Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Menjadi CEO


__ADS_3

Sean sudah sampai ke rumahnya. Dia segera masuk ke dalam. Dia ingin segera menemui Viana.


"Viana" Teriak Sean saat sudah berada di kamarnya.


"Kemana dia." Sean mencari-cari ke setiap ruang yang ada di kamarnya. Dia segera ke bawah.


"Heni dimana Viana?" Tanya Sean.


"Nona Muda sedang di halaman belakang Tuan." Kata Heni.


Sean langsung ke taman belakang. Dia melihat Viana sedang mengitari kebun bunga mereka.


"Vi" Panggil Sean.


Viana menoleh ke sumber suara. Dia tersenyum melihat siapa yang memanggilnya.


"Sean." Sapa Viana.


"Kenapa kau disini? Apakah kau tidak merasa pusing?" Tanya Sean.


"Tidak, setelah istirahat dan di suntik aku sudah lebih baikan." Jawab Viana sambil memegang keningnya.



"Kalau kau sudah selesai ayo masuk." Ajak Sean.


Viana mengangguk lalu ikut masuk bersama Sean.


"Oh ya ada apa tadi kamu mencariku, dilihat dari ekspresimu sepertinya ada hal penting yang ingin kamu sampaikan." Kata Viana di tengah derap langkah kakinya.


"Oh ya aku lupa." Sean menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menghadap Viana lalu memegang kedua pipi Viana.


"Besok Papa akan mengangkatku menjadi CEO." kata Sean di tengah senyumnya.


"Benarkah? Selamat ya Sean." Viana langsung memeluk Sean. Dia turut gembira karena Sean akhirnya bisa mencapai keinginannya.


"Aku berterima kasih padamu. Karena kau lah yang membuatku menjadi orang yang lebih baik sehingga kini Papa percaya sepenuhnya padaku." Sean mencium tangan viana. Pipi Viana memerah mendapat perlakuan manis dari Sean.


"Ya sudah ayo bersihkan dirimu dulu." Ucap Viana.


"Ya sudah aku mandi dulu. Oh ya besok kau bisa bekerja kan?" Tanya Sean.


"Sangat bisa." Kata Viana penuh keyakinan.


Sean mengusap rambut Viana lalu pergi ke kamarnya. Viana menunggu Sean sambil menonton acara TV.


Setelah selesai mandi, Sean menghampiri Viana dan ikut menonton bersama.


"Rasanya ada yang kurang hari ini tapi apa ya." Sean seperti memikirkan sesuatu.


"Apa yang kurang Sean?" Tanya Viana.


"Entahlah sepertinya ada sesuatu yang hilang dari sini." Kata Sean.


Viana mengeryitkan dahinya.


"Ah aku tau. Raya. Dimana dia?" Tanya Sean.

__ADS_1


"Oh iya aku lupa memberi tahumu. Tadi siang Raya di jemput Mama." Kata Viana.


"Mama datang kesini hanya untuk menjemput Raya?" Tanya Sean.


"Lalu apa yang harus Mama lakukan disini Sean?" Balas Viana.


"Tidak bisakah Mama menungguku? Apa dia tidak rindu padaku? Dan Raya? Kenapa dia seenaknya pergi tanpa berpamitan denganku? Apakah aku bukan kakaknya?" Sean terlihat kesal.


"Kita akan bertemu Mama dan Raya besok Sean. Mereka akan datang untuk rapat besok." Kata Viana.


"Oh, tunggu! Kau bilang datang untuk rapat? Jadi kau sudah tau kalau Papa datang menemuiku?" Tanya Sean.


Viana mengangguk.


"Lalu kenapa kau gembira sekali saat aku mengatakan kabar tadi?" Tambah Sean.


"Sama saat kamu melamarku, aku juga ingin ikut dalam drama." Kata Viana.


Sean memeluknya erat.


"Kenapa kau selalu membuat hatiku senang ha? Kau ingin membuatku cinta mati padamu? Baiklah kau menang. Aku memang sudah tergila-gila padamu. Dan ingat kau tidak bisa pergi dariku dan aku tidak akan pernah melepaskanmu." Ucap Sean.


Viana tersenyum dalam dekapan Sean. Lagi-lagi dia mendengar pernyataan cinta dari Sean. Suami yang sangat dia cintai.


***


Keesokan harinya, Viana dan Sean bersiap-siap berangkat ke kantor. Malam tadi Sean berhasil mengontrol dirinya sehingga dia tidak mengajak Viana bercinta. Dia tidak mau membuat Viana kelelahan lagi seperti kemarin.


Setelah sarapan, mereka pun berangkat bersama. Sesampainya di kantor, ruang rapat sudah di penuhi oleh peserta rapat. Mereka di panggil dari berbagai cabang dari perusahaan Armadja.


"Vi, bagaimana penampilanku?" Tanya Sean sambil merapikan jasnya.


"Aku memang sangat tampan sayang." Sean dengan beraninya merangkul pinggang Viana di tempat umum.


"Sean lepaskan malu di lihat orang." Viana berusaha melepaskan tangan Sean namun Sean tetap merangkul pinggangnya.


"Kenapa? Kau istriku? Siapa yang berani melarangku?" Tanya Sean.


"Lepaskan istrimu Tuan Muda, rapat akan segera dimulai. Kau bisa melanjutkannya nanti."


Suara Rangga mengagetkan Sean dan Viana. Sean menoleh ke belakang.


"Papa. Iya kami mau duduk" Sean langsung menarik tangan Viana menuju kursi ruangan itu.


"Dasar anak muda jaman sekarang, bucinnya kelewatan." Ucap Rangga sambil geleng kepala.


"Bukannya Papa dulu juga begitu?" Bisikan suara Alya mengagetkan Rangga.


"Eh sayang. Ayo duduk, mana Raya." Tanya Rangga.


"Raya disini Pa." Kata Raya yang berada di sisi kiri Rangga. Rangga menoleh dan baru menyadari keberadaan Raya.


"Papa kalau sudah ada Mama pasti lupa sama Raya." Gerutu Raya sambil melipat tangannya dan memanyukan bibirnya.


"Papa tidak lihat sayang. Sudah dong, anak Papa yang cantik jangan marah." Rangga mengusap rambut Raya.


"Peluk" Ucap Raya.

__ADS_1


Rangga yang sudah tau sifat putrinya yang manja langsung memeluknya.


"Maafkan Papa ya sayang." Kata Rangga di tengah pelukan hangat pada putrinya.


"Iya Raya maafkan." Kata Raya sambil tersenyum.


Alya hanya bisa geleng-geleng melihat mereka. Raya adalah putri kesayangan Rangga, apapun pasti akan dia lakukan untuk Raya. Mereka pun menuju kursi hendak duduk.


"Cih dasar manja."Ucap Sean ketika Rangga, Alya dan Raya hendak duduk di dekatnya.


"Kau bisa memeluk Papa juga kalau kau mau Sean kemari lah anak Papa." Ucap Rangga yang langsung membuat Viana tertawa cekikikan.


"Papa apa-apaan sih." Gerutu Sean.


"Ya sudah peluk Mama saja." Kata Alya menawarkan.


"Mamaaa" Sean merasa di kerjai oleh orang tuanya.


Tak lama kemudian, keluarga Dirga datang dan mereka pun memulai rapatnya.


Rangga pun mulai membuka rapat itu. Semua berjalan lancar hingga akhirnya Sean resmi menjadi CEO perusahaan Armadja. Rangga sepenuhnya telah menyerahkan tanggung jawab perusahaan Armdja pada putra kebanggaanya itu.


Setelah selesai, semua memberi selamat kepada Sean.


"Rangga sebaiknya kita rayakan dengan sebuah pesta." Kata Dirga.


"Kau benar, kita akan mengadakan pesta di rumah besar (rumah yang dijadikan tempat berkumpulnya seluruh keluarga Armadja termasuk pengadaan pesta formal. Baru di bangun 5 tahun yang lalu).


"Itu ide yang bagus." Sahut Celin istri Dirga.


"Baiklah, pesta akan kita adakan 3 hari lagi dan kau yang memilih konsepnya Celin." Ucap Rangga.


"Tentu saja serahkan semua padaku." Kata Celin.


Mereka semua tau bahwa untuk urusan seperti ini Celin lah ahlinya. Si wanita cerdas dan punya selera tinggi dan berkelas.


"Zein, ajak Lyana ya." Kata Sean.


Zein hanya diam saja.


Berengsek kau Sean, tidak bisakah kau jaga mulutmu itu.


"Lyana?" Dirga mengernyitkan dahinya.


"Dia kan asisten Zein, Om." Kata Sean.


"Oh iya Om lupa. Zein ajak Lyana ya." Kata Dirga.


"Bagaimana dengan Ruly dan Ina?." Kata Alya.


"Ruly sedang melatih para pembalap mobil yang akan berlomba minggu depan. Dia tidak bisa pulang minggu ini. Kalau Ina akan kita sampaikan saat pulang nanti sayang." Kata Rangga.


"Jangan lupa Udin, nasya dan Fathan juga di undang ya." Kata Celin.


"Hahaha kita jadi seperti reuni." Kata Rangga di sela tawanya.


"Hahaha kau benar, tapi kali ini reuni para lansia." Timpal Dirga.

__ADS_1


Mereka semua tertawa kecuali Zein. Dia ingin sekali mengajak Lyana tapi masalahnya dia sedang marahan dengan Lyana karena dia tidak sengaja sudah menghilangkan boneka kecil kesayangan Lyana yang merupakan pemberiannya. Ya ampun Zein kasihan sekali.


__ADS_2