangkap pekerjaan Viana juga.


Axel baru berumur 22 tahun. Dia sama jeniusnya dengan Papanya karena Mamanya sendiri adalah seorang ilmuwan yang hebat. Papa dan Mamanya tinggal di Negara Australia dan Axel memutuskan untuk tetap berada di Indonesia.


Didepan ruangan Kevin.


" Kau hebat sekali Axel. Kau bahkan bisa melampauiku dan menjadi atasanku." puji Kevin.


"Mas Kevin bisa saja hahah."


"Oh ya bagaimana kabar Om dan Tante disana? Beberapa hari ini aku tidak bisa menghubungi mereka." ucap Kevin.


"Oh, mereka sedang ada di daerah terpencil karena Mama sedang melakukan penelitian jadi ponselnya susah di hubungi." jawab Axel.


"Aku kira mereka tidak mengingatku lagi." ucap Kevin lirih.


"Sudah lah Mas, mereka adalah pengganti orang tuamu juga. Meskipun statusmu emmm anak angkat, tapi mereka sangat menyayangimu layaknya anak kandung." ucap Axel meyakinkan.


"Terima kasih kau selalu menghibur." Kevin menepuk bahu Axel.


Tak lama kemudian, Sean dan Viana datang. Kedua saudara sepupu itu langsung memberi hormat.


"Selamat pagi Tuan, Nona." ucap mereka serempak.


Sean dan Viana berjalan menunju ruangan mereka.


"Sean kenapa semua harus laki-laki?" tanya Viana.


"Karena jika aku merekrut seorang wanita hanya akan merepotkan." jawab Sean.


"Merepotkan bagaimana?" Viana merasa heran.


"Jika dia seperti Hera mantan Sekreteris Zein, apa kau tidak khawatir?" tanya Sean.


"Aku akan menghajarnya jika dia berani mendekati suamiku." Viana terlihat cemburu.


"Lihatkan? Padahal aku hanya mengatakannya tapi kau sudah marah." ucap Sean.


"Ya kamu benar. Rekrutlah semua laki-laki. Tapi usahakan laki-laki normal. Karena jika aku menghajar seorang G*y karena dia merebut suamiku, maka seketika harga diriku akan runtuh." tutur Viana.


"Hahaha ternyata kau takut bersaing dengan G*y ya." Sean mengusap kepala Viana.


"Akan terlihat aneh jika aku bersaing demgan seorang G*y untuk memperebutkanmu." Viana menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia begitu ngerih membayangkan saat jambak-jambakan dengan seorang laki-laki demi memperebutkan suaminya.


"Hahaha sudahlah hentikan pikiran anehmu. Ayo bekerja." ucap Sean.

__ADS_1


Viana mengangguk dan mereka pun mulai bekerja.


1 jam kemudian.


Saat Viana dan Sean tengah sibuk bekerja, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


"Masuk." ucap Sean.


Kevin masuk dan memberi hormat.


"Maaf Tuan, di luar ada seorang pengantar paket ingin memberikan karangan bunga kepada Anda. Katanya itu kiriman hadiah." ucap Kevin.


"Terima dan bawa kemari." ucap Sean.


"Baik Tuan." Kevin kembali keluar dan tak lama kemudian dia masuk kembali membawa sebuah karangan bunga bertuliskan "Selamat atas keberhasilanmu. By Dio"


Sean dan Viana saling memandang.


"Akhirnya dia mengakui kehebatanku." ucap Sean bangga.


Aku tidak percaya dia benar-benar mengucapkan selamat kepada Sean. Pasti dia punya rencana tersembunyi terhadap Sean. Aku harus lebih waspada. Batin Viana.


Sean memanggil OB.


"Buang karangan bunga ini." perintah Sean. Viana heran dengan sikap Sean.


"Aku tidak sudih menerima apapun darinya." ucap Sean mengartikan tatapan Viana.


Viana hanya mengangguk.


Baguslah Sean. Jangan maafkan dia. Batin Viana.


Saat jam makan siang, mereka segera pergi ke restoran. Sesampainya disana mereka langsung memesan makanannya. Setelah makanan datang, mereka langsung menyantapnya.


Saat tengah asyik menyantap makanannya tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kedatangan seseorang. Viana menatap tajam ke arah orang itu. Sedangkan Sean terlihat biasa saja.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sean.


"Begitukah caramu menyapa teman lamamu?" orang itu menyilangkan tangannya. Matanya menyapu wajah Sean dan Viana. Dia melihat ketegangan di wajah Viana dan dia tersenyum.


"Oh maaf aku sampai lupa bahwa kau adalah temanku." Sean menatap sinis.


"Hahaha, lucu sekali Sean. Aku tidak ingat bahwa ternyata pelupa." orang itu tertawa.


"Baiklah sekarang katakan apa tujuanmu? Apa kau ingin mengucapkan selamat lagi kepadaku Dio?"

__ADS_1


__ADS_2